
Roland masih menatap putri semata wayangnya tanpa berkedip sedikit pun. Pandangannya menelisik penampilan dan sikap Ruri yang dinilai sangat terburu-buru saat ini.
"Mau ke mana papa tanya?"
Suara bariton pria itu menggema di malam yang begitu sunyi.
Ruri membuang wajah ke arah lain. Menahan kaget sebisanya, dia bahkan tidak tahu jika papanya belum pulang ke rumah.
"Ruri mau mengembalikan jaket teman Ruri." Dia mengangkat sedikit jaket yang berada di pelukannya ke udara. "Dia janji mau jemput. Jadi Ruri mau nunggu di depan gerbang."
Roland mengernyit mendengar alasan dari Ruri. Dia belum menerima alasan tersebut karena tidak ada sisi logika yang bisa dicerna. "Kenapa malam-malam begini? Sepenting itu jaket ini? Besok, kan, bisa kasih saat di sekolah."
Hati Ruri membara mendengar balasan dari papanya. Dia menggerutu dirinya sendiri, karena kesal harus menjadi anak dari seorang ayah yang sangat kepo, bawel dan penuh aturan seperti Roland. Ruri menghembuskan napas panjang. "Ini jaket Kagami. Udah lama Ruri pinjam, jadi mau dikembalikan sekarang. Karena Kagami butuh." Nada bicaranya terdengar semakin mengecil.
Setelah mendengar nama Kagami disebutkan, sudut bibir Roland terangkat. Tangannya terulur memegang kedua bahu anaknya. Tatapan mereka bertemu. "Baiklah kalau begitu, izinkan papa ikut menunggu Kagami di depan gerbang bersama Ruri, ya. Karena sudah malam, bahaya berdiri di sana seorang diri. Nanti kalau terjadi apa-apa, mama pasti marah besar sama papa."
Ruri mengepal tangannya, menahan emosi. "Iya, Pa." Nada bicaranya terdengar terpaksa. Roland benar-benar sosok yang sangat merepotkan di mata Ruri.
***
Setelah memastikan Alita selamat sampai ke rumah. Kagami langsung mengarahkan haluan sepeda motornya menuju rumah Ruri. Dia harus melewati dua persimpangan besar sebelum sampai ke sana, jarak rumah gadis berkacamata tersebut lumayan jauh. Namun, karena hari sudah malam dan suasana jalan yang cukup sepi, Kagami melajukan sepeda motornya sekencang mungkin, supaya Ruri tidak lama menunggu kedatangannya.
Sebuah rumah mewah dengan pagar berwarna coklat yang sedikit terbuka mulai tampak di kelopak matanya. Semakin dia mendekat, siluet seorang gadis semakin terlihat jelas. Kagami berhenti di depan Ruri.
"Maaf membuat kamu menunggu lama. Ada apa, Ruri?" tanya Kagami sesampainya di sana.
Laki-laki tersebut turun dari sepeda motor setelah mematikan mesin kendaraannya. Dia menghampiri Ruri yang melihatnya dengan ekspresi biasa saja.
Ruri langsung menyerahkan jaket yang berada di pelukannya. "Terima kasih jaketnya. Maaf, baru ingat kembalikan sekarang."
Setelah mengatakan hal tersebut, Ruri memberi kode kepada Kagami. Matanya berulang kali melirik ke arah pintu pagar yang setengah tertutup di belakangnya.
Kagami diam dan melirik ke arah yang Ruri maksud, siluet seorang pria berbadan tegap terlihat di sana. Laki-laki itu langsung paham dan mengerti situasi Ruri saat ini. Papanya sedang mengawasi mereka.
"Iya, sama-sama. kalau nggak ada hal lain lagi, aku pulang, ya." Kagami melangkah ke sepeda motor miliknya.
"Saku jaket lu bolong. Itu bukan gara-gara gue, ya. Memang udah bolong dari sananya," teriak Ruri sebelum dia pergi dan kembali menutup pintu pagarnya.
Kagami yang tengah memasang helm sedikit kebingungan. Bolong? Sejak kapan saku jaketnya bolong?
Di sepanjang jalan pulang, Kagami masih diselimuti kebingungan. Ruri memang tidak mengatakan jika dia ingin memulangkan jaket miliknya. Gadis itu hanya bilang jika sepulang kerja nanti, dia menyuruh Kagami ke rumah Ruri. Itu saja tidak lebih. Menurut Kagami, jika alasan Ruri memanggilnya hanya untuk memulangkan jaket miliknya, itu sedikit berlebihan. Bukankah bisa dipulangkan saat mereka berada di sekolah? Pasti ada hal lain yang ingin Ruri sampaikan, tetapi karena sedang diawasi papanya, dia mengubah rencana. Terbesit hal ini di pikiran Kagami.
__ADS_1
***
Perjalanan panjang dengan rute berputar-putar malam ini telah selesai dia lalui. Kagami merogoh kunci kos miliknya, memasukkan sepeda motornya ke dalam kos sebelum dia berbaring di lantai.
"Saku jaketku bolong? Sejak kapan?"
Kagami masih memikirkan ucapan Ruri tadi. Dia tidak ingat memiliki jaket yang sakunya bolong. Tidak, dia bahkan tidak memiliki baju yang sakunya bolong. Jika pun ada, pasti sudah dia jahit.
Masih dalam posisi berbaring, Kagami meraih tas sekolah yang tergeletak tidak jauh di sebelahnya. Dia mengambil jaket yang tadi Ruri pulangkan, kemudian merogoh saku yang berada di sana. Memastikan apakah benar sakunya bolong.
Mata Kagami membelalak mendapati sebuah kertas di dalam sana. Demi memastikan lagi, dia kembali merogoh saku jaketnya. Ternyata benar, tidak ada satu pun saku yang berada di sana bolong. Hanya sebuah kertas yang dia dapatkan.
Kagami duduk, menyandarkan punggung ke dinding. Membuka kertas tersebut, lalu membaca setiap kalimat yang berada di sana. Itu bukan kertas biasa, tulisan yang berada di sana adalah sesuatu yang ingin Ruri katakan padanya.
"Sepetinya ini akan semakin menarik."
Kagami menyengir setelah membaca isi kertas tersebut. Tangannya mengepal disertai gigi yang bergemeletuk. Matanya penuh ambisi sekarang.
Kata-kata yang tercetak di kertas yang Ruri berikan kepadanya masih tergiang di kepala Kagami. Dia tidak bisa berbohong, jika dirinya sangat gelisah sekarang. Entah apa yang direncanakan Gagas terhadap Alita, yang pasti sejak menerima surat tersebut Kagami semakin waspada dengan sekitarnya. Dia tidak melepas barang sedetik pun pandangannya dari Alita, sejak menjemput gadis tersebut di depan gang kecil menuju rumahnya.
Biasanya Kagami menurunkan Alita di depan gerbang, lalu dia pergi ke parkiran untuk meletak sepeda motornya di sana. Namun, hari ini berbeda, dia membawa Alita sekalian ke tempat parkiran.
"Mereka kayak orang pacaran, ya?"
"Iya, sih, kalau dilihat sekilas. Tetapi, lebih ke dimanfaatkan, kalau menurut gue."
"Iya, gue setuju. Alita terlihat hanya memanfaatkan Kagami. Udah kayak ojek online dan penumpangnya."
Kagami langsung mengerling menatap ketiga gadis yang berdiri tidak jauh dari mereka. Angin pagi yang berembus membawa suara pembuat gosip itu hingga terdengar jelas di telinganya.
Ketiga gadis tersebut langsung gelagapan mendapat tatapan sinis dari cowok yang dikenal baik itu. Setelah sumber gosip tersebut pergi, Kagami menarik tas Alita yang hendak berlalu meninggalkannya.
"Eh, kenapa, Kagami?" Alita menoleh dengan langkah kaki yang tertahan.
"Jangan jauh-jauh dari aku," balas Kagami datar.
Alita mengernyit mendengarnya. Kemudian bibirnya terangkat ketika melihat Ruri melambaikan tangan ke arah mereka.
"Ruri ...!"
Kagami melepas pegangannya pada tas Alita. Gadis tersebut langsung berlari ke arah gadis berkacamata di depannya, seraya merentangkan tangan. Ruri jengah melihat kelakuan Alita pagi ini.
__ADS_1
"Jijik! Apaan, sih, peluk-peluk."
Ruri menepis pelukan Alita, bukannya marah gadis kucir kuda itu tersenyum bangga menatapnya. Mereka berjalan beriringan menuju kelas, tidak lama setelah itu Kagami bergabung dengan mereka.
"Mirai hari ini sekolah," ujar Ruri memecah keheningan di antara mereka.
Alita langsung antusias mendengarnya. "Beneran?" Matanya berbinar.
"Iya, gue tadi lihat mobil dia berpas-pasan sama gue waktu di jalan."
Jawaban Ruri membuat Alita lesu. "Mobil berwarna putih banyak, Ruri. Bisa jadi itu orang lain." Nada bicaranya melemah.
Ruri melirik ke arah Alita yang tampak lesu. "Gue hafal pelat nomor mobilnya."
Jawaban Ruri kali ini tidak bisa diragukan lagi. Kemampuan mengingat dan analisanya yang bagus adalah hal luar biasa yang dia miliki, Alita tahu itu dan langsung berlari menuju kelas. Dia sudah sangat tidak sabar untuk bertemu Mirai, karena ada banyak cerita yang ingin dia ceritakan sekarang.
Ruri menghela napas berat menatap punggung Alita yang semakin menjauh. Lalu melirik Kagami yang tidak bereaksi apa-apa dengan tingkah Alita maupun perkataannya barusan. Biasanya laki-laki itu akan ikut bergabung dalam obrolan.
"Dilihat dari sikap lu sekarang, sepertinya surat yang gue tulis udah lu baca, ya?"
Suara Ruri memecah lamunan Kagami.
"Gue tahu lu khawatir. Tapi lu jangan menampakkan kekhawatiran lu pada Alita. Nanti semuanya bisa kacau." Matanya menatap tajam ke arah Kagami. "Gue paham perasan lu, apalagi ini menyangkut Gagas. Tapi, lu juga harus bisa kontrol diri lu. Jangan gegabah," tuturnya kemudian.
"Aku masih belum bisa melupakan kejadian buruk yang Alita alami akibat dari ulah Rera. Dan kali ini, entah apa yang akan direncanakan, Gagas datang mengancam dan membawa ketakutan yang sama. Aku ... kasihan sama Alita, kenapa harus dia terus?" Kagami menatap ke arah Ruri.
"Gue juga berpi—"
"Ruri ...! Kagami ...!"
Suara Ruri terpotong oleh teriakan Alita. Gadis kucir kuda itu kembali berlari ke arah mereka, tetapi kali ini disertai ekspresi kaget yang tercetak jelas di wajahnya.
Alita mengatur napas, berdiri di depan kedua temannya.
"Ada apa, Alita?" Kagami merasa ada yang aneh dengan tindakan Alita. Dia terlihat sangat terkejut sekali sekarang.
"Yang duduk di bangku Mirai bukan dia!" Alita mengatur napasnya secara perlahan, kemudian menatap wajah kedua temannya secara bergantian. "Tapi yang ada di sana adalah Pita!"
"Ha?!"
Kali ini Ruri dan Kagami tidak kalah terkejutnya.
__ADS_1