Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Tanpa Ampun


__ADS_3

Kagami gegas menghampiri Alita setelah Gagas terkapar tak berdaya mendapatkan pukulan darinya.


"Alita, kamu tidak apa-apa?"


Matanya meneliti penampilan gadis tersebut. Dari penampilannya saja Kagami sudah tahu jika Alita sedang tidak baik-baik saja sekarang. Tubuhnya terus menggigil serta matanya basah dan memerah. Bekas pijakan Gagas perlahan mengeluarkan darah.


Sepatu yang Gagas kenakan memiliki sol yang cukup keras, ditambah lagi dia menginjak Alita sekuat tenaga. Jemari kaki gadis tersebut terluka cukup parah.


"Aku tidak apa-apa. Ayo kita pergi dari sini, Kagami," mohon Alita, tangannya terangkat ke udara hendak meraih lengan Kagami, tetapi tenaganya melemah dan tangannya terhenti di udara.


Hati Kagami retak melihatnya. "Alita, katakan padaku apakah Gagas yang melakukan semua ini padamu? Apakah dia melakukan hal lain selain menginjak dan mencekam rahangmu? Katakan, Alita?!" Suara Kagami meninggi disertai napas yang memburu.


Alita menggeleng cepat. Tubuhnya bergetar disertai isak tangis yang semakin menjadi. "Tidak. Dia tidak melakukan lebih dari ini. Sudahlah, Kagami. Ayo kita pergi," mohon Alita sekali lagi. Mata sendunya kembali menengadah, menatap netra Kagami yang masih melotot.


"Dia tidak memelukmu, memegangmu atau melakukan hal aneh lainnya, kan?" kagami memburu pertanyaan lain kepada Alita, gadis tersebut menggeleng cepat.


"Walaupun begitu, Gagas tetap harus mendapat hukuman yang setimpal!"


Rahang Kagami mengerat, giginya bergemeletuk menahan emosi. Diliriknya ke arah Gagas yang masih terkapar, kemudian ekor matanya tidak sengaja melihat ponsel di sebelah Alita.


"Sudah, Kagami. Ayo kita pergi!" Mohon Alita kembali.


Kagami tidak menghiraukan suara Alita. Tangannya terulur meraih ponsel di sebelah gadis tersebut. "Ini punya Gagas, ya?" tanyanya. Alita tidak memberi respons apa-apa, dia mencoba menahan lengan Kagami agar tidak berbuat apa-apa lagi.


Kagami langsung melempar benda pipih tersebut ke tembok. Serpihan ponsel itu beterbangan ke udara sesaat sebelum menghantam tanah. Alita syok melihatnya.


"Kagami apa yang kamu lakukan? Itu milik Gagas!"


Kagami membelakangi Alita. "Biarkan saja, dia pantas menerimanya."


Alita tidak percaya apa yang barusan dia dengar. Sosok Kagami di depannya ini terlihat seperti orang lain. Kagami yang selalu lembut dan tidak pernah menolak permintaannya, hari ini berubah seperti monster.

__ADS_1


Sudah berapa kali Alita memohon untuk pergi dari sana, tetapi tidak digubris maupun direspons oleh Kagami. Suaranya sedikit pun tidak didengar olehnya.


Laki-laki berbaju hitam tersebut menarik kerah baju Gagas, melempar tubuh tidak berdaya laki-laki tersebut ke dinding. Setelah tubuh Gagas ambruk, dia kembali melayangkan banyak bogem ke wajah Gagas, perut dan kepala dengan membabi-buta.


"Sialan! Manusia bangsat! Manusia busuk seperti lu nggak berhak hidup!" umpatnya melayangkan tumbuk.


"Hentikan, Kagami ... aku mohon ...."


Suara Alita parau. Dia bersimpuh ke tanah, lalu berensot pelan mencoba mendekat ke arah Kagami.


Setelah berada di dekat Kagami, dia langsung memeluk lengan kekar laki-laki tersebut sekuat mungkin. "Hentikan, Kagami! Hentikan!" pekik Alita sekuat tenaga.


"Jangan hentikan aku, Alita!"


Kagami terus menghantam tinju ke wajah Gagas, hingga sudut bibir laki-laki tersebut mengeluarkan darah. Kagami bahkan tidak segan-segan mengempas tubuh Alita dari lengannya. Gadis itu terlempar, kepalanya membentur kursi kayu yang dia duduki tadi.


Gagas sudah pingsan, sejak mendapat pukulan bertubi Kagami di awal kemunculannya. Walaupun begitu, Kagami tetap saja belum puas. Tanpa menghiraukan apa pun dia terus menghantam Gagas seolah berniat membunuhnya.


"Hentikan, Kagami! Cukup, hentikan!" teriak Alita sekali lagi, tetapi suaranya diredam oleh gemuruh tepuk tangan dan sorak para tamu undangan yang menggema di waktu bersamaan.


"Aku mohon ... berhenti, Kagami ...."


Tidak ada lagi tenaga yang tersisa. Alita hanya bisa menangis menyaksikan perbuatan sahabatnya yang sudah kelewat batas. Tubuhnya luruh ke tanah.


"Kagami, hentikaaaan!"


Aksi Kagami berhenti setelah seseorang berteriak ke arahnya. Dilirik ke sumber suara, terlihat Ruri berdiri dengan napas terengah-engah, menatap nyalang ke arahnya.


Alita tersenyum. "Syukurlah ... Ruri datang."


Ruri berlari ke arah Alita, mendekap gadis tersebut seerat mungkin. "Cukup, hentikan. Lu bikin Alita tambah tersiksa!" sergah Ruri sekali lagi.

__ADS_1


Tubuh Kagami membeku perlahan menjauh dari Gagas. Ditatapnya wajah Alita yang basah berhias air mata. Bulu kuduknya merinding setelah sadar apa yang dia lakukan barusan.


Hatinya mengecut menyesali perbuatannya sendiri. Diliriknya sebentar ke arah Gagas, kedua sudut bibir dan tulang pipinya bengkak mengeluarkan darah cukup banyak. Napas Kagami memberat. "Maaf, aku ... sudah keterlaluan."


"Maaf, aku minta maaf. Alita, ayo kita pergi dari sini!"


tangan Kagami terulur hendak membantu merangkul tubuh Alita, tetapi tindakannya mendapat penolakan kasar dari gadis tersebut. Dengan sedikit tenaga yang tersisa, Alita mendorong tubuh Kagami menjauh darinya.


"Pergi! Pergi jauh-jauh!" pekiknya dengan suara parau.


Setelah mengatakan hal tersebut, dia mengambil langkah pelan bersama Ruri memapah badannya. Meninggalkan Kagami tanpa menoleh sedikit pun lagi ke belakang.


"Gue akan bawa Alita ke rumah sakit," kata Ruri sebelum jauh dari Kagami.


Tatapan Kagami kosong menatap dua temannya yang mulai menjauh. Dipandangi kepalan tangan yang terdapat percikan darah. Merenung perbuatannya kembali. "Apa yang telah aku lakukan?" Dia merutuk sesal.


Selama mengenal Alita, belum pernah gadis tersebut memaki ke arahnya, berkata dengan nada tinggi apalagi mendorongnya seperti tadi. Kagami benar-benar diselimuti rasa bersalah sekaligus sedih setelah mendapati sikap Alita kepadanya berubah.


"Aku salah ... Alita sudah berteriak berkali-kali, tetapi karena terlalu tersalut emosi. Aku ... mendorongnya tanpa aku sadari! Aku ... pantas mendapatkannya!" Mata Kagami berkaca-kaca.


***


Alita tercengang saat pintu mobil dibuka. Pandangannya bertemu dengan bola mata Mirai yang sedikit berkaca-kaca. Banyak yang ingin Alita tanyakan kepada gadis tersebut, tetapi karena rasa sakit di tubuhnya mulai terasa nyeri, Alita memilih diam lalu berbaring di kursi belakang. Paha Mirai menjadi bantal untuknya.


Apa yang dilakukan Mirai di sana? Atau jangan-jangan selama ini temannya itu memang berada di sana? Kenapa hari ini sema temannya hilang seolah ditelan bumi, kemudian muncul seolah pahlawan dalam dongeng. Banyak yang mengganggu pikirannya, hingga Alita terlelap di sepanjang jalan mereka menuju rumah sakit.


"Apa yang terjadi, Ruri. Kenapa Alita terluka seperti ini?"


Suara Mirai memecah keheningan di antara mereka.


Ruri membuka kaca mobil, membiarkan angin sore menghempas wajahnya. Berharap kesedihan di sana juga ikut terhempas. Matanya berkaca-kaca. Dari kursi penumpang, Mirai bisa melihat dengan jelas kedua bahu Ruri bergetar sebelum menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Gue ... gue yang salah." Suaranya terdengar bergetar. Mirai terdiam setelah itu.


Kagami berlari menghampiri sepeda motornya yang dia parkir jauh dari rumah bibik Ruri. Setelah mesin kendaraan tersebut menyala, dengan emosi yang masih campur aduk dia menarik gas sekencang mungkin menyusul Ruri ke rumah sakit.


__ADS_2