Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Keinginan Sendiri


__ADS_3

Pita berhenti bernyanyi. Matanya yang semula terpejam perlahan dia buka, mendapati tatapan kaget dari tiga teman barunya.


"Aku sebenarnya cukup berbakat di bagian vokal, tetapi aku memaksakan diri untuk bisa bermain musik juga," jawab Pita dengan sorot mata meneduh.


"Selain itu, Kagami!" Dia menatap Kagami tajam. "Dari mana kamu tahu not lagu itu? Dan ternyata kamu bisa bermain akordeon?!" Sekarang giliran Pita yang kaget.


Kagami mengambil tas miliknya, mengeluarkan buku not lagu usang yang dia bawa. "Aku mengetahuinya dari buku ini. Dan kamu, Pita? Kenapa kamu tahu lirik lagunya?"


Alita dan Ruri menyimak pembicaraan mereka dengan antusias.


Pita terbatuk-batuk ketika kumpulan debu yang berada di buku tersebut mengudara. "Buku ini sudah berapa lama? Kenapa banyak sekali debu di sana?" tanya Pita lalu mengembalikan buku itu lagi kepada Kagami.


Kagami menyengir mendengarnya. "Sejak aku berusia tujuh tahun, dan kini aku berusia tujuh belas tahun. Sekitar sepuluh tahun usianya."


Pita mengangguk mendengarnya. "Kalau boleh tahu, dari mana kamu dapat buku ini, Kagami?" tanya gadis berponi itu kembali.


"Tunggu dulu, Pita. Apa yang membuat lu terlihat sangat antusias mengenai buku itu?" Ruri bergabung ke dalam percakapan mereka.


Sorot mata Pita beralih menatap angsa yang tengah berenang di pinggir danau, jauh dari saung tempat mereka berada sekarang. "Sebenarnya lagu yang Kagami mainkan tadi adalah lagu tradisional yang berasal dari desaku." Mata gadis itu berkaca-kaca. "Tapi, bukan itu yang membuatku antusias sekarang. Aku ingin sekali bisa bermain akordeon, saat melihat Kagami memainkan alat musik itu, aku harap jika itu aku yang berada di posisinya." Matanya kembali tertunduk sendu.


Kagami, Alita dan Ruri saling pandang satu sama lain.


"Desa kamu? Kagami, jangan-jangan ka—"


Suara Alita langsung ditahan oleh Ruri ketika ekor mata gadis bermata empat itu melihat Pita tengah menangis saat ini. Suara tangisnya terdengar semakin keras.


"Aku pengen bisa bermain alat musik. Aku pengen sekali ...." Suaranya terdengar melirih.


Ruri memberi kode kepada Kagami. Laki-laki itu memahaminya.


"Pita ... kalau kamu mau belajar bermain akordeon, mungkin aku bisa mengajari kamu teknik dasarnya.


Matanya yang semula basah kini berbinar menatap Kagami. "Serius?" tanyanya memastikan.

__ADS_1


Kagami mengaguk.


"Asyik! Diajarin calon suami!" pekiknya kegirangan. Kesedihan di wajahnya seketika mengudara.


Lama Kagami mengajarkan Pita teknik dasar bermain akordeon. Dia baru mengajari Pita cara memegang alat musik tersebut dengan benar dan nyaman, belum masuk cara memainkannya. Namun, di wajah Kagami sudah terlukis keputusasaan karena Pita sedari tadi tidak bisa memahami teknik dasar yang dia ajarkan.


"Pegang seperti ini, Pita. Tangan kamu di sini, terus di sini satu," jelas Kagami yang entah ke berapa kali.


Pita mengaruk kepalanya dengan putus asa. "Susah banget, padahal cuma megang akordeon doang. Langsung ajarin aku cara memainkannya lah! Bosan kek gini terus!" ketusnya tak sabaran.


Ruri dan Alita sedari tadi dengan sabar menyaksikan pertengkaran murid dan guru sementara di hadapan mereka.


"Lu nggak berbakat bermain alat musik, Pita. Menyerahlah," kata Ruri dengan datar.


Gadis berponi yang dia maksud langsung melayangkan tatapan tajam kepada Ruri. "Nggak! Aku nggak mau nyerah gitu aja." tegasnya kemudian.


"Kamu nggak berbakat bermain alat musik. Tetapi di satu sisi kamu memiliki suara yang indah, Pita. Kenapa kamu menuntut dirimu untuk menjadi sempurna?"


Pertanyaan Alita membuat Pita mencebik. Gadis itu mengembalikan akordeon di pelukannya kepada Kagami. "Udah, ah! Males latihan sama kalian. Aku biasanya juga latihan sendiri di sini!" Dia melipat tangan di depan dada.


"Males! Pak Arka nggak mau ajarin aku. Alasannya sama kayak kalian, katanya aku nggak berbakat!"


Kagami mengusap akordeon tua di pelukannya. "Kamu tahu, Pita? Sebenarnya aku ingin menjadi idol, loh. Penyanyi yang digemari banyak orang. Penyanyi yang memiliki suara indah yang bisa menghibur banyak orang." Kagami bersuara membuat Pita menatap ke arahnya.


"Tapi, Ruri bilang aku nggak berbakat nyanyi. Kata dia aku butuh banyak latihan vokal. Dan di satu sisi, saat Pak Arka datang ke sekolahku untuk mengajarkan akordeon kepada kami, aku jadi merasa jika jiwaku yang lain itu berada di dalam alat musik. Entah kamu percaya atau tidak, tetapi tanganku seolah bergerak sendiri ketika memegang alat musik tadi. Aku pikir ... apakah ini adalah bakatku?" jelas Kagami panjang lebar.


"Jadi, kamu perlahan udah menemukan jati dirimu, Kagami?" Suara Alita terdengar lembut di sampingnya.


Kagami tersenyum ke arah gadis tersebut. "Sepertinya begitu. Entah kenapa saat bermain musik, mendengarkan musik hatiku menjadi tenang, seolah-olah aku bertemu dengan jiwaku yang lain." Sorot matanya kembali menatap akordeon tua di depannya.


"Semoga ini menjadi langkah lu selanjutnya, Kagami. Dan lu, Pita. Apa yang membuat lu bersikeras melawan takdir seperti ini? Jelas-jelas lu nggak berbakat bermain alat musik, dan lu menyadari bakat lu sebenarnya. Pasti ada alasan kuat di balik ini, kan?" Ruri menaikkan sebelah alisnya.


Pita memundurkan duduknya, hingga punggungnya bersandar di salah-satu tiang penyangga saung. Di sana mata gadis tersebut melihat hamparan danau yang begitu luas dengan tatapan kosong.

__ADS_1


"Soal pertanyaan tadi yang belum aku jawab. Sebenarnya, not lagu yang Kagami mainkan tadi adalah not dari lagu kancil dan rembulan. Itu adalah lagu tradisional yang berasal dari desaku. Desa Padamiri." Matanya menatap ketiga remaja yang berada di sana satu per satu.


Kagami berkecamuk dengan pikirannya sendiri, mencari tahu apakah ada serpihan ingatannya yang berkaitan dengan penjelasan Pita tadi, tetapi otaknya tidak merespons apa pun.


Sedangkan mata Ruri membola, dengan mulut yang hampir menganga setelah mendengar penjelasan Pita.


"Desa Padamiri?" kata Ruri dengan nada tinggi.


Dia menjadi sorot perhatian.


"Jangan bilang kalau desa yang se—"


"Hai ...! Kaliaaan di sana, ya? Ayok ke sini sekarang ...!"


Perkataan Ruri terpotong ketika suara seorang pria tua berteriak ke arah mereka.


"HALLO, PAK ARKA! KAMI AKAN KE SANA SEKARANG!" balas Pita dengan suara yang lebih memekak.


Gadis berponi itu tersenyum seraya melambaikan tangan ke arah Pak Arka yang berdiri jauh di seberang danau. Sorot wajahnya tiba-tiba berubah, kesedihan yang berada di sana seketika menguap.


"Ayok, temui, Pak Arka sekarang!" ajak Pita memandang ketiga teman barunya satu persatu.


"Eh, tapi tunggu dulu. Sebelum pergi bantu aku sembunyikan akordeon ini di bawah meja, seperti tadi!"


Tiba-tiba Pita gelabah, manik matanya menampakkan ketakutan di sana. Kagami langsung mengangkat meja yang berada di depannya. Sedangkan Alita dan Ruri membantu Pita memasukkan akordeon yang cukup berat itu ke dalam sebuah kotak. Kemudian menggesernya perlahan hingga posisinya pas berada di bawah meja seperti tadi.


"Kenapa disembunyikan, Pita?" Alita penasaran.


"Pokoknya sembunyikan aja di sini! Nanti kalau dibawa sama Pak Arka, aku nggak bisa main akordeon lagi!" jawab Pita sambil cengengesan.


"Akordeonnya jangan disimpan di sana, Pita! Nanti rusak. Kalau sudah rusak kamu mau ganti rugi?! Bawa ke sini, sekarang!" perintah Pak Arka secara tiba-tiba.


Keempat remaja yang tengah berusaha menyembunyikan alat musik tersebut langsung tersenyum kecut mendengarnya.

__ADS_1


"Sepertinya, kita kalah cepat dengan insting Pak Arka!"


__ADS_2