
Alita menciptakan tembok besar nan kokoh di sekeliling, hingga tidak ada yang bisa mendekatinya. Jangankan berbicara, saat Kagami memandangnya di tempat kerja, Alita bersikap seolah Kagami tidak pernah ada di sana. Wajahnya murung, matanya bahkan ikut meredup. Dia terlihat sangat berbeda.
Tidak ada lagi Alita yang bawel di belakangnya, tidak ada lagi seseorang yang membuatnya bersemangat, tidak ada lagi tuan putri yang dia jemput. Kagami menjalani hari seperti biasa, tetapi entah kenapa rasanya berat sekali. Dia tidak bisa menahan rasa sesak di dada setiap melihat Alita dari kejauhan. Jauh di dalam lubuk hatinya dia ingin mendengar suara gadis itu lagi. Ingin supaya Alita tersebut berada di sebelahnya, menjadi penumpang setia motor maticnya.
Hari Senin tiba, para murid datang dengan wajah tegang karena ujian kenaikan kelas akan dimulai hari itu dan akan berlangsung selama seminggu. Semua murid menjalani ujian dengan lancar, begitu pula Ruri dan teman-temannya.
Saat mereka berada di dalam kelas, walau oksigen yang mereka hirup sama. Namun, tetap saja Alita terlihat sangat berbeda. Setelah bel istirahat berteriak kencang, gadis tersebut langsung pergi meninggalkan teman-temannya.
Gadis yang biasanya berisik dan suka memaksa ke kantin bersama-sama, seakan hilang perlahan.
"Sampai kapan seperti ini terus? Apa aku harus menyapanya duluan dan meminta maaf lagi?" tanya Kagami dengan raut gusar sebelumnya Alita belum pernah bersikap seperti ini. Dia menjadi semakin bingung.
"Dari sikapnya seolah dia belum bisa berdamai dengan kita. Sebaiknya kita jalani ujian dengan lancar, setelahnya baru kita meminta maaf lagi dengan dia," usul Ruri dari mejanya.
"Aku penasaran, ke mana Alita pergi saat istirahat, ya?" Mirai menopang dagu, matanya sendu menatap pintu kelas.
Alita melangkah cepat menuju perpustakaan, lalu memilih meja yang berada di pojok ruangan. Setiap kali ujian berlangsung, perpustakaan selalu ramai dikunjungi siswa daripada hari biasanya. Mereka belajar lebih giat agar lulus ujian dengan nilai terbaik, sedangkan tujuan Alita berbeda. Dia hanya ingin tidur, karena pojok perpustakaan adalah tempat yang pas untuk sendirian.
"Maaf, aku belum mau berbicara apa pun." Suaranya melirih, bulir bening perlahan menetes seiring bayangan wajah ketiga temannya terlukis di pikirannya.
Saat pulang dari sekolah, Alita langsung berjalan kaki secepat mungkin menuju tempat kerja. Dia memasuki gang sempit, jalan pintas menuju kafe untuk mempersingkat waktu. Selain itu dengan begini Kagami tidak bisa mengikutinya, karena sepeda motor tidak bisa melewati gang sempit yang dia lewati.
Suaka merasa aneh dengan kedua seniornya. Sosok yang selalu banyak bicara tiba-tiba diam seolah asing satu sama lain. Di sebuah kesempatan, Suaka menghampiri seniornya lalu bertanya.
"Kak Kagami dan Kak Alita bertengkar, ya? Kenapa saling diam?"
__ADS_1
Pertanyaan tiba-tiba dari Suaka membuat Kagami menghentikan aktivitasnya yang sedang membersihkan meja. Dia menghela napas lalu menatap wajah Suaka dalam.
"Tidak terjadi apa-apa di antara kami, Suaka."
Dia memberi jawaban singkat yang membuat Suaka kurang puas mendengarnya, tetapi belum sempat dia melontarkan pertanyaan lagi, Kagami sudah berlalu dari hadapannya. Seolah menghindari interaksi yang lebih dari itu.
"Mereka berantem gara-gara aku kah? Dulu aku pernah nggak sengaja bilang sama Kak Alita jika laki-laki bernama Gagas itu memotret dirinya dalam diam. Aduh, aku jadi merasa bersalah!" Suaka mengacak rambutnya frustrasi.
Karena tahu apa pun pertanyaan yang dia tanyakan tidak mendapat jawaban yang memuaskan. Suaka berniat memperhatikan kedua seniornya lebih dari biasanya.
Saat jam pulang para karyawan kafe. Dia melihat Kagami seolah sengaja duduk di parkiran lebih lama, setelah Alita keluar dan berjalan jauh dari kafe, baru setelahnya Kagami pergi dari parkiran. Terlihat seolah membuntuti Alita. Padahal biasanya mereka selalu pulang berdua.
"Ternyata benar, mereka lagi ada masalah. Biasanya Kak Kagami nggak mungkin diam seperti ini."
Pulang kerja malam-malam dan berjalan kaki sangat berisiko, apa lagi Alita berjalan sendirian di jalan. Karena itu, sudah menjadi kebiasaannya menjaga Alita dan mengawasi dari kejauhan agar Alita tidak terluka atau terjadi apa-apa. Luka yang Gagas torehkan pada gadis tersebut, menjadi cambuk menyadarkan bahwa Alita teramat berharga di hidupnya.
***
Tirta berjalan cepat menuju parkiran sekolah lalu menghidupkan sepeda motornya, kemudian melaju dari sana secepat mungkin setelah mendapat pesan dari Gagas.
[Gue di tempat biasa. Temui gue, ada yang mau gue katakan.]
Sesampainya di basecamp, tempat biasa yang Gagas katakan. Terlihat laki-laki berhodie biru tua tersebut duduk bersandar di dinding sambil bermain game. Setelah sadar Tirta datang, dia bangkit dari duduknya lalu memakai masker untuk menutupi bekas luka di wajahnya.
"Kita ke gang arterak. Anterin gue ke sana. Malas sekali gue mau bawa motor, nanti gue bayar," kata Gagas secepatnya.
__ADS_1
Tirta terdiam. Dia mencerna lagi perkataan Gagas barusan. Dia tahu luka di wajah Gagas tercipta karena ulah Kagami. Lalu dia juga tahu kegagalan Gagas dalam rencananya. Namun, pergi ke gang arterak tempat berkumpulnya para preman menakutkan, Tirta rasa itu teramat berbahaya. Apakah Gagas akan pergi menemui ajalnya di sana setelah cintanya ditolak mentah-mentah?
"Seriusan lu mau ke gang itu? Lu tahu sendiri, kan, preman di sana main senjata tajam dan tidak kenal ampun. Lu mau anter nyawa ke sana?" Tirta ragu dan takut, karena tahu seberapa berbahayanya preman yang berada di sana.
"Gue punya uang. Lu bawa aja gue ke sana, semuanya beres!"
Gang arterak sangat terkenal dengan rumor buruknya. Bukan hanya tempat berkumpulnya para preman, tempat itu juga dikenal dengan julukan 'gang pengantar nyawa' hanya orang tertentu saja yang boleh memasukinya. Jika ada orang asing yang masuk tanpa diduga, jangan heran jika keluar dengan banyak luka di tubuhnya. Preman yang berada di sana sangat tidak suka diganggu.
Sepeda motor Tirta berhenti di atas jembatan beton berukuran besar. Di bawah jembatan tersebut terdapat sebuah jalan kecil menuju permukiman warga yang tersembunyi. Saat Gagas dan dirinya melangkah semakin jauh memasuki permukiman, semakin banyak tatapan aneh dan orang mengerikan melibat ke arah mereka.
Anak kecil yang terbilang masih SD saja sudah memegang rokok di tangan mereka. Menghisapnya dengan bangga. Hampir semua anak kecil yang tinggal di permukiman kumuh tersebut seperti itu.
Sesampainya di akhir permukiman, terdapat pertigaan. Ada tiga gang di sana. Dua di antaranya menuju jalan besar, dan satunya lagi adalah gang buntu.
Gang artefak adalah gang buntu yang menjadi basecamp para preman. Saat kaki melangkah semakin dalam memasuki gang tersebut, atmosfer di sana terasa berbeda. aura mencekam dan kengerian semakin kental terasa membuat bulu kuduk tanpa sengaja meremang.
"Hai, lihat siapa yang datang."
Seorang pria membawa sebuah pisau kecil tiba-tiba muncul di hadapan Gagas dan Tirta. Nyali mereka mendadak ciut mendapat sambutan mengejutkan seperti ini.
Wajah sangar Tirta dan Gagas langsung menghilang. Mereka bagai katak yang terpojok. Seperti kucing yang memasuki kandang harimau.
"Gue datang mau minta tolong sesuatu!"
Gagas berkata lantang menyembunyikan rasa takut, ekor matanya terus melihat pisau di tangan preman tersebut yang terus dilempar ke udara. Seolah mengambil ancang-ancang untuk merobek sesuatu.
__ADS_1