
Ruri mengerjap menepis semua pikiran buruk yang memenuhi kepalanya. Gadis itu menatap ke arah Alita dan Kagami secara bergantian, wajah mereka tercetak kecemasan yang sama dengannya setelah mendengar kabar dari buk Sani.
Alita memutar badan, duduk menghadap Ruri, lalu memelas di sana. "Mirai kenapa, ya? Sakit apa? Aku khawatir, tapi nggak bisa datang jenguk dia karena harus masuk kerja."
Kagami memiringkan duduk, setelah mendengar suara Alita. "Mungkin, urusan penting yang dia katakan semalam itu hanya bohong belaka? Mungkin sebenarnya dia sakit dan tidak mau membuat kita khawatir?" Dia bergabung di dalam percakapan.
Ruri mendesah, mendengar keluhan teman-temannya. "Jangan mikir yang aneh-aneh dulu. Sekarang kita fokus belajar, nanti saat jam istirahat biar gue coba hubungi dia."
Kagami dan Alita mengangguk lesu mendengar usulan Ruri. Mereka kembali duduk menghadap ke papan tulis, serentak setelah itu guru yang mengajar baru saja tiba.
Ruri menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Bohong jika dia bisa berpikir tenaga setelah banyaknya pikiran buruk yang datang berimpitan. Matanya menatap sendu ponsel yang dia letak di dalam laci. Masih berharap Gagas membalas pesan yang dia kirimkan.
Setelah melewati dua jam pelajaran, akhirnya suara bel istirahat menggema ke seluruh penjuru sekolah. Para murid berbondong-bondong menuju kantin, lain lagi dengan Alita dan Kagami yang sedang berdiri di samping Ruri.
Sorot mata ketiga remaja itu penuh harap menatap ke arah ponsel Ruri yang sedari tadi menyala. Sudah berapa kali panggilan telefon mereka tidak diangkat oleh Mirai. Berdering, tetapi tidak ada sahutan dari seberang sana.
Ruri berdecak kesal dan kembali menelefon Mirai, sekali lagi. Ini yang terakhir, pikirnya kala itu. Panggilan telefonnya masih saja tidak diangkat. Entah apa alasan Mirai tidak mengangkat telefon dari Ruri, mereka bertambah khawatir mendapati situasi seperti ini.
Ruri membuka kolom chatnya dengan Mirai, lalu mengirim lagi beberapa pesan, walau tahu Mirai tidak akan membalas pesan darinya.
Alita bertambah gelisah. "Mirai kenapa, ya? Ponselnya hidup, tapi nggak diangkat."
Kagami melihat Ruri dan Alita secara bergantian. Laki-laki itu kembali duduk di bangkunya. "Mungkin lagi pakai mode silent. Sepertinya kita ganggu jam istirahat dia." Dia mendadak lesu.
Ruri menghela napas panjang, menatap kedua temannya. "Jadi, gimana sekarang?" Dia kehabisan ide.
Di tengah dilanda kabut keputus-asaan disertai gelisah yang semakin menebal, Alita tiba-tiba saja tersenyum, menatap ke arah Ruri. Senyumannya menyiratkan sebuah permohonan.
__ADS_1
Ruri menatapnya jengah, "Awas kalau aneh-aneh." Dia mengerti.
Alita meminta Ruri mengirim foto selfi mereka bertiga untuk memberi semangat kepada Mirai. Sebenarnya Ruri menolak, tetapi Alita tetap bersikeras dengan pikirannya.
Mau tak mau Ruri dan Kagami mengikuti usulan tersebut. Mereka bertiga berselfi, lalu mengirim foto itu dengan ucapan dan harapan mereka supaya Mirai cepat sembuh.
"Ada ide gila lagi?" Ruri kesal melihat Alita, dia melirik ke arah Kagami.
Kagami mengaruk tengkuk yang dirasa tidak gatal. "Sepertinya lebih baik kita ke kantin dan mengisi perut, supaya pikiran kembali segar."
***
Mirai meringkuk di balik selimut. Mata sembabnya terus meneteskan air mata, melihat ponselnya yang bergetar sedari tadi. Gadis itu tidak menghitung entah berapa banyak pesan dan panggilan yang Ruri kirimkan kepadanya, dia tidak mempunyai keberanian untuk menjawab pesan maupun panggilan tersebut.
Setelah lama ponselnya bergetar, Mirai kembali mendapat notifikasi pesan dari Ruri, dia mengirimkan sebuah foto. Mirai mengumpulkan niat untuk membuka foto tersebut.
Dengan tangan gemetar dan kepala yang terasa pusing, Mirai meraih ponselnya, lalu membuka pesan tersebut. Bibirnya tersenyum.
[Mirai, cepat sembuh, ya. Biar bisa sekolah bareng-bareng lagi~ Alita. Dia cuma mau nyontek PR sama lu~ Ruri. Cepat sembuh Mirai, makan yang banyak, ya ~ Kagami.]
Caption dari foto tersebut terdiri dari tiga kalimat yang berbeda. Berisi pemikiran dari orang yang berbeda pula. Mirai terisak di balik selimut tebalnya, merasakan nyeri yang menghunjam hatinya.
"Aku ... ingin ... di samping kalian ... terus," lirihnya dengan suara serak.
Ponsel miliknya segera dia matikan, tanpa membalas pesan dari Ruri. Dia mengambil foto yang berada di nakas, setelah ponselnya dia letak di sana. Mirai memandang bingkai foto kecil di depannya, mengusap wajah orang tuanya yang berada di sana.
Matanya kembali mengucurkan air mata yang cukup deras. Dia tersedu-sedu, memeluk bingkai foto tersebut. "Mirai rindu mama dan papa. Kenapa kalian ninggalin Mirai secepat ini? Mirai mau ikut kalian." Raungannya semakin menjadi.
__ADS_1
Kepalanya semakin pusing, tatkala perutnya berbunyi. Dia baru menyadari, jika sedari sore kemarin dia belum memakan sesuap nasi pun.
Mirai menyibak selimutnya perlahan, lalu berjalan terseok mendekati jendela kamarnya. Tangannya membuka jendela tersebut lebar-lebar, menampakkan pemandangan yang cukup tinggi. Di bawah sana terdapat kebun yang ditumbuhi berbagai macam bunga warna-warni. Mata Mirai kosong, menatap langit biru yang terbentang luas di depannya.
Tidak ada yang Mirai pikirkan saat ini. Tubuhnya seolah bergerak sendiri mengikuti hasutan kecil di dalam dirinya.
"Mati ... mati ...."
"Persetan dengan kekayaan. Semuanya busuk. Ambil jika kalian mau ...."
Hanya kalimat itu yang dia dengar.
Mirai mengangkat sebelah kakinya, menginjak kusen jendela. Tangannya perpegangan di salah satu kusen lainnya. Matanya terus memancarkan kekosongan dan keputusasaan dari sana, lalu saat kaki keduanya hendak terangkat menginjak kusen jendala yang satu lagi, tiba-tiba saja Mirai tersadar setelah sebuah tangan memeluknya dari belakang dan langsung menarik tubuhnya menjauh dari jendela.
"Apa yang Neng Mirai lakukan? Berbahaya! Jangan memanjat jendela dari lantai dua!"
Mirai terkejut, dia benar-benar sadar setelah mendengar suara Mbok Yuti. Gadis itu masih mematung di lantai, Mbok Yuti yang sudah termakan emosi langsung menarik kedua pipi Mirai. Matanya berkaca-kaca.
"Tatap Mbok! Apa yang Neng Mirai lakukan?" tanya wanita tua itu sekali lagi.
Mirai menggeleng, tubuhnya bergemetar. "Mirai ma–mau ke–ketemu mama dan papa."
Mbok Yuti langsung mendekap Mirai seerat mungkin. "Nggak gitu caranya." Dia ikut menangis.
Setelah tenang, akhirnya Mirai makan disuapi oleh Mbok Yuti. Sesekali gadis itu tertawa, menatap wajah lucu pembantunya.
"Mbok, kenapa nggak ketuk pintu dulu sebelum masuk?"
__ADS_1
"Sudah berkali-kali mbok ketuk pintunya. Karena nggak dikunci, mbok terobos aja masuk ke dalam. Lihat Neng Mirai mau terjun dari jendela, mbok langsung mencegahnya. Untung masih sempat, kalau tidak mbok tinggal sendiri di sini." Matanya meneduh.
Mirai menyesal. Dia menggenggam tangan keriput Mbok Yuti lalu menciumnya. "Maafkan Mirai, Mbok. Mirai putus-asa. Mirai capek berpura-pura terus. Mirai ... nggak punya keberanian untuk melawan. Nggak ada yang mau dengerin ucapan anak kecil," tuturnya kemudian.