
Ruri mematung mendengar penuturan sang mama. Pupil matanya bergerak menelusuri bola mata Syanala, mencari kebohongan di sana.
Tatapan sayu nan lembut Syanala tidak sedikit pun memancar kebohongan. Hati Ruri tiba-tiba ngilu mengetahui hal tersebut.
"Empat kali ... Papa menangis gara-gara Ruri."
Gadis berkacamata itu tidak sanggup menatap mata Syanala. Dia beralih menatap televisi besar di depannya.
Sudut bibir Syanala terangkat, wanita paruh baya tersebut mengubah posisi duduknya, yang tadi menyamping kini menghadap ke depan. Sama dengan Ruri menghadap televisi.
"Pertama kali papamu menangis saat mendengar suaramu setelah selamat dilahirkan. Suara tangismu melengking memenuhi ruangan bersalin, tetapi suara papamu jauh lebih keras menggema di sana. Mama dan suster menertawakan papamu yang terlalu bahagia. Dia sampai tersedu-sedu, padahal orang-orang mengenalnya sebagai seorang pengacara yang tegas." Syanala melirik ke arah Ruri sebentar, gadis tersebut masih mematung dengan pupil mata yang masih mengarah ke depan.
"Kedua, saat kamu pertama kali bisa berbicara. Kalimat pertama yang kamu katakan saat itu adalah papa. Suara kecilmu memanggil papa. Mama sedang memasak di dapur saat itu, tiba-tiba papa berlari ke arah mama, sambil memelukmu seerat mungkin." Syanala menelan ludah sebentar. "Lalu papa bilang, mama Ruri sudah bisa bicara. Dia barusan manggil papa, ucapnya kala itu dengan bola mata yang telah basah."
Semakin jauh Syanala bercerita, dirinya tidak dapat menahan tawa ketika mengingat wajah suaminya saat menangis yang terlihat lucu di kala itu. Ruri masih terdiam di sebelahnya.
"Yang ketiga, setelah dokter memberi tahu jika kamu harus memakai kacamata rabun pada saat usiamu menginjak delapan tahun. Setelah pulang dari rumah sakit, papa menangis di dalam kamar. Dia tidak tega melihat anaknya menderita rabun dekat di usia dini. Dia merasa dirinya tidak berguna sebagai seorang ayah. Sejak itu, papamu selalu memarahimu ketika membaca buku hingga kelelahan."
Sudut bibir Syanala melengkung ke bawah. Matanya sedikit berkaca-kaca untuk kembali berbicara. "Dan yang terakhir, saat kamu dan papa berdebat empat tahun lalu." Wanita paruh baya tersebut melirik ke arah anaknya. Mata Ruri membesar menatap ke arah sang mama.
__ADS_1
"Papa ... menangis kala itu?" Suara Ruri bergemetar.
"Iya. Setelah perdebatan kalian selesai, mama melihat papamu menangis di pojok ruang kerjanya. Saat itu, tangisannya berbeda dari tangisan sebelumnya. Dia meraung dalam diam seraya memukul dadanya yang semakin sesak. Matanya memerah, jika mama tidak cepat datang menenangkannya, mama tidak tahu apa yang akan terjadi pada papamu kala itu."
Syanala tertunduk lesu. Tangannya terulur menggenggam kedua tangan Ruri. "Nak. Papamu seperti itu bukan karna dia tidak sayang sama kamu, ketahuilah bahwa rasa sayangnya jauh lebih besar dari apa yang dia nampakkan. Untuk memilih sopir pribadimu saja, papa tidak sembarangan orang. Dia memilih orang yang benar-benar bisa dia percaya untuk menjaga buah hatinya. Pak Miko dulunya penjual keliling yang berteman baik dengan papamu, karena itu dia mempercayai Pak Miko. Apa yang membuat kamu masih membenci papa sampai saat ini, Ruri? Apakah Dion lebih penting dari keluargamu sendiri?" Nada bicara Syanala meninggi.
Tubuh Ruri bergemetar mendengar suara Syanala yang terbesit emosi di sana. Gadis berkacamata tersebut membuka bibir secara perlahan. "Bukan. Bukan itu maksud Ruri." Dia berkata ragu. "Ruri minta bantuan papa buat bantu mencari keluarga Dion. Itu saja, Ma. Itu kesepakatan akhir Ruri dan papa sebelum kami selesai berdebat. Ruri ... hanya ingin Dion sembuh, setidaknya keluarga dia harus tahu supaya Dion cepat sembuh. Mungkin keajaiban akan terjadi nantinya."
"Ruri memandang Dion sebagai sesama manusia, Ma. Emangnya tidak boleh Ruri membantu orang lain. Apakah tindakan Ruri salah sampai papa tidak mau membantu Ruri. Dia, kan, pengacara, punya koneksi yang luas. Kenapa dia tidak pakai kelebihannya untuk membantu Ruri. Jika papa bantu Ruri mencari keluarga Dion. Mungkin Dion sudah sembuh sekarang," tambahnya menjelaskan.
Percakapan mereka terjeda beberapa menit. Syanala melepas pegangan tangannya, kemudian beralih mengambil remote televisi. "Tidurlah. Ini sudah malam. Jangan membahas itu lagi sekarang, jika kamu ingin tahu jawabannya, kamu harus bertanya langsung kepada papamu. Mama nggak punya hak untuk menjelaskan."
***
Syanala resah menunggu suaminya yang belum juga pulang. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, panggilan telefon darinya tidak juga diangkat.
Roland dengan tubuh yang terasa sangat remuk menyetir mobil dengan mata yang sangat mengantuk. Lampu kendaraan yang berlalu lalang di depannya samar-samar terlihat di pupil mata. Saking lelah dirinya, ponselnya yang berdering sedari tadi sengaja dia abaikan. Saat ini dia tidak ingin diganggu oleh siapa pun dan ingin segera beristirahat.
Pintu gerbang rumahnya segera dibuka oleh Pak Miko, setelah mobilnya terparkir di dalam garasi, istrinya langsung tergesa-gesa menghampirinya.
__ADS_1
"Papa, kenapa lama pulangnya?"
Syanala membantu membawa tas milik suaminya. Pria tersebut berjalan sedikit terhuyung menuju pintu utama rumahnya.
Setelah sampai di ruang tamu, dia langsung merebahkan diri di sofa panjang berwarna abu-abu yang berada di sana. Syanala membantu membuka jaket serta kaos kaki yang masih melekat di tubuhnya.
"Papa sakit? Kenapa lesu begini?"
Syanala menarik kepala suaminya untuk tidur di pangkuannya. Roland merasa sedikit rileks ketika mendapat pijatan di kepalanya.
"Tadi papa mengobrol lama dengan Pak Hendro di warung kopi. Kamu tahu sendiri, kan, papa nggak bisa minum kopi. Rasanya badan ini hampir saja pingsan ketika secangkir kopi yang Pak Hendro pesan harus papa minum." Roland mengusap perutnya, organ dalamnya terasa berguncang saat ini.
Syanala tersenyum mendengarnya. "Papa benar-benar orang yang nggak enak hati. Udah tahu nggak bisa minum kopi, bukannya nolak secara halus malah diminum tanpa tahu akibatnya. Kalau sudah pusing dan mual gini, siapa yang susah? Papa juga, kan."
Syanala mengambil kotak P3K yang berada di dalam kamarnya. Mengulur minyak angin yang berada di sana kepada suaminya.
"Pak Hendro ngajak papa ketemuan. Apakah mereka ingin membuka kasus Maganta dan istrinya lagi, Pa?"
Pandangan Roland perlahan terasa lebih ringan sekarang. Dia duduk, menyandarkan kepala ke sofa. "Tidak. tetapi kasus lain." Dia melirik ke arah istrinya sebentar. "Mirai, anak Maganta mengalami tindak kekerasan. Pelaku sebenarnya belum diketahui, tetapi entah kenapa papa merasa jika pelaku ini adalah orang yang sama yang menjadi dalang kematian Maganta dan pupus serta dia juga berkemungkinan besar menjadi orang yang sama yang telah membuat Dion koma."
__ADS_1