
Setelah bel pulang berbunyi, Kagami dengan tidak sabaran menarik Ruri menuju mobil gadis itu yang kini telah menunggu di depan gerbang.
Sejak di kelas tadi, Ruri hanya diam sembari menyeimbangkan langkah dengan Kagami yang tengah menyeretnya. Dia terlihat biasa saja, padahal hatinya menggebu-gebu menahan emosi.
Ruri terduduk di kursi penumpang dengan Kagami senyum-senyum sendiri di sebelahnya.
"Pak, kita ke dealer terdekat," perintah Ruri.
Sang sopir mengangguk, kemudian mobil tersebut berlalu dari sana membawa mereka ke tempat yang dituju.
Sejak mereka memasuki mobil, Ruri tidak berbicara dengan Kagami. Merasa suasana canggung tercipta di sana, Kagami melirik ke arah gadis yang berada di sebelahnya. Tatapan tajam dengan mata melotot didapatkan olehnya. Ruri terlihat seperti singa yang siap menerkam mangsa.
"Lu pikir tangan gue tali tambang apa? Main tarik-tarik aja!" sergah Ruri kemudian melayangkan dua buah pukulan ke kepala Kagami, laki-laki itu meringis.
Beberapa hari yang lalu saat Kagami tengah bermain ular tangga dengan Alita, dia sempat meminta Mirai menggantikan posisinya sebentar karena ingin membicarakan suatu hal yang penting dengan Ruri.
Gadis berkacamata itu dibawanya hingga ke ujung koridor. Setelah dirasa aman, barulah Kagami mengutarakan maksudnya di sana.
"Aku mau minta tolong sama kamu, Ruri," katanya seraya mengatur napas, "tabunganku sudah cukup, jadi aku mau membeli sepeda motor," lanjutnya menjelaskan.
Ruri melirik ke arah pintu kelasnya yang terlihat kecil dari tempat dia berdiri saat ini. "Gue pikir lu mau ngomong in apa tadi, ternyata ini?" jawabnya seraya memperbaiki letak kacamata, "jadi, apa yang bisa gue tolong?" tambahnya.
Kagami menatap Ruri lekat dengan sorot mata berbinar. Bibirnya tersenyum lebar kemudian menjawab, "Anterin aku ke dealer. Kapan pun waktunya tidak apa-apa. Asalkan permintaanku ini nggak ganggu kegiatan kamu."
Ruri menaikkan sebelah alisnya. "Terus, gimana dengan Alita? Dia ikut juga? Kalian biasanyakan sering pergi kerja sama-sama."
Kagami mengaruk tengkuk yang dirasa tidak gatal, "Aku ingin memberi kejutan sama dia. Jadi, untuk itu dia tidak boleh tahu soal ini. Tolong rahasiakan, ya," mohon Kagami.
Gadis berkacamata di hadapannya mengangguk, "Oke jika itu keputusanmu. Dua hari dari sekarang, gue anterin lu ke dealer."
Ruri menyetujui permintaannya, Kagami bersorak senang di dalam hati.
Hari yang dinanti-nanti Kagami telah tiba. Saking tidak sabarnya dia sampai tidak bisa tidur nyenyak malam tadi karena memikirkan hari ini.
Setelah Ruri puas meluapkan emosinya, kedua remaja yang berada di sana saling diam dengan sorot mata sibuk menatap jalanan. Tiba-tiba saja Kagami bersuara, memecah keheningan di antara mereka.
"Ruri. Apa benar Gagas itu sepupu kamu?"
__ADS_1
Gadis yang ditanya berdehem sebagai jawaban.
"Aku mau jujur sama kamu. Sebenarnya Gagas numpahin kapucino ke aku bukan karena minumannya kurang manis, tetapi karena dia nggak terima aku tegur setelah memotret Alita secara diam-diam."
Sorot mata Kagami beralih menatap Ruri yang kini melayangkan tatapan tajam ke arahnya.
"Jadi, aku punya rencana mau hancurin ponsel Gagas, jika dia tetap mengotot tidak mau menghapus foto Alita di ponselnya. Dia kurang ajar banget, mana mungkin aku diam saja melihat temanku digituin." Kagami menelan ludah, matanya beralih menatap ke depan. "Walau kamu menghentikan dan memperingatiku bahwa Gagas adalah orang yang berbahaya. Tetapi aku nggak akan goyah, Ruri. Aku akan tetap melakukannya."
Mata Ruri melebar mendengar penuturan Kagami. Tidak terbesit keraguan dari kata-kata yang dia ucapkan. "Kagami ...," lirih gadis itu.
Kagami menoleh ke arahnya, pandangan mereka bertemu. Ruri mencari kebohongan di bola mata laki-laki itu, tetapi nihil yang didapatkan. Kali ini Ruri percaya jika temannya tersebut bersungguh-sungguh.
"Lu udah mikirin konsekuensi yang lain dari rencana lu?"
Pertanyaan Ruri membuat kening Kagami berkerut. Dia tidak memikirkan hingga sejauh itu.
"Bagaimana perasaan Alita jika tahu lu lakuin sejauh itu hanya untuk dia? Apa lu pikir Alita bakal berteriak seraya menangis haru untuk lu?"
Kagami terdiam. "Terus aku harus bagaimana, Ruri? Aku nggak tahu gimana lagi buat bikin Gagas jera. Laki-laki gila seperti dia butuh ditampar sekeras mungkin biar sadar!" suara laki-laki itu meninggi.
"Setidaknya libatkan gue di dalam rencana lu!" balas Ruri dengan cepat.
"Libatkan gue. Biar gue bantu lu, Kagami." Ruri mengulang ucapannya.
Kagami terdiam dengan badan yang tiba-tiba kaku. "Kamu seriusan, Ruri, mau bantu aku. Bukannya kamu sendiri yang bilang jika Gagas adalah orang berbahaya yang harus dihindari?"
Ruri menggeleng. "Justru karena itu gue nggak mau biarin lu melawan orang yang berbahaya sendirian. Jadi, kapan rencana itu akan dimulai?"
"Aku nggak tahu kapan. Yang jelas, saat ada kesempatan kita hancurin ponsel dia!" seru Kagami bersemangat.
Mereka melakukan high-five di udara. Kedua remaja itu benar-benar telah menyusun rencana pembalasan yang cukup gila untuk menyerang Gagas.
Pandangan Ruri tiba-tiba saja meneduh. Gadis itu tertunduk sebentar. "Lu baik banget jadi orang. Padahal lu sendiri juga butuh bantuan, Kagami. Lu mau sampai mati lupa ingatan tanpa tahu siapa diri lu sebenarnya?"
Perkataan Ruri membuat ambisi di mata Kagami menguap seketika. Laki-laki itu beralih menatap jalanan dengan sorot mata sendu. "Aku membantu orang lain demi kebaikan diriku juga, Ruri. Entah dari kejadian kecil mana nantinya ingatanku akan kembali," jelas Kagami dengan nada lembut.
"Gue harap suatu hari nanti lu dapat ingatan lu kembali."
__ADS_1
***
Alita turun dari motor Gagas setelah mereka sampai di depan kafe. Sebelum pergi dari sana, Alita menyempatkan diri berterima kasih kepada laki-laki berjas hitam yang telah mengantarkannya.
Gagas seolah melarang Alita untuk segera pergi. Dia menarik tangan gadis itu hingga membuatnya terkejut
"Maaf, ada apa, Gagas?" katanya seraya memberontak, tetapi Gagas tidak kunjung melepas genggamannya.
"Boleh minta nomor ponsel kamu?" tanya Gagas seraya memperhatikan penampilan Alita dari ujung kaki hingga ke ujung rambut gadis itu.
Alita tidak nyaman. Dia kembali memberontak, tetapi Gagas malah semakin mempererat genggamannya. "Biar kuambil ponsel dulu. Soalnya aku tidak ingat nomor ponselku," katanya beralasan.
Gagas perlahan melepas genggaman tangannya. Gadis yang berada di hadapannya buru-buru merogoh tas sekolah yang dia sandang. Kemudian, sebuah ponsel butut diangkatnya ke udara. "Maaf, Gagas. Ponselku mati. Lain kali aja, boleh?" Alita tersenyum kecut.
Laki-laki di hadapannya memicingkan mata. "Iya. Weekend nanti kita jadi jalan?" Gagas mengingat kembali ajakannya beberapa hari yang lalu.
Tatapan mengintimidasi yang Gagas layangkan membuat jantung Alita berdetak dua kali lebih cepat sekarang. Gadis itu menghembus napas pelan untuk menetralkan gelisahnya. "Mungkin nanti aku kasih kamu jawabannya." Alita tersenyum lebar hingga menampakkan sederet gigi miliknya.
Gagas melepas helm yang dia kenakan. Kemudian meletakkannya secara kasar di jok belakang. Alita tersentak mendengar suara keras yang laki-laki itu buat.
"Terus, nantinya itu kapan?" tanya Gagas dengan nada malas.
Aliya kehabisan akal. Gadis itu meremas seragam sekolah yang dia gunakan. Hingga kehadiran seseorang yang tidak dia duga menyelamatkannya.
Suaka berlari menghampiri dengan napas terengah-engah. "Kak Alita. Pak Gunawan mencari kakak!" seru Suaka langsung menarik tangan seniornya tanpa menunggu persetujuan.
Alita yang kaget pun mengikuti langkah cepat Suaka dari belakang. "Maaf, Gagas! Lain kali, ya!" Dia melambai ke arah Gagas yang saat ini menggerutu kesal karena Alita terus saja memberinya alasan yang tidak jelas.
"Cih! Sialan emang!" geramnya seraya menyambar helm lalu pergi dari sana.
Setelah dirasa jauh dari Gagas. Suaka mengintai keberadaan laki-laki itu sebentar. Mereka saat ini berdiri di pintu belakang kafe, seraya mengatur napas.
"Cepat, Suaka. Kata kamu Pak Gunawan manggil kakak? Di mana dia?" Alita gelisah.
"Tenang, Kak Alita, tidak ada yang manggil kakak, kok," jelas Suaka dengan suara pelan.
"Maksud kamu?"
__ADS_1
"Kakak harus menjauh dari laki-laki tadi. Dia itu orang yang berbahaya!"