Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Ruri Menangis


__ADS_3

Di luar matahari sudah tenggelam sejak tadi. Jalanan di depan rumah sakit mulai padat dilewati kendaraan. Semua orang berbondong-bondong pulang dari kerja. Angin malam berembus menerbangkan gorden jendela di ruangan tempat Alita dirawat. Kipas angin di ruangan tersebut menyala, ikut menambah hawa sejuk, tetapi suasana di antara mereka terasa sangat panas.


Alita menyeka air matanya kasar. Tatapannya masih mengintimidasi Ruri.


"Kalian egois, terutama kamu, Ruri!" Suaranya memecah keheningan. "Kita ini teman, sudah berapa kali aku bilang jangan sungkan meminta tolong. Kamu bukan robot maupun manusia super, jangan tanggung semuanya di pundakmu. Untuk apa kita berteman? Untuk apa kita selalu bersama jika kamu masih terus bersikap egois seperti ini?!"


Tangan Alita mencekam erat kedua bahu Ruri. "Sertakan aku dalam rencanamu. Walau tidak banyak yang berubah, setidaknya aku bisa meringankan bebanmu. Cukup, Ruri. Kami selalu meminta tolong kepadamu, tetapi kamu apa? Egois sekali jika kamu ingin menjadi manusia sempurna ...." Suara Alita melirih. Hatinya teramat sakit mengatakan setiap kalimat ini.


"Aku tahu ini sulit. Sulit sekali. Tapi aku mohon, buka mata kamu lebih lebar ... dan lihat ada kami di sekelilingmu. Itu fungsinya teman, Ruri."


Wajah Alita dihiasi senyum dan air mata. Gadis berkacamata di depannya masih membeku dalam lamunan.


Ucapan Alita memang terdengar biasa saja. Namun bagi Ruri, kalimat tersebut cukup membuat nyalinya menciut. Bibirnya bergetar menahan sesak di dada. Perlahan air mata berangsur-angsur berlinang di wajahnya.


Saat dadanya terasa semakin sesak, kejadian yang sama empat tahun silam berkedip di kepalanya.


Tepat setelah Dion dinyatakan koma empat tahun silam. Sikap Ruri berubah, jauh lebih dingin dari biasanya. Tidak ada senyum di wajahnya, bahkan untuk bersuara saja dia enggan.


Alita dan Kagami saat itu berusaha menghibur Ruri. Namun, gadis berkacamata tersebut perlahan menjauh dari mereka, seolah menciptakan jurang dalam di sekelilingnya. Siapa pun yang berani mendekat, maka bersiaplah untuk jatuh dan mati. Seolah itu yang Ruri inginkan.


Alita tidak tahan lagi melihat sikap temannya. Dia berlari ke arah Ruri, mengikis jarak mereka yang semakin jauh. Lalu dengan kesadaran penuh dia nekat menampar Ruri untuk menyadarkan temannya dari ambisi gilanya.


"Buka matamu, kamu tidak sendiri."


Kalimat yang Alita katakan pada hari itu persis dengan apa yang dia katakan hari ini. Tatapan matanya, nada bicaranya, deru napas disertai emosi kembali menyadarkan Ruri untuk kedua kalinya.


"Maafkan gue, Alita. Gue menyesal!"


Ruri histeris di dekapan Alita. Dia meraung sejadi-jadinya, menumpahkan semua sesak dan sesal lewat air mata.

__ADS_1


Sosok Ruri yang tegas dan kasar seketika hilang di mata Mirai. Dia belum pernah melihat Ruri menangis seperti ini, bahkan sebelumnya Ruri belum pernah terlihat menangis apa lagi saat dia berkelahi dengan Tirta. Tidak ada sedikit pun rasa takut di wajahnya kala ini. Namun, hari ini dia terlihat berbeda. Wajahnya terus melukiskan rasa takut dan sudah terhitung tiga kali dia menangis hari ini di waktu yang tak berselang lama. Ruri benar-benar menampakkan rasa sesal dan lelahnya.


Tanpa sadar bola mata Kagami memanas mendengar raung sesal Ruri di dekapan Alita. Suaranya parau dan menyayat hati.


Alita menyeka air mata di wajah Ruri. Ekor matanya melirik bekas infus di tangan kiri. Benda tersebut sempat dicabut paksa olehnya sesaat sebelum dia menampar Ruri.


Bibir yang semula tersenyum, perlahan melengkung ke bawah. Sorot mata Alita berubah kosong setelah dirinya menyadari sesuatu.


"Terima kasih sudah mengobatiku," katanya melirik ke arah Mirai.


"Tapi, aku belum memaafkan kalian," tambahnya membuat suasana kembali menegang.


Alita menoleh ke belakang, sorot matanya bertemu dengan Kagami. "Terutama kamu, Kagami. Mulai sekarang jangan dekati aku lagi. Anggap kita tidak pernah kenal."


Tubuh Kagami menegang mendengarnya. Waktu di sekelilingnya dirasa berhenti, dia nyaris lupa untuk bernapas saking terkejut mendengar kalimat yang keluar dari bibir Alita.


"A–aku tahu jika aku salah. Kamu boleh memukulku, tapi, tolong ... jangan menjauh seperti ini, Alita," mohon Kagami bibirnya bergetar.


Ruri menepi memberi jalan, Mirai hanya bisa diam mengamati.


"Aku tahu aku salah, Alita. Maaf karena aku sudah mendorongmu tanpa sengaja. Maaf aku tidak datang lebih cepat untuk menyelamatkanmu! Aku mohon, jangan seperti ini!" Kagami menjerit, suaranya membuat langkah Alita kembali terhenti.


Di ambang pintu, jemari Alita mengepal menahan tubuh yang mendadak gementar. "Bukan karena itu, Kagami. Kenapa kamu memukul Gagas sampai babak belur seperti itu? Kenapa kamu merusak ponselnya? Kamu tahu sedang berhadapan dengan siapa, kan?" balas Alita parau.


Netra Ruri membesar mendengarnya. Jadi, ucapan Kagami yang berniat untuk menghancurkan ponsel Gagas ternyata benar dan sudah dia lakukan?


"Aku melakukan semua itu untukmu. Apakah aku salah, Alita? Kenapa kamu masih membela laki-laki berengsek seperti dia?" balas Kagami napasnya menggebu-gebu.


"Berhentilah memikirkan orang lain, Kagami. Seharusnya kamu menaruh perhatian lebih pada dirimu sendiri. Selamat tinggal."

__ADS_1


Alita pergi dari ruangan tersebut, meninggalkan Ruri dengan mata sembabnya. Mirai dengan tubuh yang terasa kaku seolah dirantai dan Kagami yang mulai tersedu.


Air mata Kagami jatuh membasahi lantai rumah sakit. Dadanya terasa sangat sesak sekarang.


Kenapa? Kenapa Alita harus menjauh dari aku? Padahal dia satu-satunya cahaya di mataku. Sesuatu yang selalu menjadi titik dalam hidupku. Sesuatu yang selalu memberiku harapan untuk terus hidup. Kenapa dia lebih membela Gagas setelah kejadian ini?


"Ini semua salah kamu, Ruri."


Dalam sesaknya Kagami berkata datar. Perlahan wajahnya menengadah, melihat ke arah Ruri yang masih diam seribu kata.


"Tak guna saling menyalahkan sekarang. Kita sama-sama kena imbasnya " Ruri mencoba menahan emosi karena Kagami kembali menyalahkannya.


Bagai ada badai di dalam diri Kagami. Badai emosi yang tidak tentu arah dan terus mengamuk. Dia langsung berjalan cepat ke arah Ruri, menarik kerah baju gadis tersebut.


"Andai aku nggak ikut rencana gilamu ini, pasti semua ini tidak akan terjadi!" hardiknya. Bola matanya membesar, napasnya menggebu. Jarak wajahnya dengan Ruri hanya satu jengkal. Embusan napas penuh amarah dapat Ruri rasakan.


"Lu setuju dengan rencana ini dari awal. Terus kenapa lu menyalahi semuanya ke gue, Kagami?!" Ruri berang, dia mendorong Kagami hingga laki-laki tersebut terduduk ke lantai.


"Kamu nggak tahu sepenting apa Alita dalam hidupku. Kamu nggak tahu itu, Ruri!" bantah Kagami.


"Gue juga temannya, Kagami. Gue juga merasakan sakit yang sama. Lu ngg—"


"Diaaam!"


Mirai berteriak memotong ucapan Ruri. Dia lantas menjadi pusat perhatian karena sebelumnya dia belum pernah berkata lantang seperti ini.


Gadis berambut pendek tersebut menunduk lebih dalam, mengepal tangan dengan dada turun naik tak beraturan. Setelah suaranya berhasil membuat perdebatan kedua temannya berhenti, perlahan dia menengadah menatap bola mata temannya dengan tatapan penuh ambisi.


Bulu kuduk Ruri langsung meremang melihatnya. Sosok Mirai terlihat seperti monster. Tiba-tiba saja dia takut dengan tatapan itu, ke mana hilangnya mata yang selama ini selalu memancarkan aura sendu?

__ADS_1


"Kalian tidak mengerti apa yang Alita katakan tadi."


Suaranya memberat, perlahan dia melangkah lalu berhenti di depan Ruri. Jaraknya sangat dekat, hanya satu ubin yang memisahkan mereka.


__ADS_2