
Malam siang silih berganti, luka yang semula basah mulai memasuki fasenya untuk sembuh. Kagami melakukan pemeriksaan terakhir sebelum benar-benar diizinkan untuk pulang.
Setelah semua selesai dijalani, laki-laki berkaus biru itu menyisiri lorong rumah sakit, lalu duduk di salah satu kursi panjang. Dia bersandar, menatap televisi yang menayangkan berita. Matanya melirik jam dinding di sebelah televisi tersebut, jarum jam menunjukkan pukul dua belas siang. Sesuai janji dengan teman-temannya mereka akan datang sebentar lagi.
"Kagami!"
Sebuah suara menyapanya dari kejauhan. Matanya menoleh, menangkap manik penuh binar milik Alita. Gadis yang masih memakai seragam SMA itu berlari ke arahnya sembari melambaikan tangan. Lucu, senyum Kagami mengembang melihatnya.
"Kamu sudah lama menunggu?" tanya Alita sesampainya di depan Kagami.
"Tidak, baru saja aku di sini," jawabnya tanpa menghilangkan sedikit pun senyum di wajahnya. "Aku sudah bisa masuk kerja hari ini," lanjutnya membuat Alita merenggut.
Gadis kucir kuda di depannya bercekak pinggang. "Nggak, kamu masih harus istirahat dulu hari ini. Besok baru masuk kerja. Kalau dikasih libur, tuh, dimanfaatkan dengan baik!" sungutnya.
Ruri berdehem, mengalih topik pembicaraan dua remaja di depannya. "Sudah selesai mengobrolnya? Ayo, kita pergi temui dia."
Tanpa menunggu persetujuan, kaki jenjang Ruri langsung melangkah menuju lift. Mirai kebingungan melihatnya.
"Kita mau ke mana, Alita?"
Mereka bertiga berusaha menyeimbang langkah, mengejar Ruri yang jauh di depan.
"Ke lantai tiga, ada seseorang yang harus kita temui."
Jawaban Alita membuat Mirai dipenuhi semangat. "Menemui seseorang? Apakah dia adalah seseorang yang selalu Ruri jengguk? Kalau begitu sebenarnya selama ini dia sakit apa?" Gadis berambut pendek itu langsung mencecar beberapa pertanyaan.
"Kamu akan mengetahuinya nanti, Mirai. Bersabarlah sebentar lagi." Kagami menyahut.
Siang itu kondisi rumah sakit sedikit sepi karena banyak petugas yang memasuki fase istirahat, jadi tak perlu menunggu lama, mereka sudah berada di dalam lift yang bergerak menuju lantai tiga.
__ADS_1
Lift berbunyi, lalu pintu terbuka. Mereka sampai di lantai yang dituju, tetapi Mirai kebingungan melihat wajah ketiga temannya. Ekspresi mereka mendadak tegang setelah menginjakkan kaki ke lantai ini, atmosfer di sekitarnya terasa kering.
Mirai terus mengekori mereka menyusuri lorong rumah sakit hingga lama setelahnya langkah mereka berhenti di depan pintu berwarna abu-abu tua, ruangan paling ujung di lorong yang mereka sisiri.
Mirai tidak tahu itu ruangan apa, karena tidak ada penjelasan apa pun di atas pintu ruangan tersebut.
Ruri menghela napas berat sebelum tangannya terulur membuka daun pintu di depannya lebar-lebar. Tanpa beranjak dari ambang pintu, sorot mata keempat remaja tersebut langsung mengunci seseorang yang sedang terbaring lemah di dalam sana.
Mirai tersontak melihat sosok tersebut. Sebagian wajahnya ditutupi perban, lalu sebagian lagi terpasang ventilator hingga sulit melihat jelas wajah siapa yang berada di sana.
"Si–siapa dia?"
Suara Mirai bergetar, bibirnya perlahan mengering. Melihat sosok tersebut dibalut banyak perban dan dikelilingi alat medis, mengingatkannya pada jasad kedua orang tuanya. Mengerikan dan membangkitkan ketakutannya secara tidak sadar.
"Dion. Teman kami yang mengalami kecelakaan empat tahun lalu. Sejak saat itu sampai sekarang dia masih mengalami koma," jelas Kagami tanpa mengalihkan pandangan dari sosok yang bernama Dion itu.
Tenggorokan Mirai terasa kering. Dia berpikir keras setelah mendengar nama itu. Dion? Dia jadi teringat seseorang yang pernah dia kenal di masa lalu. Mungkin hanya kebetulan temannya dan sosok yang terbaring lemah di depannya memiliki nama yang sama.
Lama mereka berempat berdiri di muka pintu, setelahnya Ruri kembali menutup pintu tersebut. "Karena peraturan rumah sakit semakin ketat, jadi kita tidak boleh masuk ke sana secara berkelompok. Makanya kita melihat dari luar saja."
Setelahnya Ruri menuntut ketiga temannya duduk di sebuah kursi panjang yang berada tak jauh di tempat mereka berdiri.
"Gue akan ceritakan semuanya sama lu, Mirai. Hal yang membuat lu bertanya-tanya selama ini dan alasan kenapa gue menyetujui ucapan Gagas waktu itu." Ruri menghela napas berat sembari membersihkan kacamatanya dari embun.
Mirai merapatkan duduk pada Ruri. Dia sudah tidak sabar mendengar semuanya.
Ruri menguatkan hati untuk yang ke sekian kalinya, bibirnya mulai bergerak menceritakan sekilas alasan dari tindakan berambisinya selama ini.
Setelah janjinya dengan Dion untuk bertemu di kafe shop fresh berakhir tragis, polisi berdatangan ke lokasi kejadian. Lalu berita pun menyebar ke seluruh penjuru. Ruri tersontak setelah tahu kasus kecelakaan itu ditutup tanpa diusut tuntas, karena permintaan pihak keluarga korban yang tewas. Sedangkan Dion yang ikut terlibat dalam kecelakaan diacuhkan begitu saja, karena identitasnya tak diketahui lalu pihak keluarganya tidak angkat bicara.
__ADS_1
Ruri tidak bisa menerimanya. Karena itu dia bersikeras mencari keluarga Dion agar kasus ini dituntaskan dan dengan harapan juga agar Dion bisa segera bangkit dari koma.
Harapan satu-satunya yang Ruri miliki adalah sang ayah yang berprofesi sebagai pengacara. Besar harapan di dada menunggu kepulangan ayahnya dari luar kota, tetapi saat kesempatan bicara tatap muka dengan ayahnya ada. Ruri malah menerima tamparan pahit lainnya.
Ayahnya menolak mentah-mentah permintaan Ruri untuk mencari keberadaan keluarga Dion. Menurut Roland, dia tidak berhak masuk ke dalam urusan pribadi orang kecuali dia memang diminta masuk ke dalamnya, dan Ruri tidak memiliki hak apa pun untuk menyeretnya ke sana.
Ruri yang semakin terbakar emosi seketika langsung membenci ayahnya pada malam itu, sosok pria keren itu sirna, dan hanya ditumbuhi bibit-bibit kebencian. Dia tidak bangga menjadi anak seorang pengacara yang hanya keren di mata orang lain. Sedangkan untuk keluarganya sendiri, dia tidak ingin menolong.
Hukum bukan tempat anak kecil untuk bermain. Iya, Ruri tahu itu dan dia sadar jika dia adalah anak kecil siapa pun tidak akan mendengar ucapannya. Semua memandang hina ke arahnya.
Sikap keras kepala Ruri dengan permintaannya juga bukan tanpa alasan. Waktu kecil Roland pernah menceritakan tentang seorang anak yang mengalami koma. Anak tersebut diprediksi dokter akan bangun dalam waktu yang lama, tetapi setelah si anak dipertemukan dengan orang tuanya keajaiban terjadi. Anak itu tiba-tiba bangun setelah mendengar suara kedua orang tuanya. Roland bilang, orang tua itu adalah obat sebenarnya bagi sang anak. Ruri percaya dongeng tersebut, hal itulah yang menuntunnya bersikeras mencari keluarga Dion. Penolakan kasar dari ayahnya, merupakan salah satu hal yang tidak dia prediksi.
"Bodohnya gue yang mempercayai cerita sampah seperti itu. Dan sampai detik ini gue akui bahwa gue begitu bodoh mengharapkan keajaiban seperti itu. Walaupun begitu niat gue mencari keluarga Dion tidak berkurang sedikit pun. Apa pun yang terjadi nanti, gue tetap harus memberitahu keluarga Dion tentang kondisinya saat ini.
"Gue bukan detektif hebat, maka dari itu pencarian kami bertiga sampai sekarang masih belum membuahkan hasil. Ditambah pribadi Dion benar-benar tertutup sehingga kami tidak memiliki satu pun petunjuk tentangnya. Lalu ... dalam keputusasaan itu, tiba-tiba saja Gagas datang dan mengatakan bahwa dia punya informasi yang merujuk kepada keluarga Dion. Gue langsung mempercayainya dan ... semuanya berakhir seperti ini. Semuanya menjadi sampah yang teramat busuk. Terutama gue yang merasa paling bersalah. Alita dan Kagami terluka gara-gara kecerobohan gue. Termasuk lu yang terpaksa berteriak untuk melerai pertengkaran gue dan Kagami. Gue salah, gue khilaf dan gue akui itu."
"Sampai sekarang, gue nggak tahu harus bagaimana lagi. Sudah empat tahun luka ini berjalan."
Cerita selesai disambut bola mata yang berkaca-kaca. Air mata yang sedari tadi Ruri tahan perlahan jatuh membasahi pipi, dia menyeka wajahnya secepat mungkin
Mirai membeku, menyusun semua cerita Ruri di otaknya. Dia tidak mengalami kejadian itu secara langsung, tetapi dia ikut merasakan sakitnya. Lalu hal lain yang mengusiknya sampai saat ini adalah, entah kenapa firasatnya mengatakan jika dia kenal dengan sosok bernama Dion ini.
Baru dia ingin bertanya, Ruri langsung menyodorkan ponsel yang menunjukkan sebuah foto kepada Mirai. "Ini foto Dion sebelum dia koma."
Dalam sekejap Mirai langsung membelalak melihat foto laki-laki yang sedang tersenyum manis itu. Bulu kuduknya meremang, menahan gelisah. "Di–Dion Andesta ...." Dia melirih tak berkedip.
Mereka yang mendengarnya langsung tercengang.
"Lu kenal Dion? Iya, namanya Dion Andesta," tanya Ruri cepat.
__ADS_1
Mirai mengangguk cepat. "Iya, dia temanku sewaktu SD. Dion Andesta."