Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Jaket Kagami


__ADS_3

Ruri berjalan di sebuah ruangan hampa. Kiri kanannya kosong, sorot matanya diselimuti kegelisahan.


"Di mana gue?"


Dia menatap telapak tangannya yang terasa sangat dingin. Padahal tidak ada angin dan alasan lain yang membuatnya kedinginan. Tubuhnya menggigil, dia terus berjalan mengikuti kakinya yang entah ke mana dia melangkah.


"Ruri."


Suara tidak asing menggema di belakang gadis tersebut. Ruri berbalik, matanya berbinar menatap sosok yang berdiri di sana.


Sosok itu tersenyum tipis kepadanya. Kaki Ruri langsung berlari, menjangkau sosok tersebut, tetapi entah kenapa semakin lama dia berlari, sosok tersebut semakin jauh di depannya.


"Diooon! Lu sudah bangun?!" teriak Ruri dengan napas terengah-engah. Kakinya lelah berlari sejak tadi, tetapi dirinya belum juga bisa menjangkau Dion.


Matanya basah, menatap sosok Dion tengah tersenyum tipis ke arahnya.


"Ruri."


Dion kembali bersuara, kali ini dia tersenyum lebar menatap ke arah Ruri.


Mata Ruri menelisik penampilan Dion, laki-laki itu mengenakan seragam SMP sedangkan Ruri saat ini menggunakan seragam SMA-nya. Sosok Dion yang dia temui sekarang adalah sosok Dion kecil. Sebelum dia mengalami kecelakaan dan koma.


"Lu bangun, kan? Lu janji bakal bangun dari koma, kan? Lu mau tepatin janji lu sama gue, kan?" Ruri terisak dengan suara serak.


Dion tidak mengatakan apa pun. Tubuhnya perlahan menghilang, di detik-detik terakhir dia menghilang, Ruri bisa melihat bibir laki-laki itu tersenyum sangat lebar kepadanya.


Ruri kembali berlari ke arah Dion. Namun, langkahnya kurang cepat, tubuh Dion sudah menghilang di kelopak matanya.


"Diooon!"


Ruri tersentak dari tidur. Dengan napas terengah-engah, tangannya perlahan mengusap matanya yang tengah mengeluarkan air mata.


"Gue ... menangis?" Dia kebingungan.


Tangannya menepuk pelan pipinya berulang kali. "Mimpi. Syukurlah cuma mimpi!"


"Udah bangun?"


Suara seorang wanita menggema di sana. Ruri melibat ke pusat suara, terlihat seorang suster sedang berdiri di samping Dion, memeriksa ventilator yang berada di sana.


Wanita tersebut tersenyum ke arah Ruri yang masih linglung menatapnya. Kemudian setelah pekerjaannya selesai dia mendekat, meraih kursi kosong yang berada tepat di sebelah Ruri.


"Kebiasaan. Kalau tidur jangan di sini, nanti badanmu sakit."

__ADS_1


Wanita tersebut menjentik pelan dahi Ruri. Gadis berkacamata itu tersenyum menatapnya.


"Maaf, Suster Hana. Ruri sedikit lelah hari ini."


Gadis itu bangkit, lalu meraih kursi kosong lainnya. Dia duduk berhadapan dengan Suster Hana.


"Mimpi Dion lagi, ya?" tanya Suster Hana, ekor matanya melirik Dion setelah itu.


"Kenapa Suster bisa menebaknya?"


Suster Hana menatap Ruri intens. "Bola matamu basah, dan sebelum bangun tadi kamu meneriakkan nama Dion." Dia tersenyum.


Ruri mengulum bibirnya. "Suster ...." Suaranya melirih, bola matanya menatap wanita di depannya penuh dengan harapan. "Bagaimana kondisi Dion. Apakah ada perubahan?"


Suster Hana menghela napas berat. "Tidak. Setelah melewati masa kritis, Dion koma dan sampai sekarang belum menunjukkan perubahan apa-apa." Dia menatap Ruri sebentar. "Empat tahun bukan waktu yang singkat. Suster rasa, Dion seperti bertahan tanpa ada kemajuan sedikit pun."


Jawaban Suster Hana membuat Ruri tertunduk lesu. Wanita itu mengusap surai Ruri pelan, lalu membawanya ke pelukan.


Suster Hana sudah empat tahun terakhir ini bertugas mengawasi Dion. Mengecek dan merekap data setiap harinya, apakah pasien tersebut mengalami kemajuan. Karena itu, dia sudah sangat akrab dengan Ruri. Mereka terlihat seperti adik kakak yang saling menguatkan satu sama lain.


"Suster ... Dion bisa sembuh, kan? Dia bisa bangun, kan?" Ruri menengadah, menatap Suster Hana dengan bola mata berkaca-kaca.


Suster Hana melepas pelukan mereka, lalu menarik hidung mancung Ruri hingga memerah. Gadis itu meringis. "Kalau kamu nangis terus, bagaimana Dion mau sembuh? Kamu harus kuatkan dirimu, baru nanti Dion akan menyusul setelah itu. Tenang saja, dia pasti akan sembuh!" Wanita itu tersenyum lebar lalu bangkit dari duduknya.


wanita itu berlalu sambil memeluk sebuah cacatan. Ruri tersenyum tipis menatap kepergian Suster Hana.


Setelah kepergian Suster Hana, Ruri masih setia berada di sana. Kepalanya menyandar di tembok, dengan mata yang masih menatap Dion tanpa rasa bosan sedikit pun.


Ruri mengernyit mendengar langkah kaki yang berhenti di depan pintu ruangan Dion dirawat. Lama setelah itu, terdengar suara pintu diketuk. Dia bangkit dari duduk, dengan langkah ragu meraih knop pintu tersebut.


"Suster Hana?" gumam Ruri sendirian.


Setelah pintu dibuka, Ruri terkejut karena yang berada di balik pintu tersebut adalah Pak Miko, sopir pribadinya. Pria berbadan tambun itu gelisah sambil menatap layar ponselnya.


Setelah Ruri membuka pintu, wajah Pak Miko terlihat lega. "Syukurlah, ternyata Ruri ada di sini." Dia mematikan ponselnya. "Ayo pulang. Nyonya mencari Ruri sedari tadi."


Mata Ruri membola mendengarnya. Dia melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul enam sore. Dia terlalu asyik berada di sana, hingga ketiduran sampai lupa jika hari sudah hampir malam. Gadis itu gelabah, menatap Dion sekali lagi sebelum pergi dari sana.


"Nyonya nelfon Ruri berkali-kali tapi ponsel Ruri mati. Terus Gagas juga bilang nggak tahu Ruri di mana. Makanya nyonya suruh saya nyariin Ruri, ternyata dugaan saya benar, Ruri di sini," kata Pak Miko di sepanjang jalan mereka menuju pintu keluar.


"Pak Miko tahu aja kalau Ruri ada di sini." Gadis itu melirik sopirnya sebentar.


"Karena ponsel Ruri mati, dugaan saya bertambah kuat, kalau Ruri berada di sini. Bukankah syarat untuk menjengguk Dion, pengunjung harus mematikan benda elektronik yang mereka bawa. Termasuk ponsel, agar tidak mengganggu alat medis yang berada di sana?"

__ADS_1


Perkataan Pak Miko membuat Ruri tersenyum. "Pak Miko hebat!" pujinya kemudian.


***


Syanala langsung berlari ke teras rumah setelah mendengar suara mesin mobil dari sana. Setelah melihat anak semata wayangnya pulang bersama Pak Miko, wanita tersebut langsung memeluk Ruri erat-erat.


"Kamu ke mana aja, Ruri? Kalau mau main itu bilang-bilang dulu sama mama. Katanya kamu pulang sama Gagas, tapi saat Gagas udah pulang ke rumah kamu nggak sampai-sampai. Bikin khawatir aja!" Syanala mengusap pipi Ruri berkali-kali.


"Nggak usah khawatir. Pak Miko tahu, kok, kalau Ruri di kafe." Ruri menunjuk ke arah Pak Miko. Pria itu tersenyum tipis sebagai balasan.


"Kafe tempat temanmu bekerja?"


Pertanyaan Syanala diangguki oleh Ruri.


"Syukurlah kamu baik-baik saja. Kalau kamu perginya sama Pak Miko mama nggak terlalu khawatir. Ini kamu perginya sendiri, bikin mama bertambah cemas aja." Mata Syanala berkaca-kaca.


Ruri menarik napas berat. Melayangkan senyum setulus mungkin kepada mamanya, lalu pergi dari sana. Tubuhnya terlalu lelah sekarang, dia ingin beristirahat.


"Miko. Beneran kamu nemu Ruri di kafe?"


Syanala masih tidak percaya, dia menatap ke arah Pak Miko yang tampak ragu-ragu. Pria berbaju hitam itu mengangguk mantap, walau sorot matanya melirik ke arah lain.


Ruri dan Pak Miko sudah seperti sahabat yang saling melindungi. Pria tersebut selalu menjaga rahasia Ruri, menyimpan fakta kalau sebenarnya gadis itu pergi ke rumah sakit untuk menjengguk Dion, hampir setiap kali Ruri ada waktu luang pasti mereka ke sana.


Syanala masih mematung di tempat. "Saya takut kejadian empat tahun lalu terulang lagi. Saat itu saya hampir pingsan saat mengetahui Ruri ada di lokasi kecelakaan." Wanita tersebut menatap sendu ke arah Miko.


Pria itu paham apa yang nyonyanya maksudkan. "Tenang saja, Nyonya. Saya sudah berjanji akan menjaga Ruri sebaik mungkin. Dan akan menjauhinya dari bahaya."


***


Ruri memijit kepalanya yang terasa sangat sakit. Hatinya yang sempat dilanda sendu kembali membara ketika perkataan Gagas teriang kembali di telinganya.


Gadis tersebut menenggelamkan wajahnya ke bantal, seraya berpikir keras mencari jalan keluar dari posisi sulitnya saat ini. Menyetujui kesepakatan Gagas dan mengorbankan Alita. Atau harus menolaknya dan informasi penting itu tidak dia dapatkan.


"Arrghhh! Benar-benar sialan, tuh, orang. Pintar banget menari di atas penderitaan orang lain!"


Ruri melempar bantal sekuat mungkin ke lantai. Napasnya menderu, sorot matanya penuh amarah.


Dia menatap penampilannya di cermin besar yang berada di depannya. Kemudian ekor matanya melirik sesuatu yang lain, sebuah jaket yang tergantung di dinding.


"Gue belum kembalikan jaket Kagami."


Matanya lesu menatap jaket tersebut, tetapi dalam beberapa detik kemudian wajahnya berbinar, karena sebuah ide terlintas di kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2