
Taksi online yang Ruri pesan berhenti di depan rumah sakit gapura. Salah satu rumah sakit besar yang ada di kota tempat dia tinggal. Setelah melakukan pembayaran, Ruri menatap lesu bangunan berlantai tujuh dengan cat warna putih yang mendominasi di depannya. Tidak terhitung berapa kali dia menginjakkan kaki ke sini, tujuannya hanya satu. Yaitu sebuah ruangan yang berada di lantai tiga.
Banyaknya pasien rumah sakit yang sedang berjalan di dalam bangunan tersebut sudah biasa dilihatnya. Masing-masing dari pasien ditemani oleh seorang suster, ada pula yang ditemani oleh pihak keluarga.
Ruri melangkah cepat menuju lift. Dia berhenti beberapa saat di sana menunggu lift terbuka. Namun, saat sedang menunggu, suara bariton seorang pria mengalih pandangannya.
Pemilik suara tersenyum tipis ketika tatapannya dengan Ruri bertemu. "Hai. Boleh bertanya?" Dia mengulang pertanyaannya.
Manik mata Ruri meneliti penampilan pria berjas putih di sampingnya. Jika dilihat dari penampilan, dia terlihat seperti seorang petugas kesehatan.
"Mau tanya apa, Paman?" balas Ruri dingin.
Pria tersebut mengernyit mendengar perkataan Ruri barusan. Dia celingak-celinguk, memastikan apakah benar gadis di depannya berbicara dengan dirinya.
"Paman? Siapa paman? Aku?"
Pria tersebut menunjuk dirinya sendiri. Ruri mengangguk.
"Aku tidak setua itu sampai harus dipanggil paman. Aku masih berusia dua puluh dua tahun." Pria tersebut tidak terima dengan ucapan Ruri. "Mungkin karena aku terlalu banyak berpikir, jadi terlihat tua, ya?" Pria tersebut mengacak rambutnya sendiri.
Niat hati supaya aura mudanya memancar lebih jelas, tetapi tindakannya membuat Ruri jijik.
Pria itu mengaruk tengkuknya yang dirasa tidak gatal mendapati tatapan jijik dari Ruri. "Kamu tahu ruangan dokter forensik?" Dia akhirnya mengutarakan pertanyaannya.
Ruri mengernyit mendengar pertanyaan yang cukup lucu itu. Ekor matanya melirik ke arah kasir, "Paman lihat kasir yang ada di sana?"
Pria tersebut mengikuti arah mata Ruri. Lalu mengangguk.
"Tanya aja di sana."
Lift terbuka, Ruri langsung masuk ke dalam sana. Namun, pria yang barusan bertanya dengannya juga ikut masuk ke dalam lift. Gadis berkacamata itu terheran.
__ADS_1
"Kamu mau ke mana?" Pria tersebut kembali membuka suara.
Ruri jengah mendengarnya. "Bukan urusan, Paman." Dia menatap pria itu sekali lagi. "Nggak jadi ketemu dokter forensik?"
"Oh iya, sebelum aku jawab pertanyaan itu. Perkenalkan, Aku Vikram Shakri. Mahasiswa magang di rumah sakit ini. Maaf, ya, merepotkan, soalnya ini hari pertama aku magang. Dan tolong jangan panggil aku Paman. Diriku tidak setua itu." Pria itu tersenyum ramah sambil mengulurkan tangannya.
Ruri mencebik, membuang wajah ke arah lain. Tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara, hingga pintu lift terbuka; sampai ke lantai tiga.
Ruri langsung buru-buru keluar, tetapi langkahnya kembali terhenti setelah pria berjas putih lainnya datang dan berdiri tepat di depannya.
"Ketemu juga. Kamu ke mana saja, saya tungguin?" Pria tersebut berbicara kepada Vikram.
Ruri memandang pria berkumis tebal di depannya. "Permisi, Pak. Saya mau lewat."
Pria tersebut memandang Ruri sesaat, kemudian memberi jalan untuk gadis itu.
"Hai, kamu anak Roland Nagemi, ya?"
Lagi dan lagi, langkahnya terhenti. Ruri berdecak kesal mendengarnya. Gadis itu berbalik arah. "Iya," balasnya kemudian langsung pergi dari sana tanpa menoleh sedikit pun.
Pria berkumis tebal di depannya mengangguk. "Roland itu teman saya. Dan ternyata, gadis yang bersamamu tadi adalah anaknya. Benar-benar pertemuan takdir yang mengejutkan." Dia mengusap kumis miliknya. "Kenapa kamu lama sekali? Sudah saya tungguin di ruangan forensik. Ada kasus yang harus kamu pelajari di hari pertama magangmu."
Pria berkumis tebal yang mengenakan jas putih itu adalah Arkais Vagara, dia adalah kepala dokter forensik yang akan membimbing Vikram, sebagai mahasiswa magang di sana.
"Gadis tadi benar-benar cantik. Sepertinya dewi keberuntungan memihakku hari ini," gumam Vikram sendirian.
Arkais melirik mahasiswa magang di sampingnya. Perkataan Vikram barusan didengar olehnya. "Boleh juga seleramu. Anak Roland Nagemi tidak semudah itu kamu dapatkan." Dia merangkul tubuh Vikram, menariknya kembali masuk ke dalam lift.
Vikram terkejut, "Kenapa kita naik lift lagi, Pak?"
"Ruang forensik berada di lantai lima. Kenapa kamu ke lantai tiga?" Pintu lift kembali tertutup, sementara pria tersebut tidak melepas rangkulannya pada bahu Vikram.
__ADS_1
"Saya pikir, cewek tadi mau anterin saja ke ruang forensik. Makannya saya ikutin dia." Vikram menatap Arkais sebentar. "Kalau bapak sendiri, kenapa berada di lantai lima?"
Arkais melirik ke arah Vikram, lalu melepas rangkulannya. Tangannya mengusap kumis tebal miliknya. "Ada urusan tadi," balasnya sambil tersenyum tipis.
***
Langkah Ruri berhenti di depan pintu berwarna abu-abu tua. Gadis itu membuka pintu tersebut lebar-lebar, lalu menatap nanar seseorang yang berada di dalam sana.
Pemandangan di depannya tidak berubah sedikit pun sejak empat tahun terakhir. Pasien yang tengah terbaring lemah di ranjang rumah sakit tersebut adalah Dion, sosok laki-laki yang masih menempati hati Ruri hingga saat ini.
Mata Ruri mengedar memperhatikan banyaknya alat medis yang berada di sekitar Dion. Sekali lagi, hati Ruri terasa perih melihatnya.
Gadis berkacamata itu menunduk, memperhatikan sebuah garis merah yang berada di lantai; berjarak lima ubin dari tempatnya berdiri. Garis tersebut adalah batas jarak pengunjung yang datang berkunjung, pihak rumah sakit mengantisipasi hal ini supaya alat medis yang berada di tubuh Dion tetap terpasang dengan baik, tanpa ada tangan jahil yang menyentuhnya. Hanya suster dan dokter saja yang boleh mendekat.
Sebelumnya Dion sempat berada di ruang ICU, tetapi karena sudah lebih dari satu tahun dia koma, pihak rumah sakit memindahkannya ke sebuah ruangan khusus. Tidak besar dan juga tidak terlalu kecil, cukup untuk dimasuki lima orang pengunjung.
Ruri menutup pintu ruangan tersebut, lalu berjalan ke sebuah kursi plastik yang berada di pojok ruangan. Dari sanalah dia berbicara dengan Dion setiap kali datang berkunjung. Walau tidak bisa melihat wajah Dion dengan jelas, karena alat ventilator dan jarak yang menghalangi pandangannya, Ruri tetap merasa bahagia karena bisa berada di sana.
"Lu masih tidur hari ini? Nggak bosan apa? Sudah empat tahun lu tidur di sini."
Suara Ruri memenuhi ruangan itu. Matanya berkaca-kaca.
"Lu kenal sama Gagas? Kenapa lu nggak pernah cerita sama gue? Kenapa lu nggak terbuka sama gue? Gue benci ...!" Suaranya bergemetar disertai bulir bening perlahan membasahi pipi.
Dia mengatur napas, lalu mengusap kasar air mata yang membasahi pipinya. "Gue mau cerita. Sekarang Gagas membuat gue berada di posisi sulit. Kalau gue turutin kemauan dia, gue bisa dapat info tentang keluarga lu. Gue mau itu, gue nggak tega lihat lu kesepian di sini. Mungkin dengan hadirnya orang tua lu, mungkin lu bisa merespons dan sadar. Namun, di satu sisi, gue harus mengorbankan Alita. Gue nggak mau itu. Sialan ...." Lirihnya lagi dengan suara serak.
Matanya memerah, dadanya terasa sangat sakit sekarang. "Apa yang harus gue lakuin, Dion? Lu dengar gue, kan? Jawab!"
Ruri tahu, apa pun yang dia lakukan hanya berakhir sia-sia, tetapi dia tidak pernah menyerah. Selama empat tahun terakhir ini, gadis itu tetap mengajak Dion berbicara, walau tak ada balasan sedikit pun dari ucapannya.
Dion sudah seperti buku diari baginya, dia menulis semua cerita tentang hari-harinya di sana, menceritakan kepadanya tanpa terlewat sedikit pun.
__ADS_1
Ruri membersihkan kacamatanya yang berembun. Lalu mengenakan kembali. Dia bangkit dari duduk dan berensot ke pojok ruangan.
Pojok ruangan tersebut sudah seperti kasur untuknya. Gadis itu selalu tertidur di sana, karena saat datang mengunjungi Dion, dirinya selalu dalam posisi lelah menjalani hari. Mata Ruri terasa semakin berat, dia terlelap ke alam mimpi.