Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Tragedi


__ADS_3

Hari-hari setelahnya berlalu. Luka di lutut Ruri sudah sembuh total, Alita dan Kagami pun sudah tiga hari memulai pekerjaan sampingan mereka. Inilah waktu yang tepat, Ruri memutuskan untuk membaca novel romansa yang dia beli beberapa waktu lalu. Karya Bombin Stone berjudul Mirror love.


Perlahan lembaran demi lembaran buku tersebut dibalik, senyumnya merekah membaca kata indah di sana, terkadang juga berubah tegang saat sampai di puncak cerita. Hingga sampai akhir novel tersebut dia baca, tanpa sadar sudut mata Rui berair. Dia terharu dengan kisah cinta tokoh utama novel itu.


Ruri membaca novel itu seharian, mulai dari pagi sebelum berangkat sekolah dan selesai pada pukul enam sore. Benar-benar melelahkan, mengaduk perasaan dan candu. Semua yang Ruri cari dia temukan di sana.


Di dalam novelnya Bombin Stone mengatakan, "Jatuh cinta dan rasa senang itu adalah dua hal yang berbeda. Kamu akan mengetahui jawabannya setelah sosok tersebut jauh di pelupuk matamu."


Di halaman berikutnya Ruri menemukan jawaban. "Apa yang kamu rasakan? Apakah kamu merinduinya dan berharap dia selalu ada di dekatmu atau kamu hanya peduli jika dia ada di sebelahmu?"


Wajah Ruri merona setelah membacanya, di balik selimut tebalnya gadis berkacamata itu menahan gejolak bahagia yang dia rasakan saat ini. Kacamata bingkai tipis yang dia kenakan nyaris terlepas saat dia memeluk guling erat-erat. Jatuh cinta membuatnya gila. Dia menegaskan perasannya pada detik itu, bahwa dia mencintai Dion. Laki-laki yang bahkan tidak pernah sesekali dia bidik, tapi tanpa sengaja takdir mempertemukan mereka dan menumbuhkan benih cinta seiring berjalannya waktu bersama.


Rasa senang di hatinya belum mereda, tiba-tiba saja ponselnya bergetar. Pesan dari Dion terpampang di layar ponsel. Senyum Ruri merekah membacanya.


[Ruri, aku mau kasih kamu sesuatu. Kita ketemuan di cafe shop fresh, ya. Tempat Alita dan Kagami kerja.]


Emot senyum mengakhiri pesan tersebut.


Ruri berpikir sebentar, tumben sekali Dion mengajaknya ketemuan di kafe hanya untuk memberi sesuatu. Biasanya, banyak hadiah yang Dion berikan padanya secara langsung di sekolah atau saat di lain kesempatan di jalan.


Ruri mengetik balasan setelah lama menimang-nimang.


[Malas! Kenapa nggak kasih di sekolah seperti biasanya saja? Emangnya mau kasih apaan?] balasnya dengan ketikan bernada dingin.


[Nggak enak di sekolah, suasananya terlalu formal. Aku maunya di kafe, di sana kita bisa santai. Sesekali.]


[Ayoklah, nanti kita ketemuan di kafe. Kalau ini pertemuan terakhir kita bagaimana, Kacamata Manis?]

__ADS_1


Saat pesan itu Ruri baca, dia merasa seolah diancam. Aneh sekali rasanya, sosok Dion yang selalu bersikap perhatian, lembut dan suka berkata-kata indah tiba-tiba saja berubah menjadi sosok pengancam seperti ini. Pesan tersebut mengganggu Ruri untuk sementara waktu, tetapi setelahnya dia mencoba tenang dan mengetik pesan balasan.


[Bawel! Iya, nanti gue ke sana. Jam tujuh malam.] balasnya segera.


Emot love besar yang Dion kirim mengakhiri percakapan mereka. Hal yang Dion kirimkan tadi masih mengganggunya, tetapi setelah adegan di dalam novel roman tersebut berputar di kepala layaknya film bioskop, Ruri senyum-senyum sendiri membayangkan apakah pertemuannya dengan Dion akan seperti karakter utama dalam cerita tersebut?


Bulan bersinar teramat terang di malam perjanjian mereka. Tokoh utama–si pria– memegang bunga, berdiri lama di depan sebuah kafe. Raut wajahnya grogi, takut dan bahagia bercampur menjadi satu hingga tanpa dia sadari wanita pujaan hatinya berdiri di seberang jalan menunggunya mengambil langkah.


Pemeran utama memantapkan hati sebelum melangkah, sedangkan si wanita menunggu laki-laki tersebut mengambil langkah, baru dia beranjak dari sana.


Mereka seperti gerbong kereta api yang tidak bisa berjalan beriringan. Saling menunggu satu sama lain. Namun, setelah melewati konflik yang panjang, akhirnya mereka bisa menjadi cermin yang saling memantulkan bayangan.


Jika saling bertatapan mereka akan melihat bayangan diri mereka sendiri. Saling melengkapi, layaknya raga dan bayangan pada cermin. Itulah kenapa novel tersebut diberi judul Mirror love. Ruri berkaca-kaca dengan kisah manis tersebut.


Sungguh bacaan yang sangat mengaduk perasaan.


***


Ponselnya dimatikan, Dion berbaring di kasur melihat jam dinding di depannya. Perlahan jarum jam bergerak, perlahan pula jantungnya berdetak semakin cepat. Rasa gelisah ini menyiksa Dion, sempat terbesit untuk membatalkan janji dengan Ruri. Namun, dia mengurungkan niat itu, mengingat setelah pesan berisi ancaman tadi dia kiriman tanpa sengaja dan jika dia tiba-tiba membatalkan janji, pasti Ruri kesal nanti dengannya. Perlahan Dion menarik napas, mencoba menguasai rasa takutnya.


Kotak coklat berikat pita di nakas dia lirik lagi. Itu adalah hadiah yang akan dia berikan kepada Ruri. Isi di dalamnya tidak terlalu mewah, tetapi Dion meluapkan segenap hati membuatnya.


Kotak coklat itu memberi ketenangan di hatinya, perlahan terlukis senyum manis Ruri di sana. Dion memejam mata, mengingat lagi bagaimana hatinya bisa jatuh pada gadis manis berkacamata itu.


Kala itu terik mentari saja mengalahkan pesona Ruri. Bagaimana dia sempat lupa diri, menatap bidadari berkacamata itu di atas podium. Perjuangannya sampai detik ini sudah banyak untuk mendapatkan kepercayaan dari Ruri, tak mungkin dia sia-siakan begitu saja. Dion ingin memantapkan hatinya malam ini. Di kafe shop fresh yang selalu membuat darahnya mendidih ketika wajah pemilik kafe terbayang di benaknya. Bukan hanya melawan takut dan trauma, tetapi Dion juga melawan waktu, dia sudah memutuskan menyelesaikan semuanya di pukul tujuh malam ini.


Tak ada guna lagi bersembunyi. Lambat laun Ruri pasti akan tahu mengenai ketakutannya akan keluarga, bakat dan masa lakunya. Dion berniat untuk memberitahu Ruri di pertemuan mereka nanti. Meyakinkan lagi pada gadis tersebut, bahwa dia memercayai Ruri.

__ADS_1


Dion menyambar jaket berwarna birunya, menatap lagi pantulan dirinya di cermin. Dia menghela napas, memantapkan diri. Kotak coklat berpita itu dia ambil, perlahan kakinya melangkah meninggalkan kos.


Sepanjang langkah yang tak panjang itu kenangannya di awal menunjukkan bakat menggambarnya kepada Ruri bergerilya di kepala. Saat itu Dion memutuskan mendekati Ruri dengan menunjukkan sifat apa adanya, bukan seperti laki-laki lain yang Ruri maksud. Saat itu saja Dion bisa melawan takutnya dan berhasil, kali ini dia terus mengulang adegan tersebut di kepalanya untuk memberinya semangat.


Dion masuk ke dalam taksi yang sudah dia pesan. Memberi arahan untuk membawanya ke kafe shop fresh.


"Pakai sabuk pengamannya," kata sang sopir.


Dion menolak. "Tidak apa-apa. Perjalanan ini tidak panjang, saya akan berhati-hati."


Saat Dion baru bergerak dari kosnya, Ruri sudah menunggu di seberang kafe. Sengaja dia menunggu di sana, selain untuk memantau Dion dia juga ingin meniru adegan di dalam novel. Ketika si wanita berdiri di seberang jalan. Ruri pikir itu manis dan ingin beraksi layaknya si cewek dalam novel tersebut.


Bulan malam itu bersinar menerangi jalan dengan jelas. Angin malam berembus membawa kabut yang perlahan samar mengganggu penglihatan. Karena terlalu bersemangat dan datang lebih awal, Ruri merasa kantuk. Di dalam mobil dia memutuskan untuk meringkuk, memejamkan mata sebentar sebelum bertemu Dion, apa salahnya.


"Bangunin Ruri kalau ponsel Ruri bergetar, ya, Pak," katanya pada Pak Miko, sopirnya mengangguk.


Kafe sudah terlihat di pelupuk mata, Dion termenung saat itu. Tiba-tiba saja dia tidak merasakan apa pun. Takut, dingin dan bahagia pun seolah enggan menyapa hatinya. Jauh matanya menerawang ke depan, dirasanya waktu berjalan lambat di detik-detik terakhir sebelum Dion dan sopir yang membawanya ditimpa musibah yang tak pernah diduga sebelumnya.


Taksi yang membawa Dion berhenti di depan kafe, belum beberapa menit mereka berhenti di sana bahkan mesin mobil saja belum mati, sebuah mobil berkecepatan tinggi tiba-tiba saja datang dari arah berlawan menabrak mereka. Mobil yang sudah setengah terbakar itu melaju kencang menubruk bagian depan taksi, apinya perlahan merambat ke bagian mesin taksi tersebut disertai dentuman keras menggema di malam penuh kabut itu. Sopir taksi yang berada di kursi depan tewas seketika. Dion yang tidak memakai sabuk pengaman terpental, kakinya menyangkut di antara tempat duduk penumpang yang telah bengkok.


Panasnya dari api yang perlahan merabat ke arahnya menyertai usaha Dion mencoba keluar dari sana. Pintu taksi sempat dia buka, tetapi karena posisi kakinya tersangkut dia tak dapat bergerak banyak. Dia tak sempat menyelamatkan diri. Dentuman keras menggema untuk kedua kalinya ketika mesin taksi tersebut meledak dan kesadaran Dion pun menghilang. Kedua mobil itu terbakar sempurna asap hitam pekat mengepul di udara.


Tubuh Dion terpental akibat ledakan tersebut, jatuh menghantam pintu depan kafe dengan konsidi mengerikan. Posisi badannya sudah terkena luka bakar hampir lima puluh persen. Darah yang mengucur dari kepalanya mematik jerit pengunjung kafe.


Di dentuman kedua baru Ruri sadar dari tidur singkatnya. Suara jeritan pengunjung kafe menuntun mata Ruri yang linglung melihat ke arah laki-laki yang tergeletak bersimbah darah itu. Ruri sempat tak mengenal sosok mengenaskan tersebut, sampai sebuah fakta menamparnya.


"Dion! Itu Dion. Siapa pun, tolong cepat panggil ambulans!" pekik Kagami dari dalam kafe, kehebohan pun terjadi.

__ADS_1


Mata Ruri bulat sempurna mendengarnya. Perlahan dirasa kepedihan merayap masuk ke bola matanya, dengan mata berderai air dia menjerit dari seberang kafe. Memberontak ingin berlari ke sana, tetapi Pak Miko cepat mencegahnya karena menyeberang jalan dengan kondisi seperti ini sangat berbahaya.


Ruri memukul pintu mobil yang terkunci itu berkali-kali. "Dion! Itu Dion, Pak! Ruri mau ke sana!" renggeknya.


__ADS_2