Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Balas Dendam Rera


__ADS_3

Sosok Ruri terlukis di pikirannya. Mirai tersedu-sedu, menatap langit-langit toilet. "Tolong ... aku ... Dion. Apa yang harus aku lakukan saat ini ...."


Mirai melirihkan nama seseorang yang muncul di benaknya beriringan dengan wajah Ruri terlukis di sana. Entah kenapa, sosok Ruri di mata Mirai, mengingatkan kepada Dion, sosok yang selalu membantunya waktu kecil.


***


Yuki, Ambar dan Sisil menggotong tubuh Alita membawanya ke gudang. Lalu mengikat tubuh gadis yang tak sadarkan diri itu menggunakan tali tambang, serta mulutnya ditutup dengan lakban, begitu juga dengan matanya. Setelah menyandarkan Alita ke dinding, Rera melempar sebuah surat seraya tertawa bangga.


"Rasain lu, Sialan! Ini peringatan dari gue, supaya lu jauhin Kagami! Cowok setampan dia hanya boleh dimiliki oleh gue!" tegas Rera seraya berkacak pinggang, menatap gadis tak berdaya di hadapannya.


Kemudian mereka menyusun meja bekas yang berada di gudang, menutup akses jalan menuju ke arah Alita hingga tubuhnya tak terlihat dari luar gudang. Siapa pun yang hendak menolongnya, butuh ketelitian untuk menyadari hal tersebut.


Rera berdiri di ambang pintu, lalu melempar asal botol kecil yang berisi cairan kloroform di sana, diikuti dengan sapu tangan yang digunakan tadi.


"Bagus juga ide lu," puji Rera seraya melirik ke arah Yuki.


Saat perbuatan Rera yang tengah membuli Alita tempo hari digagalkan oleh Ruri, gadis itu mendapat sebuah ide hebat dari Yuki.


"Kalian kenapa diam aja. Bantu gue mikirin rencana supaya Ruri nggak gangguin gue lagi!" seru Rera saat itu.


Rera cs tengah berada di gudang sekolah, tempat yang selalu mereka gunakan untuk bolos saat pelajaran berlangsung.


Yuki masih bersandar di dinding. Gadis berambut keriting itu membuka suara, "Gue punya rencana!"


"Bazar sekolah akan diadakan beberapa hari lagi. Saat itu, murid, guru dan tentunya Ruri pasti akan sangat sibuk selama bazar berlangsung. Kita gunakan kesempatan itu untuk menyekap Alita di sini. Biarkan gadis itu tersiksa dalam ketidakberdayaannya lalu buat surat ancaman supaya dia jera!" Sorot mata Yuki dipenuhi ambisi.


Rera menyengir mendengar rencana gila tersebut. "Boleh juga ide lu. Nggak ada yang lebih menyakitkan daripada disiksa saat tidak berdaya!"


***

__ADS_1


Ruri akhirnya bisa beristirahat dari tugasnya sebentar. Untuk mengisi waktu, gadis itu menghampir beberapa stan makanan dan membelinya. Saat sedang antre, telinganya tidak sengaja mendengar sebuah obrolan.


"Aku nggak tahu korbannya kali ini siapa, tapi Rera cs memang nggak ada ampun saat membuli siswa!" seru salah seorang gadis yang tengah mengantre di stan tersebut, dia berdiri di sebelah Ruri.


"Kamu juga lihatkan, gadis itu digotong entah mau dibawa ke mana. Ngeri banget, Rera benar-benar kejam!" sahut gadis lainnya seraya mengedikkan bahu.


Ruri berlalu dari stan tersebut. Kemudian di dalam keramaian bazar, gadis itu mematung. "Siapa korban Rera kali ini? Entah firasat gue benar atau cuma kebetulan saja, gue mikir tadi jika gadis itu sedang membuli murid lain sekarang ... ternyata benar."


Lamunan Ruri seketika menghilang, ketika seseorang menabrak bahunya dengan sangat kuat. Tubuhnya hampir ambruk jika kakinya tidak cepat menahan berat badannya. Gadis itu berbalik, melihat Rera yang saat ini tengah menyeringai ke arahnya.


"Ups ... Maaf, ya, gue sengaja!" Suara Rera terdengar penuh penekanan.


Ruri memperbaiki letak kacamatanya selagi memperhatikan Rera yang perlahan menjauh. Gadis itu mencium sesuatu yang aneh di tubuh Rera. Rasanya seperti sebuah cairan yang tidak asing di ingatannya.


Ada ke ganjalan yang harus dia cari tahu. Ruri celingak-celinguk di sana, lalu pandangannya berhenti pada seseorang.


Ruri menghampiri. "Lu lihat Kagami atau Alita?" tanya gadis itu kepada rekan sekelasnya. Murid tersebut menggeleng.


"Tadi aku lihat mereka duduk di depan kelas."


Setelah mengetahui jawabannya, gadis itu berlari menuju ke kelasnya. Terlihat Kagami duduk di sana sendirian, deguk jantung Ruri tiba-tiba berdetak semakin kencang. Ketakutan semakin menyapanya.


"Kagami!" Ruri mengatur napas. "Ke mana Alita dan Mirai?" tanyanya sesampai di sana.


Kagami terkejut melihat Ruri tiba di sana dengan sangat tergesa-gesa. Dia meneliti penampilan Ruri sebelum menjawab pertanyaan yang dilayangkan kepadanya. "Mereka tadi ke toilet," jawab Kagami santai.


Ruri menepuk jidatnya frustrasi. "Kenapa nggak lu susul, sih!" Gadis tersebut langsung berlari menuju toilet.


"Mereka ke toilet cewek. Yang ada aku dikatain aneh-aneh kalau ngikutin mereka!" seru Kagami, berlari mengikuti Ruri.

__ADS_1


Mata Ruri membelalak mendapati pintu toilet digedor dari dalam. Gadis itu segera membuka pintu tersebut lalu matanya menangkap Mirai dengan wajah sembab, terkulai lemas di lantai. Karena sudah terlalu lama menangis, suaranya serak dengan air mata yang sudah mengering.


Mata Mirai berbinar melihat siapa yang barusan membuka pintu toilet. Gadis itu kembali menangis, seraya merangkak ke arah Ruri dan Kagami yang tengah terkejut.


"Mirai? Kamu kenapa?" tanya Kagami.


Ruri langsung masuk ke dalam toilet. Memeriksa satu per satu bilik yang berada di sana. Pandangannya mengedar tidak mendapati Alita di mana pun.


"Di mana Alita?"


Sorot mata tajam yang Ruri layangkan dibalas dengan tatapan sendu yang semakin menjadi-jadi. Dengan suara serak dan bibir gemetar, gadis yang masih merangkak di lantai itu menjawab.


"A–Alita pi–ping–san di–ba–wa Re–ra."


Rasanya berat Mirai mengatakan hal tersebut. Hanya satu kalimat yang mampu dia ucap, selanjutnya isak tangis gadis berambut pendek sebahu itu semakin menjadi-jadi.


Kagami dan Ruri terkejut mendengarnya. Dengan emosi menyelubungi hati, Ruri berjongkok di depan Mirai, mengangkat wajah gadis itu untuk menengadah menatapnya. "Jelasin, Mirai! Katakan di mana Alita sekarang!"


"Aku tahu kamu khawatir, Ruri. Tetapi kamu jangan sakiti Mirai seperti itu. Dia juga khawatir sekarang." Kagami dengan kepala dingin menjauhkan tangan Ruri dari dagu Mirai.


"Aku nggak tahu mereka ke mana. Yang jelas Alita dibawa sama mereka." Mirai menggeleng dengan suara serak.


Mata Ruri membesar dengan sorot tajam penuh emosi. Giginya bergemeletuk dengan tangan dikepal. "Sial! Rera sialan!" rutuknya seraya meninju lantai.


Kagami mondar-mandir memikirkan tempat yang kemungkinan besar dikunjungi Rera saat ini.


"Tempat yang sangat sepi. Jauh dari jangkauan orang-orang. Tempat untuk meluapkan emosi ... mungkin saja ... gudang!" Kagami berpikir keras.


Sorot mata mereka bertiga beradu satu sama lain. Perlahan tempat menyeramkan dan penuh debu itu terbayang di pikiran.

__ADS_1


"Gue rasa lu benar, Kagami!" Ruri bangkit lalu berlari ke arah gudang.


Kagami dan Mirai tidak ketinggalan. Mereka menyeimbangkan langkah dengan Ruri. Tempat yang penuh barang rongsokan itu menjadi tujuan mereka saat ini.


__ADS_2