Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Maju Dua langkah


__ADS_3

Aliran darah dalam tubuh Ruri berdesir hebat tatkala matanya menatap dalam bola mata Gagas. Smirk yang laki-laki itu layangkan menjadi pelengkap emosinya yang dirasa semakin menggebu.


Ingin rasa hati memukul Gagas sekuat mungkin sekarang, tetapi kesepakatan telah berjalan sejauh ini. Ruri benar-benar gelisah mengontrol dirinya ketika emosinya campur aduk.


"Alita datang sama gue. Dan lu bisa lihat nggak ada orang lain di mobil selain Pak Miko."


Ruri memulai pembicaraan, tangannya melipat di depan dada.


"Kita bicara di tempat yang lebih aman," lanjut Ruri.


Gagas mengekori langkah Ruri dari belakang. Mereka berjalan cukup jauh hingga sampai ke persimpangan jalan menuju ke rumah bik Venya. Di perempatan jalan terdapat sebuah warung kecil. Mereka mampir membeli dua es cream mangkok porsi kecil, kemudian duduk di kursi yang ada di depan warung.


Pupil mata Ruri memperhati daerah sekitar, sambil membuka penutup es cream-nya gadis tersebut memulai pembicaraan. "Lu mau apa sama Alita?"


Gagas memperhatikan es cream yang belum dia buka sama sekali. Sorot matanya tiba-tiba meneduh, kemudian beralih menatap ke arah Ruri. Wajah seriusnya sedikit membuat Ruri kaget, tidak biasanya Gagas bersikap seperti ini.


"Gue mau menyatakan perasaan sama Alita."


Bola mata laki-laki beralis tebal tersebut tidak memancarkan kebohongan. Dia serius dengan ucapannya. Nada bicaranya pun barusan sedikit membuat Ruri tertegun.


"Maksud lu?" Ruri masih belum mengerti arah pembicaraan mereka.


"Gue minta lu bawa Alita ke sini karena gue mau menyatakan perasaan sama dia. Apakah gue salah karena telah jatuh cinta sama dia?" balas Gagas dengan tatapan kosong.


Ruri geli mendengarnya, sudut bibirnya terangkat bersamaan dengan tatapan meremehkan. "Kalau lu ditolak gimana?"


Gagas terdiam beberapa saat. Tanpa menoleh ke arah Ruri dia menjawab. "Gue yakin pasti diterima. Soalnya gue memiliki semua yang dia butuh kan."


Pandangan Ruri datar. "Boleh juga nyali lu. Kalau Alita tolak lu, jangan lu sakiti dia, ya. Sesuai janji, gue bawa Alita ke sini dan lu kasih informasi tentang Dion ke gue." Dia balik ke topik awal.


Gagas menatap es crean miliknya yang sudah tinggal setengah. "Yah. Akan gue ceritakan."


Sebelum melanjut perkataannya, Gagas terlebih dahulu mengeluarkan ponsel. Lalu menunjukkan beberapa foto Dion dan ada juga foto bersamanya dengan Dion. Agar Ruri bertambah percaya, jika dia dan Dion benar-benar akrab. Setidaknya bisa dinilai dari foto yang dia tunjukkan.

__ADS_1


"Awalnya gue tanpa sengaja ketemu sama Dion saat dia nyasar ke base camp gue. Di sebuah bangunan tua bekas ruko yang tidak jadi dibangun. Banyaknya semak belukar yang menutupi bangunan itu membuat gue berpikir, mustahil orang lain menemukan keberadaan gue di sana. Jadi tempat itu menjadi base camp sekaligus tempat pelarian gue saat bolos.


Tiba-tiba suatu hari Dion nyasar ke sana dan kami menjadi akrab. Awalnya Dion hanya berbicara soal hobinya yang sangat suka melukis. Namun, lama kelamaan dia tanpa sengaja membocorkan tentang sahabat masa kecilnya. Nama sahabatnya itu Riodra. Dia orang yang bawel dan banyak merepotkan Dion."


Gagas menelan ludahnya sebentar, mengatur napas. Kemudian melanjutkan ceritanya. "Nama temannya itu Riodra, dia tahu banyak tentang Dion daripada gue maupun lu. Dion pun mengakuinya. Jika lu mau tahu latar belakang Dion dan di mana keluarganya, temui Riodra. Mungkin dia bisa banyak membantu lu."


Tak ada suara setelah itu. Gagas yang tiba-tiba bangkit dari duduk sontak membuat Ruri terkejut.


"Lu mau ke mana?" tanya Ruri.


"Pergi. Urusan gue sama lu sudah selesai, sekarang tinggal urusan gue sama Alita."


Ruri langsung mencekal kuat pergelangan tangan Gagas. Sorot mata penuh ambisi mereka saling bertemu. Laki-laki berjas maron tersebut menepis kasar tangan Ruri, seraya meringis.


"Udah nggak ada lagi urusan gue sama lu!" Suara Gagas meninggi.


Napas Ruri memburu, matanya membelalak mendengar itu dari mulut Gagas. "Lu cuma bilang nama dia Riodra. Informasi sampah macam apa itu? Lu nggak kasih tahu gue di mana Riodra tinggal, gimana gue mau ketemu sama dia, Bego!" Bibirnya bergemetar.


Gadis bermata empat tersebut menganga, bibirnya perlahan memucat melihat kepergian Gagas. Hatinya memanas, kemudian menjalar ke bola matanya. Pandangannya memburam, air mata membendung di sana. Tubuhnya gemetar.


"Sialan. Gue dijebak! Sekarang gue udah ngorbanin Alita hanya untuk informasi sampah seperti ini?"


Ruri melepas kacamatanya yang berembun. Dia benar-benar ceroboh. Kabut kegelisahan di pikirannya mengenai Dion membuat dia lupa sedang berhadapan dengan siapa. Laki-laki licik seperti Gagas menang dua langkah di depannya.


Suara klakson mobil di dekatnya nyaris membuat es cream yang berada di tangannya terlempar. Dia yang tengah dilanda kabut kegelisahan seketika kaget mendapati sebuah mobil sedan hitam yang tiba-tiba saja datang menghampirinya.


Kaca mobil terbuka. Menampakkan sosok yang sangat familier di matanya.


"Apa yang kamu lakukan di sini, Ruri?" tanya Roland seraya meneliti penampilan anaknya.


Ruri ditimpa sial bertubi-tubi. Setelah dia ditipu dengan informasi sampah dari Gagas, kini orang pertama yang melihat kondisinya yang tengah kacau adalah papanya.


"Beli es cream," balas Ruri seraya melirik es cream di tangannya.

__ADS_1


"Kenapa tidak dihabiskan. Sekarang es cream-nya sudah menjadi air, Kacamata manis."


Pupil mata Ruri membelalak mendengar suara berat seorang laki-laki memanggilnya 'Kacamata manis' setahu Ruri hanya ada satu laki-laki yang selalu memanggilnya begitu. Yaitu Dion.


Netranya beralih menatap ke arah kursi penumpang dari mobil sedan hitam di depannya. Seorang laki-laki menyembulkan kepala dari jendela, menatapnya sambil tersenyum lebar.


Wajah Ruri mendadak lesu mendapati ternyata Vikram yang telah memanggilnya.


Dia mengabaikan ucapan Vikram. Wajahnya berpaling arah menatap papanya. "Papa pergi saja. Sebentar lagi Ruri menyusul," jawabnya lesu.


Kaca mobil kembali dinaikkan. Mobil sedan berwarna hitam tersebut berlalu dari hadapannya. Ruri melangkah gontai, perlahan meninggalkan lokasi.


"Kamu berani, ya, menggoda Ruri di depan ayahnya."


Arkais yang tengah menyetir bersuara, dia melirik spion depan mobil yang memantulkan wajah Vikram dengan jelas.


Vikram cengengesan mendapati ejekan dari pembimbingnya.


"Kamu jangan macam-macam sama anak saya, Vikram. Nanti statusmu sebagai mahasiswa magang saya cabut dan saya turunkan menjadi mahasiswa kembali. Mau?" balas Roland dengan nada bercanda.


Arkais tertawa mengejeknya. "Turunkan saja, Roland. Siswa magang dengan niat setengah-tengah seperti dia pantas mendapat hukuman!" timpalnya.


Suara tawanya dengan Roland saling sahut-menyahut hingga mereka sampai di parkiran kosong.


***


Setelah melarikan diri dari Ruri, Gagas berhenti sebentar di depan pos satpam. Mengatur napas, menyeka keringat di kening dan memperbaiki jas yang dia kenakan.


Sebelum pergi menemui Alita, tidak lupa dia kembali menyemprot parfum ke tubuhnya.


"Hai, Alita."


Gagas berdiri di samping kursi yang Alita duduki. Pupil mata gadis tersebut membesar saat pandangan mereka bertemu.

__ADS_1


__ADS_2