
Mendengar namanya dipanggil, Pita berjingkrak senang karena teman yang pernah dia temui waktu di sanggar masih mengingatnya, bahkan sekarang mereka bertamu ke rumahnya.
"Kalian tahu rumah aku dari siapa?"
Ruri, Alita dan Kagami masih mematung, mencerna baik-baik keadaan ini. Yang akan mereka temui adalah Riodra, tetapi kenapa Pita yang keluar? Apakah mereka salah rumah?
"Jadi, kalian saling kenal?" Mirai masuk dalam percakapan, dia menatap lekat teman lamanya itu. "Kamu masih mengingatku, Riodra?"
Tunggu dulu, Ruri tak salah dengar, kan? Orang yang di depan mereka ini dipanggil Riodra oleh Mirai? Jadi, sebenarnya mereka tak tersesat karena Riodra dan Pita adalah orang yang sama atau mata mereka berhalusinasi tinggi sekarang.
Pita menerka gadis berambut pendek yang baru saja berbicara dengannya. Dipindainya keseluruhan wajah gadis itu, hingga dia sadar dan kenangan lama di antara mereka perlahan menyapu wajah. Pita merentangkan tangan, memeluk Mirai dengan erat. Pertemuan haru mereka disertai derai air mata.
"Bagaimana aku bisa melupakanmu. Kamu sahabat kecilku!" Suara Pita bergetar.
Temu haru mereka tak ingin diganggu oleh siapa pun. Ruri dan kedua teman lainnya hanya diam memerhatikan. Karena potongan rambut mereka serupa, mereka terlihat seperti kembar yang sudah berpisah lama.
Pita mempersilakan mereka masuk. Duduk di ruang tamu selagi dia pergi membuat teh. Suasana di dalam rumahnya sangat sejuk, terlebih lagi Kagami samar-samar mendengar alunan musik lembut di sekeliling mereka.
"Sanjaya Loka Noa. Musisi terkenal itu ayah pita, jadi tak heran atmosfer di dalam rumah ini terasa seperti alunan musik yang menenangkan." Kagami mengedar sekitar, memerhatikan ruang tamu bernuansa lama itu lebih dalam.
"Gue nggak menyangka kalau Pita dan Riodra itu orang yang sama!"
Ruri jengkel setelah mendengar penjelasan Mirai barusan. Dia, Kagami dan Alita sama-sama tidak tahu nama lengkap Pita, dan sekarang mereka baru tahu gadis itu memiliki nama tiga suku kata yang tidak dia sebut saat di sanggar. Yaitu, Puspitalia Riodra Noa.
"Aku masih terguncang. Mengingat bagaimana sikap Pita pada Kagami, pasti Dion juga merasa tersiksa seperti itu." Alita berkata dengan nada lesu, tatapan matanya menerawang meja kayu di depannya.
"Aku minta maaf karena tidak menyebutkan nama lengkap Riodra pada kalian. Kupikir itu bukan hal yang penting," ungkap Mirai.
__ADS_1
Pita datang membawa empat gelas teh manis, meletakkan minuman itu di meja lalu duduk di sebelah Kagami. Dengan genitnya dia beraksi tanpa tahu malu, duduk di kursi yang sama dengan Kagami padahal kursi itu diciptakan untuk diduduki oleh satu orang. Kagami sesak dan beralih duduk di sebelah Alita. Kursi panjang yang gadis itu duduki masih banyak kosongnya.
Pita mencebik melihatnya. "Kalian datang ke sini mau ketemu aku? Pasti kamu rindu sama aku, Kagami. Mau ketemu orang tuaku? Mau belajar main musik sama ayahku?" cecarnya.
Pita tak banyak berubah di mata Mirai selain poninya yang semakin panjang. Dia ikut merasa malu melihat sikap Pita pada Kagami barusan.
"Tidak, Pita. Kami ke sini ingin membahas soal Dion," sambar Mirai.
Kesal di wajah Pita terhempas ketika mendengar nama itu. Matanya berbinar. "Dion? Di mana dia sekarang? Aku rindu banget sama dia. Kira-kita dia mau nggak jadi pacar aku, ya?"
"Dion sudah empat tahun lebih koma." Ruri menyela tanpa basa-basi.
Pertemuan mereka dikejar oleh waktu, nanti sore pukul empat Kagami dan Alita harus pulang untuk masuk kerja, perjalanan mereka pun sangat panjang. Jadi, Ruri tak mau menghabiskan banyak waktu di sini. Dia akan menjelaskan semuanya kepada Pita sekarang.
"Koma? Apa maksud kalian?" Suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca.
Empat tahun yang lalu saat masih duduk di kelas 1 SMP, Ruri mengikuti lomba cerdas cermat secara mendadak karena menggantikan peserta yang tiba-tiba sakit dan terpaksa dirawat. Ruri mendapat perhatian lebih saat itu karena dia mengikuti lomba dengan persiapan minim, tetapi pertanyaan yang dilayangkan juri sebagian besar dijawab olehnya. Setelah lomba selesai dia menjadi bincangan banyak murid dan guru, kepintarannya diakui ditambah lagi dia ternyata anak dari seorang pengacara terkenal. Ruri naik daun, namanya benar-benar populer. Dia mulai dikagumi banyak laki-laki, tetapi hanya satu yang berhasil bertahan dengan sikapnya.
Ruri dan kedua peserta cerdas cermat lainnya berdiri di podium, menatap barisan murid yang baru selesai melaksanakan upacara pagi. Selempang juara 1 dan sebuah piala diserahkan, mereka berfoto dengan para guru dan tak lupa juga berbagai ucapan selamat dilayangkan.
Mereka mengikuti lomba cerdas cermat antar sekolah dan berhasil membawa juara satu dalam perlombaan. Banyak yang membicarakan jika hasil itu berkat Ruri yang berhasil menjawab banyak pertanyaan dari juri.
Dari balik barisan murid yang melihat mereka, ada pemilik sepasang mata yang langsung jatuh hati pada Ruri saat itu. Laki-laki tersebut terpesona dengan Ruri sampai tidak sadar bahwa barisan kelasnya sudah dibubarkan.
"Dion! Lu lihatin apa?"
Laki-laki yang dipanggil itu terkejut, menatap tangan yang kini bergelayut di bahunya. Pemilik tangan itu adalah Emir, teman sekelasnya.
__ADS_1
"Tidak. Aku hanya bengong tadi," kilahnya tanpa mengalih perhatian dari Ruri, mengikuti gerak gadis itu sampai punggungnya menghilang di balik tembok kelas.
Ruri duduk di kelas 1A sedangkan Dion di kelas 1B. Untuk pergi ke kelasnya Dion harus melewati kelas Ruri terlebih dahulu, jadi dia memanfaatkan kesempatan itu sesekali melirik ke dalam kelas 1A, mencari tempat duduk Ruri. Kalau jam istirahat tiba dia sengaja menghabiskan waktu di dalam kelasĀ lebih lama karena diri sana dia bisa melihat Ruri melewati kelasnya saat pergi menuju kantin. Tanpa Dion sadari rasa penasarannya akan Ruri semakin besar, karena bosan hanya melihat dari kejauhan, Dion memantapkan diri untuk berbicara dengan gadis kacamata pujaannya.
Pada suatu hari Ruri berjalan seraya memeluk buku, sebelum melewati kelasnya Dion terlebih dahulu mengambil ancang-ancang di ambang pintu, dan ketika Ruri lewat di sengaja berdehem. Percobaannya gagal, jangankan menoleh melirik saja Ruri enggan.
Beberapa hari setelahnya Dion dilanda putus asa, dia hanya berani melihat dari dalam kelas ketika Ruri lewat sambil memeluk buku lagi untuk beberapa waktu. Namun, rasa penasarannya justru semakin besar setelah itu. Walau tak ada harapan mendapat cinta gadis itu, mencari tahu ke mana sebenarnya Ruri melangkah sambil memeluk buku-buku itu mungkin sudah cukup baginya.
Dion pun membuntuti Ruri dari jarak yang cukup dekat. Gadis itu melewati kerumunan murid dengan cekatan, melangkah jauh hingga sampai ke perpustakaan. Dion tidak berani masuk, cukup membuntuti Ruri sampai depan perpustakaan saja sudah cukup baginya.
Dia menghela napas, bergumam sendiri. "Perpustakaan, ya. Pantesan pintar, mainannya buku-buku terus. Kira-kira dia belajar kali ini untuk apa, ya? Jangan-jangan dia mau ikut olimpiade? Kalau gitu, aku bisa melihat senyum manisnya di atas podium sekali lagi."
Lama Dion berdiri di sana. Setelah dirasa cukup, laki-laki itu berbalik. Namun, dia nyaris terjungkal karena kaget melihat dua remaja di belakangnya. Jarak mereka dengan dirinya sangat dekat, belum lagi tatapan tajam yang mereka layangkan membuat Dion serba salah.
"Ada perlu apa?" tanya Dion pada gadis kucir kuda dengan laki-laki berdahi lebam di depannya.
Saking fokusnya mengikuti Ruri, Dion sampai tidak menyadari bahwa dia juga diikuti.
"Apa maksud lu ngikutin, Ruri? Jangan macam-macam, ya!" Kagami langsung menarik kerah baju Dion dengan murka.
Dion memelas, membela diri. "Tidak, kalian salah paham," ungkapnya cepat.
"Aku penasaran ke mana Ruri pergi dengan buku-buku di tangannya. Karena itu aku mengikuti dia," tambahnya menjelaskan.
Cekaman Kagami perlahan mengendur. "Dia ke perpustakaan. Sikap kamu tadi benar-benar mencurigakan, makanya kami ikutin."
"Ternyata kamu orang baik, ya!" Alita tertawa melihat wajah Dion meminta iba.
__ADS_1
Dion merasa canggung, tiba-tiba saja dua remaja yang bahkan tidak dia kenal menginterogasinya sedalam ini. Apakah mereka fans Ruri? Atau ... mereka punya hubungan yang lebih dari itu? Dion tidak tahu.