Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Serpihan Memori


__ADS_3

Malam saat Kagami pulang dari bekerja. Selama dalam perjalanan menuju kontrakan tempat dia tinggal, tidak berhenti mata tajamnya melirik ke arah spion. Terlihat sepeda motor sport dengan dua orang penumpang berbadan kekar seolah mengikutinya sejak dia keluar dari kafe. Bahkan saat Kagami membuntuti Alita pulang, posisinya saat itu Kagami juga merasa dibuntuti oleh dua pemuda kekar tadi.


Firasat Kagami tiba-tiba saja tidak enak. Jemari tangannya perlahan melemah, seolah pertanda jika dia tidak usah melajukan sepeda motornya jauh dari pada ini. Bisikan kecil di kepalanya terdengar seolah melarang Kagami untuk pulang.


Namun, laki-laki dengan rambut potongan undercut itu terus berpikir baik. Mungkin pengendara sepeda motor sport yang diduga membuntutinya hanya kebetulan karena arah pulang mereka sama.


Sesampainya di kontrakan, tubuh Kagami bergemetar. Kunci kos miliknya berulang kali terjatuh sebelum pintu di depannya terbuka. Dia melirik lagi ke belakang, pengendara yang membuntutinya menghilang. Sesaat dia bisa bernapas lega.


Sepeda motor bebek berwarna merahnya perlahan dimasukkan ke dalam kos. Saat hendak menutup pintu, entah dari mana dua orang pria bertubuh kekar tadi tiba-tiba saja sudah berdiri di depannya.


Kagami terperanjat dengan suara bergemetar dia sempat bertanya. "S–siapa kalian? Apa tujuan kalian ke sini?"


Bukannya mendapat jawaban. Pria berwajah berang di depannya langsung mendorong tubuh Kagami untuk masuk lebih dalam ke kos tersebut. Kagami yang terkejut tidak sempat melakukan perlawanan. Satu botol kaca langsung mendarat sempurna di kepalanya. suara derai pecahan kaca dari benda tersebut mendominasi malam yang semakin hening.


Kedua pria bertubuh kekar di depannya masih belum bergeming melihat Kagami mencoba untuk berdiri. Rekan preman yang satunya kembali menghantam botol kaca yang kedua. Di tempat yang sama dengan hantaman sebelumnya. Darah yang keluar dari hantaman tersebut semakin banyak, kesadaran Kagami seketika menghilang, tubuhnya ambruk lalu tergeletak tak berdaya.


"Hoi, lu mukulnya terlalu kuat. Coba periksa apakah dia sudah mati?" Preman berkulit hitam legam menyalahkan rekannya.


"Anggap aja pukulan dari gue bonus. Habisnya menghajar bocah ini hanya buang-buang tenaga!"


Mereka beranjak dari sana setelah tugasnya selesai. Sebelum itu mereka sempat mengirim foto Kagami yang sudah sekarat kepada Gagas, sebagai bukti tugas mereka telah dilaksanakan dengan baik.


Gagas pun mengirim sisa uang yang dia janjikan kepada preman sewaannya.

__ADS_1


Dia tertawa lepas di basecamp-nya yang gelap gulita. "Ha ha ha! Rasain lu Kagami. Salah sendiri cari masalah sama gue."


Tirta yang berada di sebelah Gagas tidak sengaja melihat foto Kagami telah tergeletak bersimbah darah. Karena khawatir Kagami mati, makanya pagi harinya dia langsung mencari Alita, memberitahu gadis tersebut agar segera memeriksa kondisi Kagami.


Tirta tidak ada masalah dengan Kagami. Bahkan dia merasa berhutang budi kepada Kagami, karena ucapannya membuat Rera sadar akan cintanya. Maka dari itu, Tirta tidak sepenuhnya memihak Gagas dan tidak pula sepenuhnya menyukai Kagami.


Ruri geram mendengar cerita dari Tirta. Dia tidak menyangka jika di dalam keluarganya terlahir seorang iblis yang teramat keji. Gadis berkacamata tersebut terus melamun dalam perjalanan pulang dari kantin, sambil membawa tiga kotak nasi di tangannya.


Apa yang harus gue lakukan? Bagaimana supaya Gagas sadar dan tidak mengganggu kami lagi? Sampai detik ini gue berpikir, tak sedikit pun petunjuk yang gue dapatkan. Siaaal! Setelah membohongi gue, mencelakai Alita lalu mencelakai Kagami? Andai saja boleh, ingin rasanya gue bunuh saja makhluk tak berguna seperti dia. Dasar hama menjijikkan!'


Walau bersungut di dalam hati, ekspresi wajahnya terlihat jelas mencetak apa yang dia pikirkan. Keningnya berkerut terus sejak tadi.


***


Perlahan matanya kembali menangis. Kali ini dia menangis dalam diam, tidak terisak seperti tadi. Kepalanya terasa berat sekali hingga di melipat tangan kemudian menyembunyikan wajahnya di sana.


Di sebelah Kagami, Alita masih setia menunggu laki-laki tersebut bangun, walau dia harus menangis dalam diam sepanjang waktu sambil menunggunya.


Apa yang orang-orang lihat saat ini adalah kondisi Kagami yang sedang terbaring lemah. Namun, yang dilihat Kagami dalam mimpinya berbeda. Entah ini mimpi atau apa, tetapi rasanya teramat jelas jika dikatakan sebuah mimpi.


Kagami berjalan di sebuah ruangan hampa. Dia pernah melihat ruangan ini sebelumnya, saat dia pingsan di sekolah. Namun kali ini berbeda. Di sepanjang dinding ruangan tersebut terdapat cuplikan adegan kehidupan. Entah siapa tokoh utama cuplikan tersebut, tetapi Kagami yang terus merasa penasaran masih melihatnya dengan sesama.


Dia melihat seorang anak kecil membawa akordeon dengan susah payah. Wajah anak kecil itu buram, kemudian seorang wanita datang. Wajah setiap manusia di cuplikan tersebut juga buram. Hanya suasana di sekitar mereka yang bisa Kagami lihat jelas. Sepertinya mereka tinggal di rumah yang cukup mewah.

__ADS_1


Bibir wanita tersebut tersenyum, kemudian berkomat-kamit. Entah apa yang dia katakan, Kagami tidak bisa mendengarnya. Namun, jelas terlihat bahwa laki-laki kecil tadi tertawa riang setelah mendengar wanita tersebut berbicara.


Di sebuah cuplikan lain, seorang pria memegang tangan seorang laki-laki kecil. Dari penampilannya mereka terlihat hendak pergi ke sebuah tempat. Sebuah koper besar yang didorong wanita paruh baya bertahi lalat di pipi kanannya memperjelas dugaan Kagami.


Mereka berbicara dengan bahagia. Kagami terus memperhatikan, seperti menonton sebuah film. Namun film di depannya tidak bersuara.


Kemudian di adegan lain, pria paruh baya di sebelah laki-laki kecil tadi mengangkat ponselnya, mereka sedang melakukan panggilan video dengan seseorang. Terlihat seorang gadis kecil di panggilan video tersebut.


"Kakak ...! Aku tidak sabar bertemu kakak ...!"


Suara gadis tersebut cempreng dan cukup memekak telinga. Aneh, hanya suara itu yang bisa Kagami dengar. Sebelumnya hampa dan kosong.


Kaki Kagami terus melangkah menyisiri ruangan hampa tersebut, memperhatikan setiap cuplikan adegan yang menjadi dinding di sekitarnya. Jauh, hingga dia tidak merasa lelah telah berjalan sejauh mana.


Kagami menoleh ke belakang, karena adegan yang dia lihat sekarang adalah adegan yang sebelumnya pernah dia lihat. Apakah ini cuplikan ulangan atau dia salah melangkah? Namun, tidak berhenti sampai di sana. Kagami terus berjalan, walau yang dilihat adalah adegan yang sama, tetapi adegan yang dia lihat semakin jelas. Seperti melihat film berkualitas tinggi, perlahan buramnya menghilang.


Wajah wanita paruh baya tadi jelas terdapat tahi lalat di pipi kanannya. Manis, itu kesan pertama yang Kagami lihat saat wanita tersebut tersenyum. Di sekeliling anak laki-laki tadi penuh dengan alat musik. Duduk di sebelah pria paruh baya berjanggut tipis.


"Lia? Akordeon?"


Perlahan dua kata lain terdengar jelas di telinga Kagami. Dia mulai mengerti, ini bukan cuplikan adegan film. Melainkan puzzle memori di kepalanya. Kepingan yang hilang perlahan mulai terlihat jelas. Kagami akhirnya menyadari sesuatu, mungkin itu sosok orang tuanya. Dia lalu berlari menyisiri ruangan hampa tersebut lebih cepat.


Namun, tiba-tiba saja langkahnya terhenti setelah mendengar isak tangis seorang gadis. Kagami menajam indra pendengarnya, suara yang dia dengar bukan berasal dari cuplikan memori otaknya melainkan dari arah lain. Kagami berjalan ke pusat suara, jauh hingga dia memasuki sebuah ruangan yang teramat menyilaukan mata. Matanya terpejam beberapa saat, kemudian terbuka. Hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit berwarna putih. Suara isak tangis tadi semakin jelas terdengar.

__ADS_1


Kagami melirik pelan ke sebelahnya melihat Alita sedang menangis di sana.


__ADS_2