
**Dev : hai.. udah pulang sekolah?
Jihan : udah. Baru sampe rumah nih.
Jihan : elo sekolah di SMA **********?
Dev : iya, Lo tau dari mana?
Jihan : dari seragam Lo lah
Dev : hehehe
Jihan : kelas berapa?
Dev : sama kaya elo
Jihan : ohh..
Dev : oh doang nih? ð
Jihan : lha terus maunya dibalas apa?
Dev : nggak papa deh. Bales perasaan gue gimana?
Jihan tersenyum malu membaca chat dari Dev
*Jihan : nggak sabaran amat
Dev : oke . Fine. Gue sabar nunggu Lo.
Jihan : nggak usah ditunggu. Kalo ada yang bikin lo nyaman ya silahkan aja, gue nggak mau ngasih harapan yang belum pasti.
*Dev : mungkin saat ini belum. Tapi gue yakin Lo bakal balas perasaan gue.
Jihan : pede amat sih ðĪŠ
Dev : aduuuhh, imut banget sih emot nya ð
Jihan : gombal mulu.
Dev : jujur kalee
Jihan : jadi jemput nggak?
Dev : jadi dong. Sekarang?
Jihan : iya. Gue siap-siap dulu.
Dev : oke. Otw
Dev mengambil jaketnya dan tersenyum menuruni anak tangga rumahnya.
" Dev, mau kemana? Kok semangat banget" tanya mama Lidya yang melihat putra semata wayangnya terlihat bahagia.
"Mau jemput seseorang mah. Doa in Dev biar bisa dapetin gadis yang Dev suka mah" ujar Dev sambil memeluk mamanya dari belakang dan mengecup pipi mamanya.
"Kamu sedang jatuh cinta?" Tanya amma Lidya.
Dev menjawabnya dengan anggukan.
"Dev pergi dulu mah" ujar Dev sambil mencium punggung tangan mamanya.
"Hati-hati nak, jangan ngebut" geleng-geleng memerhatikan Dev menutup pintu.
Dev mengendarai motornya dengan semangat.
Sesampainya depan rumah Jihan.
"Mah, Jihan berangkat latihan dulu." Ucap Jihan.
__ADS_1
"Diantar sama pak Jono apa bawa mobil sendiri?"tanya mama Nana pada putrinya.
"Di jemput sama temen mah." Ucap Jihan mencium tangan pada mamanya dan pergi.
Jihan sudah menunggu Dev di depan rumah.
Dev pun datang. Dia terpesona dengan kecantikan Jihan. Padahal sebelumnya, dia juga pernah beberapa kali berpacaran dengan gadis cantik. Namun menurutnya, Jihan gadis yang memiliki daya tarik tersendiri.
"kita berangkat? Oh ya, latihannya dimana nih?" Tanya Dev sambil memakaikan helm ke kepala jihan.
"di sekolah gue." Ucap Jihan yang langsung naik kemotor Dev .
Dev pun melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
"Udah mau ujian kok Lo masih aktif mau ikut turnamen sih" tanya Dev.
"Nggak papa kan? Lagian gue dibutuhkan dalam Tim" ujar Jihan .
"Berarti lo pemain andalan dong" tanya Dev
"Nggak juga" jawab Jihan singkat
~sesampainya di sekolah
Semua mata yang berada di sana khususnya para teman dan adik kelas Jihan yang sedang latihan terpukau dengan ketampanan Dev.
"Ganteng banget" ucap salah satu adik kelas Jihan.
"Iya ganteng banget. Apa itu pacarnya kak Jihan ya?" Sahut yang lainnya
"Kalo sama si Dino mah gantengan yang itu" tunjuk teman satu angkatan Jihan
"Bener kak. Dia benar-benar tampan" ucap adik kelas Jihan.
Jihan yang menyadari tatapan dari tim basketnya pun langsung menaruh tas nya di bangku tempat nya beristirahat.
"Nggak kok, sante aja" jawab Dev.
"yaudah." Ujar Jihan.
"Emmm" ujar Dev tersenyum dan menaikkan satu alisnya.
"Udah sana latihan yang bener" ujar Dev.
Jihan pun langsung bergabung dengan teman-teman satu timnya untuk melakukan pemanasan.
Dev melihat Jihan dengan semangat. Dia tidak menyangka bahwa Jihan memiliki hobi berolahraga seperti dirinya. Dev yang memang sudah sering mendapatkan medali dari perlombaan basket pun memerhatikan latihan Jihan yang memang cukup bagus.
Dev pun mengambil handphone dari saku jaketnya dan mengambil potret Jihan yang sedang latihan.
"Kau benar-benar cantik" gumam Dev sambil memandangi foto yang baru saja ia ambil.
Tiba-tiba ada yang menyapa Dev .
"Kak Dev ?" Ucap gadis itu.
"Hai Geb? Kau Gabriella adik kelas ku dulu kan?" Ujar Dev.
"Iya kak, kakak masih inget sama aku" ujar gadis itu dengan senyum manisnya.
"Kak Dev ngapain ke sekolahku?" Tanya Gebi sapaan gadis itu.
"Ahh, gue lagi nganterin seseorang." Ucap Dev
"Siapa kak?" Tanya Gebi penasaran, karena Gebi sudah menaruh hati pada Dev sejak Dev SMP dulu.
*Prit.. prit.. prit..*
__ADS_1
Peluit dari pelatih berbunyi panjang menandakan waktu istirahat bagi pemainnya.
Jihan melihat Dev sedang mengobrol dengan Gebi, yang kebetulan adik kelas Jihan dan juga kapten cheerleader. Jihan menatap mereka dengan tatapan penasaran dan langsung berlari kecil kearah Dev dan Gebi. Ada rasa cemburu dalam hati Jihan melihat Devyan didekati oleh wanita lain.
"Hai" sapa Jihan pada Dev dan Gebi dengan nafas terengah-engah.
"Capek ya?" Ucap Dev sambil menyodorkan handuk dan air minum.
"Makasih Dev." Ucap Jihan. Jihan langsung mengelap keringat di tubuhnya dengan handuk yang diberikan Dev. Dan langsung meminum air. Jihan tidak menyangka Dev seperhatian itu kepadanya.
"Geb, lo juga latihan?" Tanya Jihan.
"Iya kak, kan buat nyuport tim basket sekolah kita." Ucap Gebi sambil melirik Dev.
Jihan manggut-manggut.
"Jadi kak Dev kesini nganterin kak Jihan?" Tanya Gebi penuh dengan penasaran.
" Iya, gue nemenin cewek gue latihan" ucap Dev dengan senyum dan langsung merangkul pundak Jihan.
"Deeeevvvv elo" ucapan Jihan terhenti karna Dev mengedipkan mata. Dan Jihan menurut dengan apa yang diinginkan Dev.
Jihan yang mendapat perlakuan seperti itu langsung merasa deg-deg an dan wajahnya langsung memerah.
*Prit.. prit.. prit*
Pelatih meniup peluit dan meminta pemain untuk berkumpul ke tengah lapangan
"Dev, gue latian lagi ya" ucap Jihan menaruh handuk dan air minum nya ke bangku.
Dev pun hanya mengangguk .
"Jadi kakak dan kak Jihan pacaran?" Tanya Gebi
"Iya, " ucap Dev yang masih tidak melepaskan pandangannya dari Jihan.
"Kak, apa aku tidak menarik dimatamu? Bahkan kau tidak melepas pandanganmu dari kak Jihan? Aku mengagumi mu dari dulu kak, bahkan aku senang hari ini bisa bertemu dengan mu lagi. Tapi kau... Dengan bangganya merangkul kekasihmu itu. Apa tidak ada sedikit saja perasaan kakak buat aku?" Gumam Geby dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kak, aku tinggal latihan dulu ya." Ujar Geby lirih
Dev hanya mengangguk dan menoleh sebentar kearah Geby lalu mengalihkan pandangannya ke Jihan lagi.
Sebenarnya Dev tidak tega mengabaikan Geby, tapi Dev tau bahwa Geby memiliki perasaan lebih terhadapnya. Dev tidak ingin memberi harapan kepada gadis yang tidak ia sayangi. Karna baginya saat ini, hati dan fikirannya hanya ada Jihan.
Dev yang memang seorang basketball player sangat menyukai permainan Jihan yang agresif dan memiliki taktik. Dia merasa menemukan pasangan yang tepat dengan apa yang dia sukai.
Latihan pada sore itu pun selesai. Jihan menghampiri Dev dengan keringat yang membasahi tubuhnya.
"Capek banget." Ujar Jihan.
"Gue penasaran pengen tanding ama Lo" ucap Dev
"Oh ya?? Coba aja." Jihan berdiri dan mengambil bola lalu dilemparkannya pada Dev
Dev menangkap bola dan melepas jaketnya.
Dev dan Jihan bermain dengan sangat epic. Dan permainan mereka menjadi tontonan untuk coach dan teman tim Jihan. Mereka menyemangati Jihan dan Dev. Dev yang memang seorang pemain basket merasa kewalahan dengan permainan Jihan. Dan Dev merasa Jihan memang pemain wanita yang mempunyai skill.
"Yeeee Lo kalah Dev " ujar Jihan
Dev hanya tersenyum melihat Jihan. Dev memang sengaja mengalah karna dia tidak ingin melihat Jihan sedih.
"Lo hebat" ucap Dev yang langsung mengacak-acak rambut Jihan.
Jihan yang merasa senang, secara refleks memeluk Dev. Dev terkejut mendapatkan pelukan dari Jihan.
Jihan yang menyadari aksinya langsung melepaskan pelukannya.
"Maaf Dev" ucap jihan
__ADS_1