
Enam tahun Alita menjalani pendidikan sekolah dasar, dan selama itu pula tak ada sedikit pun kenangan yang membekas di hatinya. Dia memakai seragam layak anak SD biasanya, tapi karena penampilannya dekil tidak ada yang mau berteman dengannya.
"Alita bau pasar! Busuk banget badannya."
"Dia kasar. Setiap kali mau pinjam barang nggak pernah dikasih! Egois!"
Makian seperti itu tidak berpengaruh pada Alita, dia tidak peduli apa yang orang pikirkan tentangnya. Hatinya selalu diselimut sendu saat berada di sekolah. Namun, setelah di rumah Alita bersikap ceria seolah baru saja menjalani kehidupan yang begitu menyenangkan. Sejak kecil Alita sudah ahli menjadi aktor di kehidupannya sendiri.
Waktu terus berjalan hingga hari pertama masuk SMP tiba. Saat itu dia masih memakai seragam SD karena belum melunasi pembayaran uang seragam. Dia menjadi mencolok karena memakai seragam yang berbeda. Namun tetap saja tidak ada satu pun orang yang terlihat ingin berteman dengannya.
Sambil menunggu panitia MOS memberi arahan, Alita duduk di sebuah taman. Matanya memperhatikan setiap siswa yang lewat. Tak ada yang memedulikannya, hingga tanpa sengaja seorang gadis duduk di meja yang sama dengannya.
Gadis tersebut sangat cantik, pakaian yang dia kenakan rapi. Awalnya Alita tidak tertarik dengan gadis itu, sampai firasatnya berkata bahwa orang yang berada di depannya adalah orang baik. Entah dari mana datangnya kepercayaan diri tersebut Alita pun tidak tahu dan mencoba memberanikan diri.
"Kamu suka baca buku, ya?" Alita akhirnya bersuara.
Gadis berkacamata di depannya mengangkat wajah. Buku yang dia baca ditutup sebentar. "Lu berbicara sama gue?"
Alita terkejut saat mata mereka saling bertemu. Bola mata gadis tersebut memancarkan aura kesedihan seperti matanya. Cara bicaranya kasar, tapi bagi Alita itulah dirinya. Gadis di depannya ada sosok yang tampil apa adanya.
"Iya. Aku bicara sama kamu." Alita mulai tertarik. Ini pertama kalinya ada orang yang mau berbicara dengannya tanpa menghardik penampilan.
"Iya. Gue suka baca buku. Lu mau baca juga?"
Keakraban mulai terangkai tanpa sengaja. Bak disirami cahaya yang teramat terang, Akita merasa cukup percaya diri sekarang setelah bertemu dengan seseorang yang melihatnya dengan normal. Dia seolah menemukan berlian kala itu.
Jiwa gelap di dalam dirinya perlahan menghilang hingga tidak berjejak sedikit pun. Sosok Ruri adalah teman pertama yang menerima kehadirannya. Orang yang mau berbicaranya. Orang yang meninggalkan kesan baik di hatinya.
Mereka mengobrol beberapa bait kalimat. Obrolan membuat mereka terasa semakin akrab. Walau selama percakapan Ruri hanya menunjukkan ekspresi datar dan nada bicaranya kasar, tetapi Alita tidak mempermasalahkannya. Mereka berdua tampil apa adanya, seolah jarak di antara mereka menghilang. Perlahan tapi pasti, Alita mulai percaya diri menunjukkan sikap cerianya seperti saat dia berada di rumah.
"Baju lu kenapa beda?" tanya Ruri setelah lama mereka mengobrol soal buku yang dia pegang.
Rau Alita sempat ragu. Namun dengan percaya diri dia berkata jujur. "Aku belum melunasi uang seragam. Jadinya belum dapat baju, sementara pakai seragam SD dulu."
__ADS_1
Ruri mengangguk paham.
"Kamu nggak merasa aneh? Aku hidup di keluarga yang sederhana. Penampilanku kumuh dan dekil. Sedangkan kamu anak orang kaya," ungkap Alita apa adanya.
"Gue nggak peduli apa pun tentang orang. Terlahir menjadi kaya bukan patokan kebahagiaan. Gue bahagia menjadi diri sendiri. Menurut gue, kebebasan adalah wujud kebahagiaan itu."
Alita tersenyum, dia seolah melihat bayangan dirinya versi lain dari cara Ruri berbicara tadi. "Kalau gitu, mari kita berteman!" ajaknya tanpa sungkan sedikit pun.
"Saat kita berbicara tadi, gue pikir kita sudah berteman." Ruri membalas jabatan tangan Alita.
Setelah Jabatan tangan mereka terlepas, tiba-tiba saja Alita bangkit. Lalu pamit untuk pergi menghampiri seseorang. Ruri memperhatikan gadis itu dari kejauhan.
Seorang laki-laki melangkah sambil menunduk mengikuti kata hatinya yang setengah-setengah. Terlalu banyak orang asing di sekitarnya, Kagami tidak sanggup melihat ke atas, semuanya terlihat monokrom di bola matanya.
Hati Kagami kosong, dia tidak tahu apa tujuannya saat ini. Memasuki sebuah SMP, lalu belajar, mendapat ilmu dan lulus adalah hal yang wajib untuknya. Entah kenapa itu terasa membosankan. Dia bagaikan botol kosong yang menggelinding pasrah setelah diterpa angin sore.
"Hai, kamu menjatuhkan kartu pengenalmu."
Suara seorang gadis membuatnya terkejut. Perlahan Kagami menengadah dengan ragu-ragu, bola matanya langsung mengunci netra legam gadis di depannya.
"Ini kartu pengenalmu tadi terjatuh," kata Alita sekali lagi.
Kagami meraih benda tersebut. "Terima kasih," balasnya lalu kembali menunduk dan berniat tuk menyambung langkah.
"Kenapa kamu menunduk. Padahal tubuhmu tinggi, loh."
Gadis tadi masih berada di dekatnya. Kagami terdiam di tempat. Dia ragu sekarang, apakah dia harus tetap melangkah atau menjawab ucapan gadis yang bahkan tidak dia kenali.
"Hai, lihat di atas sana ada pesawat!" seru gadis tersebut secara tiba-tiba.
Postur tubuh Kagami langsung tegap, kepalanya melihat ke atas mencari pesawat yang gadis tersebut katakan.
"Ternyata benar, kamu tinggi!"
__ADS_1
Alita mengukur badannya dengan Kagami. Ternyata tubuhnya hanya sedada laki-laki tersebut.
"Mana pesawatnya?" Kagami kebingungan.
Gadis di depannya tersenyum lebar. Matanya berbinar bak bintang. Suara tawanya membuat hati Kagami menghangat.
"Maaf aku berbohong. Habisnya kamu menunduk terus. Apa yang kamu takutkan? Kamu nggak ada kawan. Ayo berteman dengan kami!" ajak Alita.
Senyum gadis tersebut bak petir yang menyambar hatinya. Rasanya sangat tidak nyaman. Ada rasa bahagia sekaligus ragu di waktu bersamaan. Namun, saat matanya mencoba melihat ke sekeliling, dunia di sekitarnya tidak lagi berwarna hitam putih. Semuanya mulai berwarna. Netranya terbuka lebar.
"Ayo, temui teman baru aku!"
Alita menarik lengan jaket Kagami memaksanya menuju Ruri.
'Apa ini? Kenapa gadis ini muncul seolah malaikat dari langit. Orang asing yang membuat hariku berwarna. Entah dia sengaja muncul atau ini memang takdir kami untuk bertemu, tapi satu hal yang pasti, aku akan melindunginya. Senyumnya cukup rapuh, dia adalah tujuan hidupku!' Hati Kagami berambisi.
"Ruri, aku menemukan teman baru! Mari kita berteman dengan dia." Semangat Alita menggebu-gebu memperkenalkan laki-laki yang bahkan belum dia ketahui namanya itu pada Ruri.
Ruri menyambut baik niat Alifa. Namun, dia masih heran setelah menyadari bahwa penglihatan Alita sangat tajam. Kartu pengenal Kagami jatuh saat mereka sedang berbicara, tetapi Alita mampu menyadarinya.
Hari itu Alita menemukan dua berlian yang kusam. Dia layaknya kain yang membersihkan debu di permukaan berlian tersebut, hingga berlian tersebut kembali bersinar. Jauh lebih bersinar dari sebelumnya.
Ruri adalah gadis yang baik hati dan manis, walau nada bicaranya kasar. Dia selalu tampil apa adanya. Sedangkan Kagami adalah laki-laki yang lembut, serta sopan kepada wanita. Satu hal lagi yang Alita tahu soal Kagami. laki-laki tersebut suka memakai parfum varian candy. Sanga manis dan membuatnya candu saat mereka berdekatan. Hingga sampai detik ini, walau Kagami sedang terbaring lemah di rumah sakit, Alita tetap dapat menghirup aroma parfum itu dari tubuh Kagami.
"Maaf, aku hilang kendali lagi. Maafkan aku," sesal Alita seraya menyeka air matanya.
Alita melihat ke depan, kini bukan hanya dua berlian yang dia temukan. Tapi sudah ada tiga berlian. Yaitu Mirai, gadis lembut, cengeng dan suka menyembunyikan lukanya sedang tersenyum padanya.
"Jadi, sekarang kita sudah berbaikan semua, kan?" Mirai memastikan.
Alita berjingkrak lalu berteriak. "Yey! Kita kembali seperti semula!"
"Berisik! Lu mau diusir sama suster?" celetuk Ruri.
__ADS_1
Suara tawa mereka membuat suasana di sana menghangat. Bola mata mereka yang sempat meredup kembali memancarkan kehidupan.