
"Apa yang kalian lakukan di sini?"
Suara seorang wanita mencairkan suasana tegang di antara mereka. Ruri menoleh, mengulas senyum pada wanita tersebut. Dia adalah suster Hana.
"Tadi kami menjenguk Dion. Tapi kunjungan kami telah selesai dan akan segera pulang," balas Ruri setelahnya.
Suster Hana meneliti wajah ke empat remaja di hadapannya, bola matanya menangkap kesedihan di wajah mereka, kecuali laki-laki yang terdapat perban di ubun-ubunnya. Suster Hana menatapnya lama.
Kagami dibuat salah tingkah.
"Segeralah pulang. Setelah ini dokter akan datang untuk pemeriksaan."
Suster Hana berlalu setelah mengatakannya. Ruri tergesa-gesa menuntun temannya pergi ke tempat lain. Pembicaraan mereka belum selesai.
Matahari masih berada di puncak kepala. Keempat remaja itu pergi ke taman rumah sakit, memilih meja yang berada di bawah pohon besar. Suasana sejuk dan angin sepoi yang berlalu-lalang di sana membuat pikiran tenang.
Walau suasana tidak lagi semencekam tadi, tetapi Mirai terus saja memperlihatkan tubuhnya mengigil. Entah apa yang dia takutkan.
"Ceritakan semuanya, Mirai. Lu udah lihat foto Dion yang gue tunjukkan. Kemudian lu juga udah lihat Dion yang terbaring lemah itu. Tidak salah lagi, jika benar maka dia adalah Dion yang sama, yang pernah lu kenal di masa lalu."
Ruri memulai pembicaraan. Gadis berambut pendek itu menelan ludah. Tenggorokannya terasa sangat kering.
Mirai anak yang pemalu serta pendiam. Dia tidak pandai bergaul. Di dalam kelas dia senantiasa diam dan tidak akan berbicara jika tidak diajak bicara duluan.
Hingga suatu kejadian mempertemukannya dengan Dion.
Sewaktu dia masih kelas satu SD, usianya baru tujuh tahun. Mirai tidak sengaja berpas-pasan dengan Rera dalam perjalanan menuju kelas. Saat itu mereka berada di taman sekolah, suasana sekitar lengang karena para murid sudah berbondong menuju kelas masing-masing.
__ADS_1
Rera mendorong tubuh Mirai hingga terjerembap. Tidak ada alasan kenapa dia melakukan itu, Rera hanya senang dengan perbuatannya. Dia suka mendengar suara Mirai memohon ampun padanya.
"Sakit ... ampuni aku," lirih Mirai kala itu saat rambutnya ditarik oleh Rera.
Rera tertawa. Ketidak berdayaan orang adalah hiburan baginya. Namun, nasib Rera berakhir naas. Dia tidak tahu jika sedari tadi di belakangnya seorang laki-laki berdiri di sana. Laki-laki itu hanya diam memperhatikan, sampai tindakan Rera dinilai keterlaluan.
"Apa yang kamu lakukan? Mau aku lapor ke kepala sekolah?"
Bibir Rera langsung memucat mendengar ancaman itu. Ditambah tatapan dingin laki-laki tersebut membuat nyalinya ciut. Rera berlalu dengan tergesa-gesa, meninggalkan Dion dan Mirai.
Mirai menyeka air mata, segera memperbaiki rambutnya. Tak lupa dia berterima kasih kepada Dion, tetapi laki-laki itu sangat dingin. Dia hanya diam dan tak membalas ucapan terima kasih Mirai.
Sejak hari itu Mirai melihat Dion sebagai sosok pahlawan di matanya. Walau laki-laki itu sangat cuek, tapi Mirai tau jika dia adalah orang yang baik.
Dia mulai akrab dengan Dion setelah kelas dua SD, saat seorang murid baru yang pencicilan menjadi teman mereka.
Cerita singkat itu ditanggapi serius oleh Ruri. Sekarang, gadis berkacamata itu tahu hal yang menjanggal hatinya selama saat ini.
Pertama soal tatapan Mirai. Dia tidak asing dengan tatapan itu karena sewaktu SMP tanpa sengaja dia melihat sebuah foto mencuat dari buku tulis Dion. Itu adalah foto bersama Dion dengan teman seangkatan SD-nya. Foto itu telah rusak, lambang dan nama sekolahnya saja tidak bisa Ruri lihat dengan jelas. Namun, satu hal yang Ruri tahu, dia dalam foto hanya ada satu potret anak yang terlihat jelas olehnya. Tatapan anak itu sungguh sayu, seolah baru selesai menangis hingga menarik perhatiannya, dan anak pemilik tatapan itulah yang bernama Mirai. Seseorang yang dia temui beberapa tahu setelahnya. Mana mungkin Ruri lupa, tatapan sayu itu adalah ciri khas Mirai.
Kemudian hal lain yang mengusik Ruri adalah saat mereka selesai dihukum oleh Pak Reswara setelah berkelahi dengan Tirta. Ruri dan Mirai saat itu dalam perjalanan menuju kelas dan selama perjalanan karena jengkel Ruri mencak-mencak tak berhenti. Mirai bilang jika Ruri terlihat seperti Rera, yang suka mengentakkan kaki. Gadis berkacamata itu menemukan keraguan di sana, bagaimana Mirai bisa berkata demikian padahal dia baru bertemu dengan Rera saat pertama kali pindah SMA? Dan sekarang Ruri tahu jawabannya. Ternyata mereka dulu seangkatan sewaktu SD dan dendam lama Rera pada Mirai masih berlanjut ketika mereka kembali bertemu di SMA. Maka dari itu Rera sangat bersemangat, seolah mendapat kesempatan kedua untuk membuli Mirai dan di waktu bersamaan dia merasa sangat jengkel karena rencananya dihancurkan oleh Ruri.
"Lalu, apa yang membuat tubuh lu menggigil tidak berhenti seperti ini?"
Walau Mirai sudah menceritakan tentang Dion, tetapi badannya tidak berhenti menggigil. Hal ini mengundang curiga, saat Ruri menggenggam tangannya, jemari Mirai terasa begitu dingin. Seolah dia sedang menggenggam batu es.
"Aku hanya ketakutan melihat wajah Dion dibalut perban seperti itu. Aku jadi teringat jasad kedua orang tuaku. Mereka dibalut perban di sekujur tubuh karena mendapat luka bakar delapan puluh persen di seluruh badan," jelas Mirai dengan bola mata resah.
__ADS_1
Alis Ruri bertaut. Penjelasan Mirai menimbulkan pertanyaan lain di benaknya. 'Jenazah mereka mendapat luka bakar? Berarti itu bukan kecelakaan biasa.'
Ini bukan waktu yang tepat menanyakan hal itu. Jadi Ruri menyimpan rasa penasarannya bersamaan dengan Kagami mengubah arah pembicaraan mereka.
"Begitu, ya, jadi apa hasil obrolan kamu dengan Gagas waktu itu, Ruri? Kamu janji akan mengatakannya saat aku sudah sembuh, kan?" Kagami menagih janji yang pernah Ruri ucapkan beberapa waktu lalu.
Semua pasang mata tertuju padanya. Ruri menghela napas berat.
"Gagas bilang jika Dion punya teman bernama Riodra. Dan dialah satu-satunya orang yang pernah ke rumah Dion. Entah bagaimana rincinya, tapi Gagas hanya mengatakan supaya kita mencari Riodra." Ruri bersandar di kursi taman.
Alita menatap intens wajah gadis berkacamata di depannya. "Jadi, kalau seperti itu informasinya. Berarti kamu kenal dengan seseorang bernama Riodra ini, Mirai?"
Tebakan Alita tepat sasaran. Rasa takut di wajah Mirai langsung hilang setelah mendengarnya. Matanya perlahan dipenuhi kehidupan. Dia ingat sekarang. Riodra adalah anak pindahan yang menjadi teman mereka setelah menginjak kelas dua SD. Gadis itu pencicilan dan susah diatur, tak heran jika dia bisa pergi ke rumah Dion entah bagaimana caranya.
"Aku mengenalnya. Aku ingat wajah dan alamat rumahnya. Jika memang benar dia bisa menuntun kita ke keluarga Dion, lalu setelahnya Dion bisa sadar dari koma. Ayo kita ke rumah dia, secepatnya!" tegas Mirai.
Ruri terkekeh kecil. "Gue harap semua ini berjalan lancar seperti itu. Tapi kalian harus ingat satu hal, jangan tergesa-gesa hanya karena kita sudah tau petunjuk menuju Riodra. Saat libur semester tiba ... kita pergi menemui gadis yang bernama Riodra ini!"
Ketiga temannya langsung menyetujui rencana Ruri. Benar yang gadis itu katakan, tergesa-gesa hanya akan menuntun mereka pada sesuatu yang tidak akan terduga nantinya
"Ditambah satu syarat lainnya. Lu nggak boleh menambah luka di tubuh lu."
Ruri mendelik menatap Mirai, gadis itu langsung merapatkan poninya yang sempat berserakan. Dia bergeming.
"Pikiran kami masih sama, Mirai. Kamu boleh menceritakan apa pun yang kamu sembunyikan, maka kami akan membantumu sebisa mungkin. Jika kamu sudah siap untuk jujur pada kami, hingga tidak ada rahasia lagi di antara kita. Kami tidak memaksanya. Karena kamu teman kami dan itu hak kamu untuk bicara."
Ucapan Kagami barusan bagikan batu besar yang mencoba menerobos mulutnya. Dia ingin sekali mengatakan apa yang dia sembunyikan selama ini, tapi dia pikir jika ini bukan waktu yang tepat. Mereka harus fokus mencari Riodra dan menyembuhkan Dion. Hanya itu yang mengisi hati Mirai sekarang.
__ADS_1