Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Kacamata Manis


__ADS_3

Dion menggeleng cepat, mengusap wajahnya. "Nggak bukan apa-apa. Aku tiba-tiba kantuk karena malam tadi bergadang untuk menggambar sesuatu," alasannya.


Ini bukan yang pertama kalinya bagi Ruri, dia sudah pernah melihat Dion bersikap seperti ini beberapa kali. Apalagi jika topik obrolan mereka menyenggol soal keluarga Dion. Wajah yang semula berseri langsung ditekuk seperti cuaca, cepat berubah. Topik pembicaraan pun dialihkan oleh Dion secepat kilat. Ruri penasaran apa alasan di balik sikapnya itu.


"Keluargamu tinggal di mana, Dion? Aku penasaran, kenapa kamu ngekos?"


Kali ini Kagami yang bertanya. Ruri memasang telinga baik-baik, siapa tahu Dion akan menjawab pertanyaan itu jika orang selain dirinya yang bertanya.


Dion menguap, memegang kepalanya. "Aku sedikit pusing karena kurang tidur. Sepertinya aku akan kembali ke kelas. Maaf, ya."


Begitulah Dion, tak banyak yang Ruri tahu tentang dia. Tiap kali topik ini dibahas, jika tidak bisa dia mengalih pembicaraan, maka dia akan pergi dengan berbagai alasan. Dion sempat tersenyum simpul sebelum punggungnya benar-benar hilang di balik tembok kelas, tetapi Ruri bisa melihat senyum simpul itu terukir paksa. Kabut di matanya tak bisa ditutupi.


"Dion banyak tahu tentang gue. Tapi gue nggak tahu apa pun soal Dion selain bakat menggambarnya." Ruri lesu, bersandar di kursi.


"Ada hal yang memang harus dirahasiakan. Mungkin suatu hari nanti kita akan mengetahuinya, sabar dan tunggu saja waktu itu tiba. Dion tak akan bisa menyimpan gundahnya lebih lama, kan?"


Alita bersuara, kata-katanya bagai cahaya yang perlahan menyinari manik Ruri. Gadis berkacamata itu tersenyum tipis.


"Lu benar. Suatu saat nanti, Dion pasti akan terbuka dengan kita."


Di dalam kelasnya Dion pura-pura tertidur, padahal pikirannya gelisah disertai keringat dingin membasahi telapak tangan. Dadanya sesak, ketika sekelebat memori lamanya berkedip tatkala nama kafe shop fresh terucap oleh temannya.


Dia menahan semua penderitaan itu sendirian. Dengan begitu rapi.


***

__ADS_1


Beberapa hari berlalu dan Dion tetap bersikap sama. Dia perhatian kepada Ruri, menabur benih cinta yang semakin banyak pada gadis tersebut. Mengajaknya jalan-jalan dengan sepeda bututnya, lalu menggambar sesuatu untuk gadis berkacamata itu. Tak ada yang berubah, termasuk mulutnya yang masih mengunci rapat soal masa lalu yang dia tutup.


Hubungan tanpa nama di antara Dion dan Ruri masih berlangsung hingga detik ini. Ruri jengah dan hendak memastikan sesuatu. Perasaannya ini apakah hanya rasa senang semata atau ini benar-benar perasaan cinta? Dion hanya mengutarakan jika dia mengagumi Ruri, ingin berteman dengannya dan menyebutnya manis. Itu saja tidak lebih. Ruri penasaran, kehangatan yang melingkupi mereka berdua ini apakah sudah dinamakan saling jatuh cinta?


Pulang sekolah Ruri singgah ke salah satu toko buku, berjalan ke deretan rak novel berbagai genre. Lama dia menimang-nimang ragu di sana, akhirnya pilihannya jatuh pada sebuah novel karya Bombin Stone, Mirror Love. Sampulnya menarik, mungkin isinya juga sama. Pikir Ruri.


Di rumah novel tersebut tak langsung Ruri baca. Sampul plastik masih melekat di sana, tak kunjung Ruri sentuh. Hatinya diselimut keraguan. Apakah tindakannya berlebihan? Bagaimana jika sebenarnya Dion ternyata menyukai orang lain dan itulah alasan kenapa dia tak niat berbagi cerita dengan Ruri? Berbagai pikiran negatif mengurungkan niatnya. Novel itu di letak begitu saja di meja belajar, tanpa disentuh sama sekali.


Ruri terlalu cepat menyimpulkan jika Dion mencintainya. Dia terlalu kegeeran dan tak ingin lagi berharap lebih. Namun, segala prahara yang mengaduk emosi dan isi pikirannya langsung hilang pada hari itu, ketika dia menangkap sedih di mata Dion, saat melihatnya terluka.


Mobil pribadi miliknya yang dibawa oleh Pak Miko tiba-tiba mogok di tengah perjalanan pulang dari sekolah. Karena tak mau menunggu lama di bengkel, Ruri memutuskan untuk jalan kaki ke rumahnya.


Keputusannya itu sempat memancing debat dengan Pak Miko, mengingat terlalu berbahaya gadis kecil sepertinya berjalan sendiri di keramaian kota. Ruri keras kepala dan mengumbar banyak alasan hingga perdebatan tersebut dimenangkan olehnya. Ruri janji tak akan menyalahkan apa pun pada Pak Miko–sopirnya–jika terjadi sesuatu karena ini keputusan Ruri sendiri.


Ruri berjalan santai di sepanjang trotoar sambil membaca buku novel. Sesekali dia melirik buku tersebut, membagi fokus melihat jalan yang dia injak. Ketika dua ekor anjing peliharaan yang sedang berjalan di sebelah pemiliknya terlihat berjalan di jalur yang sama dengan Ruri, gadis itu langsung diselimut takut. Mengingat dia fobia dengan anjing. Ruri pun melenceng dari jalur dengan sengaja, bukan berjalan di trotoar, tetapi berjalan di jalur pesepeda.


Namun, naas sekali bagi Ruri, belum sempat semua itu terjadi, sebuah sepeda motor yang diduga dikendarai oleh sepasang pencuri mengira jika Ruri sedang bermain ponsel, karena dia menunduk sambil berjalan. Alhasil buku novel ditangannya ditarik paksa oleh pencuri tersebut dan tubuh Ruri terjatuh sebelum terseret dalam jarak dekat. Karena syok, Ruri terdiam di tempat.


Ketika pejalan kaki lain menghampirinya, berbagai pertanyaan yang dilayangkan pada Ruri saat itu dia abaikan. Ruri masih dalam kondisi kaget, tanpa disadari lututnya berubah merah berhias darah.


"Bangun, Nak. Bukumu robek, tapi syukurlah kamu baik-baik saja." Seorang pria membantu Ruri berdiri. Setelah sadar, beberapa pejalan kaki yang mengerumuninya perlahan bubar.


Ruri termenung melihat buku novelnya yang sudah hancur, ketika kakinya hendak melangkah meraih buku tersebut, baru dia sadari perih di lutut menghunjam hingga ke tulang. Ruri merintih, melihat kucuran darah di sana. Matanya berkaca-kaca.


"Dasar ceroboh. Kenapa berjalan di jalur sepeda, padahal trotoar sudah diciptakan untuk pejalan kaki."

__ADS_1


Seorang laki-laki bersuara berat menyapanya. Suara itu terdengar tidak asing, Ruri menoleh tatapannya bertemu dengan Dion.


"Kalau sudah begini, siapa juga yang sakit? Dasar ceroboh, Kacamata manis."


Dion menghentikan sepedanya tak jauh dari tempat Ruri berdiri, lalu melangkah meraih buku novel yang sudah hancur itu, memasukkannya ke keranjang sepedanya kemudian menatap Ruri cemas.


"Jangan bengong. Aku akan mengantarmu pulang," kata Dion lagi.


Ruri menatap Dion, menangkap kesedihan di wajah laki-laki tersebut. Muka Ruri perlahan berkerut, matanya berkaca-kaca. Rasa sakit sekaligus syok yang dia rasakan membentur menjadi satu, tanpa direncanakan tetesan air matanya jatuh. Dia terisak di depan Dion.


Dion tersenyum tipis. "Pada dasarnya, cewek tetaplah cewek."


Akhirnya Ruri pulang diantar oleh Dion. Sepanjang jalan dia terus saja menangis. Dion hanya bisa tersenyum pasrah membonceng gadis cengeng seperti Ruri.


Sesampainya di rumah Ruri langsung dicecar banyak pertanyaan dari mamanya, begitu juga Dion. Sampai lukanya selesai dibalut, barulah mata Ruri benar-benar kering saat itu. Dia selonjoran di ruang tamu dengan Dion di kursi lain di depannya.


"Sudah merasa baikkan?" tanya Dion.


Lidah Ruri kelu. Dia menahan malu mengingat sikap cengengnya tadi.


"Kenapa lu bisa muncul di waktu yang tepat? Dasar sok jadi pahlawan!" ketus Ruri memaling wajahnya.


"Bagaimana aku bisa pulang dengan tenang ketika tanpa sengaja aku meliatmu berjalan kaki menjauh dari kendaraan mewah yang membawamu? Makanya aku buntuti. Ternyata cewek tetaplah cewek. Mereka cengeng dan lembut," balas Dion


Ruri memberanikan diri menatap wajah Dion, menyelusup dalam manik laki-laki tersebut. "Gue ini ... apa bagi lu? Kenapa lu perhatian gitu?" Dengan segenap keberanian yang ada, Ruri memberanikan diri menegaskan hubungan di antara mereka. Meluruskan lagi kehangatan yang menyelimuti mereka.

__ADS_1


Dion tersenyum tipis. Membalas tatapan Ruri. "Kesan pertama di awal jumpa, sampai detik ini kamu tidak berubah sedikit pun di penilaianku. Cantik, lembut tapi tegas. Wajahmu manis berbalut kacamata. Maka dari itu aku memanggilmu kacamata manis. Kurasa itu sudah menjelaskan semuanya. Kamu spesial."


Hati Ruri berbunga-bunga. Tidak langsung, tapi dari kalimat tersebut berhasil membuat Ruri diselubung rasa percaya diri yang tinggi. Dion menyukainya, kan?


__ADS_2