
"Terima kasih, Kagami. Kamu boleh duduk."
Suara Buk Ima membuat laki-laki yang tengah hanyut di pikirannya sendiri itu terkejut. Dia lalu meletakkan akordeon yang dia peluk dengan sangat hati-hati ke atas meja.
Matanya membelalak dengan tatapan kosong menuju tempat duduknya kembali, tanpa memedulikan Alita dan Ruri yang tengah mengerling menatapnya.
Bel pergantian jam pelajaran berbunyi, para murid kecewa mendengarnya, padahal mereka masih ingin mendengar Pak Arka bermain akordeon lebih lama.
"Ha ha ha, sepertinya pertemuan singkat kita telah berakhir." Dia melihat satu persatu murid kelas dua A kemudian pandangannya kembali berhenti lama melihat Kagami. Remaja itu masih mematung dengan tatapan kosong di sana. "Jika kalian tertarik sama alat musik, ingin memainkannya atau ingin mempelajarinya lebih dalam. Jangan sungkan-sungkan datang ke sanggar saya, ya. Saya tunggu kehadirannya," pamit Pak Arka kemudian pria tua itu berlalu dari kelas dua A.
Buk Ima menutup pelajaran, guru bertubuh tinggi semampai tersebut menyusul langkah Pak Arka.
Setelah kepergian Buk Ima, tanpa banyak basa-basi Ruri langsung menepuk kepala Kagami, membuyarkan lamunan laki-laki tersebut.
"Lu gimana, sih, bilangnya nggak tertarik sama alat musik, tapi bisa main akordeon!" celetuknya kesal.
Kagami mengerjap, mendapati tatapan serius dari Alita dan Ruri. Sedangkan Mirai menatap bingung ke arahnya.
"Aku nggak tahu. Tiba-tiba tanganku bergerak sendiri. Mulutku menjawab pertanyaan Pak Arka tanpa sadar. aku nggak tahu semua itu, kayak ada orang lain yang bersemayam di dalam diriku." Kagami menutup wajahnya sambil menggeleng.
"Lebai lu! Mana ada hal begituan. Mungkin lu berbakat, tapi lu nggak sadar sama bakal lu!"
Alita mengangguki ucapan Ruri. "Benar, sama kayak Ruri yang berbakat membuat orang takut!" ejek Alita membuat dia mendapat tatapan tajam dari Ruri.
"Ngomong-ngomong, lagu apa yang kamu mainkan tadi, Kagami? Terdengar seperti lagu daerah, ya," tanya Mirai.
Kagami membuka tas miliknya kemudian mengeluarkan sebuah buku usang dari dalam sana. "Aku memainkan tangga nada yang berada di buku ini," kata Kagami seraya menyerahkan buku tersebut kepada Mirai.
Gadis berambut pendek itu terbatuk-batuk ketika kepulan debu keluar dari lembaran demi lembar buku usang yang Kagami berikan. Alita tertawa mengejek ekspresi lucu dari Mirai.
"Ha ha ha, maafkan Kagami, ya, Mirai. Dia suka banget sama buku itu sejak lama. Entah kenapa, dia sendiri aja nggak tahu alasannya. jadi jangan kaget kalau banyak debu yang keluar dari sana. Lama kelamaan, mungkin bukan debu saja yang keluar, dinosaurus juga mungkin akan keluar dari sana karena saking tuanya buku tersebut!" Alita terbahak-bahak dengan ucapannya sendiri.
Tawanya terhenti ketika suara Buk Ima menggema di kelas mereka.
Setiap murid melirik ambang pintu, tempat Buk Ima berdiri saat ini.
__ADS_1
"Kagami, ikut saya sebentar."
Laki-laki yang dipanggil terkejut, dia gelabah langsung melangkah mengikuti Buk Ima tanpa banyak basa-basi lagi.
"Ada apa, ya?"
Ruri penasaran, Alita dan Mirai menggeleng menanggapinya.
***
Buk Ima mengajak Kagami menuju ruang tempat tamu duduk ketika datang berkunjung. Di dalam ruangan tersebut sudah ada Pak Arka yang tersenyum ke arahnya, ketika Kagami telah berdiri di ambang pintu.
"Masuk, Nak. Pak Arka ingin bertemu denganmu," perintah Buk Ima.
Kagami yang masih berdiri di ambang pintu pun duduk di sofa yang berada di sana. dia menghadap ke arah Pak Arka dengan akordeon di sampingnya. Buk Ima pernisi, meninggalkan mereka berdua saja.
Kagami gelisah, pikirannya berkecamuk. Dia pikir mungkin saja Pak Arka marah karena dia memainkan asal tangga nada tadi atau mungkin saja akordeonnya rusak akibat ulah Kagami. Pikirannya dipenuhi hal-hal buruk sekarang.
"Siapa nama lengkapmu, Nak?" Pak Arka bertanya, memecah keheningan di antara mereka.
"Siapa nama orang tuamu, Nak?"
Pertanyaan Pak Arka membuat Kagami terkejut. Dia tidak mungkin menceritakan kalau sebenarnya dia hilang ingatan dan tidak ingat apa pun tentang dirinya, termasuk orang tua kandungnya.
Tiba-tiba wajah ayah angkatnya terlukis di pupil matanya, laki-laki tersebut mantap memberi jawaban.
"Febriante Oved, Pak. Dia pemilik salah satu panti asuhan," jelas Kagami.
Pak Arka mangut-mangut mendengarnya. "Jadi kamu asli lahir di kota ini, ya?"
Pertanyaan Pak Arka diangguki oleh Kagami, walau sebenarnya laki-laki itu ragu dengan anggukannya sendiri.
"Caramu bermain akordeon tadi sangat bagus. Sepertinya kamu sudah pernah mempelajarinya, ya?"
Kagami terdiam beberapa saat, bola matanya gelisah menatap ke sana kemari. Dia sendiri saja tidak tahu, entah kenapa tangannya bergerak dengan sendirinya saat bermain akordeon tadi. Itu jawaban yang konyol jika dia berkata jujur.
__ADS_1
"Enggak, Pak. Saya hanya memperhatikan bapak menjelaskan, lalu saya ingat pernah mengapal tangga nada dan mencobanya tadi pada akordeon milik Bapak." Kagami kembali memberi alasan logis yang dibuat-buat.
Jawaban Kagami membuat Pak Arka mengernyit. "Hebat sekali kamu, bisa memainkan akordeon dalam sekali ajar saja," pujinya kemudian tangan keriput pria tua tersebut terulur menarik tangan Kagami.
Remaja di hadapannya terkejut, ketika Pak Arka memperhatikan telapak tangannya begitu lama.
"A–ada apa, Pak?" Kagami tergagap karena bingung.
Pak Arka melepas tangan Kagami, "Sepetinya kamu berbakat memainkan alat musik. Apakah kamu berasal dari keluarga musisi?"
Kagami menggeleng sebagai jawaban. Lagi dan lagi, dia memberi jawaban palsu. Padahal dia sendiri tidak tahu apa-apa tentang dirinya.
"Begitu, ya? Berarti mungkin ini bakat alamimu."
Pak Arka merogoh sesuatu di saku celananya. Mengeluarkan sebuah kartu dari sana. Kemudian melempar kartu tersebut ke arah Kagami.
"Itu buat kamu. Kapan-kapan datanglah ke sanggar musik saya, siapa tahu kamu berminat belajar di sana," tawar Pak Arya seraya memperbaiki letak kacamatanya.
Kagami membaca tulisan yang berada di kartu tersebut.
[Kartu Anggota Sanggar Musik Arka Jaya]
Begitulah yang tertulis di sana. Kagami menggeleng, "Tidak, Pak. Saya tidak berbakat memainkan alat musik. Apalagi menjadi anggota sanggar musik, rasanya saya tidak bisa," kata Kagami sesopan mungkin.
Pak Arka tertawa mendengarnya. "Saya tidak memaksa kamu untuk menjadi anggota sanggar musik saya. Kartu itu untukmu, simpan saja. Jika kamu berminat silakan daftarkan diri ke sanggar saya. Makanya tadi saya bilang, kapan-kapan kalau ada waktu datanglah mengunjungi sanggar saya. Mungkin setelah sampai di sana kamu berubah pikiran."
Kagami mengangguk ragu sebagai balasan.
Pak Arka meneliti penampilan Kagami sekali lagi. "Kamu mengingatkan saya kepada seseorang. Dia mirip sekali denganmu."
Suara Pak Arka membuat Kagami menengadah menatap ke arahnya tanpa berkedip sedikit pun. Matanya membesar setelah mendengar hal tersebut. "Siapa yang bapak maksudkan?"
Pak Arka kembali tertawa. Suara tawanya kali ini lebih besar dari sebelumnya. Pria tersebut menikmati tawanya beberapa saat, sedangkan Kagami sudah tidak sabar mendengar jawaban darinya.
"Kamu benar-benar remaja yang menarik. Memiliki bakat dan ketertarikan tersendiri! Sama persis dengan teman saya!" Tawanya semakin keras menggema ruangan tamu tempat mereka berada.
__ADS_1
"Siapa teman bapak itu?" Kagami mencoba menelisik lebih dalam.