Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Kedatangan Seseorang


__ADS_3

Pak Miko–sopir Ruri–menunggu di parkiran. Pria berbadan tambun itu saat ini sedang menyantap bekal sambil menonton film di dalam mobil.


Tiba-tiba saja seseorang mengetuk jendela mobil yang berada di sampingnya, Pak Miko lantas menghentikan aktivitasnya dan membuka jendela tersebut sesegera mungkin.


"Apa yang kamu lakukan di sini, Miko?"


Suara seorang pria menyambutnya ketika jendela tersebut telah dibuka. Pak Miko yang keheranan langsung keluar dari mobil, karena dia tidak bisa melihat dengan jelas pria yang berbicara dengannya tadi hanya lewat jendela.


'Siapa, ya? Kenapa dia tahu namaku?' batin Pak Miko bertanya-tanya.


"Saya berbicara denganmu, Miko," kata pemilik suara itu kembali.


Mata Pak Miko lantas terkejut mendapati pria yang berdiri di depannya. Pria itu menggunakan topi dan jas berwarna coklat, sedang menenteng sebuah tas hitam di tangan kanannya.


"Miko, jawab pertanyaan saya. Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya pria itu kembali sambil menurunkan kacamata hitam yang dia kenakan.


"Maaf, Pak. Saya kaget ketemu bapak di sini," jawabnya sambil cengengesan.


Pria berjas di hadapannya menghela napas. "Saya yang lebih kaget melihat kamu di sini. Jangan-jangan Ruri ada di sanggar ini? Apa tujuannya, Miko?"


"Ruri nggak ada tujuan apa-apa, Pak. Cuma jalan-jalan aja sama teman dia."


"Sudah lama kamu di sini?"


Pria tersebut memasang kacamatanya kembali. Pertanyaannya diangguki oleh Miko, sopir pribadi anaknya.


Roland langsung pergi dari sana menuju kantor Pak Arka. Firasat pria berwibawa itu mengatakan, jika anaknya berada di sana.


Suara beberapa remaja dan suara tawa Pak Arka menggema di dalam bangunan yang berada di depannya. Roland melepas kacamata hitam yang dia kenakan lalu mengetuk pintu tersebut.


Setelah mengetuknya, tidak lama kemudian seorang gadis berponi membuka pintu. Bukannya mempersilahkan dia masuk, gadis yang baru kali ini dia temui itu malah menjerit histeris di sana.


"Aaa ...!"


Roland mengernyit menatap gadis di hadapannya. Apakah ada yang salah dengan penampilannya?


Teriakan Pita membuat mereka yang mendengarnya penasaran. Pak Arka langsung berjalan cepat menuju pintu yang sudah terbuka.

__ADS_1


Sedangkan Ruri dan teman-temannya melirik pintu sebentar, kemudian melirik foto yang Pak Arka tunjukkan lagi padanya.


Sorot mata Ruri tajam memandang foto pria yang bernama Sanjaya itu. Lama dia menimbang-nimbang di pikirannya. Wajah pria tersebut sangat mirip dengan Kagami, hanya saja Kagami memiliki bekas luka di dahinya dan pipi Kagami jauh lebih tirus dari pria yang berada di foto.


"Maaf jika kedatangan saya mengganggu, Pak."


Ruri mendongkak setelah mendengar suara yang tidak asing itu. Dia melirik kedua temannya yang nampak penasaran dengan pemilik suara.


"Tidak apa-apa. Silakan masuk, kebetulan saya juga ada tamu."


Pria berjas coklat tersebut kemudian memasuki ruangan itu dengan Pita masih mengangga di samping pintu, memperhatikan setiap inci tubuhnya.


Mata Ruri membola, diikuti kedua temannya tersenyum kecut kepada pria tersebut. Mereka tahu, jika pria yang barusan datang ini adalah Roland Nagemi, papa Ruri.


"Pa–pa?" Ruri tergagap.


Roland langsung duduk di salah satu sofa kosong, memperhatikan ketiga remaja yang masih tertegun di hadapannya.


"Ha ha ha! Sepertinya takdir yang mempertemukan kalian d sini." Pak Arka lalu bergabung bersama mereka.


"Pita, ambil air untuk tamu yang baru datang ini!"


"Silakan diminum," kata Pita selembut mungkin sambil meletakkan air tersebut di depan Roland.


"Kenapa banyak sekali?" tanya Roland mendapati lima gelas air berjejer di depannya.


"Nggak apa-apa, kok. Perjalanan ke sini panjang banget, pasti haus, kan?" Pita kemudian mundur, kembali ke tempat duduknya tanpa berpaling sedikit pun melihat Roland.


Ruri merengus mendapati kehadiran papanya di tengah-tengah mereka.


"Pita, sepertinya ini hari keberuntunganmu. Bukan hanya bertemu anaknya, sekarang kamu juga bertemu dengan Roland Nagemi." Pak Arka melirik gadis yang masih tertegun itu.


Pita mengerjap, "Aaa ...! Ganteng banget! Aku sering lihat, Om , di TV, loh! Di TV aja ganteng banget, ternyata aslinya lebih ganteng lagi!" Dia sangat antusias sekarang.


"Aku udah lama mau ketemu sama, Om, tapi nggak pernah ketemu sekali pun, padahal Om sering main di sanggar ini, kan? Aaa ...! Akhirnya kita ketemu juga, Om!" Pita masih kegirangan.


Roland tertawa mendengarnya. "Jangan panggil saya om. Panggil aja, pak atau bapak. Anak saya seumuran dengan kamu, loh." Dia melirik Ruri yang mana saat ini tengah membuang wajah ke arah lain.

__ADS_1


"Eh? Ja–jadi ... calon suami yang Pita katakan itu, orang yang ingin Pita temui itu


... ayah Ruri?" Alita terkejut dengan ucapannya sendiri.


Pita mengangguk antusias. "Iya! Dia calon suami akuuu ...! Gimana, Om, mau jadikan saya yang kedua?" Pita mengedipkan sebelah matanya, sementara Roland terkekeh geli melihatnya.


"Jijik gue! Lu bisa sopan dikit nggak? Harga diri lu mana, sih?!" celetuk Ruri membuat Pita menyebik kesal.


"Ha ha ha, maafkan anak saya, ya. Dia memang seperti ini. Saya sudah punya istri dan seorang anak yang sangat cantik. Mana mungkin saya kecewakan kepercayaan mereka pada saya," jawab Roland dengan senyum merekah memandang Pita.


Gadis berponi itu bukannya sedih karena sudah ditolak, malah semakin bahagia ketika Roland tersenyum padanya.


"Ck! Pintar banget omongannya!" gumam Ruri, jengkel.


"Ha ha ha! Maaf, ya, Roland. Pita memang gini, aneh banget anaknya." Setelah lama terdiam, Pak Arka kembali bersuara. "Saya tadi sedang menunjukkan foto Sanjaya kepada anakmu dan teman-temannya," lanjut Pak Arka kembali.


"Ini Pita, dia sering main ke sanggar ini karena ingin bertemu denganmu. Tapi nggak pernah kesampaian dan akhirnya dia bisa bertemu kamu hari ini. Dia anak dari Sanjaya, musikus hebat yang cukup terkenal itu," tutur Pak Arka kemudian meneguk minuman di depannya.


Ruri mengernyit mendengarnya. "Jadi, Papa sering main ke sini? Ngapain?" tanyanya dengan nada datar.


"Ayahmu ini, memiliki jaringan informasi yang luas. Bukan hanya itu, dia ke sini juga untuk belajar musik. Walau dia tidak ahli bermain musik." Pak Arka kembali tertawa.


Roland mengaruk tengkuknya lalu menyengir, "Iya, benar yang Pak Arka katakan. Jadi, kamu benar-benar anaknya Sanjaya, ya?" tanyanya kepada Pita.


Pita malu-malu menjawabnya. "Iya, Om. Om mau ketemu orang tua saya?" Dia masih kegatalan.


Roland tersenyum tipis mendengarnya. Lalu Pak Arka kembali bersuara, menceritakan bagaimana Ruri dan teman-temannya bisa berada di sini.


Setelah mendengar penjelasan Pak Arka, sorot mata Roland langsung meneliti kedua teman Ruri yang sedari tadi diam dan tidak banyak bersuara.


Dia menatap Kagami lebih lama daripada dia menatap Alita. Luka yang berada di dahi Kagami membuatnya teringat suatu hal.


"Kamu anak yang berada di panti asuhan Febriante Oved, kan?" tanya Roland secara tiba-tiba.


Ruri, Alita dan Kagami langsung gelagapan mendengar pertanyaannya. Terlebih lagi Kagami yang sudah terlanjur berbohong jika Febriante Oved itu adalah ayahnya, pemilik panti asuhan. Bukannya dia anak yang diasuh di sana.


Ruri mengatur napasnya, kemudian membantu Kagami kembali mengendalikan suasana.

__ADS_1


"Iya, Pa. Dia Kagami Oved. Anaknya si pemilik panti. Febriante Oved," jawab Ruri disertai bola mata yang memberi isyarat kepada papanya untuk tidak mengatakan hal yang lebih daripada ini.


__ADS_2