
Bibirnya bergemetar, disertai rahang yang mengeras. Kedua tangan Kagami memegang kepalanya semakin erat selagi rasa sakit yang menghunjam di saja membuat dia semakin menderita.
"Aaargh! Sakit sekali!"
Kagami menjerit seorang diri di dalam toilet. Perlahan kakinya melemah, tubuhnya terduduk di lantai dengan punggung menyentuh dinding. Di sana dia membentur kepalanya berkali-kali ke dinding karena tidak tahan lagi dengan sakit yang dia derita.
Perlahan kelopak mata Kagami terkulai, diikuti pandangannya menggelap. Samar-sama sebuah suara terdengar mendekat ke arahnya sebelum Kagami ambruk di sana.
***
"Aku tidak mencintai siapa pun, karena aku masih kecil," kata seorang bocah laki-laki dengan nada datar.
"Kakak jahat! Kalau udah dewasa gimana? Aku dan kakak boleh menikah, kan?" Suara cempreng seorang bocah perempuan membalas.
"Sayang, kamu masih kecil tidak sepantasnya membicarakan hal ini." Suara lembut seorang wanita terdengar dari kejauhan.
Sekeliling Kagami gelap. Sekitarnya kosong, laki-laki itu terbaring lemah di sebuah ruangan hampa tanpa batas. Perlahan terdengar dialog anak kecil dan orang dewasa menggema di sana. Entah siapa pemilik suara tersebut, Kagami sendiri tidak mengetahuinya.
"Siapa di sana?" Kagami kebingungan.
Suara lain terdengar di telinga Kagami. Matanya yang semula berat kini perlahan terbuka. Tubuhnya tiba-tiba saja terasa ringan.
"Kagami ... bangun."
Suara lembut seorang gadis terdengar semakin jelas. Mata Kagami terbuka, mendapati wajah Alita di sana. Samar-samar gadis tersebut terlihat tersenyum ke arahnya.
Kagami mengerjap, kemudian pandangannya menjelas mendapati Mirai dan Ruri di samping Alita. Ketiga temannya menatapnya gusar, kekhawatiran tercetak jelas di wajah mereka.
"Di mana ini?" tanya Kagami lirih.
Suara kipas angin mendominasi ruangan berdinding putih tempatnya berada. Kasur empuk dan tirai bermotif bunga ... ini adalah UKS.
Kagami mengedarkan pandangan, kemudian perlahan bangkit dari tidurnya.
"Jangan memaksakan diri, Kagami. Tadi kamu pingsan," kata Mirai mengingatkan.
__ADS_1
Laki-laki itu memegang kepalanya, kemudian memijit matanya yang terasa pedih. "Kenapa mataku terasa pedih sekali?" tanya Kagami bingung.
Ruri menghela napas. "Alita tadi khawatir banget lu tidur nggak pake bangun-bangun. Jadi, nggak sengaja dia numpahin minyak angin ke jidat lu. Alhasil minyak angin itu merembes sampai kena mata lo!" tutur Ruri menjelas.
Alita menutup wajah dengan kedua telapak tangan. "Maaf, Kagami. Aku khilaf," katanya membela diri.
Kagami tersenyum mendengarnya. Seperti biasa, tingkah lucu Alita selalu menghiburnya.
Kagami meraih lengan seragam yang dia gunakan, dijadikan kain lap untuk membersihkan matanya. Setelah rasa pedih di sana berkurang, Kagami kembali menanyakan situasi saat ini.
"Apa yang terjadi?" Kagami mengulang pertanyaannya.
Ruri menyipitkan mata, memperbaiki letak kacamatanya sebelum memberi jawaban. "Lu bilangnya ada urusan penting, ternyata lu tidur di toilet!" kata Ruri kesal.
"Kamu tahu, Kagami. Adik kelas yang menemuimu pingsan di toilet tidak sanggup mengendongmu ke UKS. Alhasil, Tirta yang kebetulan lewat mengendongmu sampai sini!" Alita terbahak-bahak setelah mengatakan itu.
Mata Kagami membelalak, dia tidak bisa membayangkan bagaimana Tirta mengendongnya tadi. "Terus, gimana selanjutnya?" Kagami penasaran.
"Kami dapat informasi ini dari adik kelas yang melaporkan jika kamu pingsan, Kagami. Mereka juga bilang, tubuh kekar Tirta ternyata bukan hanya sebuah pajangan. Saat mengangkatmu tadi, dia terlihat seperti seekor gajah yang tengah memeluk batang pohon yang besar." Mirai terkekeh dengan ucapannya.
"Lu romantis banget sama Tirta, Kagami!" timpal Ruri mengejeknya.
"Gue mau nanya, apa yang bikin lu pingsan? Lu kena racun? Dikeroyok atau gimana, sih, selama kenal sama lu baru kali ini gue lihat lu pingsan!" Ruri cemas setelah tawa mereka mereda.
Alita antusias mendengar pertanyaan Ruri. Dia melayangkan tatapan serius kepada laki-laki dengan wajah bingung di hadapannya. Kagami memijit leher yang terasa pegal, kemudian memegang kepalanya kembali.
"Entahlah, tiba-tiba saja kepalaku terasa sakit seperti ditusuk sebilah pisau. Terus di dalam kegelapan aku mendengar obrolan seseorang. Suara mereka terdengar asing di telingaku," jelas Kagami kepada teman-temannya.
"Jika sudah selesai mengobrolnya, silakan kembali ke kelas. Kalian tidak mau, kan, ketinggalan pelajaran."
Perkataan Kagami disela. Seorang wanita muda berjas putih menyingkap tirai yang menutupi mereka. Dia adalah Dilla, petugas kesehatan di sekolah Hirojaya.
Keempat remaja yang berada di sana langsung bergegas meninggalkan UKS. Di depan pintu, mereka bertemu dengan Tirta yang tengah duduk seorang diri di sebuah kursi. Laki-laki itu menatap Kagami datar.
Bibir Kagami terangkat hendak mengucapkan terima kasih, tetapi Tirta duluan bersuara menahan ucapannya.
__ADS_1
"Kita impas," katanya kemudian melengang pergi tanpa penjelasan apa pun.
***
"Kagami, ada apa?" tanya Alita.
Mereka telah berada di dalam kelas. Suasana kelas masih ribut karena guru yang mengajar belum masuk. Suara Alita tiba-tiba saja membuyar lamunannya. Kagami memutar badan, duduk menyamping menghadap ke arah Ruri. Matanya melirik Mirai dan Alita, sebelum dia kembali bersuara.
"Kayaknya kejadian tadi berhubungan dengan ingatanku."
Suara Kagami membuat Alita kaget mendengarnya. Sedangkan Mirai yang tidak tahu apa-apa hanya berekspresi biasa saja.
"Apa yang lu lakuin sebelum kejadian itu terjadi. Pasti ada kaitannya sama masa lalu lu, Kagami." Ruri antusias.
"Sebenarnya ada apa dengan masa lalu Kagami?" tanya Mirai penasaran, gadis itu belum mengenal teman barunya lebih dalam, wajar jika masih banyak hal yang tidak diketahuinya.
Pertanyaan Mirai dijawab oleh Alita, setelah mendapat izin dari Kagami. Masa lalunya termasuk rahasia yang harus mereka jaga, selain Alita dan Ruri tidak ada teman sebayanya yang tahu soal itu. Karena Kagami percaya dengan Mirai, gadis berambut pendek tersebut boleh mengetahuinya sekarang.
Mata Mirai membelalak setelah mendengar penjelasan Alita. Gadis itu tidak percaya jika Kagami mengalami masa lalu kelam seperti itu. Dia tidak bisa membayangkannya. "Jadi, apa yang membuatmu masih bertahan sampai saat ini, Kagami?"
Pertanyaan Mirai membuat Ruri mengernyit. "Tentu saja jelas jika Kagami sedang mencoba memperoleh haknya kembali. Siapa tahu keluarganya masih hidup, dia berhak bahagia. Jika sebaliknya terjadi, setidaknya memori masa kecilnya berhak kembali menjadi miliknya!" tegas Ruri karena tidak suka dengan pertanyaan Mirai.
Gadis berambut pendek itu terdiam. Mata sendunya menunduk. "Maaf jika pertanyaanku kurang sopan."
Jawaban yang Ruri berikan menggoyangkan hati Mirai. Bukan karena dia tersinggung, tetapi karena kalimat itu seolah-olah tercipta untuk menampar dirinya. Padahal Ruri tidak bermaksud demikian.
Kagami tersenyum, "Tidak, Mirai. Biasa saja, apa yang Ruri katakan benar. Anggap saja itu perwakilan jawaban dari aku."
Mata sendunya perlahan kembali menengadah. Mirai tersenyum tipis, seraya tangan menggenggam pena semakin erat. Dia kembali menyimak percakapan teman-temannya.
"Tadi aku mengobrol sama Rera. Bilang baik-baik sama dia untuk tidak mengganggu kita lagi. Sesuai dengan permintaan kamu, Alita." Kagami melanjutkan ucapannya, laki-laki itu melirik Alita sejenak.
"Aku nggak tahu rencana ini berhasil atau nggak. Yang jelas, setelah itu aku tiba-tiba merasa sakit kepala yang teramat sangat."
Kagami mengingat kembali dialognya dengan Rera, dia tidak mungkin mengatakan semuanya kepada mereka, karena dia tidak mau persahabatan mereka hancur gara-gara cinta. Terutama hubungan pertemanannya dengan Alita.
__ADS_1
Alita mangut-mangut mendengar penjelasan Kagami, "Aku penasaran, Kagami. Jika ingatanmu kembali, apakah kamu akan kembali menggunakan nama aslimu atau tetap memakai nama Kagami Oved?" tambahnya bertanya.
Pertanyaan Alita membuat Kagami diam beberapa saat. Laki-laki itu berkecamuk dengan pikirannya sendiri. "Itu nanti, Alita. Aku akan menjawabnya jika semua misteri ini sudah terungkap."