
Kicauan burung yang bertengger di kusen jendelanya membangunkan Ruri pagi ini. Gadis itu langsung berjalan ke arah jendela, membuka gorden yang menutupinya lalu menghirup udara pagi yang terasa lebih dingin dari biasanya.
Matanya melihat kaca jendela yang basah, dari sana gadis itu tahu jika tadi malam hujan turun. Saking lelah dirinya, Ruri tidak menyadari hal tersebut.
Di dapur, suara dentingan garpu dan sendok menggema di sana, Ruri langsung disambut senyuman hangat dari papa dan mamanya.
"Loh, senyuman papa nggak dibalas?" tanya Roland ketika Ruri sudah duduk di kursi yang berada di dekatnya.
"Ma, malam tadi hujan, ya?" Gadis bermata empat itu tidak menghiraukan ucapan sang papa.
Syanala mengangguk sebagai jawaban. Ruri langsung menyantap sarapan yang telah tersaji untuknya.
Tinggal satu suapan terakhir, tetapi ekor matanya melirik sebuah undangan pernikahan yang berada di samping papanya. Gadis itu menghentikan aktivitas sarapannya, lalu menatap ke arah Roland.
"Pa, undangan siapa itu?" tanya Ruri sambil menunjuk undangan berwarna lavender yang dia maksudkan.
Tanpa memandang ke arah Ruri, Roland menjawab. "Undangan papa," katanya dengan nada datar.
Setelah dia bersuara, sebuah cubitan langsung mendarat di pinggangnya. Pria paruh paya tersebut langsung tersedak, seraya meringis mendapati cubitan dari sang istri. Ruri tertawa mengejek.
"Kalau anak nanya, tuh, dijawab dengan benar. Jangan ambigu gitu. Jangan ngajarin hal aneh sama anak!" tegur Syanala, matanya memicing menatap sang suami.
Roland mengusap bekas cubitan istrinya. "Itu undangan pernikahan Bik Venya. Kamu lupa, Ruri, bibik kamu mau nikah?"
Ruri mengangguk. "Nggak peduli. Bukan urusan Ruri," jawabnya singkat.
Syanala menuangkan teh ke cangkir sang suami, dia menghela napas mendengar jawaban anaknya. "Sore nanti kita ke butik, ya. Bareng sama mama," ajaknya kemudian.
Ruri menghabiskan sarapannya secepat mungkin, lalu meneguk segelas air putih tanpa jeda sedikit pun. Dia bangkit dari duduk, masih dengan wajah datar langsung berlalu dari sana.
"Ruri!"
Roland menggebrak meja makan, tindakannya membuat Ruri menghentikan langkah sedangkan Syanala terkejut.
"Jaga sikap kamu! Kenapa kamu tidak bersikap sopan sama mama?" tanya Roland dengan nada tinggi.
Ruri mematung di tempat, tubuhnya tiba-tiba gemetar. "Memang bukan urusan Ruri. Kenapa Papa tiba-tiba marah? Bukankah Papa yang membuat Ruri jadi seperti ini?!" balas gadis bermata empat itu dengan nada yang ikut meninggi.
Suasana pagi yang seharusnya damai langsung buyar seketika. Roland memanas mendengar jawaban Ruri. Giginya bergemeletuk, menahan emosi.
__ADS_1
"Kamu masih mengungkit kejadian empat tahun silam?!" Roland bangkit dari duduknya, Syanala langsung sigap menahan sang suami agar tidak bertindak lebih daripada ini.
"Ruri benci sama Papa! Ruri nggak pernah bangga punya Papa seorang pengacara! Papa nggak pernah bersikap adil, Ruri benci! Pokoknya Ruri nggak akan pernah menarik ucapan Ruri, sebelum ada alasan kuat yang membuat Ruri berubah pikiran. Ruri benci sama Papa dan Ruri nggak pernah bangga menjadi anak seorang pengacara!" tegas Ruri dengan suara bergemetar, matanya memanas menahan air mata yang hendak jatuh.
Roland kehabisan kata-kata. Dia kembali duduk dengan wajah gusar. Ruri langsung menyambar tas sekolahnya yang berada di ruang tamu. Berjalan menuju mobil, dengan tubuh gemetar dia membuka pintu mobil lalu membantingnya sekuat mungkin.
Suara pintu yang dibanting terdengar nyaring hingga ke dapur. Roland mengusap wajahnya berulang kali, menatap sang istri yang mematung sejak tadi. Tidak ada dari mereka yang bisa membantah apa yang barusan Ruri katakan.
"Aku benar-benar seorang ayah yang payah."
Tubuh Roland gemetar, Syanala langsung memeluk suaminya. Mengusap surai rambutnya sepelan mungkin. "Ruri butuh waktu untuk mengerti," katanya pelan.
***
Ruri mengatur napasnya dahulu sebelum dia keluar dari mobil. Wajahnya dibuat sedatar mungkin, bersikap biasa saja seolah tidak ada yang terjadi dengannya.
Sesampainya di kelas, Ruri langsung disambut oleh Alita. Gadis itu telah lama berdiri di ambang pintu, menunggu Ruri untuk menagih sesuatu.
Alita tersenyum lebar dengan tangan yang terus terangkat, menampakkan telapak tangan putihnya.
Ruri tidak peduli, dia langsung berjalan menuju mejanya dan melempar tasnya di sana.
"Foto, Ruri. Kamu janji mau kasih foto hasil jepretan semalam hari ini." Kagami memutar badan, duduk menyamping menghadap Ruri.
"Iya. Aku nggak sabar mau tunjukan foto itu ke Mirai. Sesuai janji, fotonya sudah kamu cetak, kan?" Mata Alita berbinar di depannya.
Ruri berdecak kesal, dia menepuk dahi karena lupa dengan foto yang dia janjikan. "Maaf, gue lupa cetak fotonya. Lain kali aja, ya."
Jawaban Ruri membuat Alita lesu. Gadis tersebut kembali ke duduknya dengan wajah merenggut.
"Mau tunjukan ke Mirai?" Ruri bersuara lagi.
Alita mengangguk.
"Nanti kalau Mirai sudah datang, tunjukan foto itu sama dia, ya, Ruri. Terus biar aku yang ceritakan pengalaman kita semalam!" Alita kembali bersemangat.
Kagami terkekeh melihat tingkahnya dengan Ruri yang menyetujui ucapan Alita.
"Kagami. Jaket lu masih ada sama gue, maaf, ya. Lupa gue balikin."
__ADS_1
Ucapan Ruri membuat Kagami menghentikan tawanya. Laki-laki itu menatapnya lembut.
"Santai aja, Ruri. Aku aja lupa jaket yang mana?"
Aliya tertawa mengejek Kagami. Laki-laki itu benar-benar pelupa.
"Jaket yang lu kasih pinjam, waktu baju gue robek gara-gara Tirta," jelas Ruri, kemudian diangguki oleh Kagami.
Bel masuk akan berbunyi sebentar lagi, Ruri memutuskan untuk membaca novel. Namun, ponselnya tiba-tiba saja bergetar, sebuah pesan terpampang jelas di layar.
Ruri mengernyit membaca pesan yang Gagas kirimkan kepadanya.
[Lu nanti pergi ke butik?]
Gadis berkacamata tersebut merasa ada yang ganjal. Gagas tidak seperti biasanya mengirim pesan tidak berguna seperti ini. Ruri langsung membalasnya dengan emot jempol.
Tidak lama kemudian, Gagas langsung membalasnya.
[Gue mua bicara sesuatu sama lo. Nanti, saat di butik kita bicara berdua. Ini penting!]
Pesan yang Gagas balas diakhiri dengan tanda seru. Perasaan Ruri semakin campur aduk dibuatnya, sepertinya Gagas benar-benar ingin mengatakan sesuatu yang penting.
[Bilang di chat aja apa salahnya, sih? Ribet banget lu!]
Dengan gelisah Ruri menunggu pesan balasan dari Gagas. Namun, pesan yang dia kirimkan hanya dibaca, tidak ada balasan setelah itu. Gadis berkacamata tersebut mengeram kesal, dia menggenggam ponselnya sekuat mungkin.
"Kenapa, Ruri?"
Kagami melihat Ruri bertingkah aneh dan langsung menanyakan penyebabnya. Gadis bermata empat itu hanya menggeleng sebagai jawaban.
Ruri hanyut di dalam perasaan cemas yang entah karena apa tiba-tiba menyelimuti dirinya. Bukan hanya perkelahian singkat dengan sang papa, kini pesan yang Gagas kirimkan ikut membuat suasana hatinya hancur hari ini.
Kelas tiba-tiba sunyi ketika Buk Sani datang dan berdiri di ambang pintu. Semua pasang mata menatap wanita tersebut, tak terkecuali Ruri yang masih bergelut dengan pikiran dan hatinya yang tidak sejalan.
"Mirai Arinda sakit, ya. Tadi pihak keluarganya menelefon."
Mata Ruri mendongkak mendengarnya. Perasaan gelisah lainnya datang tumpang tindih. Dia mencekam ujung meja sekuat mungkin, menahan tubuh yang tiba-tiba saja gemetar.
"Mirai, sakit?"
__ADS_1