Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Buku Not Lagu


__ADS_3

Roland mengerti apa yang Ruri isyaratkan. Lalu dia melayangkannya senyum kepada Kagami.


"Saya kenal sama ayah kamu. Kami teman yang cukup dekat," kata Roland lagi.


Kagami menghela napas lega. Walau ragu dia membalas ucapan papa Ruri. "Iya, Pak. Saya kurang tahu soal itu, karena saya lebih sering bermain bersama anak panti. Dan sekarang saya sibuk bekerja."


"Oh, jadi kamu kerja sekarang? Pantesan jarang terlihat."


Obrolan mereka semakin seru untuk disimak. Pak Arka tersenyum melihat keakraban mereka.


"Takdir memang lucu. Ternyata kamu mengenal orang tua Kagami, ya, Roland? Coba ceritakan kepadaku seperti apa orang tuanya? Soalnya Kagami sangat pintar bermain akordeon. Bahkan dia bisa mempraktikkannya dengan benar walau saya hanya mengajari dasarnya saja!" seru Pak Arka bersemangat.


Kagami tertunduk mendengarnya. Dia sudah terlalu jauh berbohong, jadi dia sudah siap untuk kemungkinan buruk yang akan terjadi nanti.


"Benarkah? Febriante sendiri juga heran kenapa anaknya bisa bermain musik! Ha ha ha, ternyata itu benar, ya, mungkin Kagami memiliki bakat alami."


Ucapan Roland membuat Kagami menengadah. Matanya berbinar menatap Alita dan Ruri. Kenapa Roland bisa mengarang cerita seperti yang mereka harapkan?


"Menarik sekali! Kamu persis dengan teman saya, ha ha ha!"


Pak Arka menunjukkan foto lain yang berada di depannya. Foto yang semula telungkup itu dibuka, menampakkan foto Pak Arka dan Sanjaya tengah duduk di sebuah kursi, menghadap sebuah meja kaca.


Foto tersebut langsung menjadi pusat perhatian mereka yang berada di sana. Namun, Kagami kaget mendapati sebuah buku not lagu yang tergeletak di meja yang mereka hadap. Buku not lagu tersebut sama persis dengan buku not lagu usang miliknya.


"Ini buku apa, Pak?" tanya Alita setelah diam sejak awal Roland datang.


Pak Arka melihat ke arah tunjuk Alita. "Oh, itu buku not lagu milik teman saya, Sanjaya. Ada apa, ya?"

__ADS_1


Jawaban Pak Arka membuat Alita dan Ruri melihat Kagami, mereka menyadari sesuatu yang aneh di sini.


Kagami meraih tas sekolahnya, mengeluarkan buku not lagu usang miliknya. "Saya rasa, bukunya mirip dengan buku ini." Dia meletakkan buku tersebut di atas meja.


Pak Arka terkejut ketika buku itu Kagami keluarkan. Sedangkan Roland kembali meneliti buku yang berada di foto dengan buku yang berada di depannya.


Pak Arka meraih buku tersebut, lalu membuka lembaran demi lembaran satu persatu. Dahinya yang sudah berkerut, bertambah berkerut ketika matanya menelisik isi buku tersebut.


"Buku ini milikmu, Kagami?"


"Milik ayah saya, Pak," jawab Kagami, entah yang ke berapa kali dia berbohong.


"Milik Febriante?" Roland menaikkan sebelah alisnya, menatap Kagami heran.


"Emang kenapa? Buku seperti itu banyak dijual di toko buku. Buku milik ayahku ada, kok, di rumah," celetuk Pita membuat Kagami lega mendengarnya.


Kagami tersenyum kecut mendengarnya.


Roland mengambil buku tersebut setelah Pak Arka meletakkan kembali buku itu ke meja. Dia meneliti isi yang berada di dalamnya satu persatu. "Lagu-lagu yang berada di dalam sini, berasal dari desa Padamiri semua, ya." Dia menjadi pusat perhatian.


"Om tahu tentang desa saya?" Pita antusias, pertanyaannya diangguki oleh Roland.


"Desa Padamiri, bukankah itu desa yang sepuluh tahun lalu, hancur karena gempa dan tsunami?" Kali ini ucapan Ruri tidak terpotong oleh siapa pun.


Ucapan Ruri kembali membuat Pita tertunduk lesu dengan mata berkaca-kaca. Melihat perubahan sikap Pita, Ruri langsung mendapat tatapan tajam dari sang papa.


"Dari mana kamu mengetahui itu, Ruri? Kamu membaca berita lama di ruangan papa lagi?" Roland curiga.

__ADS_1


Ruri tidak menjawabnya, ekor matanya tetap saja melirik ke arah Pita.


"Benar sekali yang kamu katakan. Dan Pita menjadi saksi dari keganasan alam waktu itu," timpal Pak Arka.


Pita menghela napas dengan sudut mata yang telah basah. Dia melihat Kagami, Alita dan Ruri secara bergantian. Lalu melirik ke arah Roland lebih lama.


"Aku akan ceritakan kepada kalian, sebagai jawaban dari pertanyaan kalian tadi yang tidak sempat aku jawab."


"Ini cerita lama, sepuluh tahun yang lalu. Kalian masih kecil saat itu, begitu juga dengan diriku. Jadi, aku tidak heran jika kalian kurang tahu mengenai tragedi ini." Pita menunduk sebentar, kemudian melanjutkan ceritanya. "Aku berasal dari desa Padamiri, desa yang terkenal dengan darah seniman. Banyak musikus, penyanyi dan pelukis handal lahir dari desa kami. Memang, hukum darah tidak bisa dilawan.


Saat gempa bumi dan tsunami menghantam desa terpencil kami yang berada di tengah laut, dalam sekejap semuanya musnah tidak ada yang tersisa. Saat itu di pikiranku hanya kematian, hingga aku sadar telah berada di tempat pengungsian. Setelah desa hancur, aku dan orang tuaku pindah ke kota sampai sekarang. Aku berasal dari keluarga Noa, bagi sebagian dari kalian mungkin tidak tahu marga itu lagi, tetapi aku akan mempertegasnya sekarang. Korban yang selamat, banyak dari mereka mengalami trauma, lalu menetap di perkotaan dan bekerja sesuai dengan lingkungan mereka. Hal tersebut berdampak sekali dengan kepopuleran marga Noa hingga sekarang." Pita menelan ludahnya sebentar.


"Sebagai orang yang lahir dengan darah marga Noa mengalir di dalam diriku, aku bertekad hendak membuat orang-orang kembali mengenal kami, marga Noa yang banyak melahirkan musikus hebat. Namun, takdir berkata lain, aku tidak memiliki sedikit pun bakat dalam bermain alat musik. Aku sangat kecewa, karena itu aku selalu berlatih sendiri di saung yang berada di danau." Pita mengusap tetes air mata yang perlahan membasahi pipinya.


"Walau desaku telah hancur dan sejarahnya telah dilupakan. Aku tetap bertekad hendak membuat nama marga Noa kembali dikenal orang ramai!" Kali ini nada bicaranya meninggi, dia menatap Kagami tidak berkedip. "Kagami ... aku mohon, bantu aku dalam bermain musik," pintanya dengan sorot mata teduh disertai basah.


Kagami terdiam, melihat seorang gadis memohon kepadanya sambil menangis. Hati kecilnya terenyak, tetapi fakta lain tetap tidak bisa dia elak. "Kamu nggak bisa bermain musik, Pita. Selain menjadi musikus, bukankah kamu bisa membuat orang-orang kembali mengenal marga Noa dengan cara lain? Bernyanyi dan menceritakan sejarah kepada mereka? Bukankah itu sesuatu yang bisa kamu lakukan?"


Alita mengangguk mendengar ucapan Kagami. Gadis kucir kuda itu bangkit dari duduk, langsung memeluk Pita seerat mungkin.


"Terima kasih," lirih Pita di dekapan Alita.


Mata Roland berbinar melihatnya. "Ruri memiliki teman yang baik," katanya sambil tersenyum. "Terima kasih ceritanya, Pita. Yang dikatakan Kagami benar, memang berat, tapi saya harap kamu bisa menelannya secara perlahan. Karena udah sore, saya mau pulang." Roland bangkit dari duduk, kemudian bersalaman dengan Pak Arka.


"Ruri, segera pulang. Jangan sampai kemalaman." Dia mengingatkan sebelum berlalu dari sana.


"Tunggu!" Tiba-tiba saja Pita berteriak. Dia menghapus kasar air matanya. "Boleh foto bareng?" tanyanya sambil tertawa.

__ADS_1


Ruri menghela napas. "Huh! Gue pikir udah insaf dia!"


__ADS_2