
Bukan cinta. Rasa yang Gagas miliki pada Alita hanya sekadar obsesi belaka yang berlindung di balik kata jatuh cinta pada pandangan pertama.
Seiring berjalannya waktu, obsesi dia kepada Alita semakin bertambah. Mulai dari memanfaatkan Tirta menjadi CCTV-nya. Hingga dia tahu banyak yang berkaitan tentang Alita, terkecuali Kagami yang ternyata menjadi tembok besar untuknya.
Dia yang semula sangat percaya diri jika Alita akan menerimanya hari ini dan menjadi sepasang kekasih nantinya, harus menelan pil pahit dari ekspetasi yang terlalu tinggi. Siapa menyangka, laki-laki kaya, tampan dan royal seperti dirinya mendapat penolakan mentah dari seorang gadis miskin.
Gagas yang terlanjur patah hati tidak bisa menerimanya. Emosinya memuncak, seketika membuat mata dan pikiran berkabut. Dia tidak peduli bagaimana pun caranya, Alita harus tetap menjadi miliknya yang sudah terlanjur malu mengungkapkan perasaan. Jika tidak bisa, membunuh adalah salah satu jalan yang terlintas di benaknya. Menurut Gagas, harga dirinya jauh lebih penting dari nyawa seseorang.
Mata Gagas perlahan terbuka, menatap langit yang hampir gelap. Matahari sebentar lagi akan tenggelam, sementara sorak-sorai para tamu undangan semakin keras menggema. Saat kedua mempelai sedang melakukan acara potong kue, di sebelah rumah, Gagas saat ini berensot pelan menyandarkan tubuhnya ke dinding.
Jas yang dia kenakan semula berwarna maron kini telah berubah menjadi warna hitam karena banyaknya tanah yang menempel di sana. Rambut yang semula tersisir rapi mengembang ke udara. Luka lebam di wajah membuat penampilannya terlihat semakin kacau. Darah di wajahnya yang tadi mengucur, sekarang sudah kering. Gagas meringis saat tangannya menyentuh luka yang berada di sana.
Dua sudut bibirnya robek, tulang pipinya bengkak dan membiru. Tanpa melihat cermin, Gagas tahu bahwa butuh waktu lama untuk menyembuhkannya.
Napasnya memberat, walau tidak bisa bersuara, tetapi di dalam hati dia masih bisa memaki Kagami.
'Sialan! Lu nggak akan hidup tenang mulai sekarang.'
Tangannya bergerak memungut serpihan ponselnya di tanah.
***
Kagami berlari menyisiri lorong rumah sakit menuju ruangan tempat Alita dirawat setelah diberitahu oleh Ruri. Didorongnya daun pintu ruangan tersebut dengan napas terengah-engah. Lalu berjalan ke sebelah Ruri.
"Bagaimana kondisi Alita?"
Ruri dan Mirai saling diam memandang Alita terbaring di depan mereka. Gadis tersebut memakai infus di tangan kiri, lecet di bagian kaki dan wajah sudah diperban. Make up tipis di mukanya belum sepenuhnya menghilang. Penampilannya teramat kacau.
Tangan Mirai bergerak menyentuh dahi Alita, bukan untuk menyeka keringat yang berada di sana, tetapi merasakan suhu tubuh gadis tersebut.
"Tidak ada luka parah yang Alita alami. Tetapi suhu tubuhnya tinggi dan belum turun sejak tadi," balas Mirai seraya melirik Kagami.
Kagami sedikit lega mendengarnya. Hanya sedikit, sorot matanya teduh masih menyirat penyesalan. Kakinya melangkah memutar ranjang pasien, lalu berdiri di sebelah kiri Alita. Menatap gadis tersebut lebih intens.
"Apa yang terjadi, Kagami?" tanya Ruri dengan nada datar. Matanya tidak beranjak menatap wajah Alita sedari tadi.
__ADS_1
Sejak masuk rumah sakit hingga pengobatan Alita selesai, Ruri tidak pernah bersuara lagi. Keheningan di antara dia dan Mirai baru hilang setelah Kagami hadir di tengah-tengah mereka.
"Aku tidak tahu. Sesampainya aku di sana, Gagas terlihat sudah menginjak kedua kaki Alita dan mencekam rahangnya." Kagami mencekam tepian ranjang saat mengatakannya, tubuhnya mendadak gemetar. "Aku terlambat. Jika saja aku lebih cepat, pasti semua ini tidak akan terjadi," ungkapnya sedih.
Beberapa saat setelah penjelasan Kagami suasana di antara mereka menegang. Ketiga remaja tersebut berdebat di pikiran masing-masing.
Ruri sangat percaya diri dengan rencana rahasia yang dia rancang untuk melindungi Alita. Namun, siapa sangka kunci dari rencananya–Kagami–ternyata lalai dalam melaksanakan tugas. Ruri belum mengetahuinya secara pasti, tetapi terbesit kekesalannya pada Kagami. Kenapa laki-laki tersebut bisa terlambat mengekori gerak-gerik Gagas?
Mirai tidak bisa berkata banyak. Tidak ada yang bisa disanggah maupun dia jawab sekarang. Karena dia mengikuti rencana dari Ruri tanpa tahu akar permasalahan mereka. Mirai hanya diminta menunggu di dalam mobil bersama Pak Miko, sampai Ruri memberi aba-aba dan menyuruh mereka standby di depan rumah bibinya. Itu saja, tidak lebih.
Andai waktu bisa diulang, paling tidak hanya beberapa jam saja sebelum kejadian. Kagami ingin menyelamatkan Alita jauh lebih cepat dari sebelumnya.
Dipandanginya Ruri yang masih membisu. Mulut Kagami bergerak. "Kenapa kamu diam, Ruri? Bukankah semua ini idemu?"
Suara Kagami menghempas kecamuk di pikirannya. Ruri menatap nyalang ke arah Kagami. Dia tidak suka nada bicara laki-laki tersebut yang terdengar menyepelekannya. "Gue harus berkomentar apa? Lu sendiri bagaimana bisa terlambat datang membantu Alita, ha?"
Ruri tersulut emosi. Dia berdiri cepat lalu melotot tajam ke arah laki-laki di depannya.
"Kamu nyalahin aku? Semua ide gila ini berasal dari kamu! Jangan seenaknya lempar tanggung jawab!" Kagami masih membela diri.
Suara mereka menggema memenuhi ruangan tempat Alita dirawat. Mirai berkeringat dingin menatap kedua temannya saling adu mulut. Dia belum pernah melihat pemandangan seperti ini sebelumnya.
"He–hentikan. Jangan berkelahi. Kita, kan teman." Mirai mencoba menengahi, tapi belum banyak dia bisa bertindak, dua pasang mata sinis langsung menikam jantungnya. Gadis tersebut gemetaran menahan takut.
"Ayaaah ...!"
Alita tiba-tiba mengingau dalam tidurnya. Kagami dan Ruri sontak terkejut sebelum wajah mereka berubah sendu. Sedangkan Mirai kebingungan memperhatikannya.
"Alita ... maafkan gue!"
Ruri memegang tangan Alita, mencium punggung tangan gadis tersebut dengan mata yang tiba-tiba basah. Dia terisak dalam diam.
Kagami membuang wajah ke arah lain. Pemandangan di depannya sungguh menyayat hati.
Tampak wajah Alita yang semula diam mulai dibasahi lebih banyak keringat. Bibirnya terus melontarkan kata 'ayah' sedari tadi. Kagami dan Ruri sudah lama mengenal Alita, mereka tahu apa yang gadis tersebut lihat di dalam mimpinya.
__ADS_1
Bagi Alita, cinta pertama dan hatinya hanya milik ayahnya. Tidak ada laki-laki lain yang bisa menggantikan posisi ayah di hatinya.
Sewaktu masih SD, setiap hari libur Alita suka membantu ayahnya berjualan sayur di pasar. Gadis kecil tersebut selalu mendorong gerobak sayur tatkala mereka pulang dari kerja.
Di sepanjang perjalanan pulang, ayahnya selalu menceritakan cerita lucu kepadanya. Hal itulah yang membentuk pribadi periang Alita.
Dia selalu tertawa setiap saat, tidak peduli bahwa sebenarnya kondisi ekonomi mereka melarat. Itulah penilaian Alita tentang sosok ayahnya.
"Alita, karena kamu anak pertama, tidak peduli kamu laki-laki ataupun perempuan, kamu harus bisa menjadi teladan baik bagi adik-adikmu, ya. Lindungi dan jauhkan mereka dari bahaya. Kamu paham?" Nasihat Karjo–ayah Alita–setiap harinya.
Sebenarnya Alita muak mendengar kalimat yang sama dari mulut ayahnya, tetapi dia tidak pernah menampakkan raut bosan. Bibirnya selalu tersungging serta kedua mata mulai menyipit. Tidak peduli berapa kali ayahnya mengatakan hal yang sama, Alita selalu tersenyum menanggapinya.
"Ayah, jika sudah besar nanti aku ingin jadi apa, ya? Apakah aku boleh menjadi seperti ayah?" tanya Alita kecil di sepanjang jalan pulang.
Karjo melirik anaknya sebentar. Disekanya keringat di dahi Alita. "Jangan jadi seperti ayah. Kalau bisa, kamu harus lebih tinggi lagi dari ayah. Jika ayah seorang penjual sayur, maka kamu harus menjadi seorang usahawan kaya yang memiliki pabrik sayur nantinya, mengolah sayur menjadi berbagai macam masakan atau apa pun itu yang penting harus lebih tinggi dari ayahmu," tuturnya panjang lebar.
Alita kecil tersenyum mendengarnya. Walau sebenarnya dia tidak tahu, apa maksud dari perkataan ayahnya.
Matahari semakin terik menikam kepala, sebentar lagi mereka sampai ke gang kecil menuju rumah. Namun, Karjo tiba-tiba berhenti melangkah, tangannya memegang perut. Wajahnya meringis kesakitan.
Walau dia tidak bersuara, tetapi Alita paham jika ayahnya sedang kesakitan sekarang. "Ayah, apa yang terjadi?" Hal seperti ini sudah sering Alita lihat akhir-akhir ini.
"Tidak apa-apa. Ayah kelaparan, sebentar lagi kita sampai ke rumah dan makan masakan ibumu," balas Karjo seraya tersenyum paksa.
Beberapa tahun setelahnya, saat Alita naik kelas dua SMP baru dia paham apa yang ayahnya katakan dan sembunyikan selama ini. Ayahnya menaruh harapan besar agar kelak anaknya bisa menjadi orang yang sukses tidak seperti dirinya. Maka dari itu, dia berbohong soal penyakitnya agar tidak membuat Alita khawatir.
Tanah kuburan ayahnya masih basah, Alita memeluk batu nisan di sana seerat mungkin. Sejak tadi belum ada yang bisa membuatnya menjauh dari situ.
"Pembohong! Ayah pembohong! Ayah pikir aku tidak tahu selama ini ayah berbohong? Mustahil ayah lapar dengan wajah meringis. Kenapa ayah bohong? Padahal aku sudah kelas dua SMP. Sebentar lagi aku akan bekerja dan uang kerjanya akan aku gunakan untuk pengobatan ayah. Kenapa, Yah? Kenapa ninggalin Alita secepat ini?!"
Gadis kucir kuda itu meraung semakin kuat, tangannya memukul dada yang semakin sesak.
"Ayaaah. Ayaaah ...!"
Di dalam mimpinya, Alita melihat sosok ayahnya dari kejauhan. Namun, tangan mungilnya tidak bisa menjangkau laki-laki tersebut.
__ADS_1
Matanya perlahan terbuka, pemandangan pertama yang dia lihat adalah wajah Ruri dan Kagami.