
[Semoga urusanmu lancar, ya, Mirai. Kalau begitu kami pergi duluan.]
Kagami mengetik pesan balasan kepada Mirai, setelah itu dia menyalakan sepeda motor bebeknya untuk pergi menjemput Alita.
Alita saat ini tengah berdiri di depan gang sempit menuju rumahnya, di sana dia menunggu kedatangan Kagami. Tidak berselang lama, seseorang yang dia tunggu pun tiba.
"Selamat datang, Tuan Putri. Aku datang menjemputmu," kata Kagami mencoba menciptakan suasana romantis di antara mereka.
Alita terbahak-bahak mendengarnya. "Jika ingin menjemput tuan putri, datanglah menggunakan seekor elang!"
Setelah menjeput Alita, kini Kagami melajukan sepeda motornya menuju rumah Ruri. Titik kumpul yang sudah mereka sepakati bersama-sama.
"Emmm, Alita. Kamu, ya, yang tarok duit di saku motorku?" Kagami bersuara.
"Iya, buat kamu isi bensin. Kalau aku kasih ke kamu, kamunya nggak mau ambil, jadinya aku kasih aja ke sepeda motormu." Alita terkekeh kecil. "Terima kasih sudah banyak membantu aku, Kagami. Aku jadi sungkan jika lama-lama numpang terus sama kamu." Nada bicaranya terdengar kecewa.
"Alita, dengar, ya. Aku nggak pernah merasa keberatan. Jika aku nggak suka, maka aku nggak akan melakukannya. Jadi, jangan sungkan. Aku ini temanmu, loh." Kagami melirik kaca spion, di sana dia bisa melihat wajah manis Alita dengan jelas.
Ruri mondar-mandir di depan gerbang rumahnya. Tangannya menggenggam ponsel seerat mungkin, sorot matanya menampakkan kegelisahan di sana.
Matanya berbinar ketika Kagami dan Alita terlihat di pelupuk mata. Gadis tersebut melambaikan tangan ke arah temannya.
"Kalian dapat pesan dari Mirai?" tanya Ruri setelah kedua temannya itu berada di dekatnya.
Alita turun dari sepeda motor Kagami, "Ponsel aku mati, jadi aku nggak tahu. Emangnya Mirai kenapa? Dia belum datang?"
"Dia bilang nggak bisa datang. Aku rasa aneh aja, soalnya dia terlihat sangat antusias dengan rencana ini," jawab Kagami sambil meletak sepeda motornya di halaman rumah Ruri.
"Yaudah, kita langsung pergi aja. Karena perjalanannya sangat jauh," ajak Ruri sesegera mungkin.
Mobil mewah berwarna hitam miliknya melaju memecah keramaian. Mereka bertiga duduk di kursi belakang dengan Alita yang berada di tengah. Gadis kucir kuda itu langsung memakan camilan ketika mobil telah bergerak dari posisi awal.
__ADS_1
Ruri menatap keluar jendela mobil, kemudian manik matanya beralih menatap kedua temannya yang duduk di samping dirinya.
"Kalian merasa aneh nggak sama Mirai?" Pertanyaan Ruri memecah keheningan di antara mereka.
Alita mengangguk antusias. Begitu juga dengan Kagami.
"Aku merasa aneh sejak hari kedua dia bersekolah. Kalau kamu, Ruri, apa yang membuatmu berfirasat begitu?" Kagami balik bertanya.
Ruri melepas kacamatanya, kemudian mengusap sudut matanya yang sedikit berair. "Dari awal dia masuk sekolah, gue sudah merasa tidak familier dengan tatapan matanya. Seolah-olah gue pernah bertemu dia di suatu tempat, tapi di mana, gitu?" Ruri menarik napas. "Mirai terlihat seperti menyembunyikan sesuatu," lanjutnya menjelaskan.
Kagami membuang napas dengan gusar. "Aku pernah lihat luka lebam di sikunya pada suatu hari. Ketika aku bertanya penyebab luka tersebut, dia malah ketakutan tanpa sebab." Mata Kagami meneduh.
"Bukan hanya itu. Setiap hari, Mirai selalu memiliki luka baru di tubuhnya. Entah itu di kaki, tangan, punggung atau bagian lain. Aku tahu itu, karena aku selalu melihatnya dari dekat," timpal Alita, kemudian membuka camilan lain yang dia punya.
"Kapan-kapan kita tanya langsung sama dia. Sebenarnya, apa yang dia sembunyikan selama ini. Setelah mendengar bahwa orang tua dia tewas di sebuah kecelakaan empat tahun lalu ... entah kenapa sejak mengetahui hal tersebut, gue merasa Mirai adalah bagian lain dari diri gue." Mata Ruri menunduk sendu. "Entahlah, gue nggak bisa kalau membicarakan masa lalu."
Alita memeluk Ruri, mengusap punggung gadis tersebut ketika manik mata milik gadis bermata empat itu terlihat berkaca-kaca. Sedangkan Kagami beralih menatap keluar jendela, kesedihan juga ikut terpancar di raut wajahnya.
***
Mirai tersenyum seraya mengeratkan pegangan pada tas sandang miliknya. Pak Danu sudah berjanji akan mengantarnya ke rumah Ruri setelah dia selesai membersihkan kebun. Jadi, gadis tersebut duduk di teras memperhatikan Pak Danu dari sana. Jantungnya terus berdegup karena sudah tidak sabar untuk pergi ke sanggar bersama teman-temannya.
Dia melirik jam digital yang melingkar di pergelangan tangannya, menunjukkan pukul sepuluh pagi. Sesuai kesepakatan, mereka akan berangkat pukul setengah sebelah, jadi masih ada waktu tiga puluh menit sebelum mereka berangkat.
Pak Danu sudah selesai membersihkan kebun, pria tua tersebut datang menghampiri Mirai, tetapi langkahnya terhenti setelah melihat seorang wanita muda berkacak pinggang berdiri tepat di belakang majikan kecilnya.
"Lu mau ke mana?"
Suara Rachel terdengar penuh penekanan. Tubuh Mirai tiba-tiba saja bergemetar. Ponsel baru yang dia pegang, hampir saja jatuh jika dia tidak menggenggamnya langsung. Mirai berbalik arah, menatap wanita berambut pirang di hadapannya.
"Ke rumah teman," jawabnya pelan, tapi jelas terdengar.
__ADS_1
Rachel menghela napas kasar. Tangannya langsung menjambak rambut Mirai tanpa ampun, menyeretnya hingga ke ruang tamu. Kepala Mirai membentur ujung meja yang berada di ruang tamu, ketika Rachel mendorongnya sekuat mungkin di sana.
Mirai menangis sesenggukan, seraya memegang jidat yang terasa ada benjolan di sana. Rambunya sudah terlihat seperti singa.
Pak Danu tidak tega melihatnya, tetapi dia juga tidak memiliki kekuatan untuk melawan Rachel dan Aras. Dia hanya bisa berdoa untuk keselamatan majikan kecilnya dan menghiburnya di kala sedih.
"Lu setrika baju sana! Terus jangan lupa pel kamar gue!" sergah Rachel di depan Mirai yang tengah terisak.
Tanpa berlama lagi, Mirai perlahan beranjak dari sana. Tubuhnya bergemetar sepanjang jalan menuju kamar dengan air mata berderai. Kepalanya mulai terasa sakit, sekuat tenaga gadis itu mencoba untuk tetap mempertahankan kesadarannya.
Sesampainya di kamar, dia langsung melempar tas sandangnya ke kasur, kemudian jemarinya bergemetar mengetik pesan untuk dikirimkan kepada teman-temannya.
[Maaf. Aku nggak bisa ikut ke sanggar karena ada urusan mendadak. Sekali lagi maaf, ya, kalian bersenang-senanglah tanpa aku.]
Tidak lupa Mirai membubuhkan emot senyum di akhir pesannya. Tidak lama kemudian ponselnya berdenting. Bibirnya tersenyum kecut, dia semakin terisak membaca pesan balasan dari Kagami.
[Semoga urusanmu lancar, ya, Mirai. Kalau begitu kami pergi duluan.]
***
Ruri, Alita dan Kagami sudah cukup bosan duduk lama di dalam Mobil. Camilan yang mereka bawa tinggal sedikit dan perut mereka kekenyangan saat ini.
Perjalanan yang mereka tempuh sudah cukup lama, hingga sekarang mereka memasuki jalan besar yang hanya dikelilingi pepohonan di kiri kanan jalan. Udara sejuk menerpa mereka. Ruri langsung membuka jendela mobil, menghirup oksigen yang terasa bersih seolah berada di perkampungan.
"Eh, kita kayak di kampung. Masih jauh lagi sanggarnya?" Alita membelalak memperhatikan banyaknya pepohonan hijau yang tumbuh lebat di sepanjang jalan.
"Kalau menurut map yang gue baca tinggal sedikit lagi. Mungkin sekitar delapan atau sepuluh menit lagi," jawab Ruri sambil melihat ke arah ponsel miliknya.
Kagami yang semula diam, tiba-tiba antusias, "Hei! Lihat itu," katanya sambil menunjuk ke arah yang dia maksudkan.
Terlihat sebuah baliho besar tertancap di samping jalan. Tulisan yang berada di sana membuat sudut bibir ketiga remaja tersebut terangkat ketika membacanya.
__ADS_1
[Selamat Datang Ke Sanggar Musik Arka Jaya]