
Memang benar, dari awal Dion sudah melakukan kesalahan besar. Yaitu tanpa sengaja mengajak Ruri belajar bersama. Karena kesalahan itu tak bisa dihindari, mau tak mau Dion tetap mengikuti alurnya takdir hingga dia terus berbohong dan membuat kesalahan lainnya.
Ruri paling benci kebohongan. Ruri membencinya lebih dari apa pun. Jika Dion memiliki niat lain, maka dia sama saja dengan laki-laki lain yang pernah mendekatinya.
"Maaf telah berbohong sejak awal. Sebenarnya aku tidak memiliki minat dalam belajar. Tapi setidaknya aku tidak berbohong jika belajar itu mau tak mau harus tetap mau. Pada bagian itu aku tidak bohong," nada bicaranya lesu, Dion menunduk.
"Jadi, apa maksud lu sebenarnya ngikutin gue sampai berbohong seperti ini?" Ruri jengah mulai merapikan bukunya.
"Aku mengagumimu dan ingin menjadi temanmu. Apakah boleh?" tanyanya ragu.
"Boleh. Menjadi teman itu bukan sebuah dosa. Tapi di bagian mengagumi itu, sebaiknya lu buang saja. Gue nggak tertarik soal percintaan," katanya dingin lalu bangkit dan pergi dari sana.
Hari itu Dion meninggalkan kesan di hati Ruri. Kesan kecewa yang teramat dalam. Ruri sejak awal sempat menaruh perhatian padanya, tetapi setelah tahu jika laki-laki itu sama dengan banyaknya laki-laki yang mendekatinya, Ruri jengah dan tak lagi memikirkannya.
Dion menatap punggung Ruri yang perlahan menjauh, seolah hilang dan tak akan muncul lagi di depannya. Hari-hari setelah itu dia tak melihat lagi Ruri melewati kelasnya. Bahkan Kagami dan Alita pun enggan menyapa jika mereka berselisih jalan. Benar-benar mengecewakan, Dion dihantui rasa bersalah.
Malam hari di kosannya, Dion menatap buku gambar kosong yang sedari tadi terbuka. Tak ada inspirasi, dia tak tahu hendak menggambar apa di sana.
Matanya sendu menatap buku-buku jari yang tercipta karena dia selalu menghabiskan banyak waktu untuk menggambar. Tak ada yang menyukai bakatnya ini, terlebih lagi orang tuanya pun sama.
Kepalanya bersandar di kursi, menatap langit-langit. Sekali lagi dia membayangkan wajah Ruri di sana, mencari tahu sebenarnya apa yang bisa dia lakukan untuk memperbaiki hubungan dengan Ruri. Di waktu bersamaan juga dia membayangkan wajah Alita dan Kagami, terutama sikap mereka.
"Apa maksudnya aku sama dengan laki-laki lain yang mendekatinya? Padahal dia berteman dengan Kagami. Apakah Kagami bukan laki-laki di matanya?"
Jauh Dion termenung hingga dia menemukan jawaban. Buku gambar kosong tadi dia tutup dengan senyum yang langsung terukir begitu saja.
"Aku akan melakukannya! Mungkin itu yang Ruri maksud dari perkataannya!"
***
Suasana di kelas Ruri lenggang karena murid sebagian besar sudah keluar tepat ketika bel istirahat berbunyi. Ruri dengan lesu merapikan buku tulisnya, kemudian hanya meninggalkan satu novel di mejanya.
__ADS_1
"Ruri, kenapa lesu gini? Kamu masih kecewa sama Dion?" tanya Alita.
"Nggak, gue nggak mood mau ketemu dia lagi. Membosankan memang."
"Padahal aku kira Dion orang yang baik, loh. Soalnya dia traktir aku dan Kagami makan." Matanya beralih menatap laki-laki yang masih berada di bangku paling belakang.
"Pikiranmu terlalu sederhana, Alita. Mengapa kamu memutuskannya begitu?" Kagami menyahut.
"Habisnya, dia tak akan membiarkan orang lain kelaparan. Menurut aku dia cukup baik. Kita berteman dengannya saja, ya?" Mohon Alita pada Ruri.
Gadis berkacamata itu mengernyit. "Kalau lu mau, berteman aja sendiri. Jangan ngajak orang lain."
Hal yang membuat Ruri jengkel dengan Dion bukan hanya kebohongannya. Namun, hatinya yang semula mulai tertarik padanya mendadak sirna dan itu teramat mengecewakan. Ruri merasakan benih cinta waktu bersama Dion dan itu layu dalam sekejap.
Alita dan Kagami bersiap untuk ke kantin, Ruri tidak mau ikut, dia hanya menitip beberapa makanan saja. Setelahnya mereka akan makan bersama di kelas, kegiatan ini sudah terjadi selama beberapa hari. Namun, langkah mereka terhenti ketika mata beradu dengan Dion. Napas laki-laki itu terengah-engah di ambang pintu kelas mereka.
"Maaf mengganggu, apakah aku boleh masuk?" tanya Dion setelahnya.
Ruri hendak mengabaikan dan lanjut membaca novel di tangannya, tetapi buku gambar yang Dion bawa menyita perhatiannya.
Dion berjalan ke meja Ruri, meletakkan buku gambar yang dia bawa. "Aku pintar menggambar, melukis dan hal lain yang berkaitan dengan seni tangan semacamnya, aku bisa melakukannya."
Ruri mengangkat sebelah alis, menatapnya heran. "Lalu, apa yang lu mau?"
Dion menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, "Aku minta maaf atas kesalahanku sebelumnya. Jadi, aku datang ke sini untuk menggambar apa pun yang kamu suruh sebagai permintaan maaf dariku. Apa pun itu, aku lakukan agar kamu memaafkanku," mohonnya.
Mata Ruri membesar melihat ketulusan yang Dion pancarkan. Dalam sekejap degup jantungnya berpacu cepat. Bergejolak senang padahal sebelumnya biasa saja. Bibirnya tiba saja dirasa berat hendak menjawab.
"Eh, benarkah? Wah, hebat sekali, Dion! Kalau begitu gambarlah selagi kami pergi ke kantin!"
Alita dan Kagami bergegas pergi, meninggalkan Ruri dan Dion. Mereka berdua saling diam. Canggung dan kosong.
__ADS_1
"Kenapa lu repot-repot melakukan hal ini?" Ruri masih menunjukkan sikap dingin.
"Karena aku tertarik denganmu. Izinkan aku menjadi teman kalian, ya, aku ingin mengenalmu lebih dalam lagi."
"Permintaan maaf saja seharusnya sudah cukup." Mata Ruri mengedar mencari objek bagus untuk digambar. "Kalau begitu, gambar novel ini." Akhirnya dia memutuskan.
Dion bahagia karena permintaan maafnya diterima oleh Ruri. Novel misteri di tangan Ruri pun menjadi objek gambarnya selama dia berada di kelas tersebut. Tangannya lihai mencoret kertas putih itu dengan sketsa yang perlahan memperlihatkan hasilnya. Bukan hanya buku novel itu yang dia gambar, tetapi gadis yang memegangnya pun digambar olehnya. Walau itu sketsa kasar yang belum jadi, Ruri bisa menerkanya.
"Lu berlebihan gambarnya," protes Ruri.
"Aku tak bisa menggambar wajahmu secara sempurna. Karena kecantikanmu tak bisa diciplak begitu saja. Terutama kesan yang kulihat saat pertama kali melihatmu. Kacamata manis. Jadi, aku hanya akan menggambar sosok kartun di sini."
Ruri tersipu malu mendengarnya. Sebisa mungkin dia menahan gejolak di dada. "Sialan!" gumamnya menahan salah tingkah.
***
Pulang sekolah Ruri memajang gambar yang Dion buat untuknya hari ini di dalam kamar. Tak berhenti matanya menatap sosok wanita berwajah kartun yang sedang tersenyum itu, selagi membaca sebuah novel. Gambar itu sempurna di mata Ruri, dan bakat yang Dion tunjukkan semakin menarik hati Ruri tuk jatuh padanya.
Ruri merebahkan diri ke kasur, membayangkan wajah Dion tersenyum saat berbicara dengannya dan wajah Dion saat menggambar tadi membuatnya tanpa sadar tersenyum juga dengan lebar. Hatinya menghangat merasakan kenyamanan.
"Apa-apaan gue? Dasar aneh!"
Ruri menggerutu sendiri lalu tertidur walau badan masih memakai seragam sekolah.
Dia lelah dan tak sadar, bahwa sore sudah menjelang. Jika saja sang mama tidak membangunkan, pasti tidurnya bablas sampai malam.
"Ruri bangun, ada tamu untukmu."
Suara mamanya lembut menyapa telinga. Ruri perlahan membuka mata. "Tamu? Seingat Ruri nggak ada janji temu sama Alita dan Kagami, deh," katanya mengucek mata.
"Bukan, ini temanmu yang bernama Dion."
__ADS_1
Mata Ruri bulat sempurna mendengarnya. Dion? Apa yang laki-laki itu lakukan di rumahnya sore-sore begini?