Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Pundak Yang Lebar


__ADS_3

Empat tahun yang lalu, beberapa jam sebelum kecelakaan maut merenggut nyawa Maganta dan istrinya, Roland telah melakukan perjalanan keluar kota untuk menemui kliennya.


Perjalanan panjang menggunakan kereta api dan taksi menghabiskan waktu enam jam, baru dirinya sampai di sebuah hotel mewah tempatnya menginap.


Tubuhnya sangat letih kala itu, kelopak matanya terasa semakin berat. Namun, ponsel yang tiba-tiba saja berdering mengalih perhatiannya. Tertera nama Arkais Vagara yang memanggilnya.


[Halo.] kata Roland saat panggilan diangkat.


Terdengar seseorang di seberang sana menghela napas berat.


[Roland. Maganta dan istrinya mengalami kecelakaan dan mereka tewas di tempat]


Tidak ada basa-basi di percakapan mereka, berita yang Roland terima malam itu bak pedang tajam yang menusuk tepat di jantungnya. Rasanya waktu di sekitar berhenti cukup lama, dia sampai lupa untuk bernapas saking terkejutnya.


Tanpa menghiraukan barang bawaannya, Roland bergegas keluar hotel dan memanggil taksi untuk kembali menaiki kereta api, pulang ke kota kelahirannya.


Enam jam perjalanan panjang kembali dia jalani. Seolah tak ada jeda di langkah kakinya, pria tersebut bergegas pergi ke rumah Maganta yang ternyata sudah ramai dikunjungi pelayat.


Napas Roland terengah-engah, dia menyapa Arkais yang ternyata menunggu kedatangannya di teras.


"Apa yang terjadi?"


Arkais melirik jam tangan yang dia kenakan. "Tidak ada yang tahu. Semua terjadi begitu cepat." Matanya melirik ke arah peti jenazah yang berada di dalam rumah.


"Mayatnya akan dikubur besok pagi." Arkais melanjutkan.


Bibir Roland membeku menatap dua peti jenazah di depannya. Di depan benda tersebut, terdapat seorang gadis kecil tengah menangis di pelukan Selsi, istri Hendro–temannya.


"Saya turut bela sungkawa," kata Roland menghampiri Selsi.


Dengan mata yang sudah sangat memerah, Selsi mengangguk lemah.


"Terima kasih."


Roland menatap peti jenazah itu sekali lagi, kemudian ekor matanya melirik ke arah gadis kecil yang terlihat seusia dengan Ruri. Gadis tersebut menangis hingga suaranya menghilang. Tangan kecilnya terus memeluk Selsi semakin erat. Hati Roland terengkuh membayangkan rasa sakit yang gadis itu rasakan.

__ADS_1


"Mirai, ya? Anak Maganta?" tanya Roland kembali.


Ini pertama kalinya Roland bertemu dengan anak temannya, Maganta. Biasanya dia hanya mendengar cerita dari temannya jika mereka memiliki anak yang sangat pemalu.


Sebuah tangan meraih bahunya, Roland menoleh kemudian berdiri di depan pria paruh baya tersebut. "Dia Mirai, anak Maganta." Hendro membalas pertanyaan Roland.


Hendro menarik Roland dan Arkais, mereka berbicara di tempat yang cukup sepi. Di sana Hendro menceritakan kronologi kecelakaan yang dialami Maganta sesuai dengan laporan polisi di lokasi kejadian.


Pandangan Roland memburam, tatkala air mata membendung di sana. Hatinya kembali pedih ketika mengingat perkataan Hendro kala itu.


"Dari rekaman CCTV yang berada paling dekat di tempat kejadian, terlihat dari jauh mobil yang Maganta bawa kehilangan kendali. Kemudian, mereka menabrak sebuah taksi dari arah berlawanan tepat di depan kafe shop fresh. CCTV di depan kafe merekam tabrakan dua kendaraan tersebut sebelum bunyi ledakan besar memecah kesunyian malam.


Mobil Maganta meledak dan terbakar dalam sekejap. Kemudian api yang berasal dari mobilnya merambat ke taksi yang Dion tumpangi. Semuanya tewas, kecuali Dion yang sempat terpental jauh sebelum ledakan besar terjadi. Namun, dirinya tetap mengalami cedera yang cukup serius dan koma hingga sekarang."


Roland memijit keningnya. "Hanya itu yang pihak polisi katakan kepada pihak keluarga Maganta. Kedua korban dirugikan, membuat kasus ditutup tanpa menyelidikinya lebih lanjut." Dia menarik napas sebentar, kemudian menatap wajah istrinya. "Papa tidak bisa menerimanya, Ma. Pasti ada dalang di balik kejadian ini. Mustahil Maganta kehilangan kendali mobilnya tanpa alasan."


Setelah menyempatkan diri datang ke rumah Maganta untuk melayat. Pagi-pagi sekali Roland kembali melakukan perjalanan keluar kota, mengejar kereta pertama yang berangkat hari itu. Seminggu setelah urusannya selesai, saat dia kembali lagi kasus Maganta sudah menjadi abu. Tidak ada sedikit pun jejak yang bisa dia telusuri.


Roland berjalan terombang-ambing memikirkan dirinya yang dirasa sangat tidak berguna. Ditambah fakta lain mengejutkannya. Ternyata taksi yang ditabrak oleh Maganta adalah kendaraan yang sedang Dion–teman Ruri–tumpangi. Hatinya perlahan hancur, melihat pedih yang Ruri ungkapkan padanya kala itu.


Syanala terdiam mendengar suaminya kembali mengungkit kisah kelam yang masih berkabut di ingatan.


Wanita paruh baya tersebut menyandarkan kepala ke bahu kekar suaminya. "Bahu laki-laki jauh lebih lebar daripada bahu seorang wanita. Karena laki-laki memiliki tanggung jawab yang jauh lebih berat yang harus dia pikul daripada seorang wanita. Mama benar nggak, Pa?"


Roland menelan ludahnya yang terasa sangat kental. "Iya. Karena kami adalah pemimpi keluarga."


Masih belum bergerak dari posisi, Syanala kembali bersuara. "Tapi papa seharusnya paham satu hal, tidak semua masalah bisa papa gendong di satu waktu. Sekali-kali, biarkan bibir papa tersenyum seperti biasanya."


"Papa bukan robot. Bahkan robot saja memiliki batas kemampuannya," lanjut Syanala menambahkan.


Kening Roland berkedut mendengarnya. "Maksud, Mama?"


"Di waktu bersamaan papa memikirkan permintaan Febriante mengenai anak laki-laki yang dia temui di pinggir pantai sepuluh tahun lalu. Kemudian, papa juga memikirkan kasus kematian Maganta yang menurut papa belum selesai empat tahun silam. Di waktu bersamaan juga papa berusaha bersikap baik-baik saja dan berupaya supaya menyelesaikan semua itu sehingga Ruri kita yang manja kembali seperti dulu. Lalu menjadi sosok ayah sekaligus pengacara yang baik. Apakah boleh serakus ini, Pa?"


Mata Roland meneduh mendengar paparan istrinya. Apa yang Syanala katakan tidak salah. Semuanya benar, Roland menanggung semua itu sendirian. Dia tidak bisa menolak permintaan orang lain apalagi itu menyangkut teman dan keluarganya.

__ADS_1


"Jika benar papa tidak bisa menolaknya, coba Papa fokus pada satu hal dulu. Maka hal baik pasti akan mengikuti Papa setelah itu."


Hati Roland menghangat mendengar saran dari istrinya. Ditatapnya wajah cantik nan lembut Syanala, sorot mata wanita tersebut tengah berbinar melihat ke arahnya. "Fokus pada satu hal?"


Syanala mengangguk. "Benar. Coba selesaikan kasus yang paling dekat. Cari tahu apa yang membuat anak Maganta mendapat kekerasan fisik. Dekati Ruri, mereka berteman, kan?"


Sudut bibir Roland terangkat mendengarnya. Pemikiran istrinya selalu menjadi obat ketika dia lelah dan putus asa. Benar-benar sosok malaikat yang dia dapatkan sebagai pendamping hidup.


Roland mengusap surai panjang istrinya. "Terima kasih sarannya, Ma."


***


Pagi hari saat sarapan, Ruri melihat kursi di depannya kosong tanpa penghuni. Biasanya sosok papanya selalu duduk di sana saat makan.


"Di mana papa, Ma?"


Syanala menelan makanan di dalam mulutnya. "Masih tidur, siang nanti baru dia pergi menemui klien," jawabnya, "papa kamu kelelahan, kemarin dia minum kopi," lanjutnya kembali.


"Papa selalu saja ceroboh. Kayak anak-anak."


Ruri mempercepat sarapannya. Pak Miko telah menunggunya di mobil.


Tiga puluh menit perjalanan menuju sekolah telah dilewati, saat kakinya hendak melangkah melewati gerbang sekolah, sebuah suara memanggilnya. Ruri menoleh, matanya beradu dengan Mirai yang tengah melambaikan tangan ke arahnya.


Mirai masih berdiri di sebelah mobilnya. Setelah Ruri mendekat, seseorang yang berada di dalam mobil keluar, bersamaan dengan sorot mata mereka yang beradu.


Pria paruh baya di depannya meneliti penampilan Ruri sejenak, sebelum dia bersuara. "Ruri Nagemi, ya?"


Gadis bermata empat itu melirik ke arah Mirai, gadis tersebut tersenyum. Ruri menyimpulkan jika Mirai telah bercerita banyak tentangnya pada pria tersebut.


"Ini paman dan bibik aku. Mereka sudah memberiku izin untuk datang ke pesta pernikahan bibimu." Saat mengatakannya, Mirai tersenyum lebar hingga menampakkan sederet gigi.


"Tolong jaga Mirai, ya. Sampaikan salamku kepada Roland," kata Hendro kemudian.


Ruri bersorak kegirangan di dalam hati. Rencananya sudah berjalan sedikit maju sekarang.

__ADS_1


__ADS_2