
Ketiga teman Ruri terdiam beberapa saat. Mereka saling pandang, sorot mata penuh kebingungan kentara memancar dari pandangan mereka.
"Diundang ke acara pernikahan bibik Ruri? Benarkah? Tetapi kami orang asing," ujar Alita.
"Tidak peduli kalian orang asing atau bukan. Kalian adalah teman gue. Pokoknya datang aja, gue nggak ada teman di sana," balas Ruri kembali meyakinkan.
"Kenapa undangnya sekarang jika pestanya satu bulan lagi, Ruri?" Kali ini Kagami yang bersuara.
Ruri melepas kacamatanya, membersihkan embun di kaca bening benda tersebut. "Sengaja, biar kalian bisa mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Pokoknya jangan sampai tidak datang!" Dia berkata lantang.
"Asyik! Diundang ke pernikahan bibik Ruri. Pasti banyak makanan enak di sana, kan?" Alita berseru dia langsung menyetujui ajakan tersebut.
Keraguan terpancar dari wajah Mirai. "Tapi ... aku tidak janji bisa datang."
Mirai menjadi pusat perhatian, terutama Alita yang mendadak lesu mendengarnya. "Eh, kenapa, Mirai? Jika Mirai nggak ikut maka aku nggak akan pergi!" ancam Alita.
Ruri terkejut mendengar penuturan Alita. Rencananya bukan begini.
"Ada apa, Mirai?" tanya Ruri memastikan.
Mirai menatap sayu tiga teman yang berada di depannya. "Aku mau minta izin sama paman dan bibiku dulu. Setelah itu baru aku putuskan. Bisa pergi atau tidak."
Alita tersenyum, menepuk pundak gadis berambut pendek itu pelan. "Begitu, ya, baiklah. Kami menunggu jawaban darimu. Kalau kamu nggak ikut, aku nggak mau pergi."
Kagami dan Ruri saling pandang, memancarkan kekhawatiran dari raut wajah mereka.
***
Mirai tergesa-gesa membersihkan mejanya, kemudian dengan langkah cepat dia berlaku meninggalkan ketiga temannya.
Alita menatap nanar punggung Mirai yang semakin menjauh dan sulit untuk digapai. "Mau sampai kapan Mirai berbohong sama kita, ya? Walaupun aku tidak sehebat Ruri, tetapi aku bahkan tahu jika tadi dia berbohong!" Dia menatap ke arah teman yang duduk di bangku belakangnya.
__ADS_1
Ruri menghela napas berat, menyandang tas miliknya. "Apa pun itu, dia punya alasan kuat menyembunyikan ini semua. kita tidak bisa memaksa dia untuk berbicara begitu saja. Kita harus mengenal dia lebih dalam lagi," katanya sembari pergi meninggalkan kelas bersama dengan Alita dan Kagami.
***
Setelah gerbang rumahnya dibuka oleh Pak Arka menggunakan remote yang berada di tangannya, mata Mirai berbinar menatap mobil hitam dengan pelat nomor yang tidak asing terparkir di depan teras rumahnya.
Setelah mobil yang membawanya berhenti, Mirai langsung berlari ke dalam rumah. Dugaannya benar, paman dan bibinya sedang menunggu di ruang tamu.
"Bibik ...!"
Mirai terjun ke pelukan Selsi, wanita bersanggul itu menyambut pelukan keponakannya sehangat mungkin.
Hendro menatap gadis berambut pendek itu, tetapi ekor matanya menangkap penampilan aneh dari keponakannya. Dia hanya mengernyit memperhatikan.
"Kenapa memotong poni?" tanya Selsi, tangannya hendak menyingkap poni Mirai, tetapi gadis tersebut menahan pergerakannya.
"Mbok Yuti yang potong. Bagus, nggak, Bik." Mirai tersenyum seraya menusuk pipinya.
Rachel datang membawa camilan, dia sempat mengerling ke arah Mirai sebelum kembali ke dapur, sambil memeluk nampan kosong.
"Ganti baju dulu, ya. Setelah itu ke sini lagi."
Mirai mematuhi perintah bibinya. Setelah gadis itu berlalu, Hendro memijit kening seraya menatap istrinya.
"Aku akan pergi menemui seseorang malam ini. Sepertinya, kita nggak bisa diam lebih lama lagi," ujar Hendro kemudian.
Selsi mengangguk mantap. "Buat yang terbaik, Mas. Kita ada di titik ini juga karena bantuan dari Maganta dan Pupus. Jangan sampai kita membuat mereka kecewa di dunia sana," balasnya kemudian menyeruput secangkir teh yang sudah dingin.
Obrolan mereka berakhir bersamaan dengan Mirai yang kembali datang ke arah mereka. Selain poni panjang yang hampir menutupi kelopak matanya, gadis itu juga memakai baju lengan panjang dengan celana panjang. Cara Mirai berjalan pun terbilang aneh, kakinya seolah menahan nyeri saat dia menginjak lantai.
"Paman, Bibik. Boleh Mirai pergi ke pesta pernikahan bibik teman Mirai?" tanya gadis tersebut setelah duduk di sofa, di antara bibik dan pamannya.
__ADS_1
Hendro meraih secangkir kopi di depannya. "Siapa temanmu itu?"
Mirai menatap penuh harap ke arah pria paruh baya tersebut. "Ruri. Ruri Nagemi," lanjutnya.
Kopi yang berada di dalam mulut Hendro nyaris menyembur setelah mendengar nama yang tidak asing itu disebut oleh keponakannya. Dia mengelap cairan kopi yang membasahi sudut bibirnya. "Nagemi? Dia berasal dari keluarga yang sama dengan pengacara Roland Nagemi? Benarkah?" Hendro memastikan.
Mirai mengangguk mantap. "Benar. Pengacara hebat itu adalah ayahnya. Ruri adalah anak dari Roland!" serunya kemudian. "Mirai mencari tahu tentang ayahnya baru-baru ini setelah mendengar nama itu sepertinya tidak asing. Setelah Mirai ingat-ingat, dia ada waktu di acara pemakaman papa dan mama. Mirai benarkan?"
Selsi mengusap kepala Mirai. Dia menatap lembut gadis tersebut. "Benar sekali. Dia adalah teman orang tuamu. Wajar jika kamu lupa, saat itu kamu masih kecil."
Mirai menunduk mendengarnya. "Teman papa dan mama, ya. Jadi, Mirai boleh pergi ke pernikahan bibik Ruri?" Matanya berbinar.
Setelah menghabiskan secangkir kopi miliknya. Hendro tersenyum menatap ke arah Mirai. "Boleh. Kapan acaranya dimulai?"
Gadis berambut pendek itu mengaruk kepalanya yang dia rasa tidak gatal. Dahinya mengerut. "Untuk tanggal pastinya Mirai nggak tahu. Tetapi, kata teman Mirai bulan depan acaranya." Suaranya terdengar ragu.
"Bulan depan, ya? Berarti kamu harus mencari baju yang bagus mulai sekarang. Gimana, mau jahit baju ke butik? Bibik temankan." Selsi bersemangat.
"Kalau kalian mau ke butik, pergi saja dengan Aras, ya. Aku mau kembali ke perusahaan. Istirahat makan siang telah berlalu sejak tadi."
Hendro memotong pembicaraan wanita di sampingnya. Setelah itu, pria paruh baya tersebut berlalu dari sana. Di sela perjalanannya, Hendro mencari kontak seseorang lalu menelefon pemilik nomor tersebut.
[Halo, Pak. Ada yang bisa saya bantu] kata suara dari seberang sana setelah panggilannya terhubung.
"Kamu ada waktu luang? Saya ingin membicarakan sesuatu denganmu malam ini. Jam berapa pun itu boleh, asalkan kegiatanmu tidak terganggu," sahut Hendro.
Seseorang yang berada di seberang sana terdiam beberapa detik, kemudian kembali bersuara. [Jam sepuluh malam saya luang. Mungkin terlalu malam, apakah tidak apa-apa, Pak?]
"Iya. Santai saja, saya tahu kamu orang yang cukup sibuk. Kita ketemuan di tempat biasa, ya. Di warung kopi yang berada di dekat jembatan raya."
Setelah kesepakatan tercipta. Sambungan telefon terputus. Hendro kembali fokus menyetir mobil sedan yang dia bawa, memecah keramaian jalan raya.
__ADS_1