Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Trauma Yang Menghantui


__ADS_3

Gagas melajukan sepeda motornya secara ugal-ugalan. Entah kebiasaannya seperti itu, atau dia memang sengaja supaya Ruri kehilangan keseimbangan di belakangnya.


"Lu kalau berencana bunuh diri, jangan ngajak-ngajak gue lah! Gila lo naik sepeda motor, kek, gini! Bosan hidup lo?!" hardik Ruri disertai angin kencang menerpa wajahnya. Jika dia tidak berpegangan pada besi yang berada di belakang jok motor, mungkin tubuhnya sudah terjungkal sejak tadi.


"Gue kalau naik sepeda motor memang seperti ini. Kalau lu nggak nyaman, lu bisa loncat sekarang!" Gagas berteriak, sorot matanya fokus menyalip setiap kendaraan di depan. Bunyi klakson sering kali terdengar, ketika Gagas menyalib sebuah mobil. Disertai makian lain yang menggema di belakangnya. Laki-laki itu benar-benar gila.


Perjalanan yang cukup melelahkan mereka berakhir di sebuah taman. Gagas menghentikan sepeda motornya di sana. Ruri mengedarkan pandangan, seraya menata rambut yang cukup berantakan.


Gagas berjalan ke sebuah kursi panjang berwarna coklat yang berada di taman tersebut. Sedangkan Ruri masih mematung melihat bangunan yang tidak asing berdiri di sebelah taman itu.


Bangunan tersebut adalah kafe tempat Alita dan Kagami bekerja, hanya sebuah lahan parkir besar yang memisahkan bangunan tersebut dengan taman tempatnya berada sekarang.


"Lu ngapain berdiri di sana?"


Ruri melihat ke pusat suara. Gagas tengah menatapnya datar.


Kaki jenjang gadis itu melangkah mendekat ke arah Gagas, kemudian duduk di kursi yang sama dengan laki-laki tersebut.


"Lanjutkan obrolan kita tadi." Ruri bersuara dengan dingin, tanpa menoleh sedikit pun ke arah Gagas.


Laki-laki di sebelahnya tersenyum sinis. Gagas membuka ponselnya lalu menunjukkan kembali foto yang telah dia tunjuk pada Ruri sewaktu masih berada di butik.


"Lu nggak tahu, kan, kalau gue sebenarnya kenal dengan Dion. Bahkan gue tahu banyak tentang dia daripada lu."


Ruri menatap nanar foto Dion yang berada di ponsel Gagas. Manik matanya kemudian melirik ke arah sang pemilik ponsel. "Jadi, apa yang lu inginkan?" Dia tidak lagi berbasa-basi.


Gagas mematikan ponselnya. Lalu melambungkan benda pipih tersebut ke udara, "Lu cepat tanggap, ya. Sangat tidak mau berbasa-basi." Dia melirik Ruri yang menatapnya sinis.

__ADS_1


"Gue punya informasi lain tentang Dion. Gue akan beritahu semua informasi penting ini sama lu." Dia menarik napas, menyampingkan duduk hingga berhadapan dengan Ruri. "Tapi ada syaratnya."


Napas Ruri menderu mendengar perkataan Gagas. Laki-laki itu benar-benar tahu membuatnya naik pitam.


"Sepenting apa informasi itu sampai lu bertindak seperti ini?" balas Ruri dengan alis terangkat.


"Fakta bahwa lu nggak tahu kalau gue temenan sama Dion aja udah membuat gue percaya diri. Ternyata, Dion nggak pernah cerita apa pun soal gue, ya?" Gagas tersenyum bangga dengan ucapannya.


"Gue dengan Dion tidak pacaran. Kami tidak sedekat itu." Sorot mata Ruri meneduh, menatap sepatu putih yang dia kenakan.


Gagas terkekeh kecil. "Iya, gue tahu itu. Dion bukan tipe orang yang suka menceritakan tentang dirinya kepada orang lain. Dia lebih suka mendengarkan cerita tentang orang lain. Ucapan gue benar, kan?"


Ruri terdiam beberapa detik, merasakan tiupan angin sore yang menerpa wajahnya. Mata gadis itu terpejam, mengatur napas lalu membalas perkataan Gagas. "Lu tahu banyak, ya." Dia menyengir. "Jadi, lu juga tahu tragedi empat tahun silam? Dan lu tahu tujuan gue?" Perkataannya diangguki oleh Gagas.


"Lu sampai sekarang masih mencoba mencari tahu di mana keluarga Dion sebenarnya dan masih mencoba menemukan titik terang dari kejadian empat tahun silam. Gue tahu semua itu, karena gue udah kenal lu sejak lama, Ruri."


Ekor mata Gagas melirik ke arah kafe tempat Alita bekerja. Kemudian dia tersenyum tipis, melihat Ruri yang membeku di hadapannya.


Gagas mengangguk sebagai jawaban dari tebakan Ruri. "Kebetulan aja gue ada di sana, dan sepertinya keberuntungan sedang memihak gue saat itu." Dia menatap Ruri intens. "Gue akan bantu lu, gue tahu seseorang yang kenal dengan keluarga Dion."


Ruri membelalak mendengar perkataan Gagas. Ternyata laki-laki itu tidak main-main ketika mengatakan jika dia punya informasi penting.


"Apa itu? Katakan, Gagas!" Ruri langsung berambisi.


"Eh, tidak segampang itu." Gagas berdiri dari duduknya. "Gue punya kesepakatan yang bagus. Ini informasi mahal yang harus ditukar dengan sesuatu yang mahal juga," sambungnya lagi.


Ruri gelabah, dia benar-benar kehilangan ketenangannya dalam berpikir. "Lu mau apa? Uang? Emas?"

__ADS_1


Sudut bibir Gagas terangkat mendengarnya. Dia menunjukkan sebuah foto lain yang berada di ponselnya; menunjukkan foto seorang gadis kali ini. Mata Ruri membola melihat foto tersebut.


"A–Alita?" Bibir Ruri bergemetar.


"Iya. Gue mau lu ajak Alita ke pernikahan Bik Venya. Ingat, hanya Alita sendiri. Jangan bawa si sialan yang punya luka di dahi itu maupun orang lain. Lalu setelah sampai di rumah Bik Venya, tinggalkan kami berdua." Gagas merasa menang mendapati wajah kaget dari gadis di hadapannya.


Ruri memperbaiki letak kacamatanya, lalu mengatur napasnya sejenak sebelum memberi jawaban. "Nggak. Apa yang lu pikirkan, Gagas? Lu pikir gue akan jual teman gue kepada orang gila kayak lu?"


"Memang begitu. Karena jika lu bawa Alita ke pernikahan Bik Venya dan mematuhi semua syarat yang gue berikan tadi, gue akan beritahu lu tentang Dion. Sisi lain Dion yang tidak lu ketahui, cerita masa lalunya yang mungkin akan mengantarkan lu ke keluarganya. Lu menginginkan itu, bukan?" Gagas berkata sambil melangkah menuju sepeda motor miliknya.


"Tunggu, Gagas. Lu mau ke mana? Gue belum selesai bicara!" Ruri berdiri, berlari menghampiri Gagas, mencegah laki-laki itu pergi.


"Gue udah selesai bicara. Lu pikirkan tawaran gue sekarang atau lu nggak akan menemukan kesempatan emas ini lagi." Gagas mengenakan helm. "Gue tahu dengan siapa gue berurusan. Gue nggak akan berbohong sama lu soal janji gue tadi. Gue bersumpah!" tekannya kembali.


Gagas menghidupkan sepeda motornya lalu pergi meninggalkan Ruri yang masih mematung. Gadis itu menatap nanar kepergian si maniak jas, kakinya lemas mendengar tawaran yang cukup gila ini.


"Lu benar-benar sialan, Gagas! Apa yang lu inginkan dari Alita?!" Ruri mengacak rambutnya, merasakan frustrasi memenuhi pikirannya saat ini.


Ruri menatap ke arah kafe shop fresh yang berada di sebelah taman. Kepalanya terasa berdenyut, melihat bayang-bayang kejadian empat tahun silam berkedip di otaknya.


Persis di depan kafe tempat temannya bekerja. Saat itu Ruri tidak tahu persis apa yang terjadi, bunyi ledakan besar terdengar dari sana, membangunkannya yang tengah terlelap di dalam mobil. Saat matanya melihat ke sumber suara, ternyata sebuah tabrakan terjadi di sana. Lalu yang paling mengejutkan, tubuh Dion berlumuran darah terpental jauh hingga menghantam pintu kafe yang terbuat dari kaca.


Mengingat kembali kejadian itu benar-benar membuat Ruri merinding. Pemandangan mengerikan yang dia lihat saat itu, berhasil membuat Ruri menemukan trauma barunya dalam semalam.


Ruri segera bangkit dari posisinya yang tengah berjongkok; kembali ke kursi taman. Dia menepis kenangan buruk itu dari pikirannya. Sudut matanya perlahan mengeluarkan air mata, padahal dia tidak merasa sedih sama sekali. Namun, setiap kali kejadian itu teringat di kepalanya, matanya selalu berair tanpa disadari.


Sebuah taksi online mendekat, Ruri mengatur napas lalu masuk ke taksi yang sudah dia pesan.

__ADS_1


"Sesuai aplikasi, ya?" tanya sang sopir kepada Ruri, memastikan sekali lagi.


"Iya, kita ke rumah sakit."


__ADS_2