
Alarm jam dikamar Jihan berbunyi. Waktu menunjukkan pukul 6 pagi. Jihan merenggangkan tubuhnya lalu mematikan alarm. Ia mengambil ponselnya tapi tidak ada pesan atau panggilan masuk dari Devyan. Jihan menyerngitkan dahinya.
"Kemana dia? Dari tadi malam nggak ada ngasih kabar?" Batin Jihan yang masih setengah sadar dari tidurnya.
Dengan malas dia ke kamar mandi untuk ritual pagi nya. Hehehe, tahukan ritual pagi ala gadis remaja seperti Jihan? Ya, dia masih bermalas-malasan didalam bath up hingga akhirnya tertidur kembali.
Jihan terbangun karena suara bi Ijah sudah menggedor pintu kamar mandinya. Dirumah Jihan ada 3 asisten rumah tangga. Bi Ijah adalah pembantu paling senior. Memiliki job seperti memasak dan mengurus kebutuhan keluarga pak Dika papa Jihan. Sementara dua asisten rumah tangga yang lainnya bekerja untuk bersih-bersih dan sesekali membantu bi Ijah.
"Non, waktunya sarapan. Sudah ditunggu den Robby dibawah non." Ucap bi Ijah dari luar kamar mandi, karena memang kamar Jihan tidak terkunci.
Jihan terbangun. "Ahh iya bi, sebentar lagi aku turun" sahut Jihan yang segera untuk bilas dan bersiap untuk sarapan pagi.
Ternyata hampir satu jam Jihan tertidur.
"Ha? Udah jam tujuh aja? Mungkin karena pertandingan kemaren nguras tenaga banget, sampe males gini" ucap Jihan melihat jam dinding dikamar nya.
Setelah Jihan bersiap, ia segera turun untuk sarapan pagi bersama dengan Robby.
"Tumben kakak telat sarapan? Capek ya?" Tanya Robby yang sudah menunggu Jihan dimeja makan. Mereka hanya makan berdua karena orang tua Jihan masih diluar kota.
"Iya nih, masih agak capek, tapi ntar juga enakan kok." Jawab Jihan yang mulai mengambil nasi goreng yang sudah disiapkan oleh bi ijah.
"Habis ini aku mau jogging ditaman. Kakak mau ikut?" Tanya Robby yang memang terbiasa berolahraga bersama snag kakak di hari weekend.
"Ngga dek ah, kakak dirumah aja dulu. Masih kerasa nih kaki kalo buat lari" jawab Jihan yang hanya dapat anggukan dari Robby.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
di apartemen Devyan.
Matahari yang sudah menunjukkan pukul 10 pagi masuk kedalam kamar apartemen Dev. Membuat yang ada didalam nya mengerjakan mata karena silaunya. Devyan bangun terlebih dahulu.
"Akh shit," Devyan mengingat kejadian semalam dimana dia dan sahabatnya mabuk berat dan dibawa oleh Kevin ke apartemen milik Devyan.
Devyan langsung menuju ke kamar mandi dan membersihkan diri. Setengah jam berlalu, Devyan keluar dengan menggunakan handuk yang hanya menutupi pinggang hingga atas lututnya. Wajahnya terlihat begitu tampan dengan rambutnya yang masih basah setelah keramas. Membuat pesona seorang Devyan begitu sangat menggoda setiap kaum hawa yang melihatnya.
Devyan membangunkan kedua sahabatnya yang masih nyenyak tertidur.
"Woy.. bangun.. udah siang" ucap Devyan sambil menggoyangkan kaki Novan dan Dian secara bergantian. Dian dan Novan merenggangkan tangan mereka dan kaget karena hari sudah siang hampir pukul 11.
Dian dan Novan lalu terduduk masih dengan muka bantal mereka. Devyan yang sudah berganti pakaian dan sudah mengenakan celana pendek dan kaos hitamnya sudah bersiap untuk sarapan. Padahal itu sudah lewat dari jam makan pagi.
"Gue mau turun nyari makanan." Ucap Devyan pada kedua sahabatnya yang sudah selesai mencuci muka.
"Kita pulang aja Dev." Ucap Dian yang sudah selesai bersisir didepan kaca.
"Yaudah kita bareng aja keluar" jawab Devyan yang hanya dapat anggukan dari kedua sahabatnya.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1
Jihan merasa gusar dengan Devyan yang dari tadi malam belum memberi kabar sama sekali.
Jihan mencoba menelepon Devyan.
**Devyan**
*Morning baby*
**Jihan**
*Pagi, kamu lagi dimana*?
**Devyan**
*Lagi diluar sayang. Temenin cari makan yuk. Aku jemput sekarang ya*.
**Jihan**
*Ya udah aku siap\-siap*.
Devyan kemudian datang dan bersamaan dengan Robby yang telah selesai dengan aktifitas jogging dengan teman\-teman nya.
"Hai Rob. Habis dari mana?" Sapa Dev yang baru keluar dari mobilnya pada Robby yang baru memarkirkan motornya.
"Eh kak Dev, biasa kak dari jogging sekaligus cuci mata" jawab Robby dengan senyum menggodanya.
Tak lama Jihan keluar.
"Rob, kakak mau keluar sama kak Dev. Kalo mau keluar kabari kakak ya" ucap Jihan yang sudah melihat adiknya pulang.
__ADS_1
"Siap bos." Jawab Robby dengan posisi hormat.
Devyan membukakan pintu untuk Jihan. Dan kembali ke balik kemudi.
Jihan yang masih kesal pada Devyan memilih untuk diam dan melihat lurus kedepan kaca mobil tanpa memerhatikan Devyan yang sudah curi\-curi pandang.
"Sayang, kamu kok diam aja sih?" Tanya Devyan yang heran dengan sikap Jihan yang begitu cuek.
"Nggak papa, kesel aja" jawab Jihan masih enggan menatap Devyan.
"Kesel kenapa?" Sahut Devyan yang masih belum tahu kalau yang membuat Jihan kesal adalah dirinya.
"Kesel sama orang yang dari semalem ngulang ngga ada kabar sama sekali" jawab Jihan dengan nada yang sedikit kesal.
Devyan menyerngitkan dahi. Dia sadar yang dimaksud oleh kekasihnya adalah dirinya. Tapi tidak mungkin Devyan menjawab kalau semalam dia habis pergi ke club malam bersama ketiga sahabat nya itu.
"Maaf sayang. Semalem aku ketiduran" jawab Devyan berbohong.
Jihan melihat Dev. Jihan curiga dengan apa yang dikatakan oleh Devyan. Tapi dia segera menepis fikiran buruknya. Dia tidak ingin, hubungan yang baru dimulai itu dipenuhi dengan prasangka buruknya.
"Kita mau kemana?" Tanya Jihan mengalihkan pembicaraan.
"Nyari makan dulu ya sayang. Aku laper nih" jawab Dev sambil memegangi perutnya.
"Emang kamu bangun jam berapa Dev? Pasti kamu belum sarapan kan?" Tanya Jihan
Dev menyerngitkan dahinya.
__ADS_1
"Panggil aku sayang ! Aku nggak mau kamu manggil nama kaya gitu." Perintah Devyan yang hanya dijawab dengan ekspresi datar oleh Jihan.