Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Rindu


__ADS_3

Sesi pengobatannya kali ini berjalan lebih cepat dari biasanya. Setiap pertanyaan yang dilayangkan dokter muda berjas putih di hadapannya dijawab dengan santai oleh Pita. Dirinya tidak lagi ketakutan, gemetaran maupun menangis histeris saat sesi pengobatan berlangsung.


Dira mengucapkan syukur berkali-kali melihat kemajuan anaknya.


Dokter muda tersebut tersenyum ke arah Pita, "Kondisi Pita semakin membaik. Bahkan hari ini kondisinya baik-baik saja. Apa yang terjadi Pita? Sepertinya ada sesuatu yang membuatmu sangat bahagia sekarang."


Gadis berponi itu tersenyum lebar, lalu menceritakan kembali pengalamannya di sanggar hari ini. Mulai dari dia bertemu Ruri dan kedua temannya, hingga dia bertemu Roland Nagemi, orang yang paling dia kagumkan.


"Ternyata, Pak Roland Nagemi berwibawa sekali. Saat melihatnya di televisi, aura wibawanya sudah sangat kental terasa. Apalagi saat bertemu langsung dengannya tadi! Benar-benar pria yang sangat memesona!" Pita menepuk pipinya berkali-kali, jika mengingat wajah Roland dirinya semakin antusias tidak terkendali.


Pita melirik Dira dan Sanjaya yang duduk di samping kanan dan kirinya. "Bik, Paman. Terima kasih sudah merangkul Pita sejauh ini," katanya disertai senyuman.


Dira dan Sanjaya mengernyit mendengar perkataan Pita.


"Kebiasaan. Jangan panggil dengan sebutan itu lagi. Sekarang, panggil aja ibu dan ayah! Jangan lupa lagi, ya." Sanjaya menjentik dahi Pita membuat gadis itu meringis.


Dira langsung memberi dekapan erat kepada Pita. "Dengerin kata ayah kamu. Jangan panggil dengan sebutan itu lagi, ya."


Manik jernih milik gadis itu berkaca-kaca di dalam dekapan Dira. 'Terima kasih,' batinnya.


***


Perjalanan yang cukup panjang, ditambah kondisi jalan yang sangat macet membuat Ruri, Alita dan Kagami pulang satu jam lebih lambat dari perkiraan mereka.


Setelah berpisah dengan teman-temannya di gerbang rumahnya, Ruri langsung merebahkan badan ke kasur sambil melihat beberapa foto yang dia potret waktu berada di sanggar. Setelah rasa lelahnya menghilang, gadis itu membersihkan diri lalu turun ke lantai bawah untuk menyantap makan malam.


"Papa mana, Ma? Belum pulang?" tanya Ruri di sela makan malamnya.


Kursi yang berada di depannya kosong, biasanya kursi itu selalu ditempati oleh sang papa.


Syanala menelan makanan yang masih berada di dalam mulutnya. "Bentar lagi mungkin sampai ke rumah. Gimana sanggarnya? Enak?" Wanita itu balik bertanya.


Ruri meraih segelas air, lalu meneguknya. "Tadi Ruri ketemu papa di sanggar. Secara kebetulan aja, sih, ketemunya." Bibirnya menyebik. "Padahal papa pulang duluan daripada Ruri, tapi kenapa dia belum sampai ke rumah?" Sorot matanya melirik jam dinding.


Syanala tersenyum mendengar ucapan anaknya. "Kamu cemas, ya, sama papa?" tanyanya dengan nada bergurau.


Wajah Ruri langsung merengus mendengarnya. "Nggak, kok, biasa aja!"

__ADS_1


Setelah kegiatan makan malamnya selesai, Ruri berlalu dari dapur hendak menuju kamarnya, tetapi langkahnya terhenti ketika suara bariton seorang pria menggema dari ruang tamu.


"Papa pulang! Ruri udah sampai ru—"


Suara Roland terhenti ketika mendapati putri semata wayangnya menatapnya datar dari anak tangga.


Ruri melirik penampilan papanya. Pria itu terlihat sangat berbeda ketika berada di rumah. Tidak terlihat berwibawa sama sekali, jauh berbeda dengan apa yang orang-orang nilai tentangnya.


"Lambat, Ruri udah selesai makan malam Papa baru pulang," kata Ruri dengan nada datar.


Roland cengengesan mendengarnya. "Jadi, kenapa Ruri berdiri di sana? Nungguin papa pulang, ya?"


Gadis berkacamata tersebut memutar bola matanya. "Siapa juga yang nungguin Papa pulang."


Kakinya lanjut meniti anak tangga di depannya, tetapi dia teringat suatu hal yang membuat dia berbalik arah kembali menatap sang papa.


"Kenapa tadi Papa berbohong?"


Langkah Roland terhenti ketika hendak meniti anak tangga. Pria paruh baya itu menatap sang anak sebentar, lalu meletakkan sepatu yang dia tenteng ke belakang tangga. "Bohong soal apa?" jawabnya masih belum bergerak dari posisi.


Roland mengaruk kepalanya seraya cengengesan. "Tadi kamu main mata sama papa. Jadi papa pikir kamu kasih kode supaya papa berbohong," jawabnya ragu.


Ruri berekspresi datar. "Huh! Dasar Papa nggak peka. Yaudah, terima kasih sudah melindungi Kagami tadi!"


Gadis bermata empat tersebut berlalu dari sana, tetapi baru dua langkah dia pergi suara Roland kembali membuat langkahnya terhenti.


"Ruri mau ke mana?"


Merasa dirinya dipanggil, gadis tersebut berbalik, kembali menatap sang papa. "Mau ke kamar. Bukannya sekarang waktunya tidur?" jawabnya seraya menaikkan sebelah alis.


"Nggak mau tidur sama papa dan mama? Biasanya dulu waktu kecil suka tidur di ketek papa, terus suka dengerin cer—"


"Nggak! Ruri udah besar!" potong Ruri dengan cepat.


Gadis berkacamata itu langsung berlalu dari sana dengan wajah masam, melangkah cepat menuju kamarnya.


Roland mengaruk tengkuknya yang dirasa tidak gatal. Pria paruh baya tersebut kebingungan di sana, melihat tingkah anaknya berubah cepat setelah mendengar perkataannya barusan.

__ADS_1


"Kenapa, Pa?"


Suara Syanala menggema di belakangnya. Roland langsung berbalik, menatap sang istri dengan raut kebingungan.


"Tadi papa ngajak Ruri tidur bareng kita, tapi dia langsung pergi dengan wajah kesal," jawabnya kemudian.


Mendengar perkataan sang suami, Syanala menepuk jidatnya. Dia tidak habis pikir dengan pemikiran suaminya. "Ternyata seorang pengacara hebat bisa berpikir dangkal seperti ini juga, ya?" Syanala menatap suaminya intens. Roland yang tidak mengerti menaikkan sebelah alisnya. "Ruri itu sudah besar, Pa. Bukan anak kecil lagi. Jadi perlakukan dia sesuai usianya," tutur Syanala melanjutkan.


Wanita paruh baya berkepala empat itu meniti anak tangga, melewati sang suami yang masih mematung mencerna perkataannya barusan.


"Eh?"


Syanala terkejut karena tiba-tiba saja Roland memeluknya dari belakang.


"Papa rindu Ruri kecil kita yang manja. Kenapa dia nggak manja lagi, ya?" Roland menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri.


Syanala melepas paksa pelukan suaminya, lalu berkacak pinggang menatap Roland. "Ruri sudah semakin besar seharusnya papa sadar, papa juga sudah semakin tua!" tegas Syanala dengan nada bercanda.


Roland tersenyum lebar mendengarnya. "Walau pun tua-tua begini, tadi ada, loh, teman Ruri yang manggil papa dengan sebutan om." Dia menggoda istrinya.


Wajah Syanala langsung mencebik. Lalu menjentik jidat sang suami. "Dasar nggak tahu diri!"


Saat langkahnya sudah sampai di anak tangga paling atas, Syanala kembali menatap Roland. Tiba-tiba saja dia tersenyum lebar dengan mata berbinar.


"Pa! Besok kita pergi ke butik. Papa bisa ikut?" tanyanya cepat.


Roland terus meniti anak tangga, hingga dirinya berdiri tepat di depan sang istri, hanya satu anak tangga yang memisahkan jarak mereka.


"Baju seragam untuk pernikahan Venya, ya? Kayaknya papa nggak bisa ikut. Mama tahu ukuran baju papa, kan? Pakai ukuran lama aja, ya." Dia mengedipkan sebelah mata, membuat Syanala kesal mendengarnya.


"Itu ukuran lama. Badan papa sekarang udah semakin gendut." Syanala menjulurkan lidah mengejek suaminya. Kemudian dia berlari menuju kamar, dengan Roland mengejarnya dari belakang.


Suara berisik yang berasal dari mereka, membuat Ruri terganggu.


"Mama, Papa! Sadar diri udah tua jangan main kejar-kejaran. Nanti sesak napas Ruri nggak tahu, ya!" teriak gadis bermata empat tersebut dari kamarnya.


Roland dan Syanala terbahak-bahak mendengar teguran anak semata wayang mereka.

__ADS_1


__ADS_2