Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Hal yang membahagiakan yang selalu Kagami idamkan adalah masakan Alita. Apa pun yang gadis itu masak selalu terasa istimewa di lidahnya, terutama nasi goreng buatan Alita yang menempati posisi pertama di hatinya.


Kagami berbinar menatap bungkusan nasi goreng yang Alita letak di meja sebelahnya sebelum gadis tersebut duduk di sofa.


"Bapak permisi dulu, ya, mau menghirup udara segar. Nanti bapak kembali lagi," pamit Febriante sebelum melangkah pergi.


Mirai dan Alita mengangguk paham. Kedua gadis tersebut saling diam sama-sama menatap Kagami yang tampak tidak sabar untuk makan.


"Apakah tubuhmu masih terasa kaku, Kagami?" Alita membuka suara.


Kagami berusaha mengerakkan tangan kanannya, tetapi rasanya sakit sekali. Otot tubuhnya benar-benar kaku. Ditambah lagi, sejak kemarin hingga malam ini Kagami belum mendapat sesuap nasi pun.


"Sakit sekali rasanya. Tapi walau begitu aku akan mencoba makan sendiri menggunakan sendok. Hal seperti ini bukanlah apa-apa."


Laki-laki berwajah pucat itu bersiap meraih sepiring nasi goreng yang telah disiapkan Mirai, tetapi tindakannya terhenti karena dicegah oleh Alita.


"Jangan memaksakan diri. Sini aku suapin."


Degup jantung Kagami langsung ricuh mendengarnya. Kenapa dia harus salah tingkah di saat begini? Tidak ada penolakan, Kagami menerima niat baik Alita. Dia bagaikan anak bayi yang disuapi oleh ibunya.


"Mirai hari ini beda banget. Seperti orang dewasa yang penuh wibawa. Tadi saat aku mampir ke rumah dia, sedikit pun kepalanya tidak menunduk. Dia benar-benar memiliki aura pemimpi yang tersembunyi." Suara Alita memecah keheningan di antara mereka.


"Benarkah? Rumah Mirai besar, kan." Kagami menimpali walau mulutnya sedang penuh.


"Kalau lagi makan jangan bersuara!" cegah Alita.


Mirai tersenyum seraya membuka gorden yang menutupi jendela di depannya. Lalu termenung memandang langit malam yang begitu gelap. Bintang bersinar sangat indah, Mirai baru menyadari itu malam ini.


"Keluarga Alita hangat banget, ya. Tadi waktu aku ke sana mereka menyambutku dengan baik."


"Keluarga Alita memang seperti itu, Mirai. Mereka juga memperlakukan aku begitu. Eh, tunggu dulu. Jadi kalian jalan-jalan tanpa aku? Ruri gimana?" selidik Kagami sedikit tidak terima.


"Nggak. Tadi kami saling mengunjungi rumah masing-masing aja. Mumpung lagi banyak waktu kosong," balas Alita menyodorkan sendok berisi nasi ke mulut Kagami.

__ADS_1


"Maaf lama!"


Orang yang ditunggu akhirnya tiba. Ruri langsung duduk di sofa menghempaskan badannya ke sana. Napasnya terdengar berat, seperti kelelahan.


"Kamu pergi jenguk dia dulu, pasti?" terka Alita.


Ruri memejamkan mata lalu menggeleng pelan. "Tidak, tadi gue harus lari dulu dari Vikram. Dasar om-om sialan, pake maksa minta nomor ponsel gue!"


"Tadi dia juga cegat kami karena ingin meminta nomor ponsel kamu, Ruri. Untungnya kami berhasil lolos dan tidak memberitahu dia apa pun tentang kamu," sahut Mirai masih memandang langit malam.


"Lupakan saja orang gila itu. Tunggu dulu, situasi seperti apa ini? Alita menyuapi Kagami makan? Gue baru menyadarinya. Lu benar-benar cari kesempatan, ya, Kagami!" Nada bicara Ruri terdengar bercanda, tetapi wajahnya serius menampakkan marah karena sikap manja temannya.


"Alita yang nawarin," belas Kagami memandang wajah merah padam Ruri.


"Baiklah, sini biar gue suapin lu. Pakai kaki!" ancamnya.


Tawa mereka pecah di malam gelap yang begitu sunyi. Banyak hal yang mereka ceritakan. Mulai dari hari panjang yang telah mereka lewati, hingga Kagami membicarakan soal ingatannya yang terbuka.


Saat membicarakan soal ingatan Kagami, Alitalah yang tampak sangat antusias dengan topik tersebut. Dia merasa sangat bahagia, berlian kusam yang dia temukan ini perlahan akan bersinar lagi, jauh lebih menyilaukan dari sebelumnya cepat atau lambat.


"Saat itu, pembicaraan gue dengan Gagas benar-benar sampah. Tapi gue akan memberitahu kalian apa yang Gagas katakan pada gue saat Kagami sudah sembuh. Gue nggak mau ini jadi beban pikiran kalian." Raut wajah Ruri serius.


"Benar, Ruri. Kagami harus dirawat di sini selama tiga hari. Artinya hari rabu baru kamu kembali sekolah dan langsung menjalani ujian susulan. Jangan pikir yang jauh-jauh dulu," nasihat Alita sambil membersihkan piring yang Kagami gunakan tadi.


"Bagaimana dengan pekerjaan Kagami?" tanya Mirai.


"Biar aku yang urus. Semuanya beres." Alita mengangkat jari membentuk huruf V ke udara, seraya tersenyum di depan Kagami.


Kali ini Ruri bertekad menyusun rencana dengan rapi. Tidak ada ketakutan lagi di hatinya, karena semua sahabatnya turut terlibat kali ini. Dia harus melangkah pelan, tapi pasti untuk membawanya pada Riodra, gadis yang Gagas bicarakan. Walau ini terdengar mustahil, bagai mencari jarum di dasar laut. Entah bagian laut mana dia berada.


***


Kagami merasa bosan di rumah sakit. Saat jam seperti ini teman-temannya sedang berada di sekolah. Walau kegiatan pembelajaran telah selesai, tetapi kumpul bersama teman-teman jauh lebih menyenangkan dari pada berdiam diri di ruangan kosong sambil sekali-kali menatap keluar jendela.

__ADS_1


Pintu ruangannya bergerak, Kagami tersenyum. Banyak harap di dada bahwa seseorang yang akan datang adalah teman-temannya. Namun, harapannya sirna saat melihat kepala seorang laki-laki yang mencuat dari balik pintu sambil tersenyum, sebelum seluruh tubuhnya masuk ke ruangan tersebut.


"Suaka, kamu sudah pulang sekolah?" Kagami menatap jam dinding yang masih menunjukkan pukul sebelas siang.


Suaka melangkah dengan ragu-ragu, lalu menyodorkan keranjang kecil berisi buah yang dia beli pada Kagami.


"Karena ujian semester sudah selesai, kami pulangnya cepat, Kak. He he he, aku ragu mau ke sini, takut lihat jarum suntik. Untung aja semua lancar," balasnya kemudian.


"Maaf cuma bisa kasih buah," tambahnya seraya mengaruk kepala.


Kagami tersenyum hangat. "Terima kasih banyak, ya, sudah menjengguk Kakak."


Kedatangan Suaka, benar-benar obat yang menyembuhkannya dari bosan yang mendera beberapa menit lalu. Mereka membicarakan banyak hal, terutama soal kondisi kafe akhir-akhir ini saat Kagami tidak masuk kerja.


"Cowok yang bernama Gagas itu nggak pernah datang ke kafe lagi akhir-akhir ini. Jadi Kak Alita aman, bos!" lapor Suara seraya memberi hormat.


Kagami membusung dada, bak jenderal di hadapan bawahannya. "Benar-benar informan yang bagus. Lanjutkan kerja kerasmu, Nak!"


Suara tawa mereka pecah. Suaka bukan hanya junior di mata Kagami, tetapi dia merupakan orang yang paling bisa Kagami percayai. Sedewasa dan seamanah itu Suaka di matanya.


Obrolan mereka memakan waktu lama, Suaka bersiap untuk pulang. Sebentar lagi dirinya harus masuk kerja.


Saat laki-laki berambut kelimis itu meninggalkan ruangan tempat Kagami dirawat, dirinya sempat tersentak beberapa detik karena di depan pintu dia berhadapan dengan seorang laki-laki berwajah masam mengunci bola matanya.


Laki-laki tersebut terus menata tajam ke arahnya. Suaka meminta maaf karena telah menghalangi jalannya, lalu bergegas pergi dari sana. Laki-laki itu adalah seseorang yang pernah Suaka temui di kafe. Tentu saja dia tahu seberapa menakutkannya laki-laki tersebut.


Kagami mendengar pintu ruangannya kembali berdecit. Bibirnya tersungging, kali ini dia sangat percaya diri jika yang datang adalah Ruri, Alita dan Mirai. Namun, saat seseorang yang berada di balik pintu tadi masuk, diikuti seorang gadis di belakangnya senyum Kagami mendadak hilang. Sosok yang sangat tidak ingin dia lihat malah muncul di saat begini.


"Hai. Bagaimana kabar lu, Kagami?" tanya Rera seraya menggenggam keranjang buah di tangannya lebih erat.


Tirta yang berdiri di sebelahnya hanya diam. Sedikit pun kebengisan di wajahnya tidak hilang. Itukah tata krama saat menjengguk orang sakit? Kagami benar-benar dibuat tidak nyaman.


"Di mana Alita, Ruri dan Mirai?"

__ADS_1


Alih-alih menjawab pertanyaan Rera, dia justru balik melempar pertanyaan yang seketika membuat senyum di wajah Rera menghilang. Kenapa harus membahas orang lain di saat dia berada di sana?


__ADS_2