
Pagi pertama dilibur semester panjang telah bermula. Suasana kota tak sericuh biasanya, jalanan sedikit longgar karena pelajar yang biasanya menyesakkan jalan masih berkemul di pagi hari. Matahari timbul dari ufuk timur, menyinari lorong-lorong bumi. Kehangatannya menembus gorden kamar Ruri.
Selimut tebal Ruri ditarik paksa oleh Syanala, kaki yang merasa kedinginan lekas mencari kehangatan.
"Mama, ini hari libur. Biar Ruri tidur sebentar lagi," protesnya tak terima.
Syanala mengguncang bahu Ruri ketika anaknya kembali terlelap. "Mama tahu itu. Tapi Kagami dan Alita ada di bawah, katanya kalian ada temu janji jam delapan pagi."
Mendengarnya Ruri langsung beranjak dari tempat tidur, tergopoh-gopoh mencari handuk. Bagaimana bisa dia melupakan hari penting ini. Mereka akan pergi menemui Riodra sesuai rencana.
Setelah rapi mengenakan kaos biru muda dengan celana panjang berwarna denim, gadis berkacamata itu berlari menuju ruang tamu. Rambut panjang yang senantiasa terurai, beterbangan di sapu angin kala langkahnya semakin dipacu cepat menemui kedua teman yang sudah menunggu.
"Dasar kebo. Padahal dia yang paling bersemangat!" sindir Alita memerhati Ruri terengah-engah.
Ruri menyatu dua telapak tangannya. "Maaf, gue lupa."
Bising kendaraan tak memekak seperti biasanya. Angin pagi bertiup lembut menyapu wajah. Langit cerah seolah tersenyum pada mereka hari ini. Ruri terus melihat awan dalam perjalanan ke rumah Mirai. Di sana maniknya melihat lukisan senyum Dion seolah menjadi pertanda baik.
"Hari ini gue akan ketemu Riodra dan lu bakal sembuh, kan, Dion? Ingat, lu pernah bilang mau kasih sesuatu sama gue hari itu. Gue akan menagihnya nanti ketika lu membuka mata!" gumam Ruri bersemangat.
***
Mirai menunggu kedatangan teman-temannya dengan perasaan waswas. Di berdiri di depan gerbang, jauh dari pintu utama rumahnya. Namun, perasaannya diliput gelisah, merasa sepasang mata tajam terus melototnya sedari tadi.
Saat pergi tadi dia memang sempat bertemu Rachel, tak ada takut dan gelisah dia tunjukkan, kaki jenjangnya terus melangkah, melewati wanita berambut pirang itu dengan santai. Sikap yang Mirai tunjukkan membuat Rachel tidak bisa menahan diri lagi jika ini berlanjut lebih lama.
Mirai memahaminya. Dari empat pembantu di rumahnya, tak terkecuali Mbok Yuti, hanya Rachel yang terlihat paling membencinya. Dia tidak tahu mengapa, tetapi kebencian Rachel padanya lebih kentara dari siapa pun.
Pikiran buruknya menguap bersamaan sebuah sedan hitam berhenti di dekatnya.
Dia tersenyum mendapati Alita menyapa. Kepalanya menyembul dari jendela mobil.
"Mirai, selamat pagi. Apa kamu sudah lama menunggu?"
__ADS_1
Mirai menggeleng, lalu bergabung bersama mereka.
Sebelum mobil menyambung gerak yang semula terjeda, Mirai terlebih dahulu menyerahkan secarik kertas yang sudah dia gambar peta kasar menuju rumah Riodra. Harap-harap cemas hatinya, ternyata kertas tersebut diterima dengan baik oleh Pak Miko.
"Terakhir kali aku ke sana saat kelas 5 SD. Kurasa suasana di sana sudah banyak yang berubah, terlebih lagi aku tidak yakin apakah Riodra masih tinggal di sana," jelas Mirai wajahnya sendu.
Alita memberinya semangat. "Tidak usah pesimis seperti itu, Mirai. Perubahan jelas adanya, tapi soal dia masih ada di sana atau tidak itu nanti kita buktikan!"
"Nggak akan ada yang nyalahin lu. Dari awal ini semua karena ego gue sampai menyeret kalian hingga ke titik ini," timpal Ruri setelahnya mobil bergerak dari posisi.
Mereka tinggal di kota bagian pusat dan untuk sampai ke kota bagian lagi harus memakan waktu satu jam perjalanan.
Berbagai lagu diputar. Suara indah sang penyanyi menggema di dalam mobil yang begitu senggang. Tak ada obrolan di antara mereka. Kagami tertidur di sebelah Pak Miko, Alita termenung jauh memerhati jalanan, Mirai bermain game di ponsel sedangkan Ruri membaca novel. Sungguh perjalanan bosan yang menegangkan.
Mobil yang membawa mereka sudah memasuki kota bagian barat, terlebih dahulu Pak Miko singgah di SPBU terdekat, mewanti-wanti bensin yang sudah tinggal sedikit.
Laju mobil yang dirasa melambat membangunkan Kagami. "Apa kita sudah sampai?" tanyanya menguap.
Pertanyaan yang dia lontarkan menarik perhatian Ruri. Gadis berkacamata itu menghentikan aktivitas membaca novel sambil menyeka mata yang terasa perih.
Mirai berpikir untuk beberapa saat. "Dia pencicilan dan genit sama laki-laki. Tapi di balik itu semua sebenarnya dia orang yang baik. Aku harap kalian bisa berteman dengannya juga."
"Dari sifat yang sudah lu sebutin gue jadi tahu kenapa dia bisa mengenal Dion lebih dalam. Pasti dia melontarkan banyak pertanyaan aneh, mendekati Dion dengan banyak cara juga!" cibir Ruri tak suka.
"Ehem! Ada yang cemburu, nih. Aku harap pertemuan kita nanti nggak mengundang malapetaka." Kagami menyindir Ruri, menahan tawanya.
"Aku harap mereka bisa berteman baik!" timpal Alita ikut menggoda Ruri.
Wajah gadis berkacamata itu tersipu. Dia menoleh seraya menyanggul rambut panjangnya. "Berisik kalian!"
Tak lama setelah masuk ke kota bagian barat, laju mobil pun kembali diperlambat. Pak Miko memindai jalanan yang dia lewati dengan hati-hati, dibantu juga oleh instruksi Mirai akhirnya mereka sampai ke tujuan.
"kita sampai!" Mirai bersorak merayakan.
__ADS_1
Kendaraan roda empat yang membawa mereka berhenti di depan rumah berwarna biru tua. Keempat remaja yang berada di dalamnya lekas keluar, udara segar lembut menerpa hidung hingga masuk ke paru-paru. Mereka terpana dengan suasana sekitar, karena di kota bagian lain pepohonan lebih mudah dijumpai daripada di pusat kota. Tak heran jika udara di sana jauh lebih segar.
Mereka bergeming menatap pagar sedada orang dewasa yang mengelilingi rumah berwarna biru tua itu. Halaman rumahnya terpangkas rapi, pot bunga yang berjejer di sepanjang halaman menandakan si pemilik rumah sangat menyukai bunga. Lalu yang paling penting lagi, pintu pagar terbuka, Mirai semringah karena firasat baik menerpanya.
"Pagar ini terlihat baru dibuka. Aku rasa rumahnya ada orang!" Ditatapnya satu persatu wajah temannya.
"Kita langsung masuk aja, nggak apa-apa?" Kagami dilanda ragu.
Mirai memberi jawaban pasti. "Tidak apa-apa. Aku yang akan berjalan di depan, jika salah rumah kita bisa minta maaf langsung nantinya!"
Suara derit dari pagar yang bergeser merambat ke udara, menyatu dalam langkah mereka menuju pintu utama rumah tersebut. Sepanjang kaki melangkah, bola mata mereka terus memindai daerah sekitar, terutama Kagami yang tiba-tiba saja dilanda rasa nyaman, keraguannya seketika menguap.
"Suasananya seperti di desa. Gaya rumah yang sederhana, halaman luas dipenuhi bunga. Lalu pagar setinggi dada orang dewasa, benar-benar suasana yang tidak familier," gumamnya.
"Apa kamu mengingat sesuatu yang lain, Kagami?" Alita tak sengaja mendengar gumaman temannya.
Laki-laki potongan rambut undercut itu tersenyum, garis wajah yang dia buat menampakkan ketampanannya yang semakin kentara. "Tidak ada apa pun, Tuan putri." Dia menjahili Alita.
Benar-benar menjengkelkan. Ruri sampai pura-pura buta dan tuli melihat keakraban mereka di suasana menegangkan seperti sekarang. Otaknya terus membayangkan Riodra ini memiliki wajah seperti apa. Apakah sangat cantik? Apakah dia juga memiliki perasaan dengan Dion? Ruri tidak habis berpikir.
"Permisi!"
Mirai mengetuk pintu, sesekali daun telinganya didekatkan, mencari suara apa pun yang berada di dalam rumah tersebut. Namun, dalam sana begitu hening dan kosong.
Mirai mengetuk lagi, mengeraskan suara disertai ketukan beruntun. Aksinya berhenti setelah mendengar suara benda jatuh dari dalam rumah. Tak lama setelahnya suara seorang gadis menyahut.
"Sebentar!" Pemilik rumah berlari cepat menuju pintu.
Ruri mengernyit mendengar suara si pemilik rumah, entah kenapa dia merasa tidak asing dengan suara ini. Matanya terus mengunci pintu putih di depan mereka, hingga knop pintu berputar. Lalu seorang gadis keluar dari sana.
Tinggi badan gadis tersebut sama dengan Alita. Potongan rambutnya seperti Mirai, pendek sebahu ditambah poni menutup hingga mencapai alis. Gaya berpakaiannya seperti gadis desa, memakai kaos dan rok panjang semata kaki. Gadis tersebut tertegun menatap tamu yang datang tanpa diduga, tetapi dirinya malah mendapat tatapan serupa dari Ruri, Alita dan Kagami.
"Pita?" Ruri tak menyangka.
__ADS_1