
Walau Gagas dan Tirta sering membuat masalah dan suka berkelahi. Namun tetap saja mereka hanya bocah SMA di hadapan preman yang berada di sana.
Pisau di tangan preman tersebut dia simpan di balik baju. Terlihat dari gestur tubuhnya, dia mulai tertarik dengan apa yang akan Gagas katakan selanjutnya.
"Lu mau apa?" tanyanya.
"Berani juga lu, Bocah. Katakan berapa banyak uang yang lu punya?"
Seorang pria lain muncul. Tubuhnya tegap berkulit legam, tato di sekujur tubuhnya menambah kesan mengerikan.
Gagas mulai kesulitan berbicara. Aura di sekitarnya terasa sangat mencekam. Jika dia mundur seolah ada jurang besar di sana dan jika dia maju selangkah saja dua mesin pembunuh seolah sudah siap menerkamnya.
Tirta tidak bisa bergerak banyak, tubuhnya membeku secara tiba-tiba, merasa pergerakan mereka diawasi oleh lebih dari dua orang.
"Berapa pun yang kalian mau gue berikan. Permintaan gue tidak berat." Gagas menoleh ke arah Tirta memberinya kode untuk mengeluarkan sesuatu. "Gue minta kalian menghajar orang ini. Jangan buat dia mati, cukup buat dia pingsan." Gagas menunjuk foto Kagami yang sudah dipotret oleh Tirta.
Tirta tidak heran lagi. Sejak awal kedatangan mereka ke sini pasti karena sesuatu yang penting. Walau dia sedikit terkejut karena Gagas akan membalas kekalahannya pada Kagami seperti ini.
Kedua preman di depan mereka tertawa lepas setelah Gagas menunjukkan foto Kagami kepada mereka.
"Kalau bocah kek gini, mah, gampang. Kita berdua aja cukup untuk membuat dia babak belur dan pingsan!" Preman yang dipenuhi tato melirik temannya. "Beritahu info detailnya. Jangan lupa bayarannya!"
Gagas menelan ludah dengan susah payah. Padahal apa yang dia inginkan tercapai. Namun, aura menakutkan di sekitarnya tidak bisa ditepis begitu saja. "Masing-masing sepuluh juta. Untuk dua orang, totalnya dua puluh juta!"
Tirta tertegun, Gagas benar-benar tidak main-main dalam menentukan nominal. Itu terlalu tinggi untuk tugas seperti ini. Preman di depan mereka lantas kembali tertawa lepas. Kesepakatan terjadi.
***
Pagi harinya Tirta terburu-buru pergi ke sekolah. Setelah sempurna memarkirkan sepeda motor, laki-laki tersebut tidak langsung pergi ke kelas, melainkan berdiri di samping pagar sekolah.
Ekspresi wajahnya terlihat tenang, tapi bola matanya sedari tadi bergerak liar memindai wajah setiap murid yang lewat. Dia mencari Alita. Hanya gadis itu yang ingin dia temui sekarang sampai rela menunggu di sana, dia tahu Alita akan berjalan kaki melewati gerbang seperti biasanya.
Ketika Alita muncul di depannya. Tirta langsung menarik tangan gadis tersebut, membawanya secara paksa ke sisi lain sekolah yang cukup hening. Alita sontak terkejut.
"Apa yang kamu lakukan, Tirta!" Alita memberontak. Namun Tirta semakin erat mencekam tangannya.
Tirta melepas tangan Alita sesaat setelah matanya celingak-celinguk memerhati sekitar.
"Jika Kagami tidak datang ke sekolah hari ini. Berarti dia dalam bahaya," ungkap Tirta dengan nada bicara yang terdengar buru-buru. Napasnya memburu, seolah takut dan lega dalam waktu bersamaan.
Alita mematung kebingungan. Tirta berlalu begitu saja setelah mengatakan hal yang cukup ambigu. "Mana mungkin Kagami tidak datang ke sekolah. Hari ini ujian terakhir, jika tidak datang dia pasti akan mengikuti ujian susulan." Alita bermonolog menatap punggung lebar Tirta perlahan menjauh.
__ADS_1
"Kenapa, sih, dia. Aneh sekali."
Alita kembali menyambung langkahnya menuju kelas. Saat dirinya berdiri di ambang pintu, sorot matanya langsung mengarah ke meja Kagami. Tiba-tiba saja jantungnya berdegup tak menentu melihat bangku laki-laki tersebut kosong. Tidak biasanya seperti ini, karena Kagami selalu pergi ke sekolah duluan dari pada dirinya.
Ucapan Tirta barusan langsung terngiang di telinganya. Alita menggeleng, menghempas semua pikiran buruk yang mulai merayap. Dia menarik napas panjang sebelum duduk di bangkunya.
Ruri fokus membaca buku pelajaran, begitu juga dengan Mirai. Pemandangan seperti ini selalu menyambutnya setiap pagi. Kedua gadis tersebut tampak ambisius mengikuti ujian. Tidak seperti dirinya yang malah tidur di perpustakaan.
Alita terlalu resah. Apalagi niatnya hari ini ingin kembali berbicara dengan teman-temannya setelah lama berdiam diri. Terutama Kagami yang banyak dia sakiti. Mulai dari perkataannya kemarin hingga sikapnya.
Dia memutar duduk ke belakang, lalu menarik buku yang sedang Ruri baca secara paksa.
"Ruri ... di mana Kagami?"
Ruri terperanjat, dengan wajah berang dia mengangkat buku lain di mejanya lalu sebuah pukulan mendarat sempurna di kepala Alita. "Asem lu, bikin kaget aja. Bisa nggak lebih sopan dikit!"
Alita cengengesan. Bukannya merasa bersalah dia malah tertawa menanggapi. "Maaf, aku terlalu rindu sama kalian. Maafkan aku, ya, udah diamin kalian seperti ini."
Alita membuat wajah sok imut memohon belas kasih, Ruri menyengir geli melihatnya.
"Sumpah, muka lu bikin gue emosi!"
"Kami sudah tahu, Alita. Kamu menjauh karena ingin menenangkan diri, kan?" Mirai bergabung dalam percakapan.
Alita beranjak dari bangkunya, lalu memeluk Mirai seerat mungkin.
Saat sedang memeluk Mirai, dia menarik gadis tersebut lalu memeluk Ruri secara bersamaan. Ruri kesulitan bernapas dibuatnya.
"Asem lu!" Ruri melepas pelukan Alita secara paksa. Ekspresi wajah Ruri sangat lucu jika dia sedang kesal. Membuat Mereka bertiga akhirnya kembali tertawa bersama setelah sekian lama saling diam.
Suasana di antara mereka perlahan menghangat. Bingkai persahabatan kembali berwarna. Namun, kali ini dengan warna baru yang jauh lebih cerah. tidak ada kesal lagi di hati mereka. setelah menjauh untuk memperbaiki suasana hati, kini mereka kembali dengan versi terbaik masing-masing.
Tawa mereka perlahan berhenti saat bel masuk berbunyi. Mereka bertiga saling pandang melirik bangku Kagami yang masih kosong.
"Ke mana Kagami? Kenapa dia belum tiba?" Mirai bertanya.
"Aku kurang tahu. Padahal aku mau minta maaf sama dia. Tapi ... Aku rasa mungkin sebentar lagi dia tiba." Alita masih mencoba berpikir positif.
"Entah kenapa firasat buruk sejak malam tadi menghantui gue. Dan sekarang Kagami belum menampakkan batang hidung membuat gue semakin dilanda gelisah. Gue harap lu benar, Alita. Mungkin sebentar lagi dia tiba," timpal Ruri dengan nada cemas.
Mereka bertiga saling diam dengan raut yang begitu kecut. Ketika pengawas ujian masuk dan mengabsen, tidak ada satu siswa pun yang tahu kabar Kagami. Bahkan setelah ujian pertama selesai dilaksanakan Kagami masih belum muncul juga.
__ADS_1
Alita bertambah resah. Jika apa yang tirta katakan benar, Kagami mungkin berada dalam bahaya sekarang.
"kita ke kontrakan Kagami nanti, ya."
Alita berbalik memohon lagi kepada Ruri untuk membawanya ke kontrakan Kagami. Raut wajahnya tidak lagi bisa menyembunyikan gundah gulana yang tengah dia rasakan sekarang.
"Bagaimana, Mirai? Lu mau ikut?" Ruri berbalik menanyai Mirai.
Gadis berambut pendek tersebut mengangguk dengan mantap.
"Baiklah, kita pergi ke kontrakan Kagami setelah bel pulang berbunyi!"
***
Setelah mendapat izin dari Pak Aras. Mirai bergabung dengan Ruri dan Alita untuk pergi ke kontrakan Kagami.
Di dalam mobil, semakin dekat mereka dengan kontrakan Kagami entah kenapa tubuh Alita semakin bergetar. Jemari tangannya perlahan terasa dingin. Firasat buruk semakin tebal menyelimuti dirinya.
"Tenang, Alita. Kagami pasti baik-baik saja."
Menyadari ada yang aneh dengan temannya Mirai mencoba menghibur. Dia juga merasakan hal yang sama, bahkan Ruri juga seperti itu. Namun, tetap saja yang paling kentara khawatirnya adalah Alita.
"Aku hanya sedikit kedinginan. Sepertinya AC di dalam mobil ini terlalu dingin." Alita beralasan seraya tersenyum kecut.
"AC-nya saja bahkan tidak menyala, Alita!" celetuk Ruri dari kursi depan.
Mobil sedan hitam yang membawa mereka berhenti di depan kontrakan Kagami. Mesin mobil bahkan belum mati, Alita langsung bergegas melepas seat belt yang dia kenakan kemudian melompat tidak sabaran menuju kontrakan Kagami.
Daun pintu kontrakan tersebut sedikit terbuka, banyaknya jejak kaki orang dewasa di teras yang bercampur dengan jejak kaki kecil yang kemungkinan milik Kagami membuat rasa takut semakin menggerogoti Alita.
Perlahan tangannya membuka pintu di depannya.
"Kagami ... kamu di dalam? Aku masuk, ya, ini aku Ali—"
Suara Alita tertahan setelah pintu terbuka lebar. Kakinya terasa berat seolah dipaku ke lantai. Matanya membelalak melihat pemandangan di depannya. Kagami tergeletak di lantai dengan banyaknya darah berceceran di sekitarnya. Pecahan botol kaca berserak di mana-mana.
"Kagami!"
Suara pekikan Alita membuat Ruri, Mirai dan Pak Miko mempercepat langkah mereka. Sesampainya di sana mata mereka nyaris keluar melihat Alita menangis sambil menggoyangkan tubuh Kagami yang masih memakai seragam sekolah telah bersimbah darah. Terutama di bagian kepala.
"Tubuh Kagami masih hangat. Dia masih hidup!" ungkap Alita dengan suara parau.
__ADS_1
Kagami langsung dilarikan ke rumah sakit.