
"Jadi, apa isi surat itu?"
Pertanyaan Ruri belum dijawab, Kagami masih mematung dengan sudut bibir melengkung ke bawah selagi sorot matanya menatap Alita yang tengah asyik berbicara dengan Mirai.
"Ruri, jangan bengong! Ayo cepat!"
Gadis yang datang menjemput Ruri kembali bersuara. Dia kehabisan kesabaran, lalu segera menarik Ruri menjauh dari sana. Si empu yang tangannya ditarik hanya bisa mendengkus kesal, menyeimbangkan langkah dengan rekan osisnya selagi mata memicing menatap ke arah Kagami.
"Mirai, Alita. Aku pergi dulu, ya, ada sesuatu yang penting."
Lama dia berkecamuk dengan pikirannya sendiri, akhirnya Kagami memutuskan untuk pergi menyusul Ruri. Melanjutkan pembicaraan mereka mengenai surat yang dia temui tadi.
Setelah kepergian Kagami, tersisa Alita dan Mirai di kelas. Suasana di sana mendadak hening, kedua remaja tersebut saling pandang beberapa saat sebelum Alita bersuara.
"Kamu tahu, Mirai? Hidup ini selalu punya plot twist yang tidak terduga. Baik maupun buruk. Jadi, kita sebagai manusia yang tidak bisa melihat masa depan harus siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi," tutur Alita panjang lebar.
"Termasuk seperti apa yang kamu alami barusan?"
Mirai meraih kursi di dekat Alita, lalu duduk di samping gadis tersebut. Sorot matanya dipenuhi rasa keingintahuan.
Alita mengangguk. "Aku tidak masalah Rera mau melakukan apa pun kepadaku. Selagi dia nggak menyakiti keluarga atau sahabatku, maka dia akan kumaafkan," jelasnya seraya tersenyum tipis.
"Tapi ... kami nggak terima, Alita. Lihat saja Ruri, dia begitu emosi tadi." Suara Mirai terdengar lesu dengan sorot mata menunduk.
Alita mengusap pipi Mirai, ada noda di sana. Kemudian menatap manik mata sendu gadis tersebut. "Aku udah bilang sama Ruri jangan menyelesaikan masalah ini dengan kekerasan. Aku percaya sama dia, karena dia adalah orang yang selalu menepati janji."
***
"Gue bisa jalan sendiri!"
Ruri menepis tangan rekan osisnya, hingga tautan tangan mereka terlepas. Gadis itu memperlambat langkahnya karena menyadari Kagami yang menyusul dari belakang.
"Lu duluan aja. Gue bareng teman gue," perintah Ruri kepada rekan osisnya.
Gadis itu melenggang pergi. "Awas kalau lu menggosip!" ancamnya dari kejauhan.
Setelah berhasil menyusul Ruri, Kagami langsung menyerahkan surat yang dia temui tadi dekat Alita. Mata Ruri menyipit, membaca kalimat yang berada di sana.
[Gimana, Gadis sialan? Lu udah sangat tersiksa belum? Atau lu mau yang lebih daripada ini? Dasar ****** sialan! Mulai hari ini, mulai detik ini lu harus jauhin Kagami. Dia itu milik gue, laki-laki setampan dan sebaik dia hanya cocok buat gue. Jadi, lu jangan mimpi ketinggian, deh! Ingat itu. Ingat baik-baik pesan gue, atau lu mau ibu lu kenapa-napa? Dasar miskin! Gue bisa aja ganggu ibu lu yang jualan di pinggir jalan itu.]
__ADS_1
Setelah selesai membacanya, Ruri langsung meremas kertas tersebut lalu menyobeknya kecil-kecil sebelum dibuang ke tong sampah terdekat.
"Sialan! Untung aja Alita nggak baca isi surat ini. Lu beruntung, Kagami!"
Mata Ruri melebar kemudian menatap Kagami lekat. Napasnya tak beraturan seraya menggenggam tangan menahan emosi yang telah memuncak.
"Lu tahu sendiri, kan, Alita itu gimana orangnya jika menyangkut tentang keluarganya? Bisa-bisa dia benar jauhin lu selamanya, Kagami. Alita itu orang yang seperti itu!" Suara Ruri terdengar panik.
Kagami masih mematung, mendengar setiap kata yang Ruri lontarkan.
"Jadi ... apa yang mau lu lakuin, Kagami?" tanya Ruri kemudian.
Kagami mengacak rambutnya frustrasi. "Aaakh! Aku nggak tahu harus berbuat apa, Ruri! Aku nggak bisa berpikir jernih sekarang! Rasanya ... kayak berhadapan dengan Gagas versi wanita, sama-sama gila dan membahayakan!"
Kagami berjongkok, seraya memegang kepala yang terasa sakit memikirkan solusi dari masalah ini.
"Gue bisa aja nendang Rera, membiarkan dia tersungkur ke kubangan kotoran. Gue rasa itu cukup sebagai balasan pembukaan dari gue." Ruri menelan ludahnya. "Tapi ... di satu sisi dia punya ibu Alita sebagai sandera. Nggak mungkin dia bakalan diam aja setelah banyak hal gila yang dia lakukan sampai detik ini!"
Kedua remaja itu sama-sama dirundung frustrasi dengan kabut gelap menutupi pikiran mereka.
Tiba-tiba saja Ruri teringat akan sesuatu. Perkataan Kagami mengingatkannya pada ucapan Alita barusan.
Kagami mendongkak mendengar ucapan Ruri. Laki-laki itu bangkit, menatap gadis yang berada di depannya intens.
"Tadi lu bilang kalau Rera sama seperti Gagas, kan?"
Kagami mengangguk.
"Gue nggak yakin soal itu, Kagami. Rera lakuin hal ini supaya dia bisa dekat sama lu. Dalam artian, Rera cinta sama lu. Cinta adalah badai, gue yakin Rera bisa diajak bicara secara baik-baik, jika orang yang berbicara itu adalah lu."
Penjelasan Ruri membuat Kagami mengernyit. Laki-laki itu tidak mengerti sama sekali.
"Jadi, aku harus pacaran sama Rera biar dia nggak ganggu kita-kita lagi? Maaf, Ruri, aku nggak mau. Hati bukan untuk dipermainkan dan aku tidak suka menjadi pelaku yang menghancurkan hati seseorang," tukas Kagami.
Ruri melayangkan sebuah pukulan ke kepala Kagami, "Goblok! Denger dulu apa yang mau gue omongin. Gue belum selesai bicara jangan main ambil kesimpulan aja!" Gadis itu mendengkus kesal, menatap Kagami yang tengah merintih kesakitan.
"Lu bicara sama Rera. Minta dia jangan ganggu kita lagi. Dan lu pertegas perasaan lu sama Rera, kalau selama ini lu suka nggak sama Rera? Katakan yang sejujurnya sama dia, Kagami. Keluarin unek-unek di hati lu!"
"Tapi, bagaimana caranya? Bagaimana jika aku salah bicara dan dia malah tambah marah sama Alita?"
__ADS_1
"Gue rasa ini solusi terbaik yang bisa gue berikan sama lu. Jika lu nggak mau ambil solusi pertama ini, gue masih ada solusi lain. Tendang Rera ke kotoran sapi, mengikatnya di sarang tawon. Jika lu nggak mau itu terjadi, lu harus pastikan rencana pertama ini berhasil."
Ruri gelagapan, matanya menangkap seseorang yang tengah berlari ke arah mereka berdiri. Salah seorang rekan osisnya kembali mendekat dengan muka masam.
"Lu jaga jarak dulu sama Alita. Sementara lu pikir rencana yang gue berikan ini!"
Setelah mengatakan itu, Ruri berlari sekuat tenaga menuju stan keamanan tempat seharusnya dia berada sekarang.
"Asem, lu! Gue udah bilang jangan menggosip!" umpat rekan osisnya melihat Ruri berlari menyelamatkan diri.
Manik mata laki-laki dengan rambut potongan undercut itu menatap Ruri yang tengah berlari menghindari amukan rekan sesama osisnya. Sudut bibir Kagami terangkat. "Aku harus mencoba rencana itu!"
***
Hari ini terasa sangat panjang, Alita masih duduk di kelas, menunggu Ruri yang mengatakan ingin mengantarnya pulang. Sebenarnya Alita menolak, tetapi jika Ruri sudah menawarkan, mustahil sekali bisa ditolak semudah yang dia pikirkan.
Kagami sudah pulang duluan tadi dengan Mirai menyusul tidak lama setelahnya. Karena hari ini adalah hari Sabtu dan mereka libur kerja hari ini, Alita jadi punya banyak waktu luang menunggu Ruri yang masih berkutat dengan tugas osis.
Rera tersenyum melewati kelas dua A yang berada di lantai bawah, sorot matanya beradu dengan Alita. Tanpa banyak basa-basi, gadis itu berlalu dari sana.
Alita menarik napas lega, posisinya kurang menguntungkan saat ini. Berada di kelas seorang diri dengan pergelangan kaki yang terasa sangat sakit, mustahil dia bisa menyelamatkan diri jika Rera melakukan hal gila lainnya. Untung saja Rera langsung pergi dari sana, entah apa gerangan yang membuat gadis itu terlihat bahagia sekarang.
Saat semua murid sudah dibolehkan pulang, Rera sengaja mengintai dari lantai dua gedung sekolahnya. Di sana dia melihat Kagami berjalan seorang diri, tanpa Alita di dekatnya. Bibir gadis itu menyeringai, "Kayaknya rencana gue berhasil!" serunya bahagia pada saat itu.
Setelah lama menunggu dan suasana sekolah sudah sangat sepi sekarang, akhirnya Ruri datang menjemputnya di dalam kelas. Gadis kucir kuda itu dipapah perlahan menuju mobil Ruri yang telah menunggu di depan gerbang.
"Lu kayak nenek-nenek reot!" ejek Ruri yang tengah memapah Alita.
Gadis yang dipapah itu tertawa mendengarnya. "Kamu cucu pertamaku!"
Suara tawa mereka berdua menggema di sana.
"Alita."
Tiba-tiba suara seorang laki-laki memanggil namanya. Mereka menoleh ke pusat suara, di gerbang terlihat Gagas berdiri di sana. Laki-laki itu menelisik penampilan Alita, kemudian dahinya berkerut mendapati gadis itu berjalan dipapah.
"Ngapain lu ke sini?" tanya Ruri dengan nada tidak suka.
Gagas mengernyit. "Gue ke sini mau jemput Alita. Dia bilang mau jalan sama gue hari ini."
__ADS_1