
Alita terbangun dari pingsannya, tetapi pandangan yang dia lihat tetap saja hitam. Rasanya ada sesuatu yang lengket tengah menutupi matanya.
Seluruh badannya nyeri dengan kaki dan tangan terasa kaku. Alita menggelinjang layaknya ikan di daratan. Sakit. Gadis itu tahu jika dia tengah diikat saat ini.
Entah di mana dia berada, debu dan suara cicit dari seekor tikus terdengar semakin mendekat. Alita bergerak ke sana kemari berharap ada yang menemukannya. Sesuatu yang berada di dekatnya terus ditendang, menghasilkan bunyi untuk memancing seseorang datang ke arahnya.
'Apa ini ... kenapa ada seseorang yang tega melakukan ini kepadaku,' batin Alita seorang diri.
***
Setelah Ruri, Mirai dan Kagami sampai ke gudang, tidak ada yang mereka temukan di sana. Hanya meja rongsok dan barang berdebu lainnya.
Ruri berdiri di ambang pintu, menepuk jidat karena frustrasi. "Sial! Ke mana dia bawa Alita, si sialan itu!"
Kagami mondar-mandir di sana, kemudian mencium sesuatu yang aneh tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Laki-laki itu berjalan ke pusat bau, menemukan sebuah botol kecil dan sapu tangan yang tergeletak di balik pintu gudang.
"Ini ...," kata Kagami seraya mencium bau botol kecil itu kembali. "Cairan Kloroform," lanjutnya.
Mata Mirai membelalak setelah mengetahui nama cairan tersebut. Ruri semakin kesal mendengarnya, tangan terus dia genggam dengan erat.
"Jadi bau ini yang gue cium dari tubuh Rera barusan. Sialan emang, jadi dia sengaja menyatakan perang sama gue!" Sudut mata Ruri berkerut, diikuti alisnya yang bertaut.
"Itu ... sapu tangan yang Rera gunakan kepada Alita tadi!" seru Mirai dengan bibir gemetar.
Tangannya menutup mulut dengan mata melebar.
Ketiga manusia yang berada di sana semakin dilanda frustrasi. Di gudang mereka hanya menemukan barang bukti, tetapi tidak dengan si korban. Mereka belum beranjak dari sana, Ruri berpikir semakin keras untuk mencari solusi.
"Gue harus temui Rera!"
Ruri kehabisan kesabarannya, satu-satunya yang bisa dia lakukan saat ini adalah menemui Rera dan menanyakan langsung di mana keberadaan Alita. Namun, Kagami menarik tangannya, menahan kepergian gadis tersebut.
"Sebentar, jika aku tidak salah, sedari tadi aku mendengar sesuatu dari sudut gudang." Tangan Kagami menunjuk ke arah yang dia maksudkan.
Ruri ikut terdiam. Gadis itu mempertajam pendengaran, seraya meneliti setiap meja yang berada di hadapan. Karena sejak tadi dirinya diselubung emosi, dia baru menyadari, ternyata ... posisi meja di sana telah diubah.
Ruri perlahan mendekat ke pusat suara. Suara sesuatu yang diketuk secara perlahan semakin jelas terdengar. Suara itu terdengar seperti ... kode untuk meminta pertolongan.
"Itu Alita!" seru Kagami setelah melihat kepala seseorang di sudut gudang.
__ADS_1
Laki-laki itu turun setelah memanjat kusen jendela untuk mengintai lebih jelas. Tanpa berlama-lama lagi, tumpukan meja di depan mata langsung dia pinggirkan, membuka jalan menuju ke arah Alita.
Matanya membelalak tak percaya melihat kondisi Alita. Kedua tangan dan kaki diikat. Mulut dan mata ditutup menggunakan lakban. Manusia tak berhati mana yang tega melakukan ini. Kagami membuka ikatan tali di kaki gadis tersebut, tetapi sebuah surat mengalihkan perhatiannya. Dilihatnya sebentar isi surat itu, kemudian menyimpannya di saku.
"Alita! Kamu tidak apa-apa sekarang, kami sudah berada di sini!"
Gegas Ruri membuka lakban di wajah Alita dengan sangat hati-hati setelah dia berhasil menyusul Kagami.
Mata Mirai berkaca-kaca, perlahan air matanya kembali menetes setelah melihat kondisi Alita. Gadis itu membantu membuka ikatan tangan Alita secara perlahan.
Lem lengket masih terasa di sekitar matanya. Walau rasanya berat untuk dibuka, tetapi Alita perlahan bisa melihat jelas wajah ketiga temannya. Ruri terlihat cemas, Mirai menangis dan Kagami tersenyum di depannya.
"Kalian ...," lirih Alita. "Kenapa, sih, kusut gitu mukanya. Santai aja ...." Dia melanjutkan ucapannya sambil melempar senyum.
"Huaaa, maafkan aku, Alita!"
Mirai langsung memeluk gadis kucir kuda itu seerat mungkin dengan air mata yang kembali menetes. Padahal matanya sudah sangat sembab sekarang.
"Gila, lu, bikin gue khawatir!" kata Ruri dengan tegas.
Alita tertawa mendengarnya. Gadis itu bersikap biasa saja, seolah tidak ada yang terjadi dengannya.
'Sialan lu. Selalu saja bersikap tidak konsisten. Terkadang sikapnya kekanakan, terkadang dewasa. Lu benar-benar bikin gue khawatir, sial!' umpat Ruri di dalam hati. Dia mengusap matanya yang tiba-tiba saja terasa memanas.
***
"Rera, lu kira berapa lama Alita bakal berada di sana?" tanya Yuki memecah keheningan di antara mereka.
Rera cs sedang berada di dalam kelas sambil menyantap banyak sekali makanan. Sengaja mereka membeli makanan sebanyak itu sebagai perayaan karena rencana mereka kali ini berhasil tanpa gangguan sedikit pun.
"Gue nggak tahu dan nggak peduli. Siapa pun yang berakal sehat pasti akan kapok setelah kejadian ini. Kemudian dia sadar diri dan Kagami akan jadi milik gue. Benarkan?"
Gadis itu mengangkat sebelah alias, menatap bangga ke arah teman-temannya. Kakinya diangkat ke atas meja, seraya memainkan ponsel di sana.
"Tentu saja. Karena Rera yang dilawan, nggak ada yang bisa menandinginya!" seru Ambar disertai gelak tawa mereka.
Sementara Rera cs merayakan kemenangan mereka, kelas dua A yang berada di lantai bawa juga terdapat empat orang siswa yang tengah bersikukuh dengan ego masing-masing.
Ruri tidak terima dengan perbuatan Rera dan berniat memberinya balasan yang lebih daripada ini. Sedangkan Alita sebagai korban tidak ingin mempermasalahkan hal ini yang dia anggap kecil. Mirai memeluk Ruri, menahan sekuat tenaga supaya gadis berkacamata itu tidak menerjang Rera sendirian. Lalu Kagami membantu dengan mengunci pintu kelas dari dalam, mencegah kepergian Ruri.
__ADS_1
"Dengerin, Alita. Orang gila kayak Rera nggak akan kapok kalau lu diam aja, kek, gini! Hari ini lu yang disekap, besok entah siapa lagi!" Ruri menggebrak meja di hadapannya.
"Lepaskan gue, Mirai!" tegas Ruri mencoba memberontak.
Mirai semakin mempererat pelukannya. Gadis itu sebenarnya tidak kuat menahan tubuh Ruri seorang diri, tetapi dia melampaui batas kemampuan dirinya di sana, memeluk Ruri seerat yang dia bisa.
"Gue nggak bisa napas ini."
Suara Ruri terdengar lembut, sorot matanya tajamnya melihat ke arah Mirai, gadis berambut pendek itu tiba-tiba meluluh dan melepas pelukannya.
"Gini aja, apa yang lu mau, Alita."
Ruri duduk dengan tenang, mengatur napas menstabilkan emosinya. Menatap gadis kucir kuda yang tengah tertawa, karena lucu melihat ekspresi Mirai tadi yang berusaha sekuat mungkin menahan Ruri.
"Kekerasan tidak akan hilang jika kita lawan dengan kekerasan. Mungkin kita bisa berbicara langsung dengan Rera, menanyainya kenapa dia melakukan semua ini," jawab Alita setelah tawanya mereda.
Sorot mata Ruri semakin diselimuti emosi. Dia bangkit dari duduk, memukul meja dengan keras. "Lu pikir Rera adalah tipe orang yang bisa diajak bicara, Alita? Gila, lu. Kalau bisa, mungkin dari gertakan gue aja udah cukup untuk menghentikannya."
"Ruri! Kembali ke posisi. Lu keluyuran di sini rupanya!"
Tiba-tiba suara seorang gadis menggema di sana. Mengalihkan perhatian mereka. Gadis berjas hitam itu mengintip dari balik jendela kelas. Setelah tahu siapa yang memanggilnya, Ruri mendekus kesal.
"Ck! Gue balik, kok. Lu duluan aja, gue bentar lagi kembali ke tenda!"
"Nggak ada bentar-bentar! Cepat lu balik ke posisi. Masa ketua keamanan malah ngegosip di sini!" Gadis itu bersikeras.
Alita menahan tawanya di sana bersama Mirai. Sedangkan Kagami yang tengah berdiri di pintu terlihat termenung. Tubuhnya berada di sana, tetapi tatapannya kosong menandakan jika pikirannya entah berada di mana saat ini.
"Kagami, minggir gue mau keluar!"
Kagami masih mematung, hanyut dalam pikirannya.
"Kagami! Gue mau keluar. Lu boleh buka pintunya sekarang! Gue janji nggak akan menendang Rera kali ini, tapi mungkin lain kali!" Ruri mengulang ucapannya dengan penuh penekanan.
Kagami tersentak, sadar dari lamunan. Dengan gelabah, laki-laki itu membuka pintu kelas yang dia kunci. Saat Ruri hendak keluar dari kelas, gadis itu menghentikan langkah di samping Kagami. Melirik laki-laki tersebut tanpa menoleh ke arahnya.
"Gue nggak tahu apa yang bikin lu termenung. Yang jelas, pasti berkaitan dengan surat yang lu temui dekat Alita tadi, kan?" bisik Ruri di sana.
Mata Kagami membelalak, tanpa menoleh laki-laki itu mengangguk.
__ADS_1
"Jadi, apa isi surat itu?" lanjut Ruri penasaran.