
Alita terus meneriakkan kata 'ayah' sedari tadi. Mirai tidak mengerti apa yang terjadi kepada Alita. Namun, entah kenapa sejak Alita mengigau kedua temannya tiba-tiba berubah sendu padahal mereka sedang berdebat sebelumnya.
"Alita kenapa? Emangnya ayahnya kenapa?"
Mirai belum mengetahui banyak tentang teman-temannya. Saat ini dia hanya tahu soal Kagami dan masa lalunya.
Mulut Ruri bergerak menceritakan secara garis besar apa yang terjadi pada Alita. Selama mendengar cerita dari Ruri, irama detak jantung Mirai berubah semakin cepat hingga cerita tersebut selesai dia dengar.
Dia tidak tahu jika gadis seceria Alita pernah melewati masa lalu menyedihkan seperti itu. Mirai juga tidak menyadari, entah kenapa dia kembali merasa tersinggung setelah menyadari dirinya dikelilingi teman yang pernah melalui masa-masa suram, tetapi mereka masih mencoba untuk melawan dan bangkit. Sedangkan dia, meringkuk dalam arus takdir yang tidak diinginkan.
Mata Alita terbuka, sudut matanya berair. Tatapannya kosong menatap langit-langit ruangan. Beberapa detik setelah itu, baru dia melihat jelas wajah Ruri dan Kagami.
Badannya bergerak dari posisi. Lalu bersandar di dinding. Dengan posisi seperti itu baru dia bisa melihat sekeliling lebih jelas lagi, ternyata ada Mirai di sebelahnya.
Ditatapnya kaki yang sudah diperban. Kemudian tangannya terulur mengusap dahi yang terasa berdenyut. Setelah kesadarannya terisi penuh, baru dia ingat apa yang membuatnya berada di sini.
"Jangan banyak bergerak, Alita." Mirai mengingatkan.
Alita menghiraukan gadis tersebut. Matanya yang semula bingung, langsung menatap penuh intimidasi ke arah Ruri dan Kagami secara bergantian.
Kagami dan Ruri paham. Mereka menghindari kontak mata dengan Alita.
"Apa yang terjadi sebenarnya?"
Nada bicara Alita membuat Mirai merinding. Biasanya suara Alita terdengar lembut dan menenangkan, tetapi sekarang dia seperti mendengar suara dari sosok monster yang baru terbangun. Berat dan penuh emosi.
Kagami menunduk, begitu pula dengan Ruri.
"Gue yang salah."
__ADS_1
Itu yang Ruri katakan, sebagai pembukaan dari kalimat panjang berikutnya. Dia menceritakan semuanya kepada Alita tanpa terkecuali. Mirai antusias menyimak.
Malam itu saat Ruri diselimut kegelisahan, antara menyetujui kesepakatan Gagas dan mengorbankan Alita atau menolaknya dan informasi tentang Dion tidak didapatkan. Saat ekor matanya tanpa sengaja melirik jaket Kagami yang belum sempat dia kembalikan, tiba-tiba terbesit sebuah ide di benaknya.
Tangannya langsung menulis surat berisikan ide untuk mengantisipasi tindakan yang akan Gagas lakukan, ketika sudah berada di dekat Alita. Ruri tahu, perasaannya mengatakan jika hal buruk pasti akan terjadi nantinya.
Surat tersebut dimulai dari penjelasan singkat, padat dan jelas Ruri mengenai kesepakatannya dengan Gagas. Paragraf berikutnya baru berisikan pemikiran cemerlang yang dia dapatkan.
[Gue minta lu menyamar menjadi tukar parkir nanti di acara pernikahan bibik gue. Karena dari sana mata lu bisa dengan leluasa mengamati para tamu undangan.
Gue akan bawa Gagas menjauh dari sana untuk berbicara berdua. Setelah obrolan kami selesai, dia pasti akan pergi menemui Alita. Setelah itu, jangan kedipkan sedikit pun mata lu. Perhatikan mereka, kemungkinan besar Gagas akan berbuat hal lain dari rencananya.
Rencana ini gue serahkan sepenuhnya sama lu. Jika ada yang lu butuh kan, beritahu gue. Oh iya, soal Mirai jangan lupa. Lu jemput dia dan kalian pergi satu jam setelah kita pulang dari sekolah ke lokasi acara.
Suruh Mirai stanby di dalam mobil, agar kita bisa menjauh dari pusat acara bersama Alita yang sudah kita bawa kabur paksa dari Gagas. Itu saja, gue rasa lu tahu detailnya. Rencana ini gue serahkan sama lu, karena gue tahu lu tidak akan bertindak gegabah. Tahan emosi lu sebisa mungkin sampai rencana ini berhasil.]
Rencana pun berjalan dengan mulus. Mulai dari Kagami membisikkan rencana ini kepada Mirai, menjemput gadis tersebut hingga dia sampai dan berpura-pura menjadi tukang parkir.
Di balik masker hitam yang Kagami kenakan, mulutnya tidak berhenti menggangga melihat penampilan Alita saat itu. Deguk jantungnya tiba-tiba saja berdetak semakin cepat. Ekor matanya bahkan enggan untuk berkedip melihatnya.
Kagami pernah merasakan ini sebelumnya, saat dia bertemu dengan Alita untuk pertama kali. Iya, inilah rasanya jatuh cinta. Sekarang, Kagami jatuh cinta lagi kepada Alita untuk yang kedua kalinya.
Gadis tersebut bertambah memesona saat memakai gaun dan make up tipis di wajahnya. Wajar jika Gagas tergila-gila dengannya. Maka dari itu, Kagami bertekad untuk tetap menang dua langkah di depan Gagas.
Senyum di wajahnya mendadak hilang, mendapati Gagas mengekori langkah Alita dan Ruri. Dia mengepal tangan, sebisa mungkin menahan diri.
Kagami terus mengamati, setelah Gagas kembali dan langsung menuju tempat duduk Alita. Kagami mengambil ancang-ancang untuk mendekat. Namun, sesuatu di luar rencana mereka terjadi tanpa kendali.
"Dek, tolong parkirkan sepeda motor saya," kata salah seorang tamu. Setelah itu dia langsung saja pergi meninggalkan sepeda motornya melintang di jalan.
__ADS_1
Parkiran sebenarnya sudah penuh. Namun, karena Kagami dilihat sebagai penjaga parkir, pada tamu undangan menaruh harapan kepadanya. Mau tak mau laki-laki tersebut tetap mencoba memarkirkan sepeda motor tadi sebisanya.
Tubuhnya gemetar menahan gejolak tidak sabar, karena di luar dugaan para tamu undangan lain datang dan meminta pertolongan yang sama. Kagami tidak menyangka dia memakan banyak waktu.
Lama Kagami bergelut di parkiran. Setelahnya dia membuka masker lalu melemparnya sembarangan. Dirinya berlari menuju ke arah perginya Gagas dan Alita. sempat diliriknya tadi jika mereka pergi ke sebelah rumah. Sesampainya di sana matanya membelalak melihat apa yang terjadi.
Gagas mencekam rahang Alita, kedua kakinya diinjak oleh Gagas dan yang membuatnya langsung naik pitam, Gagas seolah menikmati apa yang dia lakukan dan terlihat bahagia.
Perkelahian tidak dapat dihindarkan. Kagami emosi langsung mencurahkan perasaannya di bogem yang dia layangkan.
Cerita berakhir dari mulut Kagami. Semua sudah didengar oleh Alita, tetapi gadis tersebut masih membeku tanpa ekspresi apa pun.
"Lalu, Mirai. Cerita dari sudut pandangmu?" Alita melirik ke arah Mirai.
Mirai menggeleng. "Aku mengikuti rencana tanpa tahu akar permasalahannya. Setelah dijemput Kagami, aku berada di dalam mobil menunggu pesan dari Ruri."
Perkataan Mirai terdengar seperti membela diri, tetapi memang begitulah faktanya.
Tatapan Alita kosong, napasnya memberat. Tanpa aba-aba, setelah dirasa informasi tersebut cukup, tangannya langsung melayang ke udara lalu mendarat sempurna di pipi Ruri. Suara tamparan tersebut membuat Kagami dan Mirai tersentak, nyaris membuat bola mata mereka keluar melihatnya.
Perlahan Ruri menengadah. Menatap lekat bola mata Alita. Dalam dan penuh emosi. Perlahan tangannya mengusap pipi yang mulai terasa perih.
"Apa maksud lu, Alita?" Bibir Ruri bergetar, bola matanya memanas.
Tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Ruri, Alita menjawab. "Egois. Kamu egois, Ruri," balasnya dengan nada rendah.
"Tunggu, Alita. Kamu tidak tahu apa-apa soal rencana ini, kamu nggak tahu jika Ruri berusaha sebisanya menyelamatkanmu dari—"
"Justru karena itu kalian egois!" potong Alita cepat.
__ADS_1
Kagami terdiam mendengarnya. Masih berdiri di belakang Alita, dia membuang wajah ke arah lain.
Napas Alita memburu, wajahnya mulai basah dibanjiri air mata.