Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Dia Berbahaya


__ADS_3

Suaka yang baru tiba di kafe tidak sengaja melihat Alita yang sedang gelisah di hadapan seorang laki-laki berjas. Remaja tersebut bergegas berlalu dari parkiran, lalu mengintip dengan jarak yang lebih dekat lagi. Setelah melihat wajah laki-laki berjas itu lebih jelas, matanya melebar mendapati sosok yang tidak asing di sana. Laki-laki kemarin yang sengaja menumpahkan kapucino ke wajah Kagami, senior yang sangat dia hormati.


Suaka tidak penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Namun, melihat laki-laki berjas itu menggenggam tangan Alita hingga gadis itu kesakitan, membuat Suaka tidak bisa diam saja melihatnya. Harga diri seorang laki-laki dipertaruhkan jika tidak mampu melindungi wanita.


Masih belum beranjak dari posisi, Suaka mencari cara menyelamatkan Alita dari laki-laki berjas itu. Lalu sebuah ide melintas di kepalanya, remaja berambut kelimis itu tidak lagi berpikir dua kali. Dia langsung menerjang ke depan, lalu menarik Alita untuk menjauh dengan alasan yang dia buat-buat.


Setelah sampai di tempat yang cukup aman, baru Suaka menjelaskan maksudnya yang sebenarnya.


"Kakak harus menjauh dari laki-laki tadi. Dia itu orang yang sangat berbahaya!" seru Suaka dengan sorot mata tajam.


"Aku lihat dia genggam tangan Kakak dengan kasar, terlihat seolah-olah memaksakan sesuatu sama Kakak. Maka dari itu aku datang dan membuat alasan seperti ini. Maafkan aku, kak." Suara Suaka terdengar sendu.


Alita tersenyum. "Siapa bilang kakak marah. Walaupun kakak sempat kaget tadi, tapi kakak sangat berterima kasih sama kamu, Suaka. Kalau nggak ada kamu, mungkin dia masih menekan kakak di sana."


Suaka tersenyum bangga seraya mengaruk kepalanya yang tidak gatal setelah mendapat pujian dari seniornya. "Oh iya, Kak. Kenapa Kakak nggak bareng sama Kak Kagami?" Remaja itu celingak-celinguk mencari keberadaan sosok familier yang tak tampak batang hidungnya.


Alita mengernyit, dia rasa Kagami pergi duluan tadi, tetapi kenapa dia belum sampai. "Tadi dia duluan pergi ke kafe. Maka dari itu Kakak ketemu Gagas di jalan dan dipaksa berboncengan sama dia," jelas Alita kemudian.


"Gagas? Jadi nama laki-laki itu Gagas, kak?" Pertanyaan Suaka diangguki Alita.


"Kemarin waktu si Gagas itu siram kapucino ke muka Kak Kagami sebenarnya gara-gara dia memotret kakak diam-diam. Kak Kagami marah dan menegurnya. Maka dari itu aku bilang kak Gagas itu berbahaya, Kak!"


Suaka menutup mulutnya secepat mungkin karena keceplosan mengatakan hal yang seharusnya dia rahasiakan. "Nggak, Kak. Lupain apa yang aku katakan tadi," lontarnya kemudian.


Sorot mata remaja itu berkaca-kaca menatap Alita. Degub jantungnya bergerak cepat, diiringi keringat dingin di kening. Remaja itu benar-benar ketakutan. "Kakak, lupain apa yang aku katakan tadi, ya. Please ...," katanya memohon dengan sorot mata sendu.


Dia sangat takut jika kepercayaan Kagami padanya berkurang gara-gara sikap cerobohnya hari ini.


Alita tertawa, "Kamu ngomong apa, sih, Suaka? Lucu banget!" Gadis itu mengacak-acak rambut junior yang berada di hadapannya sebelum berlalu dari sana.


"Aduh! Dasar mulut aku. Keceplosan pula!" Suaka merutuk dirinya sendiri. "Untung aku nggak ngomong lebih dari ini!"

__ADS_1


***


Setelah sampai di dealer, Kagami kebingungan memilih warna sepeda motor yang dia inginkan. Laki-laki itu memijit kepala yang terasa berdenyut sambil melihat sepeda motor yang berbaris di hadapannya.


"Warna apa, ya?"


Pertanyaan itu sudah dia tanyakan kepada diri sendiri berulang kali. Bahkan Ruri tidak tahu sudah menjawab pertanyaan yang sama berapa kali. Karena sudah sangat tidak sabar menunggu dari tadi, Ruri mendaratkan pukulan di kepala Kagami.


"Cepat pilih sekarang, Goblok! Lu mau telat pergi kerja?!" seru Ruri seraya memandangi Kagami yang tengah merintih kesakitan.


"Yos! Warna merah aja!" seru Kagami kemudian.


Ruri tidak habis pikir. Padahal dari tadi dia sudah menyarankan warna itu, tetapi tidak didengar oleh Kagami.


Akhirnya setelah memilih lama, pilihan Kagami jatuh pada sepeda motor bebek berwarna merah. Sederhana, tetapi Kagami bangga karena bisa membelinya secara cas.


Kagami mesam-mesem sendiri ketika pertama kali menduduki sepeda motor barunya. "Ruri, lihat akhirnya aku punya sepeda motor!" seru laki-laki itu dengan senyum merekah.


Laki-laki itu mengangguk kemudian berlalu dari sana menggunakan sepeda motor barunya. Sepanjang perjalanan Kagami terus tersenyum hingga terlihat seperti orang aneh. Selagi itu sudut bibir Ruri terangkat, menatap punggung Kagami yang perlahan menghilang.


Kagami sampai di tempat kerjanya, laki-laki itu memarkirkan sepeda motor baru miliknya sehati-hati mungkin. Langkahnya perlahan menuju pintu belakang kafe, walaupun begitu senyum di wajahnya belum pudar sedikit pun.


Di ruang ganti pakaian Kagami bertemu Suaka di sana. Remaja itu gelagapan menyembunyikan rasa takutnya, mengingat dia telah membocorkan rahasia kepada Alita karena kecerobohannya tadi.


Seolah tidak peduli sikap apa yang remaja itu tunjukkan, Kagami tetap saja senyum-senyum sendiri dan membuat Suaka penasaran.


"Kakak Kagami kenapa senyum-senyum sendiri?"


"Rahasia ...," jawab Kagami sambil mengedipkan sebelah matanya.


Keanehan Kagami tidak hanya sampai di situ. Hari ini dia bekerja dengan sangat cepat diikuti senyum di wajahnya yang tidak menghilang sedikit pun. Dia mengabaikan semua tatapan aneh yang dilayangkan karyawan lain kepadanya. Bahkan saat Alita bertanya pun dia hanya tersenyum sebagai jawaban.

__ADS_1


"Nggak sakit apa muka dia senyum-senyum kek gitu?" heran Alita.


***


Malam ini angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Terlihat di depan sebuah apotek seorang gadis berdiri di sana. Dia memakai jaket berwarna pink dengan rambut yang dikucir ke samping. Gadis itu menggenggam sebuah botol kecil di tangan sambil menyeringai seorang diri.


"Lihat saja nanti, Alita. Gue bakal bikin lu kapok!" ambisi Rera lalu gadis itu melangkah menuju mobilnya yang terparkir di depan apotek.


Botol kecil di tangannya dilempar-lempar ke udara, disertai sorot mata tajam seolah tidak sabar menunggu sesuatu terjadi.


***


Awalnya angin bertiup sangat kencang malam ini. Kemudian awan hitam terlihat berbaris di langit diikuti gemuruh yang sesekali terdengar. Kafe tempat Alita bekerja telah tutup sedari tadi. Sehabis mengganti pakaiannya, gadis itu berdiri di depan kafe seraya menatap langit malam.


Angin malam menusuk hingga ke tulang. Gadis yang masih memakai seragam sekolah itu menggigil kedinginan di sana. Lalu sebuah tangan mengulurkan jaket ke arahnya. Alita melirik pemilik tangan tersebut yang ternyata adalah Kagami.


"Pakai jaket aku," tawar laki-laki yang baru datang itu.


Alita menggosok telapak tangannya, menciptakan kehangatan di sana. "Nggak, kamu aja yang pakai. Kamu juga kedinginan, tuh,"


Tahu jika itu jawaban yang akan Alita berikan, Kagami langsung membalut tubuh kedinginan gadis itu dengan jaketnya tanpa sepertujuan Alita. Gadis itu terkejut, mendapatkan kehangatan.


"Pakai aja. Aku sudah biasa kedinginan, Alita. Di kosan kadang aku tidur langsung di keramik tanpa beralaskan tikar. Jadi kamu jangan menghawatirkan aku!" Bangga Kagami seraya tersenyum lebar.


Tingkah lucu Kagami membuat gadis yang berada di hadapannya terkekeh kecil. "Tumben nggak senyum-senyum lagi, sudah sembuh sakitnya?" ejek Alita kemudian.


Mendengar hal itu Kagami jadi teringat satu hal. Dia kembali tersenyum lalu pergi dari sana. Sedangkan Alita bertambah binggung dibuatnya.


Tidak lama kemudian, Kagami kembali lagi sambil menarik paksa Suaka.


"Ada apa, sih, Kak Kagami?" kata Suaka risih karena tiba-tiba saja ditarik ke sana.

__ADS_1


"Kalian tunggu di sini. Jangan bergerak!" teriak Kagami lalu dia berlari menuju parkiran.


__ADS_2