Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Akhirnya Jujur


__ADS_3

Udara di sekitar mereka terasa begitu kering. Bibir yang pucat seolah terkunci dengan sebuah jahitan rapi. Kagami tidak bisa berdalih lagi, Alita tahu apa yang dia sembunyikan selama ini.


Mengenai Gagas yang memotretnya secara diam-diam adalah alasan utama kenapa Kagami sangat membenci laki-laki tersebut. Dia tidak marah jika Gagas mencintai Alita, bahkan jika Gagas adalah laki-laki yang tepat sedikit pun Kagami tidak akan ragu menyerahkan Alita padanya dan melihat mereka bahagia.


Namun, hal yang paling tidak disukai Kagami adalah seseorang yang datang dan merusak sesuatu yang telah dia jaga. Ibarat bunga di sebuah pot yang selalu dirawat dengan rutin setiap harinya. Lalu Gagas datang, mencabut bunga itu tanpa seizin dari Kagami. Kurang hajar dan tidak layak dianggap manusia.


Laki-laki yang hanya menjadikan wanita sebagai fantasi nafsu semata hanyalah sampah di mata Kagami. Layaknya Gagas yang sudah bertindak kurang ajar pada Alita yang dia sayangi.


"Apakah Suaka yang memberi tahumu soal itu?" Akhirnya Kagami bersuara, walau perlu banyak tenaga untuk mengerakkan bibir kakunya.


Ruri dan Mirai terdiam mendengar obrolan mereka seolah sedang menyaksikan adegan paling menenggangkan dalam sebuah cerita.


Tinggal beberapa suap lagi sisa nasi di depan Alita. Namun gadis tersebut membeku menatap butiran-butiran nasi tersebut, seraya tertunduk dalam, menjawab pertanyaan Kagami.


"Tidak. Aku tahu sendiri kalau Gagas memotretku secara diam-diam. Aku juga tahu alasan kenapa Gagas menyiramimu dengan kapucino yang dia pesan. Itu karena dia tidak terima kamu menegurnya, kan, Kagami?"


Kagami menelan ludah tidak henti. Tenggorokannya terasa sangat kering. Dia tidak tahu hendak bereaksi seperti apa.


"Saat itu aku melihatnya dengan jelas. Apakah kamu lupa bahwa aku memiliki penglihatan yang tajam? Dan tempat duduk Gagas saat itu masuk dalam jangkauan pengalihanku."

__ADS_1


Alita membuang wajah ke arah lain. Dia tidak sanggup menatap wajah temannya saat ini. Ada ngilu dihati saat melihat luka di ubun-ubun Kagami yang notabene disebabkan olehnya.


"Apa yang membuatmu begitu marah dengan Gagas hingga kamu memukulnya seperti itu, Kagami? Hingga kamu menghancurkan ponselnya dengan mudah. Berikan aku alasan yang paling dalam, hingga aku tidak bisa membantah ucapanmu, Kagami. Beri tahu aku apa yang mendorong semua tindakan gilamu ini?!" Alita menghela napas kasar. Jemarinya bergetar tak berhenti.


Mereka berdua berdialog sangat dalam hingga membentuk ruangan yang tidak mengizinkan siapa pun masuk. Ruri dan Mirai hanya bisa membeo dari luar.


"Karena aku mencintaimu," kata Kagami tegas.


Tak ada keraguan di nada bicaranya, tak ada keraguan di bola matanya. Wajahnya yang pusat pasi mengunci wajah Alita walau gadis tersebut tak melihat ke arahnya.


"Aku tidak punya alasan apa pun. Aku hanya mencintaimu. Aku tidak ingin ada laki-laki seperti Gagas di sebelahmu. Aku tidak suka dia. Aku harap dia mati saja!" Bola mata Kagami berkaca-kaca.


Kagami mengambil jeda beberapa detik untuk menghirup oksigen secara pelan. Meski dalam posisi bersandar, dia tidak bisa menahan gemetar tubuhnya. Apa yang dia katakan barusan adalah pedang bermata dua. Bisa jadi Alita memaafkannya, tetapi besar kemungkinan Alita akan membencinya. Kagami harus siap apa pun yang terjadi nanti.


Alita melepas sendok yang dia pegang, perlahan menengadah menatap wajah pucat Kagami. "Basi. Sampah!" hardiknya.


Seolah ada rantai yang menjalar, tidak ada satu pun sel tubuh Kagami bergerak setelah mendengar kalimat tersebut dari Alita. Dia seolah mati begitu saja di sana.


"Kamu pikir untuk apa aku menyapamu saat pertama kali kita bertemu di SMP? Kalian pikir untuk apa aku mengajak Mirai berteman dengan kita waktu di hari pertama dia pindah. Lalu, Ruri, kenapa aku ingin berteman dengan gadis bermulut kasar sepertimu?"

__ADS_1


Alita jauh memandang keluar jendela. Sementara tiga pasang mata temannya menelisik bola matanya dalam. Tersirat ketakutan di sana, tapi mereka tidak tahu apa yang membuat gadis tersebut takut sekarang.


"Karena firasatku mengatakan jika kalian adalah orang baik. Aku akan berperan layaknya teman baik untuk kalian, melindungi, saling membantu dan saling merangkul. Tapi ... aku tidak ingin kalian terluka gara-gara aku. Sejak awal aku yang menawarkan diri menjadi teman kalian, bukan kalian yang sebaliknya. Jadi, kalian tidak ada alasan untuk terluka demi aku." Dada Alita sesak mengatakannya. Dia perlahan mulai menangis.


Mirai meneliti wajah Alita, gadis tersebut sangat jelas sedang berbohong sekarang. Alita tidak benar-benar serius dengan ucapannya. "Tidak. Kamu tidak punya alasan untuk menyanggah ucapan Kagami. Kamu juga tidak pernah jujur dengan diri sendiri. Sebenarnya kamu orang yang kesepian dan tidak ingin ada orang kesepian lain yang menderita. Sebenarnya kamu adalah wujud kebaikan itu sendiri, Alita," tangkasnya.


"Tidak! Kalian tidak berhak terluka demi aku. Hanya itu alasan aku marah dengan kalian!" potong Alita dengan nada tinggi.


Ruri jengah mendengar obrolan saling lempar seperti ini. Dia bangkit dari tempat duduk lalu berjalan cepat hingga berdiri di sebelah Alita. Tangannya mencekam rahang gadis tersebut hingga tatapan mereka bertemu.


"Apa yang lu katakan, Alita? Jangan merancau bodoh seperti ini! Lu yang bilang kalau teman itu saling membantu, tapi lihatlah ucapan lu sekarang. Sangat egois sekali. Jujur, Alita, apa yang ingin lu katakan, jangan mengatakan hal yang membuat lu terlihat semakin bodoh!" tegas Ruri di depan wajah temannya yang semakin basah berderai air mata.


"Aku marah! Aku sangat marah dengan Gagas karena sudah menyakiti Kagami. Aku juga mencintainya, aku takut kehilangannya! Aku menyayangi Ruri dan Mirai, menyayangi teman-temanku layaknya saudara kandung. Aku marah, aku sangat marah pada diri sendiri. Andai aku tidak terlahir mungkin kalian tidak perlu melindungi orang seperti aku! Aku sangat tidak berguna. Terlahir lemah itu sangat menyakitkan, aku ... tak tahu malu. Aku tak sanggup menampakkan wajahku lagi pada kalian!"


Akhirnya Alita jujur dengan perasaannya. Tidak ada lagi yang dia sembunyikan. Dalam satu jeritan itu hatinya terasa lapang. Rantai yang mengikatnya menghilang dengan cepat. Sesekali Alita ingin melindungi teman-temannya, menjadi sosok yang berguna. Namun, sampai detik ini dia merasa tak berguna dan hanya menjadi beban.


Akibat dari ketidak berdayaannya teman-temannya terluka. Rasanya dia ingin menghilang saja dari bumi dan bersikap seolah tidak pernah terlahir.


"Aku tidak bisa membantah argumen kalian maka dari itu aku mencari-cari alasan. Aku memang bodoh! Izinkan aku terlahir lagi, supaya aku menjadi pribadi yang bisa melindungi kalian," lirihnya memohon.

__ADS_1


Alita tenggelam dalam sedih sembari memeluk Ruri hingga menghanyutkannya pada masa lalu kelam yang membentuk pribadi tidak percaya dirinya.


Terlahir menjadi miskin seolah dosa yang membuat dia harus merasakan hari yang begitu sepi dan sunyi. Walau berada di dalam kelas yang penuh gemuruh, tak ada yang mau bercengkerama dengannya. Apakah sehina itu Alita di mata teman SD-nya.


__ADS_2