Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Juara Bertahan


__ADS_3

Ruri tidak berkilah bahwa dia masih menyimpan kesal pada Gagas. Maka dari itu pada pertemuan singkat tak terduga ini Ruri memanfaatkannya untuk membuat Gagas naik pitam dengan mengutarakan kemenangannya.


Sepupunya itu jelas menampakkan raut kesal, maka dari itu dia berpaling muka dengan cepat lalu pergi tanpa sepatah kata pun lagi.


Ruri menatap rantang makanan di tangannya. Tante Lecia memang kerap kali suka memberi makanan kepada keluarganya. Bukan tanpa alasan, Ruri menilai jika tantenya itu hanya mencari muka, wanita penjilat yang berprofesi sebagai rentenir.


Malamnya Ruri gelisah hingga tidak bisa tidur. Ac di dalam kamarnya menyala seperti biasa, suasana di dalam sana cukup dingin dan nyaman. Namun, pikirannya tak bisa tenang mengingat sebentar lagi mereka akan menemui Riodra. Ruri sangat bahagia, kesabaran yang dia pupuk selama ini akhirnya membuahkan hasil yang tak terduga. Dia tidak menyangka jika kehadiran Mirai menjadi lentera yang meneranginya.


Bola matanya basah, matanya suram menerawang langit-langit. Perlahan dia terpejam, suara Dion, wajah Dion dan senyum laki-laki itu masih bisa dia ingat dengan jelas. Hatinya menghangat, kecamuk di kepalanya perlahan menghilang membawanya ke alam mimpi.


Semakin lama waktu berlalu, Ruri semakin dilanda gelisah tak menentu. Ada gejolak bahagia di hati yang tak bisa dia tahan. Jaraknya dengan seseorang bernama Riodra ini terasa semakin dekat. Setiap menit berlalu mengikis jarak di antara mereka.


Di hari pengambilan rapor, semua murid menunjukkan raut tegang. Tak terkecuali Alita yang terlihat jauh lebih santai dari biasanya. Gadis itu tidak berharap banyak, karena dia tahu namanya tidak akan pernah masuk dan mustahil berada di deretan juara kelas.


Dia berbalik menatap Ruri yang masih bergelut dengan sebuah novel. Benar-benar kebiasaan yang tidak bisa dia lepas.


"Hai, Ruri." Alita menyapa.


Gadis berkacamata di depannya berdehem sebentar. Tanpa menoleh dari bacaannya.


"Kamu tidak bosan membaca novel tentang misteri terus, nggak tertarik membaca genre lain?"


Ruri hilang fokus mendengar pertanyaan Alita. Itu membawanya pada kenangan pahit di hari sebelum dia dan Dion seharusnya bertemu di kafe shop fresh.


Saat itu Ruri membaca novel bergenre romansa untuk pertama kalinya dan sejak saat itu dia tidak pernah tertarik lagi dengan novel genre lain yang tidak menceritakan tentang detektif.


"Tidak. Gue nggak pernah bosan dengan kisah detektif. Selalu ada kejutan di akhir yang membuat gue semakin bersemang untuk membaca buku lainnya."


Tepat setelah memberi Alita jawaban, Buk Sani selaku wali kelas masuk di ikuti dua orang murid membantunya membawa rapor.


Wanita berbadan tambun itu mulai mengumumkan nama siswa yang masuk dalam peringkat sepuluh besar. Di urutan kelima nama Kagami Oved disebutkan, Alita berseru girang.


 

__ADS_1


"Wah, Kagami meningkat prestasinya. Selamat, ya!" serunya seraya melakukan tos dengan Kagami.


Seluruh mata tertuju pada Kagami sebentar, lalu setelah peringkat ke empat disebutkan atmosfer di dalam kelas mendadak tegang.


Mirai merasa gugup karena tatapan tajam para murid banyak tertuju padanya. Dia merasa heran, padahal dia hanya diam sedari tadi dan tak melakukan hal aneh.


Saat peringkat ketiga disebutkan seisi kelas bergemuruh, mereka terkejut mendengarnya. Silvi Oktalia adalah siswi yang selalu bersaing dengan Ruri di dalam bidang akademis. Dia selalu menduduki posisi kedua, maka dari itu seisi kelas heboh karena posisinya bergeser untuk pertama kalinya.


Silvi merenggut seraya mengambil rapor yang buk Sani serahkan. Matanya memicing ke arah Ruri yang terlihat biasa saja. Toh sebenarnya dari awal Ruri tidak pernah merasa bersaing dengan siapa pun.


Para murid menunggu siapa nama yang telah menggeser posisi Silvi. Buk Sani terlihat sengaja menahan ucapannya agar muridnya merasa semakin penasaran. Lama setelah dia diam beberapa detik nama seorang siswi keluar dari muridnya.


"Posisi ke dua jatuh kepada Mirai Arinda!"


Seisi kelas langsung menumpahkan tatapan kaget pada Mirai. Mereka bungkam, tak ada yang berseru kecuali Alita.


"Mirai! Selamat! Aku tahu kamu pintar!" pujinya.


Kagami melirik Ruri. Gadis itu jelas menyembunyikan raut kagetnya. "Ada saingan baru, nih," godanya.


Pembagian rapor telah selesai. Ruri Nagemi masih menjadi juara bertahan sejak kelas satu SMA. Lebih tepatnya, sejak SD Ruri selalu menduduki posisi pertama. Jadi kepintarannya tidak diragukan. Dia hanya payah dalam berteman, maka dari itu dia hanya akrab dengan Alita dan Kagami, sekarang Mirai juga bergabung bersama mereka.


Saat liburan selesai dan memasuki semester baru, mereka naik ke kelas tiga SMA. Ruri tiba-tiba dilanda sedih, mengingat itu artinya Dion sudah lima tahun koma.


Dia melirik tempat duduk Mirai yang penuh dikerumuni murid lain. Gadis berambut pendek itu langsung menjadi populer dalam sekejap. Tidak, lebih tepatnya karena sudah menyadari Mirai murid yang pintar murid di kelasnya mencoba memanfaatkannya


"Nanti saat kelas tiga nanti duduk di sebelahku, ya!"


"Sebelahku juga, kita bisa berdiskusi soal pelajaran!"


"Boleh minta nomor ponselmu?"


Dia bahkan mulai digoda beberapa laki-laki. Benar-benar menyebalkan. Manusia selalu berubah ketika menyadari kesempatan di dekatnya dan Ruri membenci hal itu.

__ADS_1


"Ruri, Mirai bagaimana? Kasihan dia kewalahan dikerumuni gitu." Alita bersiap untuk pulang, tapi dia belum beranjak dari bangku karena khawatir dengan Mirai.


"Dasar kera. Bantuin dia, Kagami. Karena lu cukup populer di sekolah ini."


Ruri berbicara fakta. Kagami sosok laki-laki yang tampan, banyak gadis tergila-gila padanya. Namun, karena dia selalu bersama Alita, para gadis menganggap mereka memiliki hubungan spesial. Kepintaran dan bakatnya dalam bermain akordeon menjadi nilai plus yang membuat dia semakin digemari.


Kagami bergeming. "Apa boleh buat, aku akan menariknya keluar dari kerumunan. Dan aku tidak sepopuler itu, Ruri." Dia memperingati.


Prediksi Ruri benar, mendengar suara Kagami menggema di antara kerumunan itu para siswi langsung membuka jalan baginya menarik Mirai dari sana. Kedekatan mereka membuat pematik gosip mengaungkan gosip baru secepat kilat.


"Jangan-jangan kalian pacaran, ya? Aduh, kasihan Alita cuma jadi teman doang."


"Benarkah? Kamu tahu dari mana?"


Si pembuat gosip itu adalah Silvi. Dia tidak suka kalah dari Ruri yang dinilai sangat beruntung. Karena tidak bisa membuat gosip tentang juara kelas itu, makanya dia menjadikan teman sekitar Ruri sebagai bahan gosip baginya. Dia cukup terpandang dan disegani karena lahir dari keluarga yang kaya dan terkenal royal pada siapa pun yang mau menjadi temannya.


 


Ruri cs tak menanggapinya. Setelah berhasil menjauhi Mirai dari kerumunan tugas mereka pun selesai.


Mirai merasa tak enak hati karena disandingkan oleh Kagami. Dia meneliti raut Alita, gafis itu mendadak terlihat lesu. Apakah karena kejadian tadi Alita menyimpan cemburu?


"Kita akan menemui Riodra besok. Jadi bersiaplah pada jam yang telah dijanjikan. Jangan sampai telat, ini akan menjadi pertemuan yang hebat!" Alita berseru seraya menggenggam tangan di udara dia menatap satu-satu wajah temannya.


"Mirai, Riodra ini orang yang seperti apa?" tanya Kagami.


Melihat raut Alita yang kembali bersemangat, Mirai menepis pikiran buruknya tadi. Dia ingat ada sesuatu yang ingin dia tunjukkan. Sebuah foto dia serahkan kepada Ruri. Kagami dan Alita mendekat, penasaran foto apa itu.


"Itu foto bersama kami waktu SD. Di sana ada Dion dan aku. Tapi ... Riodra tidak hadir saat foto itu diambil. Dia sakit. Yang jelas dia gadis yang baik dan banyak bicara," jelas Mirai.


"Begitu, ya," balas Ruri.


Foto yang saat ini Ruri pegang adalah foto yang sama beberapa tahun lalu pernah mencuat dari buku Dion. Tak salah lagi, ini menjadi bukti kuat kalau Mirai benar-benar seangkatan dengan Dion waktu SD.

__ADS_1


***


Malam penuh debar tak berhenti kini telah berhasil dilewati. Mirai menunggu kedatangan temannya pagi ini. Pukul delapan mereka akan bergerak ke kota bagian barat. Tempat di mana rumah Riodra berada.


__ADS_2