Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
14. Siapa dia?


__ADS_3

Mereka pun asyik bercanda dan berusaha mengakrabkan diri. Sifat konyol ketiga sahabatnya semakin membuat mereka tertawa. Kemudian pelatih memberi aba-aba untuk para pemain untuk berkumpul. Jihan bergegas meninggalkan ketiga sahabatnya, Robby juga Devyan. Mereka segera duduk di bangku penonton.


"Oke. Jihan, kamu harus hati-hati, sedari tadi saya perhatikan, kamu sedang diawasi oleh kapten tim lawan. Kamu harus sangat hati-hati, karena yang saya dengar dia sangat agresif." Ucap pelatih menasehati Jihan.


Jihan pun mencoba melirik kearah tim lawan. Ternyata benar, kapten tim itu selalu memerhatikan gerak-gerik Jihan dengan sesekali senyum tipis. Jihan merasa dia tidak mengenalnya, tapi kenapa dia menatap Jihan seperti itu?


"Ini babak final, saya tahu kalian bisa. Kalian harus bermain hati-hati. Oke?" Ucap pelatih.


"Siap pak" jawab anggota tim Jihan penuh semangat.


Satu sisi, kapten tim yang merupakan teman dekat Tasya dengan pikiran licik yang memenuhi fikirannya bersiap untuk melawan. Tasya pun tersenyum penuh kemenangan, seolah tak perlu mengotori tangannya sendiri.


"Kita lihat, Lo pasti bakalan kewalahan Jihan" gumam Tasya.


Kedua timpun melakukan pemanasan terlebih dahulu.


Prit prit prit


Peluit panjang dibunyikan wasit. Permainan dimulai.


Suasana tegang mulai terasa tatkala kapten tim dari sekolah Devyan. Kapten tim nya yang bernama Tiara selalu mepet ke Jihan seolah tidak ingin memberi celah sedikitpun. Babak pertama dimenangkan oleh tim Jihan dengan susah payah. Peluit berbunyi, waktu istirahat babak pertama.


Jihan dan timnya menepi.


"Jihan, kamu harus hati-hati, sikapten selaku mepet kamu dan berusaha berbuat curang ke kamu." Ucap pelatih yang sudah khawatir pada Jihan.


"Iya pak. Saya tahu itu. Makanya tenaga saya cukup terkuras dibabak pertama." Ucap Jihan masih berusaha mengumpulkan nafasnya.

__ADS_1


"Kita harus rubah strategi" ucap salah satu teman tim Jihan.


Pelatih dan tim Jihan pun mengangguk tanda menyetujui apa rencana yang sudah direncanakan dengan matang itu.


"Jihan, gantian kamu yang pepet dia. Jangan kasih celah. Oke?" Ucap pelatih.


"Baik pak" ucap Jihan dengan penuh keyakinan.


Babak kedua dimulai. Sesuai dengan strategi tim Jihan, dia mulai tidak memberi celah untuk Tiara memasukkan bola. Tiara sudah kehabisan akal untuk menghindari Jihan dan berusaha memasukkan bola. Hingga akal liciknya muncul.


"Sepertinya ini saat yang tepat" gumam Tiara.


Bruukkk


Jihan jatuh tersungkur.


Devyan yang melihat itu langsung berdiri dari tempat duduknya. Namun langkahnya terhenti saat dia melihat laki-laki yang sudah datang menghampiri dengan raut wajah kecemasan dan langsung memberi perhatian pada Jihan.


Robby yang sudah tahu siapa sosok itu langsung berkata "kak Arinal?" . Devyan yang mendengar perkataan Robby langsung menoleh kearah Robby.


"Siapa dia Rob?" Tanya Devyan pada Robby.


"Dia kakak kelas kami Dev. Sekarang bukannya dia kuliah di luar negeri ya." sahut Ciwi yang takut Robby mengatakan yang sebenarnya.


Tanpa pikir panjang, Devyan langsung menghampiri jihan. Meskipun dalam fikirannya masih penuh pertanyaan tentang laki-laki yang memberikan perhatian lebih pada orang uang dia sayangi.


Devyan langsung berjongkok mengambil alih kaki Jihan yang sedari tadi berada diatas paha Arinal. Sontak Arinal langsung berdiri.

__ADS_1


"Sepertinya kamu nggak bisa main lagi Jihan. Kaki kamu terluka parah." Ucap Arinal.


Jihan hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin timnya kalah begitu saja.


Devyan masih sibuk berusaha membenarkan posisi kaki Jihan yang terkilir. Krekk .. Jihan menjerit kesakitan. Namun itu berhasil membuat akkinya sudah tidak terasa nyeri lagi. Meski masih sedikit sakit.


"Udah nggak papa, kalo kamu udah nggak bisa main jangan dipaksain." Ucap Devyan mendongak kearah Jihan lalu menatap Arinal.


"Siapa laki-laki ini? Apa dia kekasih Jihan? Hati ini masih terasa sakit Jihan, lihat kamu bersama dengan orang lain." Gumam Arinal lalu pergi meninggalkan Jihan dan Devyan.


Arinal adalah cinta pertama Jihan. Begitupun dengan Arinal. Baginya, Jihan adalah wanita yang istimewa. Jihan dan Arinal pernah menjalin hubungan hampir 2 tahun lamanya. Hingga akhirnya mereka harus berpisah karena Arinal harus melanjutkan sekolah keluar negeri.


"Kenapa kamu datang saat hatiku mulai membuka untuk cinta yang baru?" Lirih Jihan , tak terasa air mata membasahi pipinya.


"Tidak, mungkin saat ini dia sudah memiliki kekasih lain. Di medsosnya juga sering dia upload foto dengan wanita cantik." Gumam Jihan.


Begitu banyak fikiran yang berkecamuk dalam fikiran Jihan. Tentang apa alasan Arinal yang tiba-tiba pulang ke Indonesia. Tentang siapa gadis yang selalu diajak nya berjenjang selama di New York. Akhh masih banyak lagi fikiran yang menggangunya.


Devyan yang menyaksikan kejadian itu merasa ada sesuatu yang terjadi diantara Jihan dan Arinal.


"Apa mereka pernah memiliki hubungan? Apa mereka masih saling sayang? Ah tidak. Tidak ada yang bisa memiliki wanitaku. Aku sudah menemukan wanita yang tepat untukku." Gumam Devyan.


Jihan yang absen pada babak kedua dan digantikan oleh tim cadangan merasa khawatir dengan permainan tim Tiara. Dan benar saja, babak kedua dimenangkan oleh tim Tiara.


Devyan masih melamun dengan fikirannya. Masih ada tanda tanya besar yang ingin ia ketahui. Hatinya saat ini dipenuhi dengan rasa cemburu.


Jihan yang merasa sudah lebih baik. Langsung memutuskan untuk turun kelapangan pada babak ketiga.

__ADS_1


Dengan bersusah-payah, Jihan mencoba memberikan permainan terbaiknya. Tiara sebenarnya kagum dengan semangat Jihan yang sangat gigih. Dengan permainan Jihan yang epic, membuat skor tim nya bertambah. Hingga babak ketiga itu dimenangkan oleh tim Jihan.


__ADS_2