Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Bencana Alam


__ADS_3

Pria paruh baya yang rambut hitamnya mulai memutih ditutupi uban itu tersenyum setelah mendengar perkataan Kagami. Dia merapatkan duduk, hingga jaraknya dengan Kagami sangat dekat.


"Begitu, ya. Jadi kamu sudah mengetahuinya." Terdengar kelegaan di nada bicaranya.


"Kalau begitu, ayah akan menceritakan kejadian lengkapnya hari ini. Ayah rasa kamu sudah cukup dewasa untuk memahami semuanya," lanjutnya sembari bersandar melihat langit-langit.


Sepuluh tahun lalu semua media masa dihebohkan dengan amukan alam yang terjadi di kota bagian timur laut. Gempa dan air laut mengamuk menghantam pinggiran kota, lalu pulau kecil yang berada di jalur amukan alam pada hari itu ikut hancur tak tersisa. Pulau tersebut terdapat sebuah desa yang bernama Padamiri.


Orang-orang berbondong datang dari segala penjuru, polisi, pemadam kebakaran, pihak rumah sakit, relawan dan media televisi sudah berbaris di sepanjang jalur aman.


Febriante tidak kalah penasarannya. Dari tempat tinggalnya di kota bagian utara, dia melakukan perjalanan ke kota bagian timur laut. Perjalanannya ke sana membutuhkan waktu satu jam, tetapi saat melewati sebuah pantai telinganya mendengar isak tangis anak kecil.


Febriante menepikan mobilnya, lalu menyisiri pantai yang sepi kala malam bencana itu terjadi. Tidak ada siapa pun di sana, tetapi suara tangis seorang anak semakin tajam menyapa telinganya.


Jauh dia mengambil langkah hingga suara yang dia dengar menuntunnya pada seorang bocah yang sedang sesenggukan terbaring lemah sembari memeluk lutut. Suara tangis bocah tersebut perlahan menghilang setelah Febriante mendekat.


"Nak, kamu kenapa?" paniknya saat itu.


Febriante mengamati sekeliling, tidak ada jejak baru yang dibuat oleh manusia di sana kecuali dirinya. Bocah dengan tubuh basah kuyup itu pun langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat.


Pengobatan medis berlangsung selama satu jam. Bocah itu tidak mengalami luka parah di bagian luar, tetapi dari analisa dokter yang menangani, setelah diperiksa bagian belakang kepala anak tersebut mendapat hantaman keras dari sebuah benda tumpul. Walau tidak berdarah, hal tersebut bisa berpengaruh pada ingatannya.


Informasi tambahan yang Febriante dapat kala itu adalah sebuah buku not lagu yang ditemukan di balik baju bocah tersebut. Di peluk erat di perutnya. Meski tidak hancur, buku tersebut basah kuyup.


Niatnya pergi ke pusat bencana untuk membantu korban yang ada di sana malah berubah menunggu bocah yang dia temukan tadi sadarkan diri.


Bocah laki-laki itu mulai mengedipkan mata. Tatapannya linglung, lalu menangis saat menatap wajah Febriante. Suara tangisnya menggema seisi ruangan, Febriante yang tidak tahu apa-apa langsung memanggil suster. Dia tidak tahu cara menenangkan anak kecil.


Seorang suster mendekap pelan tubuh bocah tersebut sembari menimang-timangnya. Perlahan suara tangisnya mereda. Setelah itu Febriante mengambil alih dan mengendong anak yang bahkan tidak dia tahu asal usulnya.


Waktu terus berjalan, sudah lima hari sejak dia menemukan bocah laki-laki itu, tetapi selama itu pula bocah tersebut selalu menangis saat dilempar sebuah pertanyaan, atau bergabung dengan anak panti lainnya. Febriante kewalahan, dia akhirnya meminta Roland untuk membantu mencari tahu asal usul anak tersebut.


"Dia tidak mau lepas dari gendongan istriku. Aku rasa dia anak yang penakut dan cengeng," kata Febriante kepada Roland di sebelahnya.

__ADS_1


Mereka berdiri memandangi Airu, istri Febriante sedang bermain dengan beberapa anak panti. Tidak lupa Kagami bergelayut manja di lehernya.


"Walaupun begitu, dia hanya diam dan tenang saat berada di depan cermin. Mengamati pantulan bayangannya lebih detail lagi. Mengajak pantulan dirinya berbicara walau matanya kosong. Karena itu kami memanggilnya Kagami, yang artinya cermin dalam bahasa Jepang." Febriante mengambil jeda dalam ucapannya. "Boleh kamu tolong bantu kami mencari asal-usul dia, Roland?" lanjutnya.


Roland memperbaiki posisi topi yang dia kenakan seraya tersenyum pada temannya. "Tidak masalah. Aku akan mencoba membantu sebisa mungkin. Beri aku fotonya, supaya mempermudah pencarian ini."


Febriante menghela napas berat. "Itulah masalahnya. Kagami sangat takut pada kamera ponsel, sudah berulang kali aku ingin memotretnya, tapi dia terus saja meraung menangis," jelasnya lalu Roland sedikit tertawa mendengarnya.


"Tapi aku punya sedikit petunjuk. Saat dia tidak sadarkan diri, seorang suster rumah sakit menemukan buku ini di balik baju bocah itu."


Febriante mengeluarkan buku usang berwarna coklat, menunjukkannya pada Roland. Temannya itu sempat membuka buku tersebut, menelisik isinya.


"Buku not lagu?" Roland mengernyit.


"Iya. Aku rasa ini ada kaitannya sama masa lalu bocah itu. Kurasa ini bisa jadi petunj—"


Suara Febriante terpotong ketika Kagami kecil berjalan ke arahnya, lalu menunjuk buku yang berada di tangan Roland berulang kali.


"Buku aku. Buku aku," kata bocah laki-laki tersebut memohon berulang kali.


"Buku aku," katanya lagi lalu memekik tangis.


"Aduh, aduh, Sayang. Jangan menangis."


Airu mencoba menenangkan Kagami. Kali ini bocah tersebut terus menangis sambil menunjuk buku yang masih berada di tangan Roland.


"Itu buku, Kagami?" tanya Airu pada bocah di gendongannya. Bocah tersebut mengangguk walau matanya masih basah.


Roland menyerahkan buku tersebut, lalu untuk pertama kalinya Kagami tertawa saat memeluk buku itu erat.


Febriante tersenyum. Seolah ada harapan di depannya. "Itu buku, Kagami?" tanyanya lalu mendapat anggukan yang sama dari bocah itu.


"Jadi, kamu ingat siapa namamu?" lanjutnya bertanya.

__ADS_1


Kagami kecil kebingungan, dia memandang lama wajah Airu.


"Kagami Oved. Itu namamu," jawab Airu.


"Kagami Oved." Kagami kecil mengulangi.


Febriante dan Roland tertawa. Bocah laki-laki tersebut diperkirakan sudah berusia tujuh tahun, tapi sikapnya seperti bocah berusia tiga tahu. Sangat-sangat manja, penakut dan cengeng. Ngomongnya juga terdengar pelat.


"Nama dia Kagami Oved. Sudahlah, Sayang. Jangan melontarkan pertanyaan aneh pada anak kecil sepertinya. Biarkan dia hidup bersama kita, biarkan kita mengobati lukanya hatinya hingga suatu saat dia kembali mendapat ingatannya," kata Airu sebelum berlalu dari sana.


Febriante menggeleng. "Anak itu sudah mengambil hati istriku. Bahkan sekarang dia menyematkan nama belakangku pada anak tersebut? Benar-benar, ya," kekehnya.


"Dilihat dari mana pun, dia tetaplah anak kecil, Febriante. Jangan terlalu keras padanya. Aku juga memiliki anak yang seusia dengannya," timpal Roland.


Setelahnya Roland pergi ke tempat pengungsian, sambil membawa foto Kagami kecil dan menanyai satu persatu kepada korban bencana yang masih mengungsi. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang mengenal Kagami.


Hingga sampai sekarang pun pencarian Roland dan Febriante masih belum membuahkan hasil. Mereka tidak tahu, apakah orang tua Kagami menjadi korban di bencana tersebut atau memang sebelumnya Kagami adalah anak yang sengaja dibuang? Hal itu masih menjadi tanda tanya besar di pikiran mereka.


Cerita panjang tersebut berakhir. Kagami memergoki mata ayah angkatnya berkaca-kaca. Mengingat masa lalu membuat pria tersebut merasa sendu. Tak terasa waktu sudah lama berjalan, dia sudah semakin tua, tetapi sampai detik ini dia belum menemukan titik terang keberadaan orang tua Kagami.


"Kamu itu dulunya sangat cengeng. Hobi banget nangis. Sekarang udah tumbuh menjadi laki-laki yang gagah aja. Tak terasa waktu berjalan, ya." Febriante tersenyum lega pada anak angkatnya.


"Begitu, ya, jadi Pak Roland ikut terlibat mencari orang tuaku. Lalu, Ayah, lebam hitam di dahiku ini sebenarnya bukan bekas luka?" Kagami antusias mendengar fakta baru ini.


"Saat menemukanmu kala itu, tidak ada luka parah di tubuhmu. Bahkan dahimu memang sudah ada lebam di sana. Ayah tidak tahu, apakah itu tanda lahirmu atau bekas luka lama. yang jelas, hanya kepalamu saja yang mengalami benturan hebat hingga ingatanmu terganggu."


Kagami tenggelam dalam banyaknya lautan kata yang tidak dia pahami. Lalu mencoba mencocokkan setiap kepingan puzzel tersebut dengan ingatan samar-samar yang dia lihat. Sulit, tetapi Kagami tahu bahwa apa yang dia lihat dan dia dengar sekarang adalah hal yang saling berhubungan.


"Jika orang tuaku masih hidup dan aku bertemu dengan mereka. Apa ayah dan ibu akan sedih?"


Pertanyaan Kagami membuat Febriante tertawa lepas. Laki-laki pucat di depannya heran, apa yang membuat ayah angkatnya tertawa seperti itu.


"Tidak. Justru ayah merasa bahagia dan bangga karena telah menjadi pelabuhan untukmu singgah."

__ADS_1


Obrolan mereka berdua diakhiri oleh hati yang masing-masing menghangat. Febriante bangkit hendak keluar mencari angin segar, bertepatan dengan kedatangan kedua teman Kagami. Alita dan Mirai.


"Kagami, aku buatkan nasi goreng!" kata Alita sesampainya di sana.


__ADS_2