
Cerita sendu dari masa lalu Pita menutup pertemuan mereka hari ini. Setelah selesai berfoto, Roland langsung pamit dari sanggar. Sedangkan Ruri, Alita dan Kagami menyusul setelahnya.
"Terima kasih, Pak Arka. Kami pamit pulang dulu," kata Kagami.
Pria tua berkacamata kecil itu tersenyum, lalu mengusap kepala Kagami sebelum remaja itu berlalu dari hadapannya. "Hati-hati di jalan, ya. Terima kasih sudah mampir. Lain kali datanglah sesuka hati kalian ke sini," kata Pak Arka sedikit berteriak.
Alita melambaikan tangan dari kejauhan. Senyum di wajah Pita terus terukir hingga punggung ketiga remaja tersebut menghilang di kelopak matanya.
"Nah, Pita. Sekarang bukannya waktu kamu untuk pulang?" Pak Arka melirik gadis di sampingnya sambil tersenyum. Ucapannya diangguki oleh Pita.
"Sepetinya aku akan menikahi Kagami, Pak! Biar aku paksa dia pakai marga Noa di nama dia dan setelah itu marga Noa akan kembali terkenal lewat aksinya bermain alat musik!"
Pita mengatakan hal aneh lainnya yang membuat Pak Arka geleng-geleng mendengarnya.
"Kamu nggak tahu kapan harus sadar diri, ya, Pita!"
***
Roland berjalan terburu-buru menuju mobilnya yang terparkir. Namun, sebelum itu dia menghampiri Miko, sopir pribadi Ruri yang tengah berdiri di samping mobil majikan kecilnya.
"Miko! Setelah ini langsung anterin Ruri pulang, ya. Kalau dia ngajak ke tempat lain jangan mau, pokoknya langsung pulang!" Roland mengingatkan, Pak Miko mengangguk.
"Kamu sudah makan?" tanya Roland kembali.
"Sudah, Pak. Tadi dibawakan bekal sama buk Syanala," jelasnya, kemudian diangguki oleh Roland.
Ruri dan kedua temannya sedikit kebingungan saat berada di parkiran. Kondisi hari yang sudah sore dengan banyaknya kendaraan di sana membuat mereka lupa lokasi mobil yang membawa mereka terparkir.
"Ruri!"
Pak Miko melambai tangan ke arah Ruri. Gadis itu melihatnya dan langsung menuju ke arahnya.
Pak Miko langsung membawa ketiga remaja tersebut pulang ke rumah Ruri. Suasana sekitar perlahan temaram, disertai matahari yang hampir terbenam. Kemudian disambut cahaya rembulan menyinari sekitar.
Alita tertidur di bahu Ruri, sedangkan Kagami menahan kantuknya sekuat mungkin sambil melihat pemandangan di luar jendela mobil.
__ADS_1
Ruri melirik jam yang berada di pergelangan tangannya. Di sana sudah menunjukkan pukul tujuh malam. "Sepertinya kita terlalu asyik di sanggar hingga lupa waktu. Sekarang kita terjebak macet dan kemungkinan besar akan semakin lama sampai ke rumah," dengkusnya kesal.
Bunyi klakson yang saling bersahutan di sekeliling mereka membuat Alita terbangun. Gadis itu mengerjap. "Kita sudah sampai rumah?" tanyanya dengan kesadaran yang masih terkumpul setengah.
Kagami meliriknya. "Belum, Alita. Kita lagi terjebak macet. Sepertinya ada truk di depan sana," jelasnya kemudian.
Ruri menghela napas. "Kagami, bagaimana dengan ingatan lu? Apakah ada sesuatu yang bisa lu ingat sekarang?"
Alita antusias. "Iya, Kagami. Tentang desa Padamiri atau marga Noa misalnya. Mungkin kamu berasal dari sana," timpalnya berpendapat.
Kagami mengusap kepalanya sebentar, lalu menatap gadis di sampingnya. "Sedari tadi aku memikirkan hal itu. Termasuk apa yang Pita ceritakan kepada kita. Tetapi, tidak ada satu pun yang merespons di ingatanku," jawabnya lesu.
"Begitu, ya? Sepertinya perjalanan menemukan ingatan lu kembali, tidak semudah yang kita kira," kata Ruri kemudian tertunduk lesu.
***
Setelah lama Ruri dan kedua temannya pamit, Pita masih berada di kantor Pak Arka; memperhatikan pria tua tersebut yang tengah membereskan barang miliknya.
Pak Arka melirik jam dinding, "Kamu nggak pulang, Pita? Tumben jam segini belum pulang," tanyanya di sela kesibukan.
"Tumben sekali. Ada acara penting, ya, yang harus kalian hadiri?"
Setelah selesai dengan kegiatannya, Pak Arka duduk di sofa yang berada di depan Pita.
"Kontrol, Pak. Hari ini jadwalnya ke psikiater lagi."
Jawaban Pita membuat Pak Arka keheranan. "Sepertinya, kita belum saling mengenal, ya. Siapa yang menyangka, gadis seceria kamu saat ini sedang menjalani pengobatan. Apa pun itu, cepat sembuh, ya!" Pak Arka menyemangati.
Tidak lama setelah suara pria tua tersebut menggema di sana, seorang wanita dan pria paruh baya mengetuk pintu. Sorot mata Pita langsung berbinar menatap mereka.
"Sepertinya anak saya bikin keributan lagi, ya, Pak Arka?" tanya pria paruh baya tersebut yang baru saja sampai.
Sudut bibir Pak Arka terangkat. "Ha ha ha! Kamu kayak bicara sama orang asing aja, Sanjaya!"
Sanjaya Loka Noa, sosok yang mereka bicarakan tadi kini datang bersama istrinya untuk menjemput Pita, anak mereka.
__ADS_1
Pita langsung merentangkan tangan berlari ke arah orang tuanya, memeluk ibunya seerat mungkin.
"Maaf membuat kamu lama menunggu, ya. Tadi jalanan macet sekali," kata Dira, ibu Pita.
Wanita paruh baya itu tersenyum, sembari mengusap surai sang anak. Tahi lalat di pipi kanannya terangkat ketika dia tersenyum, menambah kesan manis di wajah keriput miliknya.
"Terima kasih sudah menjaga Pita selama ini, Pak Arka," ucap Dira kembali.
Pak Arka tersenyum melihat mereka.
"Saya pamit dulu. Kapan-kapan kalau ada waktu kita duet bermain alat musik lagi, ya, Rival!" Sanjaya mengedipkan sebelah matanya.
Pak Arka terbahak-bahak mendengar tawaran tersebut. "Aku menunggunya! Sudah lama kita tidak saling beradu kemampuan."
Pita termenung sepanjang perjalanan menuju klinik tempatnya berobat. Ibu dan ayahnya saling lirik, memberi kode jika sikap anak mereka sangat berbeda hari ini. Tidak seceria biasanya.
"Pita, ada apa?"
Suara sang ibu membuat gadis berponi itu terkejut. Manik matanya masih membola, menatap ibunya. "Nggak ada apa-apa, kok. Pita hari ini cukup senang." Dia tersenyum tipis.
"Benarkah? Coba ceritakan, apa yang membuatmu senang hari ini?" Kini sang ayah yang bersuara.
Pita menarik napas dalam-dalam, kemudian mulai berbicara panjang lebar.
"Hari ini Pita ketemu Roland Nagemi, orang yang sangat Pita kagumi. Terus bukan hanya itu, ibu tahu? Pita juga ketemu anaknya, Ruri Nagemi dan dua temannya yang lain. Kami berteman akrab tadi. Senang banget bisa bertemu mereka! Pita rasa hari ini adalah hari keberuntungan Pita!"
Gadis berponi itu tersenyum menatap kaca spion depan. Dari sana ibu dan ayahnya bisa melihat wajahnya dengan jelas.
"Begitu, ya? Ceritakan lebih banyak lagi dengan Buk Dokter nanti, ya?" kata Dira sembari membalas senyuman manis anaknya.
Dira tahu, walau bibir gadis itu tersenyum, tetapi rasa takut dan trauma masa lalunya masih menari-nari di ingatan. Itu yang membuatnya sebagai seorang ibu cemas dengan kondisi anaknya.
Setelah perjalanan yang cukup panjang mereka lalui, Pita akhirnya sampai ke klinik kesehatan mental tempatnya berobat. Ini bukan pertama kalinya dia menginjakkan kaki di bangunan di depannya, tetapi entah kenapa setiap kali ke sini tubuhnya selalu bergemetar hebat dengan sendirinya.
"Yuk, pelan-pelan saja melangkahnya."
__ADS_1
Sang ibu memeluknya dari belakang.