Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Resep Nasi Goreng


__ADS_3

Ruri berjalan ke arah meja belajar miliknya, membuka sebuah buku catatan, lalu menarik selembar kertas dari sana. Tangannya lihai memegang pena dan menulis sesuatu di selembar kertas putih tersebut, sudut bibirnya terangkat ketika kalimat yang dia tulis selesai.


Kemudian dia meraih ponsel, mencari nama seseorang dan mengirim pesan kepada seseorang itu.


***


[Pulang kerja nanti, lu datang ke rumah gue. Gue tungguin di depan gerbang. Nggak usah banyak tanya, datang aja!]


Kagami mengernyit membaca pesan dari Ruri. Karena posisinya dia sedang bekerja, benda pipih tersebut langsung dia simpan, tanpa membalas pesan dari temannya.


"Suaka, kamu tahu resep membuat nasi goreng?" tanya Kagami kepada juniornya yang sedang membersihkan meja kafe.


Setelah pekerjaannya selesai, Suaka menghampiri Kagami yang tengah membersihkan meja lain di sebelahnya.


Suaka mengedikkan bahunya. "Kurang tahu, Kak. Coba lihat di internet."


Kagami lemas mendengar jawaban dari Suaka. Bukan jawaban itu yang ingin dia dengar.


"Kalau lihat resep di internet, rasanya kurang enak. Kakak maunya diajarin langsung face to face, bukan dari internet."


Kagami melipat kain lap yang dia gunakan, lalu memasukkan kain tersebut ke kantong besar yang berada di depan celemeknya.


"Tanya Kak Alita saja."


Kagami membelalak mendengar saran lain dari Suaka. Mulut juniornya langsung dia tutup, kemudian matanya melirik ke arah Alita yang sedang sibuk. "Itu apa lagi. Kakak malu minta Alita mengajarkan langsung kepada Kakak."


Suaka melepas paksa tangan Kagami yang tengah membekam mulutnya. "Tangan Kakak bau!" ejeknya kemudian. Dia berjalan beriringan dengan Kagami menuju dapur. "Kakak kenapa tiba-tiba mau makan nasi goreng? Kakak lagi ngidam?"


Kagami langsung memukul kepala Suaka dengan kain lap kotor yang tadi telah dia simpan. "Sembarangan! Memang nggak boleh makan nasi goreng? Kakak bosan aja makan makanan instan terus."


Suaka meringis, membersihkan jidatnya yang sedikit kotor. "Kak Kagami pengecut. Mau minta resep nasi goreng sama Kak Alita saja nggak berani, apalagi disuruh menyatakan perasaan ke Kak Alita, pasti tambah nggak berani, kan?" Suaka mencebik mengejek Kagami. "Nanti Kak Alita ditembak duluan sama orang lain, baru tahu rasa!" Remaja itu menjulurkan lidah, kemudian bergegas mengantarkan pesanan lain sebelum dirinya mendapat pukulan lagi dari seniornya itu.


Kagami menggerutu sendirian mendengar pendapat Suaka tentang dirinya. "Dasar bocil!" Dia menatap malas punggung Suaka yang telah menjauh.

__ADS_1


"Tapi benar juga, sih. Kalau Alita pacaran dengan orang lain dulu, aku juga yang sedih nantinya." Kagami mengacak rambutnya. "Aku mikirin apa, sih?" Dia menepuk pipinya berkali-kali, berharap dia sadar dengan perkataannya barusan. "Nggak boleh pacaran! Sukses dulu baru bahagiain anak orang!"


***


Saat malam, waktu terasa berjalan lebih cepat dibandingkan siang hari saat mereka berada di sekolah. Tanpa terasa waktu berlalu, kini sudah pukul sebelas malam dan kafe telah tutup. Kagami saat ini tengah menunggu Alita di depan kafe, karena ada sedikit urusan gadis tersebut keluar sedikit lambat hari ini.


Suaka mengendarai sepeda motornya, melewati Kagami kemudian pamit untuk pulang duluan.


"Hati-hati pulangnya. Jangan ngebut!" teriak Kagami kepada Suaka yang perlahan menjauh dari kafe.


Kagami membuka kembali pesan dari Ruri yang telah dibaca, lalu membalasnya.


[Nanti setelah aku selesai antar Alita pulang, aku ke sana. Tungguin aja]


Setelah pesan itu dikirim, Alita datang menghampirinya.


"Kamu masih nungguin aku? Padahal aku suruh kamu pulang aja duluan." Alita mengambil helm yang Kagami sodorkan.


Alita terkekeh kecil mendengar guyonan Kagami.


Biasanya, di sepanjang jalan pulang hanya suara deru mesin motor yang terdengar. Namun, malam ini sedikit berbeda, Alita membuka suara membuat Kagami membagi fokusnya antara menyetir dan menanggapi perkataan Alita.


"Sudah empat tahun lebih Dion koma. kapan, ya, kita bisa jengguk dia lagi? Rasanya akhir-akhir ini, badan terlalu lelah untuk ke sana." Suara Alita terdengar lantang dari belakangnya.


Kagami memperlambat laju sepeda motornya, supaya deru mesin motor tidak mengganggu percakapan mereka. "Sabtu nanti gimana? Kita sekalian ajak Mirai. Dia belum kenalan sama Dion," jawabnya kemudian.


Alita melirik ke arah kaca spion, dari sana gadis itu tahu jika Kagami bisa melihat ekspresi wajahnya. "Boleh, tuh, nanti kita ajak Mirai. Ngomong-ngomong soal Dion, aku juga kasihan sama Ruri. sampai detik ini dia masih menunggu Dion dengan setia. Bukan hanya itu saja, dia bahkan berjuang untuk terus menemukan keluarga Dion." Suara Alita terdengar lesu. "Aku nggak tahu alasan apa yang membuat Dion sangat tertutup dengan orang sekitarnya. Andai saja dia melihat Ruri berjuang untuknya saat ini, aku rasa dia pasti akan segera bangkit dari koma."


Kagami terdiam beberapa saat, dia menghembuskan napas berat. "Dion itu orang yang misterius. Tidak ada yang tahu latar belakangnya, bahkan teman-teman SMP yang lain juga tidak mengenal Dion. Dia mirip dengan aku, tetapi bedanya aku hilang ingatan dan dia menutup diri," balasnya sambil menambah kecepatan sepeda motor.


"Kita doakan saja yang terbaik untuk Dion. Kita nggak bisa banyak membantu Ruri, di sela-sela kerja juga kita sering mencari kesempatan untuk mencari informasi tentang Dion, tetapi sampai sekarang hasilnya masih nihil. Walaupun begitu, aku tetap yakin, jika usaha Ruri pasti akan berbuah manis!"


Alita tersenyum menatap kaca spion Kagami, laki-laki yang memboncengnya juga ikut tersenyum melihatnya.

__ADS_1


setelah itu Alita berdehem beberapa saat. "Kamu minta diajarkan bikin nasi goreng, Kagami?"


Pertanyaan Alita membuat Kagami kaget, dia hampir saja hilang fokus memegang setang sepeda motornya. Laki-laki itu menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdetak sangat cepat sekarang, rasanya seperti ada yang memberontak di dalam dirinya.


"Nggak. Siapa yang bilang?" tanya Kagami dengan nada santai, laki-laki itu tahu pasti ini ulah Suaka yang membocorkan percakapan mereka tadi.


"Kamu jangan sungkan sama aku. Besok aku buatkan nasi goreng untukmu. Jadi, besok kamu jangan bawa bekal, ya."


Ucapan Alita membuat Kagami panas dingin.


"Kalau kamu mau belajar, mungkin aku bisa tuliskan resepnya sekalian. Besok aku kasih."


Di luar dugaan Kagami, Alita bahkan ingin menuliskan resep makanan tersebut untuknya. Laki-laki itu semakin dilanda gelisah. Antara malu dan salah tingkah tentunya.


"Suaka, ya, yang beri tahu kamu." Suara Kagami terdengar bergemetar.


Alita terkekeh kecil. "Siapa pun itu, nggak peduli sekarang. Kamu jangan sungkan sama aku, kita ini teman, loh." Dia mengetuk pelan helm yang Kagami gunakan.


Kagami tersenyum tipis, tangannya semakin kencang menarik gas sepeda motor. Sebentar lagi dia sampai ke gang kecil tempat rumah Alita berada.


***


Ruri meraih ponselnya yang sedari tadi sedang diisi daya. Melihat pesan balasan dari Kagami, gadis tersebut langsung menyambar jaket Kagami yang masih bergantung di dinding. Dia melirik ke arah jam sebelum berlari kecil menuju pintu depan.


Jam menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh malam, menurut perkiraan sebentar lagi Kagami akan sampai ke depan rumahnya.


Saat dirinya sudah berada di lantai satu, langkah kakinya dibuat sepelan mungkin. Dia berjinjit dengan sangat hati-hati, supaya tindakannya tidak diketahui oleh siapa pun.


Ruri mengatur napas setelah berdiri di depan pintu utama rumahnya. Tangan dia terulur, meraih knop pintu tersebut. Namun, sebuah pergerakan lain di balik pintu itu membuat dia terkejut. Jaket yang berada di pelukannya semakin dia pererat. Seseorang sedang membuka pintu dari luar, beriringan dengan dirinya yang hendak keluar.


Seseorang yang berada di balik pintu itu mematung, mendapati Ruri yang juga mematung di depannya. Gadis berkacamata tersebut menelan ludah dengan susah payah. Tatapan tajam dari papanya seolah mantra sihir kuat yang mengikat dirinya.


"Mau ke mana malam-malam seperti ini, Ruri?"

__ADS_1


__ADS_2