Terjerat Masa Lalu

Terjerat Masa Lalu
Kendali Gagas


__ADS_3

Merasa tubuhnya berguncang, Ruri mengerjap dengan kelopak mata yang masih terasa berat.


"Bangun, katanya mau ikut mama ke butik."


Suara mamanya terdengar lembut membangunkan. Ruri berpindah posisi, dia tidur menyamping ke arah kiri kali ini.


Syanala masih kekeh menggoyangkan bahu Ruri. "Bangun, katanya mau ikut mama ke butik. Cepat makan dan siap-siap. Nanti mama tinggal, loh," ancamnya.


Ruri masih tidak bergeming.


Ekor mata Syanala melirik ke arah ponsel Ruri yang terbuka. Sebuah kolom chat terpampang. Dia membaca beberapa pesan yang berada di sana.


"Kamu masih menyimpan chatingan sama Dion, ya?"


Pertanyaan sang mama membuat Ruri terkejut. Gadis itu membuka mata lebar-lebar, langsung menyambar ponselnya yang berada di tangan Syanala.


"Apaan, sih. Mama nggak sopan!" ketus Ruri lalu cepat mematikan ponselnya.


Syanala menggoda Ruri. "Jadi kamu tertidur karena baca pesan dari Dion, ya?"


Ruri salah tingkah, dia mendorong tubuh mamanya hingga keluar dari kamar; menutup pintu kamar setelah itu.


"Ruri mau siap-siap. Tungguin Ruri di bawah."


Jantung Ruri berdegup kencang setelah tahu mamanya membaca pesannya dengan Dion. Di satu sisi dia merasa malu yang teramat sangat, tetapi di sisi yang lain dia takut pesan tersebut dihapus oleh sang mama.


Ruri kembali ke kasur, menghidupkan kembali ponselnya yang dia lempar ke sana. Dia menarik napas lega, setelah mendapati pesan dari Dion masih aman, tanpa ada sedikit pun yang hilang. Pesan tersebut sengaja Ruri sematkan supaya dia terus mengingat Dion, laki-laki yang dia cintai. Namun, keberadaan laki-laki itu saat ini tidak bergerak sama sekali, bisa dibilang dia menghilang, setelah kejadian buruk menimpanya empat tahun silam.


Ruri memakai hoodie berwarna biru tua, melihat kembali penampilan di cermin sebelum menyambar sebuah tas sandang berwarna coklat.


Gerakannya tiba-tiba terhenti ketika ponselnya bergetar, menandakan sebuah pesan masuk.


Ruri meraih benda pipih tersebut, segera membaca pesan yang Gagas kirimkan.


[Gue otw ke butik. Lu jangan sampai nggak datang, pokoknya ini penting!]


Giginya bergemeletuk menahan emosi. Ruri langsung berlari ke lantai bawah menuju ke arah Syanala yang sudah menunggunya.

__ADS_1


***


Gagas tersenyum setelah mengirim pesan kepada Ruri. Dia meneguk secangkir kapucino di depannya hingga habis, kemudian menyambar helm yang berada di dekatnya.


"Mau ke mana, Gagas?"


Lecia datang dari arah dapur. Melihat penampilan rapi anaknya, wanita berambut pirang itu penasaran dan langsung bertanya.


Gagas menghentikan langkahnya, tanpa menoleh dia menjawab. "Mau ke butik. Mama yang bilang kalau keluarga kita dan keluarga Ruri mau ukur baju hari ini. Gagas duluan."


Setelah mengatakan itu, Gagas langsung melangkah lebar menuju sepeda motor sport berwarna orange bercampur hitam yang terpakir di depan rumahnya.


Lecia tidak menghiraukan kepergian anaknya, wanita itu lanjut mengecat kukunya yang belum dia warnai.


***


Kondisi kafe masih lengang, karena hari masih siang jadi belum banyak orang yang datang. Alita termenung memandangi setiap tombol keyboard di depannya. Wajahnya lesu, memikirkan sesuatu yang mengganggunya sedari tadi.


"Alita."


Kagami menghampiri. Laki-laki itu berdiri di hadapan Alita, tetapi gadis tersebut masih mematung. Tidak menyadari keberadaannya.


"Kak Kagami! Kak Alita! Kenapa saling pandang?"


Suaka menepuk pundak Kagami membuat laki-laki itu terperanjat, begitu juga dengan Alita. Suara Suaka mengagetkan mereka berdua.


Kagami memandang Suaka dengan ekspresi kesal. "Pergi sana, jangan ke sini, ya." Dia mendorong pelan bahu juniornya untuk menjauh.


Setelah Suaka pergi, Kagami kembali menghampiri Alita. Gadis itu tersenyum tipis melihat tingkahnya.


"Kamu kenapa Alita? Dari tadi aku perhatiin diam aja. Kamu sakit?"


Sorot mata Alita meneduh. "Aku kepikiran Ruri." Dia menengadah menatap Kagami. "Sikapnya tadi, persis seperti beberapa tahun lalu setelah insiden Dion. Aku takut ... dia kembali melupakan kita dan menanggung semuanya sendiri," tuturnya pelan.


Kagami merasakan hal yang sama. Dia menarik napas panjang. "Aku juga sempat memikirkan hal yang sama. Tapi kamu tenang saja, Alita. Aku yakin, Ruri nggak akan seperti itu lagi."


Kagami tersenyum lebar, matanya berbinar menatap Alita. Gadis kucir kuda itu pun ikut lega mendengarnya.

__ADS_1


Senyum di wajah Kagami menghilang. "Ngomong-ngomong, Rera masih sering gangguin kamu? Atau Gagas?" tanyanya dengan nada serius.


Alita terdiam memikirkan jawabannya sambil menatap langit-langit kafe. "Nggak. Kemarin Rera lewat di depanku, dia hanya diam saja. Kemudian, untuk Gagas sendiri sudah lama dia nggak ke sini. Aku nggak pernah ketemu dia lagi sejak kamu punya motor, Kagami."


Kagami senang mendengarnya. Dia membusungkan dada dengan bangga. "Kalau ada yang gangguin kamu, bilang aja sama aku, ya. Biar aku ur—"


Suaranya tertahan ketika seseorang menariknya pergi dari sana.


"Kak Kagami, jangan pacaran terus. Bawa pesanan ke meja nomor delapan," sungut Suaka sambil menarik seragam seniornya.


Alita tertawa melihat kelakuan mereka. Pemikiran Suaka benar-benar lebih dewasa daripada Kagami.


***


Lecia menata kembali rambut pirangnya serapi mungkin, kemudian menambah polesan bedak di wajahnya. Wanita paruh baya itu tengah duduk di ruang tamu, menunggu suaminya pulang.


Tak lama setelah dia selesai menambah lipstik di bibir meronanya, sang suami pulang. Suara pria tersebut membuat Lecia berdiri lalu menghampiri di ambang pintu.


Jojo–suami Lecia–mengernyit menatap penampilan istrinya. "Mau ke mana?" tanyanya datar.


Lecia memandang wajahnya di cermin mini yang dia bawa, memastikan setiap make up yang dia pakai tidak berantakan. "Ke butik, mau ukur baju seragam untuk pernikahan Venya," jawabnya, kemudian memasang sepatu hak tinggi berwarna abu-abu, selaras dengan baju atasan yang dia kenakan.


"Sebenarnya Mas harus pergi juga. Tapi karena Mas baru pulang kerja, biar aku sendiri aja yang pergi. Dari tadi aku nungguin mobil."


Lecia berlalu dari hadapan suaminya, melewatinya dengan acuh lalu membuka pintu mobil.


Jojo sudah paham kelakuan istrinya. Jika sudah berdandan rapi seperti itu, dia tidak mau diganggu oleh siapa pun sampai dia berada dalam mobil, takut penampilannya rusak.


Jojo berlalu masuk ke dalam rumah, disertai mobil yang membawa istrinya berlalu dari perkarangan.


Butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai ke butik langganannya. Di waktu bersamaan sebuah mobil hitam lainnya berhenti dan parkir di sebalah mobilnya yang baru saja tiba.


Lecia keluar dari mobil, kemudian pemilik mobil hitam di sebelahnya ikut keluar. Dia langsung menyapa dengan ramah, memeluk Syanala seerat mungkin.


"Aduh, ternyata kita serentak, ya, sampai ke sini. Aku pikir tadi telat, loh," kata Lecia setelah melepas pelukannya dengan Syanala.


Syanala tersenyum lebar. "Tadi jalanan agak macet. Aku pikir, aku yang telat. Ternyata sampainya serentak. Syukurlah."

__ADS_1


Ruri menatap datar dua wanita paruh baya di depannya. Ekor matanya lalu menangkap Gagas yang tengah duduk di kursi yang berada di depan butik. Laki-laki itu menyengir membalas tatapan Ruri. Gadis bermata empat tersebut membalasnya datar.


"Apa yang lu rencanain, Gagas sialan!"


__ADS_2