
Jantung Rera semakin tidak terkendali saat Kagami tersenyum ke arahnya. Rasanya gadis itu ingin pingsan di sana.
Ambar, Sisil dan Yuki menepi, mereka berdiri di pojok gudang membiarkan Kagami dan Rera berduaan saja.
Suasana di sana mendadak canggung, tidak ada yang memulai pembicaraan. Kagami masih diam, memperhatikan Rera yang berdiri di hadapannya.
Gadis dengan rambut terurai itu tidak bisa melihat mata Kagami sekarang, dia tertunduk menahan rasa bahagianya yang sudah meluap-luap. Sempat terlintas di pikiran Rera, jika sekarang Kagami akan menyatakan perasaannya.
'Aaa ...! Memikirkannya saja sudah membuatku ingin pingsan!' Rera membatin.
"Aku mau jujur soal perasaanku."
Kagami bersuara, Rera semakin salah tingkah dibuatnya. Sedangkan Tirta, semakin fokus menguping pembicaraan mereka.
"Terima kasih karena telah mencintaiku," kata Kagami.
Mendengar ucapan itu dari laki-laki yang dia cintai, Rera sudah seperti cacing kepanasan sekarang, rasanya ada sesuatu di dalam dirinya ingin meledak karena tidak kuat menampung bahagia yang dia rasakan sekarang.
Gigi Tirta bergemeletuk mendengarnya. Tangannya mengepal, "Ck! Kesaaal! Gue dilangkahi!"
"Aku akan berkata jujur sama kamu, Rera. Tolong perhatikan setiap kalimat yang aku ucap dan pahami maksud dari kalimat tersebut." Kagami menarik napas sebentar. "Terima kasih telah mencintaiku. Tapi kamu juga harus tahu bahwa sudah ada gadis lain yang bertakhta di relung hatiku ini."
Mata Rera melebar, tubuhnya mendadak berhenti gemetar. Gadis itu menengadah, menatap ke arah Kagami. Terlihat laki-laki di hadapannya tersenyum tipis di sana.
"Apa maksud kamu?" Rera masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
__ADS_1
"Aku mencintai orang lain. Sudah ada orang yang lebih tepat bertakhta di hati aku. Apakah itu tidak bisa kamu pahami?" jawab Kagami santai.
Mata Rera berkaca-kaca. Bibirnya bergemetar, "Terus, apa maksud kamu bawa aku ke sini? Apa maksud kamu bilang mau bicara berdua?" Suara Rera meninggi.
Kagami mundur satu langkah. "Please, Rera. Aku mohon sama kamu. Berhentilah mengejar cinta yang tidak akan kamu dapatkan. Aku sudah menautkan hatiku pada satu orang, aku tidak menginginkan cinta darimu maupun dari orang lain lagi."
"Siapa orang yang kamu maksud, Kagami?! Alita?" Suara Rera tersendat, bulir bening menetes deras dari matanya.
Ambar, Sisil dan Yuki membelalak di pojok gudang. Mereka terkejut Kagami mengatakan hal ini langsung kepada Rera. Mereka bisa membayangkan, betapa hancurnya hati Rera saat ini.
"Iya. Aku mencintai dia. Berjodoh atau tidak aku sama dia, itu urusan nanti. Yang penting sekarang aku ingin jujur sama kamu bahwa aku sudah mencintai orang lain, dan menutup hati untuk menerima siapa pun selain Alita." Sorot mata Kagami tegas memandang gadis di hadapannya.
"Alita tidak mencintaimu, Kagami! Kemarin dia berboncengan sama laki-laki lain. Bisa jadi itu pacarnya!" Rera masih belum mau kalah.
Jemari gadis itu mengutak-atik layar ponselnya. Lalu menunjukkan sebuah foto ke Kagami. "Lihat, kan? Alita nggak suka sama kamu. Dia cintanya sama orang ini. Jadi cintamu cuma bertepuk sebelah tangan, Kagami!"
"Berhenti mengganggu Alita, Rera! Aku mencintai dia, apakah itu sebuah kejahatan hingga Alita berhak menerima semua perlakuan kejam darimu? Dengan kamu menyekapnya beberapa hari lalu, dan meninggalkan sebuah surat ancaman untuknya. Apakah itu perbuatan yang pantas Alita dapatkan? Dia tidak salah apa-apa. Jika kamu ingin marah, marahlah sama aku yang telah mencintai dia!" tutur Kagami panjang lebar.
Rera semakin terisak, tangannya menutup mulut seraya menggeleng tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini. Hatinya terasa sangat sakit, mendengar hal tersebut dari orang yang sangat dia cintai.
"Aku berhak mencintai siapa pun. Apakah aku tidak pantas dicintai, Kagami?!" Mata sembab gadis itu menatap tajam ke arah Kagami.
Kagami menggeleng. "Tidak, Rera. Berhentilah memaksakan perasaan orang lain. Kamu tidak bisa memaksaku untuk mencintaimu. Dan kamu juga tidak berhak memaksa Alita untuk menjauh dariku." Kagami mengatur napasnya sebentar. "Berhentilah mengejar diriku. Saat ini ada orang yang lebih pantas dari pada aku yang mencintaimu, Rera." Mata laki-laki itu melirik ke arah jendela gudang.
Rera mengikuti arah lirikan Kagami, "Siapa yang kamu maksud? Tidak ada yang mencintaiku, Kagami. Karena itu aku mati-matian mengejar cintamu!" tegas Rera kembali.
__ADS_1
"Buka matamu, Rera! Seseorang itu selalu memperhatikanmu, walau kamu tidak melihatnya. Dia selalu berjuang untukmu, walau kamu mengabaikannya. Kamu berhak dicintai, tidak ada manusia yang terlahir untuk sendirian di dunia ini."
Mata Tirta berkaca-kaca mendengarnya. "Sial! Kagami sialan!" umpatnya seorang diri.
Di satu sisi Tirta menyesal karena telah menguping pembicaraan mereka, tetapi di sisi lainnya sudut bibirnya terangkat mendengar perkataan Kagami barusan. Bohong jika dia tidak bahagia mendengarnya.
Rera menghapus kasar air mata yang jatuh mengenai pipinya, "Siapa yang mencintaiku, Kagami? Nggak ada yang mencintai gadis bar-bar sepertiku. Aku juga ingin dicintai ...," lirihnya dengan pandangan menunduk.
"Saat ini mungkin ada orang yang mencintaimu karena kebaikan hatimu, Rera. Mungkin dia melihat sisi lain dari dirimu yang tidak kamu tunjukkan ke orang-orang."
Rera mengangkat kepalanya, memandang Kagami kembali.
"Gadis secantik kamu mustahil tidak dicintai. Buka matamu lebih lebar lagi, Rera. Cinta sejati yang selama ini kamu impikan sebenarnya ada di dekatmu." Kagami tersenyum tipis. "Terima kasih sudah meluangkan waktu mendengar ucapanku. Aku pamit, kamu berhak bahagia, Rera," pamit Kagami kemudian.
Sebelum berlalu dari sana, Kagami berhenti sebentar di depan gudang, melirik ke arah Tirta. Pandangan mereka bertemu. Kagami menaikkan sebelah alisnya, seolah mengisyaratkan jika tugasnya telah selesai. Sedangkan Tirta hanya diam tanpa ekspresi apa pun sebagai balasan.
Manik mata tegasnya terus mengikuti pergerakan Kagami, hingga punggung laki-laki tersebut menghilang di kelopak mata. Setelah itu baru Tirta beranjak dari posisi, sebelum ketahuan oleh Rera jika dia menguping pembicaraan mereka.
Rera ambruk di pelukan ketiga temannya yang ikut berkaca-kaca mendengar ucapan Kagami.
Awalnya ucapan Kagami sangat menyayat hati Rera, tetapi entah kenapa lama-kelamaan kejujuran yang Kagami katakan seakan melepas sesuatu yang mengikat hatinya.
Dalam isak tangisnya, Rera tersenyum lega sekaligus menyesal karena telah berbuat jahat kepada Alita.
***
__ADS_1
Di dalam toilet, Kagami berdiri di depan wastafel membasuh wajahnya berkali-kali di sana. Lengan kekar laki-laki itu menggenggam pinggiran wastafel semakin kuat, tatkala pandangannya terasa bergoyang. Sesuatu terasa seperti sedang menusuk kepalanya. Rasa sakitnya nyaris tidak tertahankan oleh Kagami. Sekuat tenaga laki-laki itu berusaha mempertahankan kesadarannya.
"Arrrgh! Apa ini, kenapa rasanya sakit sekali?!"