Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Menjalani Operasi


__ADS_3

Mobil berhenti di depan UGD. Ruri berlari memanggil suster, tak berselang lama dua orang suster langsung berlari membawa brankar ke arah mobil Ruri.


Tubuh Kagami yang masih bersimbah darah langsung dilarikan ke ruang operasi sesuai perintah dokter yang datang melihat kondisinya. Ada luka robek yang cukup dalam di ubun-ubun kepala Kagami.


Lampu ruang operasi seketika berubah merah, menandakan di dalam sana sebuah operasi sedang berlangsung. Ruri mondar-mandir dengan gelisah. Dia nyaris menangis menahan rasa takutnya. Suasana seperti ini, rasa gugup yang menyelimuti persis dengan kejadian empat tahun lalu saat dia menunggu Dion selesai dioperasi.


Alita menangis tersedu-sedu di dekapan Mirai. Hatinya sakit sekali melihat Kagami ditemukan dalam keadaan mengenaskan. Untung mereka datang lebih cepat, jika terlambat entah kemungkinan buruk apa yang akan terjadi.


"Kita berdoa semoga Kagami baik-baik saja, ya," tutur Mirai lembut seraya mengusap punggung Alita.


Saat Alita menangis tersedu-sedu dan Ruri berkaca-kaca menahan takut, berbeda lagi dengan Mirai yang terlihat tetap tegar di kondisi begini. Dia yang biasanya selalu menangis duluan, sekarang malah tidak ada satu pun air mata yang menetes. Bukan karena Mirai tidak peduli, melainkan dia perlahan bersikap dewasa. Jika semuanya menangis, siapa yang akan menenangkan mereka.


Ruri terduduk lemah di lantai memikirkan kondisi saat ini. Dilihat dari banyaknya jejak kaki orang dewasa serta pecahan kaca di sekitar Kagami menjelaskan jika semua ini perbuatan penganiayaan dari seseorang. Namun, yang membuat Ruri ragu adalah apakah Kagami memiliki musuh yang teramat membencinya hingga semua ini terjadi? Setahu Ruri Kagami adalah laki-laki yang cukup lembut, dia tidak suka mencari masalah dengan orang lain.


Kepalanya berpikir keras, tiba-tiba dia teringat dengan Gagas. Memang tidak ada bukti yang merujuk pada gagas, tetapi Entah kenapa firasat Ruri menunjuk sepupunya tersebut.


Lelah Alita menangis kini dia bersandar di bahu Mirai. Matanya sembab serta bibir mulai memucat. Tatapannya kosong, dirinya terlihat seperti orang sakit.


Ruri mengerti apa yang Alita rasakan, dia pernah merasakan hal yang sama ketika menunggu Dion selesai dioperasi. Tidak ada kata yang bisa menenangkan dirinya saat itu, maka dari itu Ruri memilih diam dan tidak banyak bicara melihat kondisi Alita sekarang. Mirai yang berada di sebelahnya Alita, Ruri rasa sudah cukup untuk menenangkannya..


Satu jam berlalu, lampu ruang operasi berubah warna. Pak Miko langsung bergegas menemui dokter yang baru keluar dari ruang tersebut.


"Keluarga pasien?" tanya dokter tersebut kepada Pak Miko.


Pak Miko mengangguk, dia dimintai Ruri untuk mengawali ayah Kagami untuk sementara waktu. Karena belum ada yang mengetahui kondisi saat ini kecuali mereka berempat.

__ADS_1


"Kondisi pasien tidak parah. Setelah dirontgen tidak ada keretakan di tengkorak kepalanya. Pasien juga sangat beruntung tidak mengalami pendarahan berlebih, hingga dia hanya membutuhkan sedikit transfusi darah. Saat ini luka robek di ubun-ubunnya telah mendapat tiga jahitan. Setelah ini pasien akan dipindahkan ke ruang rawat."


Semua yang berada di sana lega setelah mendengar penjelasan dari dokter yang menangani Kagami. Terlebih lagi Alita, matanya sedikit bersinar sekarang.


"Terima kasih banyak, Pak. Untuk biaya pengobatan, saya harus mengurus ke mana?"


Seorang suster menunjuk diri agar Pak Miko mengikutinya.


Suster lain langsung memindahkan Kagami ke ruang rawat. Ruri dan kedua temannya mengekori dari belakang. Setelah semuanya selesai, kedua suster tadi berpesan kepada mereka untuk tidak melakukan hal yang ceroboh. Biarkan pasien beristirahat total, karena baru selesai dioperasi.


Mereka mengangguk paham. Setelahnya Pak Miko datang.


"Ruri, tadi nyonya telefon, saya sudah menjelaskan semuanya. Sebentar lagi dia ke sini," jelas Pak Miko.


"Baiklah. Pak, tolong jemput ayah Kagami, beritahu dia kondisi anaknya. Bapak tahu Febriante Oved pemilik panti asuhan Oved kasih, kan? Dia ayahnya. Jika kesulitan, ikuti saja petunjuk di map."


Panti asuhan Oved kasih berada di kota bagian utara. Sedangkan rumah sakit tempat Kagami dirawat berada di pusat kota, butuh waktu dua jam perjalanan pulang pergi jika tidak macet.


Suasana di antara mereka kembali hening. Alita duduk di sebelah Kagami, meremas selimut rumah sakit yang membalut tubuh temannya. Dadanya semakin sakit melihat wajah Kagami pucat, dahinya diperban dan sebuah infus terpasang di tangan kanannya.


Mirai memilih tempat duduk lebih jauh, sengaja dia membiarkan Alita untuk sendiri di sebelah Kagami.


"Lu nggak pulang, Mirai? BTW kita masih pakai baju sekolah dan belum malan siang. Mau gue beli in makan siang atau kalian mau pulang?" tanya Ruri seraya berjalan ke arah sofa yang Mirai duduki.


Mirai mengeluarkan ponsel dari tas miliknya. "Aku akan mengabari paman dan bibik. Setelahnya mungkin aku akan mencari makanan di dekat sini. Bagaimana denganmu, Alita?"

__ADS_1


Alita mematung menatap Kagami. Tidak ada yang bisa dia dengar sekarang, isi kepalanya terlalu berisik berisikan hinaan kepada dirinya sendiri. Dia merasa todak berguna. Padahal Kagami sudah sering membantunya, tetapi sampai detik ini. Sedikit pun belum pernah membalas budi baik Kagami padanya.


Hal ini terus terjadi berulang kali. Jika saja Tirta tidak memberi tahunya, mungkin dia tidak akan benar-benar tahu kondisi Kagami saat itu. Dirinya teramat todak berguna, Alita terlalu malu untuk berbicara apa pun sekarang.


"Aliya, kamu dengar?" Mirai mengulang pertanyaannya. Namun Alita masih membeku, tatapannya kosong disertai bibir yang terkunci rapat.


"Gue akan pergi keluar untuk membeli makanan. Lu di sini aja. Awasi Alita, jika sedang emosi dia bisa bertindak di luar kendali." Ruri memperingati Mirai dengan serius.


"Baik."


Mirai gugup mendengar peringatan dari Ruri. Dia seolah bisa melihat jelas apa yang ditakutkan oleh Ruei. Yaitu sikap monster Alita yang tidak kenal ampun. Dia bisa saja melukai orang lain atau melukai dirinya sendiri tanpa disadari. Apabila dirinya terpojok.


***


Ruri berlari keluar dari rumah sakit. Bukannya menuju ke kantin untuk segera membeli makanan, dia malah tergesa-gesa menuju parkiran.


"Gue tahu lu mengikuti kita dari tadi, Tirta!"


Suara Ruri membuat Tirta membeku. Dia melepas helm yang baru selesai dikenakan. Lalu berbalik secara perlahan. Ruri berkacak pinggang mengunci akses keluar sepeda motornya.


"Lu tahu sesuatu, kan? Beritahu gue. Apakah Gagas yang melakukan semua ini?"


Laki-laki netra coklat itu tertegun beberapa saat. Jakunnya turun naik menelan ludah tidak henti. Lidahnya terasa kelu, walau bagaimana pun dia juga terlibat dalam hal ini.


"Seperti yang lu duga. Memang semua ini perbuatan Gagas. Tapi ... gue ke sini bukan karena peduli sama kalian, tapi gue peduli dengan nasib gue ke depannya. Jika Kagami mati, mungkin kami berada di balik jeruji besi sekarang."

__ADS_1


"Boleh juga alasan lu," cibir Ruri.


__ADS_2