
Rachel keluar dari kamar mandi dengan wajah memelas seraya memegang perut.
"Aduh ...," katanya lirih.
Kemudian wajahnya dibuat kaget, ketika tatapan matanya dengan Selsi bertemu.
"Kamu kenapa?" tanya Selsi penasaran.
"Aduh, Buk. Aku sakit perut. Udah dari malam tadi bolak-balik kamar mandi," lirihnya pelan, wajahnya semakin dibuat semenderita mungkin.
Selsi membuang wajah ke arah lain, kembali fokus dengan kegiatan masaknya. "Cepat beres-beres rumah!" tegas wanita itu kemudian.
Rachel berlari terbirit-birit dari sana menuju kamarnya yang terletak di bawah tangga menuju lantai dua. Dia membuka pintu seperti orang kesetanan, lalu berteriak membangunkan sang adik yang masih terlelap.
"Bangun! Cepat bangun! Si tua bangka sialan itu datang!" paniknya kemudian menarik selimut sang adiknya satu persatu.
Merasa tidak diterima dibangunkan secara tiba-tiba, adik Rachel masih belum bergerak dari posisi. Mereka kembali meringkuk di kasur walau selimut tebalnya sudah disita sang kakak.
Rachel menarik napas dalam-dalam. "Hendro dan Selsi datang!" tegasnya lagi.
Mendengar nama tersebut, ketiga adiknya yang tengah tertidur langsung terbangun tanpa perlu mengumpul nyawa lagi. Mereka langsung keluar kamar, menyambar sapu, pengepel, kain lap hingga apa saja yang bisa mereka kerjakan.
"Kakak kenapa nggak bilang kalau mereka datang?!" protes salah satu adiknya seraya menyambar pel.
"Lu tidurnya kayak kebo, udah dibangunin dari tadi juga!" ketus Rachel sambil menyapu.
Hendro berhenti di lantai tiga, tempat perpustakaan pribadi yang berada di rumah tersebut. Matanya menelisik setiap sudut, terlihat banyak sekali debu di mana-mana. Kemudian dia berlalu menuju kolam renang yang berada di atap. Pemandangan kolam renang yang tampak seperti pembuangan sampah menyambut kehadirannya di sana.
Air di kolam sudah kering, hingga beberapa sampah yang datang entah dari mana berada di dalam kolam tersebut. Hendro menyayangkan hal ini, padahal pembantu di rumah mewah tersebut ada empat orang. Mustahil jika mereka tidak bisa membersihkan kolam renang ini walau sudah lama tidak digunakan kembali.
Hendro berlalu dari sana, kemudian menuju lantai lainnya. Di ruangan lain pemandangan serupa kembali menyapa. Debu di setiap sudut ruangan. Kemudian perabotan rumah juga tidak luput dari pengamatannya, penuh debu dan usang. Rasanya seperti memasuki museum tua yang lama tidak digunakan.
Merasa jengkel dengan apa yang dia lihat, Hendro kembali ke lantai satu, menuju dapur tempat sang istri berada.
Saat meniti anak tangga menuju lantai satu, Hendro berpas-pasan dengan Rachel yang tengah menyapu di sana.
Ketika tatapan mereka bertemu, Rachel membuang wajah ke arah lain, lalu kembali melanjutkan kegiatannya tanpa memedulikan Hendro.
"Kenapa lantai atas banyak sekali debu? Tidak kalian bersihkan?"
Rachel gelagapan. "Debu datang terus setiap hari, Pak. Biasanya setelah selesai sarapan baru kamu membersihkan lantai atas," alasannya kemudian.
Hendro mengernyit. "Kalian berempat. Bersihkan lantai atas sekarang! Kolam renang juga jangan lupa diisikan air. Jangan sampai terlihat seperti rumah mati!" sergah Hendro membuat keempat pembantu di hadapannya berlalu dari sana dengan tergesa-gesa.
Setelah sarapan selesai disajikan, pasangan suami istri itu menuju kamar keponakannya. Sang istri langsung membangunkan Mirai, tetapi Hendro malah salah fokus melihat ponsel keponakannya yang berada di nakas.
Tetesan air keluar dari sana, setelah benda tersebut diangkat ke udara. "Kenapa ponselnya sampai basah gini? Jadi, ini alasannya kita nggak bisa menghubunginya kemarin."
Selsi menoleh sebentar ke arah sang suami, "Mungkin saja, Mas."
__ADS_1
Setelah keponakannya terbangun, Hendro berlalu terlebih dahulu menuju meja makan, kemudian sang istri menyusulnya beberapa saat setelah itu.
Mirai tersenyum memperhatikan seragam sekolah yang dia kenakan di depan cermin. Setelah penampilannya rapi gadis itu meniti anak tangan menuju meja makan.
Sudut bibirnya tidak berhenti tersenyum. 'Andaikan setiap hari seperti ini," batinya berharap.
***
Di depan gerbang sekolah, Kagami berjalan sempoyongan seperti orang mabuk dengan sorot mata sendu yang tertunduk ke bawah. Merasa tidak ada yang beres dengan temannya, Alita yang kebetulan baru datang langsung menghampiri, menepuk pundak Kagami membuat laki-laki itu terkejut, spontan berdiri tegak menatap ke arahnya.
"Kamu kenapa, Kagami? Sakit? Kok, kayak orang mabuk gitu?" selidik Alita yang berjalan di sampingnya.
Laki-laki yang ditanya menghentikan langkahnya. Langkah Alita pun ikut berhenti. "Aku mikirin sesuatu sampai nggak bisa tidur malam tadi," lirih Kagami kemudian.
"Mikirin pengunjung yang kamu tabrak kemarin, ya? Bukannya dia udah nggak mempermasalahkan hal itu?"
Pertanyaan Alita belum dijawabnya. Tiba-tiba laki-laki itu bersemangat setelah sorot matanya menangkap Ruri yang saat ini tengah berada di lapangan.
"Tidak, bukan soal itu, Alita!" serunya tiba-tiba. "Itu Ruri, kita samperin, yuk!"
Mereka berlari ke arah Ruri seraya meneriakkan nama gadis berkacamata itu.
Merasa ada yang memanggil namanya, Ruri menoleh ke pusat suara, lalu dengan wajah datar dia bertanya. "Apa?!"
Alita terkejut mendapati wajah kusut Ruri disertai lingkaran hitam di sekitar matanya. Setelah berhenti di hadapan gadis tersebut, Alita melirik Kagami kemudian melirik kembali ke arah Ruri. Membandingkan keduanya. Ternyata mereka sama-sama terlihat seperti orang mabuk.
"Gue mikirin, nih, tenda. Masa, sih, kemarin malem baru diantar ke sekolah. Katanya mereka lupa. Kan, asem emang! Gue terpaksa ke sini malam-malam terus begadang sampe larut malam. Sialan!" gerutu Ruri.
"Lu kenapa Kagami? Habis ditolak cewek lu?" lanjut Ruri bertanya karena penasaran melihat temannya itu sama lesunya dengan dirinya.
"Is! Mana ada. Aku mikirin sesuatu sampai nggak bisa tidur malam tadi," jawabnya lesu.
Tawa Alita semakin menjadi-jadi di sana. Hingga suara tawanya berhenti setelah Mirai datang menghampiri.
Setelah diantar sang paman ke sekolah, Mirai yang hendak menuju ke kelas memutar haluannya ketika mendapati Ruri, Alita dan Kagami berada di lapangan. Karena penasaran, gadis itu pun datang menghampiri.
"Teman-teman," sapa Mirai.
Mereka bertiga langsung beralih menatap Mirai. Tatapan lesu dengan wajah penuh kelelahan yang Ruri dan Kagami perlihatkan membuat gadis berambut pendek sebahu itu terkejut.
"Kalian kenapa lesu gini?" tanya Mirai dengan nada lembut.
Alita tertawa melihat wajah membingungkan dari Mirai, lalu menjawab. "Kamu orang yang ke sekian kalinya nanya gitu ke mereka, Mirai! Aku juga nggak tahu detailnya gimana, tetapi mereka kayaknya nggak cukup tidur!"
Alita kembali tertawa, kini suaranya semakin keras terdengar. Karena kesal mendengarnya Ruri memukul gadis itu sebelum berlalu dari sana.
"Sialan lu!"
***
__ADS_1
Hari ini berjalan begitu cepat untuk Alita dan Mirai. Namun, hal itu tidak berlaku untuk Ruri dan Kagami yang sedari pelajaran pertama mereka menahan kantuk sambil menyimak pelajaran.
Keberuntungan seakan memihak kepada mereka. Jam pelajaran terakhir kosong, guru yang seharunya mengajar tidak masuk. Ruri dan Kagami memanfaatkan kesempatan itu untuk tertidur. Mereka secara terang-terangan mengiler di sana.
"Alita, mereka tidak dibangunkan?" tanya Mirai memastikan.
Alita menggeleng. "Biarkan saja, nanti pas bel pulang berbunyi mereka bangun sendiri, kok," jawab Alita seraya mengedipkan sebelah matanya.
Belum lama suara Alita menggema, kini bel pulang berbunyi. Kagami yang mendengarnya langsung terbangun, celingak-celinguk kebinggungan di sana.
"Bel pulang, kan?" tanya Kagami memastikan.
Mirai yang masih terkejut karena laki-laki itu bangun secara tiba-tiba pun menjawab. "Iya, bel pulang."
Setelah mendengar jawaban dari Mirai, Kagami bergegas membersihkan mejanya lalu membangunkan Ruri.
"Bangun, Ruri. Ayo, kita pergi. Ini udah pulang sekolah!" teriak Kagami tidak sabaran.
"Eh, sabar, Kagami. Ada apa, sih, kenapa bangun-bangun kayak orang kesetanan gitu?" seru Alita aneh melihat tingkah Kagami.
Kagami menggoyangkan bahu gadis berkacamata itu semakin kuat, membuat Ruri naik pitam.
"Berisik! Sialan lu!"
Ruri terbangun dari tidur, langsung memukul lengan Kagami sekuat mungkin. Kagami tidak menghiraukan rasa sakit yang dirasa. Dia langsung menarik Ruri, mengajaknya pulang.
"Alita, Mirai, kami duluan, ya!" pamit Kagami setelah jauh meninggalkan kelas, sambil menarik gadis yang masih belum seutuhnya mengumpulkan nyawa.
Alita dan Mirai saling tatap keheranan karena sikap aneh Kagami. Mereka mengedikkan bahu lalu bersiap untuk pergi dari sana.
Mirai melirik keluar jendela, setelah melihat Pak Aras berada di sana gadis itu tergesa-gesa meninggalkan Alita sendirian.
"Aku pulang dulu, Alita!" seru Mirai sambil berlari menuju gerbang.
Alita memijit kepalanya yang dirasa berdenyut karena melihat kelakuan aneh temannya. "Mereka semua kenapa, sih? Aneh banget. Kayak dikejar setan."
Di depan gerbang, Alita memutuskan untuk pergi ke tempat kerja dengan berjalan kaki. Namun, sebuah sepeda motor tiba-tiba berhenti di dekatnya. Gadis itu menoleh mendapati Gagas berada di sana.
"Gagas? Ada apa, ya?" selidik Alita segera.
Gagas menurunkan kaca helmnya. "Naik, yuk, aku anterin kamu ke kafe. Kamu mau pergi kerja, kan?"
Alita tersenyum kecut mendengar tawaran tersebut. Dengan nada lembut dia menolak. "Maaf, Gagas. Aku bisa sendiri. Sekalian sambil olahraga aku ke sana," balasnya kemudian.
Gagas tidak terima dan kembali memaksa Alita. "Tidak baik cewek jalan sendiri. Nanti kalau terjadi apa-apa sama kamu gimana? Naiklah, aku anterin kamu ke kafe. Gratis, kok, tanpa bayaran."
Alita kehabisan akal. Mau tak mau, dia menyetujui ajakan Gagas.
Di waktu yang sama, seorang gadis dengan tatapan tajam sedang mengintip mereka dari kejauhan. "Wah. Cowok mana lagi tuh yang dia gaet? Hebat juga lu, Alita!" tegas Rera.
__ADS_1